Tampilkan postingan dengan label pentakosta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pentakosta. Tampilkan semua postingan

21 Mei 2015

Perspektif Global atas Pentakosta: Roh Allah yang Maha Hadir
Global perspectives on Pentecost: God’s ever-present Spirit
Oleh Dennis Smith  terjemahan bebas oleh Zakaria J. Ngelow


Pentecost, I had always thought, was God’s way of saying that in Christ, we’re all the same. Culture and language may divide us, but God’s Spirit makes it possible for all to be one. Pentecost, I had thought, was a divine remedy for the confusion and division created at the tower of Babel when God punished human arrogance by creating different languages.

Saya berpikir bahwa Pentakosta adalah cara Allah mengatakan bahwa di dalam Kristus kita semua sama. Kebudayaan dan bahasa bisa memisahkan kita, namun Roh Allah memberi kemungkinan kepada semua kita menjadi satu. Saya pernah menyangka bahwa Pentakosta adalah suatu pemulihan Ilahi bagi kekacauan dan perpecahan yang terjadi di menara Babel, ketika Allah menghukum kesombongan manusia, dengan menciptakan bahasa-bahasa yang berbeda-beda.

More than 35 years of mission service in Latin America have led me to suspect that I got it all wrong. Babel, far from presenting linguistic diversity as divine punishment, may teach us that God gave the gift of many languages as a way to protect those suffering under a despot, helping them to escape oppression and preserve their particular identities. In the same sense, at Pentecost, God does not erase diversity, but rather builds bridges of understanding and solidarity between radically distinct communities.

Lebih 35 tahun pelayanan misi di Amerika Latin mengarahkan saya pada kecurigaan bahwa pandangan itu keliru. Babel sama sekali tidak mengedepankan kepelbagaian bahasa sebagai hukuman Ilahi, melainkan mengajarkan bahwa Allah memberi karunia banyak bahasa sebagai suatu cara untuk melindungi mereka yang menderita di bawah suatu penguasa lalim, menolong mereka menghindari penindasan dan mempertahankan jati diri mereka yang khas. Dalam pemahaman yang sama, Allah pada peristiwa Pentakosta, bukannya menghapuskan kepelbagaian, melainkan membangun jembatan-jembatan pemahaman dan solidaritas antara komunitas-komunitas yang sama sekali berbeda.

Over the centuries, Latin America’s churches have been learning how God is present in the differences that define our human identity. Gradually we have learned that all of Creation and all cultures bear God’s unmistakable fingerprints. We can go nowhere where God is not already present; even the first missionaries came to lands already inhabited by God’s Spirit. We also have learned, as did the early church, that God does not call us to impose our culture on others but to accompany others as they discover how and where God has always been present in their lives, calling all to wholeness. It is within others’ culture and through their language that they come to know Jesus.

Selama berabad-abad gereja-gereja di Amerika Latin belajar bagaimana Allah hadir dalam perbedaan-perbedaan yang menentukan jati diri kemanusiaan kita. Secara bertahap kita belajar bahwa seluruh ciptaan dan semua kebudayaan benar mengandung sidik jari Allah. Kita tidak dapat pergi ke manapun dan menemukan bahwa Allah belum hadir di sana; bahkan para pekabar Injil pergi ke negeri-negeri yang telah didiami Roh Allah. Kita juga telah belajar, sebagaimana gereja mula-mula, bahwa Allah tidak memanggil kita untuk memaksakan kebudayaan kita terhadap orang lain, melainkan untuk mendampingi mereka dalam menemukan bagaimana dan di mana Allah telah selalu hadir dalam kehidupan mereka, memanggil semua ke dalam keutuhan. Melalui kebudayaan lain dan melalui bahasa mereka itulah sehingga mereka dapat mengenal Yesus.

The Evangelical Waldensian Church of Río de la Plata (IEVRP) is a PC(USA) mission partner with congregations in Uruguay and Argentina. The Waldensians are one of the earliest Reformed denominations, going back to the time of St. Francis of Assisi. From their earliest roots in Lyon, France, they moved into northern Italy and then, in the 19th century, to the U.S., Uruguay and Argentina.

