Tampilkan postingan dengan label tafsiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tafsiran. Tampilkan semua postingan

24 Mei 2014

Mimpi Yakub di Betel



Jacob by He Qi

Mimpi Yakub di Betel (Kej 28: 10-22)
 Khotbah dialog pelayanan lintas budaya, Bayern, Jerman, 18 Mei 2014
oleh Ati dan Markus Hildebrandt Rambe





Salam (Ati) :

Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus dan kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. (Amin)

Narator (Markus) :

Jakub tengah berada dalam pelarian. Dia menjadi seorang imigran. Dia sendirian.
Memang Yakub berasal dari keluarga dengan sejarah migrasi: Abraham, kakeknya, Ishak, ayahnya, dan Ribka, ibunya - semua mereka berpengalaman bagaimana harus meninggalkan kampung halamannya dengan ketidakpastian masa depan dan menjadi pengembara dan orang asing.

Tapi Yakub? Dia memang bepindah-pindah bersama seluruh keluarga besarnya, tetapi dia selalu berada dalam kemah ayahnya; ia menikmati keamanan dan kenyamanan kehidupan yang beradab. Sebagai anak kesayangan Ribka, ibunya, ia mungkin bahkan lebih sebagai "anak kesayangan mama"; dia tidak pernah disuruh pergi jauh.

Tapi sekarang Yakub ada di perjalanan karena takut terhadap balas dendam Esau. Yakub tidak hanya mengambil hak kesulungannya, tapi juga ia menipu berkat dari ayahnya, karena dihasut oleh ibunya, Ribka. Sekarang dia disuruh pergi jauh dari Bersyeba di Kanaan ke Haran di Mesopotamia, untuk mencari perlindungan dan untuk mengambil seorang perempuan Aram dari keluarga ibunya menjadi istrinya.
Belum 100 KM perjalanan Yakub - lebih 800 KM masih di depannya! Tapi dia sekarang sudah di batas kekuatannya. Dengan kelelahan, dia datang ke suatu tempat yang masih bernama Luz pada saat itu, dan mencari tempat untuk tidur, dengan sebuah batu di bawah kepalanya. Sebuah batu untuk bantal! Ternyata begitu keras, sekeras batu ini, realitas yang dialami ketika meninggalkan rumah.

Saya tidak berpikir bahwa Yakub segera tertidur. Semua pikirannya berputar-putar dalam kepalanya. Apa saja kiranya yang datang kepadanya sebelum tidur dalam pikirannya?

Yakub (Ati) :
Ya, itu benar. Saya sungguh-sungguh tak berdaya. Saya merasakan sakit di seluruh tubuhku Saya tidak tahu mana yang lebih buruk, rasa lapar, dingin, atau gejolak batin dalam hatiku. Dan pikiranku penuh bayangan peristiwa hari-hari terakhir dan apa yang mungkin akan menimpaku.

Saya tidak tahu apakah anda dapat membayangkan ketakutanku! Untuk pertama kalinya dalam hidupku, saya meninggalkan keluarga dan rumah saya. Sangat berbeda dari saudara kembarku Esau, yang terbiasa berkeliaran ketika berburu dan bertualang sendirian di padang gurun. Sementara saya tinggal sepanjang waktu di rumah di tengah keluarga saya di Bersyeba dan menikmati rasa aman.

Di pelarian ini semua jaminan kepastian itu meninggalkan dan melawanku. Saya sendirian. Saya sangat takut pada ketidakpastian apa yang akan menimpa saya dalam perjalanan ke Haran; takut bahwa saudaraku akan mencari dan membunuhku; takut karena tidak tahu bagaimana harus melangkah lebih jauh. Dari kejauhan, saya merasa ancaman dan kesepian sedang mendekat. Tapi tidak ada jalan untuk kembali, karena keluarga dan rumah saya tidak bisa lagi memberikan keamanan bagi saya.

Sebenarnya, saya telah menerima berkat hak kesulungan dari ayah saya dan bahkan telah diberkati dua kali, tapi apakah semua ini menolong saya? Apakah para hamba, semua hasil panen dan anggur serta harta yang saya peroleh dari hak kesulungan ini, menolong saya? Tidak satu pun dari ini semua yang saya bisa andalkan. Saya harus bertahan hidup sepanjang malam yang dingin tanpa perlindungan dan atap di atas kepala. Tampaknya, sekarang berkatku telah menjadi kutukan bagiku.