Gereja Waldensian Injili di Río de la Plata (IEVRP) adalah suatu mitra misi PC(USA) dengan jemaat-jemaat di Uruguay dan Argentina. Kaum Waldensia adalah salah satu denominasi  Reform awal dari masa St Francis Assisi. Dari akar awalnya di Lyon, Perancis, mereka pindah ke Italia bagian utara dan pada abad ke-19 ke AS, Uruguay dan Argentina.

A few years ago I accompanied Kevin Fredericks (pastor of Waldensian Presbyterian Church in Valdese, North Carolina), Francis Rivers (executive secretary of the American Waldensian Society) and Jonathan Evans (pastor of First Presbyterian Church in Naples, Florida) on a 16-hour bus journey to visit one of the mission endeavors of the IEVRP in El Chaco, a vast, sparsely populated region that straddles Argentina, Bolivia and Paraguay. Our host was Hugo Malán, a Waldensian Bible scholar from Uruguay.

Beberapa tahun lalu bersama-sama dengan Kevin Fredericks (pastor of Waldensian Presbyterian Church in Valdese, North Carolina), Francis Rivers (executive secretary of the American Waldensian Society) and Jonathan Evans (pastor of First Presbyterian Church in Naples, Florida) dalam perjalanan 16 jam dengan bis kami mengunjungi salah suatu pelayanan misi IEVRP di El Chaco, sebuah wilayah luas berpenduduk jarang antara Argentina, Bolivia dan Paraguay. Tuan rumah kami adalah Hugo Malán, seorang sarjana Alkitab Waldensia dari Uruguay.

The Chaco is home to the Qom people. For decades the Waldensians have been working with ISEDET (an ecumenical seminary and PC(USA) mission partner) in Buenos Aires to help staff a Bible Institute for the Qom. Malán has long been a professor at the institute.

Chaco adalah kediaman orang Qom. Selama puluhan tahun orang Waldensia bekerja sama dengan ISEDET – sebuah seminari ekumenikal dan mitra misi PC(USA) di Buenos Aires untuk membantu staf Institut Alkitab bagi orang Qom. Malán sudah lama menjadi dosen di lembaga itu.

Like so many other tribal peoples throughout the world, the Qom struggle to preserve traditional cultural values while adapting to challenges ranging from jobs and education for their youth to preserving their rights to ancestral lands.

Sebagaimana banyak masyarakat suku di seluruh dunia, orang Qom berjuang untuk memelihara nilai-nilai budaya tradisional sambil menyesuaikan dengan tantangan yang merentang dari lapangan kerja dan pendidikan bagi kaum muda mereka sampai hak-hak mereka atas tanah leluhur mereka.

In El Chaco we met Auden Charole, a young Qom pastor. He was team-teaching a class with Malán. Charole shared with us a new book, published by the provincial government that documents Qom knowledge of local wildlife, including legends told by the elders explaining each creature’s place in the community of all created things. Auden drew many of the illustrations for this pioneering volume.

Di El Chaco kami bertemu Auden Charole, seorang pendeta muda Qom. Dia tim pengajar suatu kelas bersama Malán. Charole memberi kepada kami sebuah buku baru yang diterbitkan oleh pemerintah provinsi yang mendokumentasikan pengetahuan kehidupan satwa liar setempat, termasuk legenda yang diceriterakan para leluhur menjelaskan tempat setiap mahluk dalam komunitas dari semua ciptaan.  Auden melukis banyak ilustrasi dalam terbitan awal ini.

Charole explained that his parents are Christians; he came to know the Gospel as a child. When he was 16, however, he left the church and went to work as a day laborer for immigrants that had usurped Qom lands. “It didn’t occur to me to value my own culture; I had no hope of defending my rights as a person,” he observed. “But then in 2001 our community experienced a rebirth of our rights as a people, of our self-esteem, of our traditions. It was the Bible school that provided the space where we made all these discoveries. This is where our leaders gathered. I was able to finish my schooling here. Now I have a family and when I look at my young son I am encouraged to continue the struggle for our rights, for our land.”