Kalau saja aku tidak mengkhianati saudaraku dengan mengambil berkatnya! Jika saja saya tidak mengikuti rencana ibuku! Sekiranya hak kesulungan ini tidak saya terima! Jika saja saya tidak begitu pengecut untuk mengakui rasa bersalah saya di hadapan ayahku dan saudaraku untuk meminta pengampunan mereka!

Kalau saja…. seandainya..sekiranya…? Apa yang akan terjadi jika... ? Semua pertanyaan ini begitu sia-sia.

Saya malu terhadap ayah saya, karena bagaimana saya bisa berdiri di hadapannya dan menerima berkatnya? Bagaimana saya bisa bertatap muka dengan saudaraku, yang telah saya tipu habis-habisan dan rampok hak-haknya? Saya malu. Dan karena itu seolah-olah saya tidak hanya lari dari saudaraku melainkan dari diriku sendiri - dan dari hadapan Allah leluhurku, yang perintah-Nya saya telah langgar.

Dan ke mana saya harus pergi sekarang? Ke suatu keluarga jauh di Haran, yang saya tidak kenal? Saya tidak tahu bagaimana mereka menyambut saya. Akan menikahi seorang perempuan yang akan menganggap saya sebagai pecundang yang melarikan diri dari keluarganya sendiri?

Aku tidak tahu lagi di mana dan mengapa itu semua. Aku hanya ingin tidur - sebagaimana di rumah dan ingin bangun di kemah saya keesokan harinya, seolah semuanya hanyalah suatu mimpi buruk! Seandainya ada yang dapat memutar kembali waktu!

Narator (Markus) :

Sekali lagi Yakub memperbaiki letak batu di bawah kepalanya sebelum akhirnya ia jatuh terlelap.

Namun di tengah malam Yakub bermimpi - dan apa yang ia mimpikan begitu jelas dan begitu dahsyat, seperti sesuatu yang ia belum pernah alami. Dia melihat tangga di depannya, tegak dari bumi ke langit. Dan para malaikat, utusan Allah, tak henti-hentinya naik dan turun di tangga itu.

Lalu langit terbuka! Dan tiba-tiba ada hubungan yang mengubah semua kegelapan dan kesendirian dalam cahaya benderang. Dari atas ia mendengar suara Allah yang berbicara kepadanya: "Yakub, Akulah Allah nenek moyangmu, aku tidak meninggalkan engkau kemana pun engkau pergi, dan Aku pada suatu hari nanti aku akan membawa engkau kembali ke tempat ini. Aku punya rencana besar untukmu, engkau akan menjadi bangsa yang besar. Aku akan memberkati engkau, dan melalui engkau semua kaum di muka bumi di utara dan di selatan, barat dan timur akan mendapat berkat."

Dalam mimpi itu perspektif baru terbuka untuk Yakub. Sampai saat itu, segala sesuatu kelihatannya dalam relasi horisontal, yakni pikiran-pikirannya, keluarganya, pelariannya. Semuanya berkisar pada kekuatiran yang sama. Jalan buntu yang sama. Tapi sekarang tiba-tiba hubungan ini ada. Gerakan para malaikat yang membuat hubungan yang hidup dari atas ke bawah. Sebuah hubungan dengan Allah.

Batu yang di atasnya Yakub meletakkan kepalanya menjadi tempat yang menghubungkan sorga dan bumi. Tetapi bagaimana Yakub akan memahami semua yang telah terjadi di malam hari ketika dia bangun keesokan harinya?

Yakub (Ati) :

Ketika saya bangun di pagi hari, saya tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Apakah itu hanya mimpi? Atau benarkah TUHAN, Allah Abraham dan Ishak benar-benar berbicara dalam tidurku kepadaku?

Saya tahu, itu lebih dari hanya mimpi. Karena saya dapat merasakan di dalam diriku: ada yang berubah. Saya tidak lagi sama seperti saya yang tidur kemarin. Dan saya tahu: Allah ada di sini! Kini, saya tidak melihat tangga dan para malaikat lagi. Namun hubungan dengan Allah moyangku itu ada di sini dan jelas, sejelas yang belum pernah saya alami sebelumnya. Sekarang Dia tidak hanya Allah moyangku, tapi sungguh-sungguh Allahku juga!

Sampai pada malam sebelumnya, saya berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan saya karena pelanggaran-pelanggaranku. Saya tidak tahu bahwa Dia bersamaku, berjalan melewati kesulitan dan ancaman. Melalui kehadiranNnya, Dia bahkan telah memperkenalkan diriNya sebagai „Allah Penyerta“.

Tradisi di rumah ayahku, seseorang harus memenuhi syarat tertentu untuk menjadi "wahana (pembawa?) berkah“, entah itu berkaitan dengan status sebagai anak sulung dan sebagai anak kesayangan, atau persyratan khusus lainnya. Seperti saudaraku Esau, ia bukan hanya anak sulung, tapi sebagai seorang pemburu ia bisa mempersiapkan hasil buruannya dengan keterampilan hidangan kesukaan ayah. Ayah suka itu. Tapi di tempat asing ini, saya sekarang mengalami berkat yang berbeda. Saya mengalami kasih tanpa syarat dari Tuhan.

Bayangkanlah!

  • Justru ketika saya merasa tidak pantas, Allah berbicara kepadaku dan bahkan memberi saya berkat-Nya. Untuk berkat ini saya tidak harus berjuang atau membuktikan diri lebih baik daripada yang lain, karena berkatNya adalah milik-Nya sendiri dan anugerah-Nya. Untuk mendapatkan berkat-Nya tidak perlu persaingan dengan orang lain.
  • Justru ketika saya mengalami perasaan putus asa, saya mengalami kehadiran Allah, harapan dan perspektif baru, yaitu menjadi berkat bagi semua orang. Tuhan berkata kepada saya "semua keluarga di bumi akan mendapat berkat melaluimu dan keturunanmu" (ayat 14). Saya, yang tidak layak ini, yang telah menipu dan mengkhianati sesama dijadikan pembawa berkat bagi semua orang di bumi!

Jika semua ini bukan tanda-tanda pendamaian Allah, lalu apa?

Dengan kekuatan pendamaian Allah ini, saya mengalami dimensi baru tentang makna berkat. Dia tidak dibatasi sebagai hadiah khusus atau hanya diperuntukkan bagi orang tertentu, sebagaimana ayah menjawab ketika Esau, saudara saya, meminta dia memberi berkat lain. Tetapi Tuhan telah menunjukkan kepada saya bahwa berkat-Nya tak terbatas, berlimpah dan untuk semua. Dari pengalaman dengan Allah ini saya mengerti sekarang apa maknanya berada di bawah berkat Tuhan.

Pengalaman dijaga dan disertai oleh Allah ketika jauh dari rumah dan di dunia yang tampaknya berbahaya ini, merupakan hal yang baru bagi saya. Karena saya selalu menempatkan keselamatan dan kenyamanan terkait dengan rumah (kampung halaman). Tapi pengalaman saya sebagai pengembara di negri asing telah mengubah saya. Allah sang Penyerta memberi saya janji-Nya: " Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi. (...) Karena Aku tidak akan meninggalkan engkau, sampai Aku telah melakukan apa yang telah saya janjikan." (ayat 15)

Narator (Markus) :

Untuk Yakub, telah terjadi perubahan yang sangat berarti. Meskipun keadaannya masih sama. Tapi kini dia tiba-tiba memiliki perspektif baru tentang apa rencana Allah baginya. Ada harapan dan perspektif baru lagi, yang menjadikannya berguna untuk melanjutkan perjalanan.

Batu yang malam itu menjadi simbol kegagalannya, telah menjadi tempat di mana Allah berbicara kepadanya. Di sini langit dan bumi telah saling menyentuh. Ada yang terpulihkan karena dia mengalami kehadiran Allah yang tidak pernah meninggalkan dia. Sebuah tempat suci. Oleh karena itu, ia mendirikan batu di mana ia tidur, untuk menjadi tonggak. Ia kuduskan dengan minyak dan menyebutnya "Beth-El" - rumah Allah. Di sini dia pada suatu hari, jika mimpinya benar-benar terbukti, akan kembali dan membangun rumah ibadah.

Seperti Yakub, kita juga sedang berada di perjalanan hari ini. Dan seperti Yakub, kita juga memerlukan batu seperti itu, yakni tempat-tempat perjumpaan dengan Allah, di mana di dalam pengembaraan, kita menemukan perspektif baru. Sebuah tempat di mana kita mengalami pemulihan di tengah-tengah kerapuhan dan kegalauan hidup kita. Sebuah tempat di mana langit dan bumi bersentuhan satu sama lain.

Juga, Allah ingin memberikan tempat-tempat suci seperti itu kepada anda. Juga Allah ingin memberikan pengalaman di mana anda akan menyadari, berkat-berkat apa saja, rumah (home) mana saja dan keamanan yang bagaimana, yang Allah sang Penyerta berikan.