Charole menjelaskan bahwa orangtuanya adalah orang Kristen; dia mengenal Injil sejak masih kecil. Tetapi ketika berusia 16 tahun dia meninggalkan gereja dan pergi bekerja sebagai seorang pekerja harian bagi para pendatang yang menduduki tanah orang Qom. “Tidak terjadi padaku menghargai kebudayaanku sendiri; aku tidak punya harapan mempertahankan hak-hakku sebagai seorang manusia,” kenangnya. “Tetapi kemudian pada tahun 2001 komunitas kami mengalami suatu kelahiran kembali hak-hak kami sebagai suatu kaum, harga diri kami, dan tradisi kami. Adalah sekolah Alkitab yang menyediakan ruang di mana kami membuat semua penemuan-penemuan ini. Di sinilah para pemimpin kami berkumpul. Aku dapat menyelesaikan sekolahku di sini. Kini aku punya keluarga dan ketika melihat anak laki-lakiku aku didorong untuk melanjutkan perjuangan untuk hak-hak kami, untuk tanah kami.”

As we observed the class, we witnessed faithful men and women from an oral culture working hard to interpret Bible texts and link those teachings to their own time and place. We noted that Auden and Hugo had the good sense not to provide easy answers, nor to interrupt the silences as the Qom leaders struggled with the Scriptures.
God’s Spirit was there, another Pentecost.

Selama kami meninjau kelas, kami menyaksikan laki-laki dan perempuan beriman berbudaya lisan bekerja keras menafsirkan teks-teks Alkitab dan menghubungkan ajaran-ajaran itu dengan keadaan hidup mereka sekarang. Kami perhatikan bahwa Auden dan Hugo punya pertimbangan yang baik dengan tidak menyediakan jawaban-jawaban gampang, dan tidak juga mengganggu ketenangan ketika para pemimpin orang Qom bergumul dengan Kitab Suci.

Roh Allah ada di sana, suatu Pentakosta yang lain.

DENNIS SMITH is a PC(USA) regional liaison for the Southern Cone and Brazil.Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, 

Jelang Pembukaan 14th General Assembly CCA, 21 May 2015

24 April 2012

Neo-kharismatik?



Gerakan-gerakan Pentakosta, Kharismatik, dan Gelombang Ketiga
Pentecostal, Charismatic, Third Wave Movements 
terjemahan bebas oleh: Zakaria J. Ngelow
 
  1. Gerakan Pentakosta (Gelombang Pertama)

Gerakan Pentakosta klasis moderen bermula pada awal abad ke-20 dan berakar dalam gerakan kesucian dan kebangunan pada Kebangunan Besar kedua di amerika pada abad ke-19.[1]
Pentakosta moderen ditandai dengan tiga ajaran utama:
  • Baptisan Roh Kudus
  • Manifestasi bahasa lidah
  • Manifestasi penyembuhan ilahi.
Bahasa lidah, dikenal juga sebagai glossolali, dipandang sebagai bukti baptisan dengan Roh Kudus. Ini salah satu perbedaan antara teologi Pentakosta dan Kharismatik.[2] Pengalaman baptisan Roh dan bukti awal dalam bahasa lidah harus diupayakan dengan sungguh-sungguh oleh orang-orang percaya. Hal itu tidak terjadi begitu saja; persyaratan-persyaratan harus dipenuhi. Beberapa hal berikut harus dilakukan oleh orang percaya secara sadar, bersungguh-sungguh dan aktif. Kadang-kadang juga dia memerlukan bantuan orang-orang lain yang sudah dipenuhi Roh. Mereka harus berdoa untuk dia, menumpangkan tangan atasnya supayah Roh turun kepadanya. Persyaratan-persyaratan itu beragam namun secara umum meliputi: ibadah, iman yang gembira, pengharapan yang bersungguh-sungguh, pujian dan syukur, ketaatan, menjauh dari dosa, keinginn yang mendalam, baptisan, memohon kepada Allah, dst.