Mungkin hal ini terjadi dalam pertemuan dengan seseorang yang akan menjadi malaikat Allah bagi anda. Mungkin ini terjadi dalam ibadah di gereja anda, di mana Allah berbicara kepada anda dan Roh-Nya menyentuh anda.

Akan tetapi kadang-kadang terjadi juga seperti melalui mimpi, ketika kita berada di titik terendah kesepian dan merasa ditinggalkan seorang diri.

Allah tidak meninggalkan anda. Dia memberkati anda. Dan melalui anda, orang-orang lain akan mendapat berkat.

Berkat akhir (Ati) :

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. (Amin)


---------------


14 November 2011

Yerusalem Bukan Tanah Suci

Oleh: Dr. Fredrik Y. A. Doeka*

Minggu ini rombongan Haji NTT sedang menunaikan rukun Islam ke-5 di Mekah. Minggu ini pula satu rombongan pendeta GMIT sedang mempersiapkan diri untuk berkunjung ke Yerusalem. Pelepasan rombongan penziarah rohani ini menjadi pekerjaan publik perdana Majelis Sinode GMIT periode 2011-2015. Dari pekerjaan ini, kita dapat membayangkan mengenai apa yang Majelis Sinode baru harapkan terhadap perjalanan para kafilah Kristen itu yang dipimpin oleh mantan Ketua Sinode GMIT 2007-2011. Majelis Sinode baru yang diketuai oleh Pdt. Robert Litelnoni, S.Th. pasti mengharapkan rombongan akan kembali dari Yerusalem dengan selamat dan menjadi penziarah yang mabrūr (b. Arab), artinya penziarah yang diterima dalam anugerah dan berkat Allah.

Yerusalem menyimpan situs arkeologis dan religius bagi tiga agama besar, yaitu Yudaisme, Islam dan Kristen. Tembok Ratapan adalah salah satu situs religius penting Yudaisme. Penganut agama Yahudi orthodoks percaya, bahwa tembok ini tidak ikut hancur sebab di situlah berdiam "Shekhinah" (kehadiran ilahi). Jadi, berdoa di situ sama artinya dengan berdoa kepada Tuhan. Bagi kaum Muslimin, tembok ini juga merupakan bagian dari dasar Masjid al-Aqsa dan Masjid al-Omar, serta diyakini sebagai gerbang tempat terangkatnya Muhammad dari Yerusalem ke surga (mi'raj) dengan mengendarai buraq (http://id.wikipedia.org/wiki/Tembok_Barat). Sedangkan bagi orang-orang Kristen, mereka dapat menyaksikan secara langsung tempat kelahiran, pelayanan, kesengsaraan dan kematian Yesus, sang Juru Selamat.

Terminologi Yerusalem

Yerusalem berasal dari kata yerūsyāsalaim (b. Ibrani), yang menunjuk kepada sebuah kota, yang dalam Alkitab digambarkan sebagai negeri beradab dengan sejumlah nilai-nilai kemanusiaan. Dampak dari negeri beradab itu adalah kebenaran, keadilan, kesetaraan, perdamaian, dan cinta kasih menjadi suasana sehari-hari Yerusalem. Dengan demikian orang yang hidup di sana merasa bahagia.
Selain idealisasi Yerusalem secara terminologis, term religius juga memberi sumbangan bagi meningkatnya jumlah penziarah ke negeri yang saat ini dipimpin oleh PM Benjamin Netanyahu. Yerusalem, seperti apa kata Alkitab, mendorong tiap-tiap orang untuk rindu ke sana. Sekitar abad ke-6 s.M., atau abad-abad sebelumnya, Yerusalem sudah menjadi magnet spiritual bagi orang-orang yang hidup di Timur Tengah. Penulis kitab Mazmur adalah salah satu yang begitu tertarik atas peradaban kota itu sehingga dalam refleksi imannya ia gambarkan, Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel (Maz 122:3-4). Di tempat lain, masih sang pemazmur, dikatakan bahwa Tuhanlah yang membangun Yerusalem dan di negeri itu Dia mengumpulkan umat Israel yang tercerai berai (Maz 147:2). Singkatnya, Yerusalem sudah menjadi sebuah kota impian sejak itu. Maka pemazmur menulis lagi: Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku! Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku! (Maz 137:5-6).

Tafsir Islam

Yerusalem mendapat perhatian sungguh-sungguh dari para penafsir Islam di Indonesia. Negeri ini dipahami sebagai Tanah Perjanjian bagi Israel, umat Musa. Prof. Dr. Haji Abdul Malik Bin Abdul Karim Amirullah, disingkat HAMKA (1908-1981), dalam tafsirnya tentang sura 7:137, mengatakan Allah memberikan kepada umat Musa Tanah Perjanjian, yakni wilayah Syam yang menyebar hingga mencapai batas Timur, negeri Syria, ke Barat berbatasan dengan negeri Mesir, dan di dalamnya terdapat tanah Palestina (Hamka, Tafsir Al Azhar Jus IX, 2005:49). Sambil mengutip Kejadian 12:7, Hamka menegaskan Tanah Perjanjian (ardhul mi’ad) diberikan kepada anak-cucu Abraham (sura 5:21). Seperti diketahui Abraham memiliki dua anak laki-laki, Ismael dan Isak. Ismael dan keturunannya telah hidup di negeri Hijaz dan mereka beranak cucu menjadi bangsa yang besar, yakni bangsa Arab. Kemudian bangsa Israel, keturunan Isak, menduduki Tanah Perjanjian sesudah 400 tahun pada periode Musa (Hamka, Tafsir Al Azhar Jus VI, 2000:203). Umat Musa hanya menikmati tanah itu selama periode singkat. Hal ini karena umat Israel tidak suci di hadapan Allah (Hamka, Tafsir Al Azhar Jus IX 2005:141). Beberapa periode berikut, bangsa-bangsa seperti Babel, Persia, Roma dan Arab menduduki Tanah Perjanjian secara bergantian. Selama 1.400 tahun tanah itu di bawah kontrol bangsa Arab. Akan tetapi pada 1948, orang-orang Yahudi, yang didukung oleh Inggris dan Amerika Serikat, mengambil alih Tanah Perjanjian. Alasannya, mereka telah diberi hak untuk memiliki Tanah Perjanjian sejak 2500 s.M. Melalui tindakan itu, mereka mengusir 2 juta orang Arab, yakni populasi asli Tanah Perjanjian. Sejak itu orang-orang Yahudi memiliki negerinya dan tidak lagi hidup terpencar di penjuru dunia, termasuk hidup terasing di wilayah Arab. Tetapi, orang-orang Yahudi telah berdosa hingga hari ini karena menjadikan penduduk asli itu tercerai-berai. Karena itu hak istimewa mereka telah dicabut. Hamka mengutip sura 7:167, Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sungguh, Dia akan mengirim orang-orang yang akan menimpakan azab yang seburuk-buruknya kepada mereka (orang Yahudi) sampai hari kiamat. Sesudah menaklukan wilayah Palestina dalam 1948, Israel menyerang lagi negeri-negeri Arab lainnya pada 1967 dan membakar mesjid Al-Aqsa pada 1969. Waktu itu bangsa Arab-Palestina melawan di bawah pimpinan Yaser Arafat. Mereka menuntut balas dan berjanji untuk tidak berhenti sebelum orang-orang Yahudi itu diusir dari Yerusalem, tanah tumpah darah mereka (Hamka, Tafsir Al Azhar Jus IX, 2005:151,152). Berbagai protes dan tindakan bom bunuh diri terhadap Israel yang dilakukan oleh pengikut-pengikut Yaser Arafat [atau yang dilakukan oleh kelompok Hammas saat ini] adalah hak mereka untuk menuntut tanah air. Tindakan bunuh diri warga Palestina merupakan pengejewantahan sikap hidup yang suci di hadapan Allah. Selanjutnya, Hamka mengajak seluruh Muslim sedunia mengambil kembali Yerusalem, sebagai Tanah Perjanjian, dan diserahkan kepada bangsa Arab. Allah-lah yang memiliki bumi ini, bukan orang-orang Yahudi. Oleh kehendak-Nya, Dia akan memberikan Yerusalem kepada kaum Muslim, yaitu orang-orang yang berserah kepada-Nya (Hamka, Tafsir Al Azhar Jus IX, 2005:50, 151).
Departemen Agama menafsirkan, Yerusalem sebagai sebuah wilayah yang lebih luas dari apa yang Hamka jelaskan. Wilayah itu terdiri dari Syria hingga Mesir dan seluruh negeri jajahan yang pernah dijajah oleh Firaun (pada zaman Musa) juga diberikan kepada Israel (sura 7:137). Pemberian ini oleh karena sikap Israel yang sabar menunggu pemenuhan janji Allah (Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid III, 1997/1998:563-564).
Berkaitan sura 7:128 dalam tafsir Al-Mishbāh, Prof. Dr. M. Quraish Shihab menerangkan secara teologis seluruh dunia adalah milik Allah. Demikian halnya Yerusalem yang sebenarnya dijanjikan kepada orang-orang Yahudi kecuali kalau mereka menjadi orang-orang takwa. Mereka akan menikmati tanah ini, tidak hanya untuk sementara, tetapi juga sesudah berakhirnya dunia ini (M. Quraish Shihab, Al-Mishbah Volume 5, 2006: 215).