Penganut Pentakosta berbeda dengan kelompok Fundamentalis yang lebih memberi penekanan pada pengalaman rohani dan dalam banyak kasus memberi tempat bagi perempuan dalam pelayanan. [3]
Perbedaan utama antara keyakinan Pentakosta dan Fundamental bukanlah dalam ajaran pembenaran, melainkan dalam ajaran pengudusan. Dewasa ini melalui pelayanan orang seperti Billy Graham, kita saksikan makin banyak denominasi, termasuk gereja Roma Katolik bersepakat mengenai ajaran pembenaran. Akan tetapi ajaran pengudusan yang menimbulkan banyak perbedaan besar. Gagasam pokok bagi Pentakostalisme adalah Injil Sepenuh. Pentakostalisme percaya dalam gagasan Injil Sepenuh yang menyatakan bahwa Roh telah membaptis semua orang percaya ke dalam Kristus pada saat pertobatan (Pembenaran), namun Kristus belum membaptis semua orang percaya ke dalam Roh (Pentakosta). Untuk menikmati Injil sepenuhnya pengalaman ini wajib. Ini adalah suatu kesalahfahaman menyangkut ajaran pembenaran.
Kaum Pentakosta juga tidak percaya pada pemeliharaan orang kudus. Jadi mereka tidak percaya pada ajaran mengenai jaminan kekal. Mereka yakin bahwa ada kemungkinan orang kehilangan keselamatan. Mereka mengikuti ajaran Arminian, menolak Calvinism.
Dalam Pentakostalisme ada satu kelompok yang mewakili Gereja Pentakosta Bersatu (United Pentecostal Church). Mereka menolak Tritunggal dan karena itu sering dikenal sebagai Oneness Pentecostalism. [4]

  1. Gerakan Pembaruan Kharismatik (Gelombang Kedua)

Pembaruan Karismatik bermula pada pertengahan abad ke-20. Kali ini ajaran-ajaran Pentakosta tersebar ke dalam gereja-gereja arus utama Protetan dan Katolik sebagai gerekan “pembaruan kharismatik” dengan tujuan membaharui gereja-gereja historis itu.
Kharismatik berbeda dengan Pentakosta dalam sikapnya terhadap ajaran. Dalam gerakan kharismatik ajaran dilihat sebagai pemecah orang percaya. Mereka menghindari ajaran Alkitab mengenai pemisahan dan mendorong orang yang ‘telah menerima Baptisan’ untuk tetap di dalam gereja dan aliran masing-masing. Demikian juga walaupun Kharismatik ajaran Bahasa Lidah, mereka tidak begitu menekankan ajaran ini sebagaimana kaum Pentakosta. Dengan kata lain, bisa menerima baptisan tanpa berbahasa lidah.[5]
Kharismatik mengajarkan bahwa anda dapat memperoleh lebih banyak dari Roh Kudus dengan dipenuhi oleh Roh (Ef. 5:18). [6]
Untuk informasi lebih lanjut mengenai Gerakan Kharismatik, lihat/klik:
-          The Line Drawn (MJ Stanford)
-          Buku, Charismatic Chaos by John MacArthur dapat dibaca on-line (http://www.biblebb.com/mac-a-g.htm masuk ke bagian charismatic chaos)

  1. Tanda-tanda dan Mujizat-mujizat atau Gerakan Neo-kharismatik (Gelombang Ketiga)

Pakar church-growth C. Peter Wagner dalam bukunya, The Third Wave of the Holy Spirit yang pertama memakai first used istilah, “Third Wave Movement” (Gerakan Gelombang Ketiga). Gerakan itu terjadi di Fuller Theological Seminary pada tahun 1981 di kelas pelayanan John Wimber, pendiri Asosiasi Gereja-gereja Kebun Anggung (Association of Vineyard Churches).[7] Mereka yang terlibat dalam gerakan ini tidak ingin disebut “Pentakosta” atau “kharismatik”. Dan sebagaimana pembaruan kharismatik, Gerakan Gelombang Ketiga adalah suatu gerakan pembaruan dan kebangunan. Dari segi ajarannya, kaum Gelombang Ketiga sulit digolongkan karena dalam gerakan ini berlangsung pengabaian ajaran. Akibatnya, ajaran menjadi sangat beragam.[8]