Tafsir Kristen

Beberapa tafsiran Kristen Indonesia mengenai Yerusalem atau Tanah Suci menarik untuk disimak. Dr. Joas Adiprasetya, Ketua Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, memahami Yerusalem sebagai kota suci kalau negeri itu sudah damai. Selama belum ada perdamaian antara Israel dan warga Palestina, maka Yerusalem bukanlah Tanah Suci (Memahami Israel Alkitab dan Israel Kontemporer, 2011:1).
Selanjutnya Dr. Ioanes Rakhmat, mantan dosen STT Jakarta, menyinggung sepintas mengenai kerinduan orang ke Yerusalem sebagai bentuk zionisme Kristen. Gerakan fundamentalisme Kristen a la Amerika menginspirasi orang-orang Kristen Indonesia untuk berkunjung ke sana. Gerakan ini sesungguhnya hendak menggeser posisi masyarakat Israel sekarang dan menjadikan penganut aliran ini sebagai “Israel baru”. Tugas utama “Israel baru” adalah menobatkan warga Israel saat ini sehingga dengan pertobatan itu akan memungkinkan “Israel baru” terangkat ke sorga (Mulai dari Musa dan Segala Nabi, 1996: 65-67).
H. A. Pandopo, teolog Belanda bernama asli Harry A. van Dop yang bekerja di Indonesia selama 38 tahun, menafsirkan Yerusalem (dalam syair dan lagu “Kidung Jemaat” 134) sebagai kota yang tidak aman dan penuh dengan manusia pendosa. Tetapi jika Yerusalem sejahtera, maka pada saat itu juga sang Mesias sudah datang.
Di tempat lain “Madah Bakti” (buku nyanyian umat Katolik Indonesia) nomor 834 memberi gambaran Yerusalem sebagai kota surgawi. Di sana melimpah segala nikmat yang dapat membahagiakan setiap penghuni. Juga terjadi pesta akbar bersama Allah karena itu setiap orang diundang ke sana.

Bisnis Parawisata Israel

Sejak Negara Israel membuka situs-situs purbakala untuk kepentingan parawisata, banyak orang Kristen Indonesia berbondong-bondong ke sana. Para penziarah memiliki satu tujuan, yakni mengkultuskan Israel masa lampau. Sekurang-kurangnya, mereka memahami ikatan-ikatan sejarah dan tradisi-tradisi agama yang berkaitan dengan Israel di masa lampau yang merindukan Yerusalem dan percaya bahwa tanah itu sebagai bagian dari iman Kristen (Fredrik Doeka, The Enduring Mission of Moses, 2011:5). Motivasi religius semacam ini menjadi peluang bisnis pemerintah Israel untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Tercatat bisnis pariwisata Israel menjadi salah satu sumber pendapatan paling besar dalam rancangan pendapatan negara zionist itu. Lebih dari 2.7 juta turis asing mengunjungi Israel pada 2009 (http://id.wikipedia.org/wiki/Pariwisata_di_Israel). Tidaklah mustahil hasil pendapatan inilah yang dipakai untuk membeli peralatan militer Israel yang terkenal sangat canggih di dunia, yang dipakai untuk membunuh pejuang Palestina.