  1. Berikut beberapa ciri dari gerakan Gelombang Ketiga:

  1. Mereka yang terkait dengan gerakan ini tidak ingin dicap “Pentakosta” atau ‘kharismatik”, walaupun mereka juga menganut pengalaman-pengalaman dan ajaran-ajaran yang mirip Pentakosta. Mereka ingin dikenal semata-mata sebagai kaum Injili yang terbuka kepada Roh Kudus.
  2. Mereka Gnostik. Mereka yakin Allah bisa dan benar berkomunikasi di luar Alkitab secara langsung kepada anak-anak-Nya, memberi mereka wahyu baru selain Alkitab. Jadi kaum Gelombang Ketiga menolak Alkitab lengkap.
  3. Jabatan Lima Rangkap (Five-Fold Ministry) adalah salah satu “kebenaran” yang Allah pulihkan bagi gereja dan terkait dengan Latter Rain Movement.[9] Ini adalah sistem pemerintahan gereja dengan rasul-rasul, nabi-nabi, penginjil-penginjil, pendeta-pendeta dan guru-guru.[10]
  4. Di zaman akhir ini Allah memulihkan jabatan nabi dan rasul dengan kuasa dan kewenangan melampaui apapun yang dialami oleh nabi-nabi Perjanjian Lama dan rasul-rasul Perjanjian Baru.[11]
  5. Kesatuan lebih penting daripada ajaran. Kesatuan dibina melalui hubungan-hubungan, bukan melalui ajaran. Perbedaan-perbedaan ajaran dikesampingkan. Sebagai akibatnya, mereka yang berselancar di gelombang ini dapat menyusup ke dalam berbagai gereja dengan tujuan mempengaruhi gereja untuk menerima visi Gelombang Ketiga yang merupakan kesatuan di bawah rasul-rasul dan nabi-nabi masa kini.
  6. Penginjilan Kuasa dan Pertarungan Kuasa. Yesus dan para rasul menjawab kebutuhan orang dengan penyembuhan, pengusiran setan, dan membangkitkan orang mati. Mujizat-mujizat membuat orang tertarik pada Kabar Baik. Demikianlah kita seharusnya menginjil dewasa ini. Pertarungan Kuasa terjadi ketika Kerajaan Allah berhadapan dengan Kerajaan Setan. Di situlah saatnya Allah menunjukkan kuasa-Nya atas setan dan orang berbalik kepada Allah.
  7. Mereka yang terkait dengan gerakan ini tidak menunggu pada Kristus kembali namun Gereja yang bangkit dan menjadi pengantar Kerajaan Allah. Pelayanan dalam Kerajaan Allah bergantung pada gereja. Daripada menunggu kedatangan Juruselamat, gereja harus mengatasi masalah-masalah planet bumi. Kemuliaan Allah kini menggantikan kedatangan Anak Allah secara fisik.
  8. Pribadi-pribadi dapat menjadi setani, yakni roh jahat dapat hidup sebagai bagian dari tubuhnya. Bahkan orang Kristen pun dapat menjadi setani. Roh jahat tidak dapat hidup dalam roh seorang Kristen, namun dapat hidup dalam tubuh seorang Kristen.
  9. Kerajaan Sekarang; Kekuasaan Kerajaan; Teologi Pemulihan (Ini juga terkait dengan gerakan-gerakan gereja-Rumah dan Pemulihan.[12]
  10. Teks Alkitab favorit gerakan ini adalah kutipan Yesaya 43: 49: “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru”.[13] 

  1. Gnostik

Kata Yunani gnosis berarti pengetahuan. Pada abad pertama kaum Gnostik menekankan bahwa mereka orang Kristen sejati, yang percaya Alkitab. Mereka tidak menolak para rasul atau menentang ajaran mereka. Mereka semata-mata mengklaim bahwa mereka mempunyai suatu tambahan sumber pengetahuan atau pandangan yang melampaui pengetahuan Alkitab. Pengetahuan ekstra ini tidak datang dari pemahaman Firman Allah. Ia bersifat mistik dan datang dari komunikasi langsung dengan Allah. ‘Wahyu-wahyu’ pribadi ini disanggap otoritas ilahi. Karena itu kaum gnostik dianggap ajaran sesat oleh gereja mula-mula karena pandangan mereka mengenai penyataan Allah (wahyu).
Pada masa kini Allah tidak memberi ‘wahyu baru’ kepada manusia. Allah tidak melakukan ‘suatu hal baru’. Semua pengetahuan dan pengalaman, segala ‘sesuatu’ dapat ditemukan tertulis dalam Alkitab. Setiap pengetahuan, pengalaman atau ‘sesuatu’ yang tidak dapat ditemukan dalam Alkitab bukan dari Allah dan bukan untuk umat Allah. Setiap wahyu yang melampaui atau bertentangan dengan atau menambahi atau mengurangi apa yang dinyatakan dalam Firman Allah yang tertulis adalah kepalsuan. Pengalaman-pengalaman seperti ‘terbunuh dalam roh’ atau ‘tertawa kudus’ atau ‘menjadi ‘mabuk dalam roh’ tidak ditemukan dalam Alkitab. Semua dikenal baik oleh mereka yang mengajarkan hal-hal ini. Sebagai akibatnya, mereka yang mengajarkannya tidak berusaha membela ajaran mereka dengan Alkitab. Sebaliknya mereka mencari suatu ‘hal baru’, suatu pengalaman atau wakyu yang berada di luar Firman Allah. Karena pengalaman-pengalaman ini berada di luar Firman Allah, mereka juga berada di luar wilayah di mana Roh allah bergerak. Jadi pengalaman-pengalaman ini datang dari wilayah-wilayah di mana roh-roh lain bergerak, dalam wilayah klenik.

c. Guru-guru Gelombang Ketiga:
C. Peter Wagner
(baca tulisan-tulisannya berikut secara on-line):

Rick Joyner
Rich Joyner seorang Gnostic.  Apologetics Research Resources on Religious Cults, Sects, Religions, Doctrines etc.[14]  menulis sejumlah artikel mengenai guru-guru Gelombang ketiga dan ajaran-ajarannya. Lembaga riset ini yakin bahwa Rick Joyner and Morningstar Ministries [15] salah satu guru paling sesat dan berhaya. Ajaran-ajarannya yang penuh kesesatan,unorthodox termasuk (dan tidak terbatas) pada Kingdom Now (or Dominion) theology,[16] extra-biblical revelation,[17] dan penyangkalan kebangkitan badaniah Yesus Kristus. Rick Joyner adalah guru Gelombang Ketiga yang telah menulis banyak buku, termasuk  The Final Quest[18] mengenai visi Joyner atas apa yang dia pandang sebagai perang sipil yang kini sedang terjadi dalam Kekristenan antara mereka yang mendukung apa yang Allah lakukan kini (disebut langkah Allah, “move of God”) dengan mereka yang menentangnya. Mereka yang menetang “langkah” sebagaimana dilihat Joyner, merupakan gerombolan neraka. Pendukung-pendukung “Langkah Allah” Joyner adalah Toronto Blessing[19] dan gerakan-gerakan pembaruan dan kebangunan sejenis.[20] Menentang ‘hal baru yang Allah sedang lakukan’ ini maka anda dalam masalah. Dia telah menyerukan perang terhadap mereka yang menentang hal baru yang Allah sedang lakukan. Lihat selengkapnya dalam Rick Joyner, Christian Gnostic:  Civil War.[21] 

Guru-guru Gelombang Ketiga lainnya:
Guru-guru Gelombang Ketiga lainnya termasuk Jack Deere, Ted Haggard, Bill Hamon, Cindy Jacobs, George Ortis Jr. dan,Dutch Sheets.[22]  