Penziarah yang mabrūr

Dalam tafsir Islam dan Kristen di atas, Yerusalem sekarang ini dengan luas 123 km2, yang dirindukankan rombongan pendeta GMIT dan juga rombongan orang-orang Kristen lainnya, bukanlah Tanah Suci. Kecuali kalau penghuni Yerusalem saat ini sudah bertobat dan bertakwa kepada Allah, hidup suci di hadapan-Nya dan mengasihi sesama manusia.
Hati kita teriris ketika mendengar penziarah-penziarah Kristen mau saja menghabiskan puluhan juta rupiah untuk pergi ke negeri yang sedang digenangi oleh darah dan air mata para martir Palestina. Hati tambah teriris lagi ketika kita mengetahui, bahwa orang terpaksa berhutang untuk ke sana. Sementara itu di sini, di bumi Flobamora, kemiskinan sedang merajalela, hantu KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme) bergentayangan, busung lapar menjadi penyakit akut, kematian ibu-ibu hamil meningkat, mutu pendidikan sangat rendah, pengangguran di mana-mana, dan masih banyak masalah sosial lainnya. Bukankah ini keadaan riil negeri kita dan menjadi tugas anda dan saya untuk menjadikannya sebagai “Yerusalem”, negeri adil dan makmur atau Tanah Suci?
Sekali lagi Yerusalem yang berada di Timur Tengah itu bukanlah Tanah Suci. Ia hanyalah pentas kebrutalan tentara Israel saat ini. Ziarah ke Yerusalem sama dengan ikut mendukung aksi kekerasan Israel terhadap warga sipil Palestina. Tugas kita seharusnya menjadikan “Yerusalem” ideal itu nyata di bumi Flobamora dengan cara mengentaskan kemiskinan, memberantas KKN, meningkatkan dan menyediakan layanan kesehatan memadai bagi masyarakat, meningkatkan mutu pendidikan, menyediakan lapangan pekerjaan, dst. Selama tugas-tugas tersebut kita tunaikan, maka selama itu pula kita menjadi penziarah yang mabrūr.

*Dr. Frederik Doeka promosi doktoral di Universitas Utrecht, Negeri Belanda, dengan disertasi berjudul The Enduring Mission of Moses. Indonesian Muslim and Christian Representations of a Jewish Prophet. Bekerja sebagai pengajar Islamologi dan Teologi Agama-agama pada Fakultas Teologi Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang

27 Januari 2011

Komentar atas Mika 6:1-8

Mika bernubuat pada bagian kedua abad ke-8 SM di Yehuda.

Latar Kisah (atau Konteks Sejarah)

Mika bernubuat dalam suatu masyarakat yang tidak kekurangan orang-orang beragama. Mika dengan jelas menyebut penyebaran religiositas di mana orang, khususnya para pemuka agama, memperlihatkan diri di muka umum betapa religius mereka itu, dengan mulut manis berseru di hadapan Allah (Mika 3). Nampaknya kehidupan beragama yang berlangsung seperti sediakala membuat para pemuka agama puas diri dan yang kuat tetap berkuasa. Maka dalam keadaan itu, munculnya seorang suruhan Allah mencanangkan hukuman Allah kepada orang saleh mestilah suatu kejutan.

Dipanggil ke Perundingan

Dalam ayat-ayat pembuka Allah mengajukan gugatan terhadap Israel, dan menyeru semua ciptaan menjadi juri. Gunung-gunung dan dasar-dasar bumi akan mendengar tuduhan Allah dan pembelaan Israel. Ini bukan pertengkaran kecil melainkan belangsung dalam suatu kerangka yang meliputi alam semesta.

Kita diberitahu bahwa “Allah berperkara dengan umat-Nya.” Kita tidak memperoleh daftar pelanggaran dalam ayat-ayat itu, namun sebelumnya, fasal 3 membeberkan setumpuk dosa dan ayat-ayat penutup fasal 6 menyatakan secara khusus: “kekayaanmu penuh kekerasan, pendudukmu bicara bohong” (ayat 12).

Kita mendengar berulang-ulang kesedihan Allah, “ O, umat-Ku,” dalam fasal 3 dan 5, ketika Allah mencoba memahami kesalahan apa yang terjadi. Ketika Allah meninjau hubungan ilahi – manusia sejauh itu, terkandung hukuman bagi umat yang kontras dengan kesetiaan Allah. Dan kita memperoleh suatu rangkuman sejarah keselmatan, di mana Allah menghitung “tindakan penyelamatan TUHAN” (ayat 4-5):

* Allah membebaskan dari perbudakan di Mesir
* memberi mereka para pemimpin (Musa, Harun, Miriam)
* memberkati mereka melalui imam asing Balam meskipun menentang kehendak rajanya sendiri
* dan membawa mereka ke tanah perjanjian (dari Sitim ke Gilgal).

Setiap kisah itu adalah suatu kisah lengkap tersendiri, dan setiap kisah memperlihatkan ketidaksetiaan umat secara kronis. Kedua ayat singkat ini membantu mengingatkan umat siapa Allah itu. Dialah Allah yang mendengar seruan umat dan membawa mereka keluar dari perbudakan. Dialah Allah yang mau memakai orang asing pun untuk memberi berkat. Dialah Allah yang memperlihatkan belas kasih dan rahmat ketika umat jatuh. Bahkan berhala dan ketidakadilan umat tidak mencegah Allah ini bertindak menolong. Keseluruhan ciptaan berdiri menjadi saksi penyelamatan Allah ini yang dinyatakan dalam tindakan-tindakan itu.