  1. Pemberitaan mengenai Kristus dan Firman Allah

Ada orang yang memberitakan Kristus untuk berbagai alasan. Dalam Fil 1: 18 Paulus menulis:
Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita, (Fil 1:18 ITB)

Di kalangan Pentakosta, Kharismatik dan Gelombang Ketiga, ada anyak orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus. Mereka mengasihi Tuhan dan berusaha menaati Dia. Banyak yang memberitakan Kristus dan orang dimenangkan bagi Kristus. Dalam hal ini kita bersukacita. Namun Alkitab juga memngingatkan kita: Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. (1Tes 5:21 ITB)  
Alkitab ingatkan kita bahwa akan ada waktu di mana orang tidak akan tertarik pada ajaran yang sehat (2 Tim 4:2-4). Kita harus mengatakan kebanran dalam kasih (Ef 4: 15). Inilah tujuan kritik ini. Kita bersukacita bahwa Kristus diberitakan; namun kita mengajarkan bahwa Firman Allah dan memperingatkan orang-orang laon bahaya dari penyesatan yang berlangsung di zaman akhir ini (2 Tim 3: 13; Tit 3:3).
Bacalah Deception in the Church[23] untuk artikel-artikel berikut:
Exposing Error: Is it worthwhile? (Dr. Harry Ironside)
False Prophets and Teachers (Deuteronomy 13)
What the Bible says about False Teachers
How to recognize false teachers
The True vs. False Teacher[24] Miles J. Stanford
The Cost of Discernment[25] Dr. Robert Morey
----------------------------------
Catatan penerjemah:
· Dalam About di situs sumber karangan disebut nama suami isteri Mark dan Tami Swaim. Tidak secara jelas, tetapi saya menduga mereka yang menulis karangan ini.
· Naskah internet tulisan ini memberi link ke berbagai sumber atau referensi yang tidak seluruhnya dapat diikuti dalam terjemahan ini.

Jakarta/Yogya, 23-24 April 2012
***


[1] Klik A Brief History of Pentecostalism.  Banyak orang menganggapnya kebangunan Montanism, sebuah aliran sesat abad ke-2. Klik juga Neo-Montanism: Pentecostalism is the ancient heresy of Montanism revived
[2] Klik The Doctrine of Tongues (Harold MacKay) dan Speaking in Tongues (Lehman Strauss).
[3] Untuk suatu artikel menarik dari perspektif Reform mengenai Pentakostalisme klik Pentecostalism: Its identity, History and influence dan Pentecostalism in light of the Word.
[4] Untuk informasi lebih lanjut, klik apologetics index on Oneness Pentecostalism dan juga Oneness Pentecostals and their Schizophrenic God oleh Jay N. Forrest
[5] Lihat The Doctrine of Tongues (Harold MacKay) dan Speaking in Tongues (Lehman Strauss)
[6] Untuk pembahasan topik ini lihat The filling of the Spirit, (Eph. 5:18) (Mark Swaim) dan juga The Filling of the Holy Spirit: Is it the Biblical Basis for Christian Maturity? (Arthur F. Temmesfeld, Th.M)
[8] Klik Third Wave Doctrines. Buku, Charismatic Chaos oleh John MacArthur dapat dibaca on-line (masuk ke bagian the charismatic chaos).  Bab 6 buku ini mengenai The Third Wave (John MacArthur). dalam Bible.org terdapat artikel akademik yang layak dibaca: Excited Utterances: A Historical Perspective On Prophesy, Tongues and Other Manifestations of Spiritual Ecstasy (Dr Matthew Allen).
[11] Untuk informasi lebih lanjut klik False Prophets, Pseudo Apostles, and a New Gospel
[12] Untuk informasi selanjutnya, klik Kingdom Theology.  Sebuah artikel bagus yang layak dibaca tentang ini, klik  Ten reasons to reject Kingdom-Dominion teaching. Artikel lainnya adalah Dominion Theology, Kingdom Now Theology, Recontructionism.
[13] Untuk informasi selanjutnya, klik The New Thing.
[22] Klik di sini untuk informasi selengkapnya: http://www.deceptioninthechurch.com/page3.html