Jawaban Umat

Sekarang jawaban umat (ayat 6-7). Pertanyaan “dengan apakah aku akan datang ke hadapan TUHAN?” adalah semacam pengakuan bersalah. Tidak ada usaha untuk menentang klaim Allah, dan tidak ada bukti yang dikemukakan untuk membela diri mereka dari tuduhan-tuduhan Allah. Umat cepat-cepat kembali ke rumusan yang lazim: perlu persembahan korban untuk menutupi pelanggaran-pelanggaran mereka. Respon ini memperkuat pola pamer keberagamaan yang telah dikecam Mika, khususnya oleh para pemimpin yang mencari kepentingannya sendiri (3:11). Mika mestilah sudah menduga bahwa para pemimpin palsu itu akan mengarah ke tindakan pengorbanan yang mencolok itu, seakan-akan masalahnya adalah bagaimana menyenangkan Allah daripada mengubah kelakuan mereka sendiri. Mika memperjelas bahwa dalam bidang agama tidak akan ada lagi kehidupan beragama yang berlangsung seperti sediakala tanpa perubahan hati dan kehidupan.

Jawaban pergi-berbuat adalah usaha menyenangkan Allah melalui suatu bentuk score-keeping, yang mencoba memberi harga tertentu pada rahmat Allah. Berapa bayarannya untuk menghentikan pengawasan Allah? Korban bakarankah? Ribuan domba jantan? Anak sulungku? Bagaimana kita menyamakan angka? Tapi Mika menolak. Kita tidak bisa sekadar membayar.

Tidak Lagi Beragama Seperti Sediakala

Mika mempertentangkan antara membuat score-keeping gampangan dengan jalan yang telah Allah berikan, “Dia telah memberitahumu, hai mahluk fana, apa yang baik” (ayat 8). Keseluruhan Torat telah memberikan jalan kehidupan kepada umat Allah. Mika juga berada di barisan para nabi yang telah berulang-ulang mengingatkan umat mengenai jalan ini. Mika membuat rangkuman atas apa yang Allah tuntut, yang sekaligus lebih mudah dan lebih rumit daripada melaksanakan praktek ritual: “berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu.”

Berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah, bukanlah suatu tindakan tunggal yang dapat ditandai di daftar lalu ditinggalkan. Pada suatu skala pribadi dan sosial, dengan cara yang besar dan kecil, ini adalah suatu jalan hidup. Mika memberitahu bahwa persetujuan berkala terhadap kesetaraan bukanlah suatu kesetiaan. Kita tidak boleh hanya memberi perhatian pada kuota keanggotaan komite-komite dalam mengupayakan keadilan rasial. Kita tidak boleh hanya mengirim sumbangan untuk bantuan bencana lalu mengabaikan memeriksa gaya hidup yang menyebabkan, setidaknya sebagian, terjadinya sejumlah bencana alam. Kita tidak boleh melakukan kampanye hunger walks namun menolak mengubah gaya hidup konsumeris kita. Kita tidak boleh mengaku dengan mulut pada hari Minggu pagi namun mendendam di kantor pada hari Senin.

Daripada mempersembahkan kepada Allah ribuan domba jantan, Mika menyerukan untuk mempersembahkan ribuan tindakan harian saling mengasihi sesama dan dunia yang Allah kasihi. “Berjalan rendah hati dengan Allah” berarti menyadari kecenderungan untuk membenarkan diri sendiri. Kita tidak boleh “bermain gereja” atau membingkai kehidupan keagamaan kita sebagai suatu permainan di mana kita menahan Allah dengan melakukan kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan. Kehidupan iman memang suatu perjalanan yang mereorientasi hati dan kehidupan.

Suatu Peringatan

Adalah mudah untuk membuat dikotomi palsu antara praktek ritual dan iman yang sejati dari ayat-ayat terkenal dalam kitab Mika ini, antara kesalehan dan keadilan sosial, atau antara “menjadi religius” dan “menjadi rohani” menurut istilah yang lazim. Mika tidak pernah melarang orang untuk berhenti melakukan praktek ritual atau berhenti menjadi religius. Masalahnya bukan agama itu sendiri. Masalahnya adalah memakai praktek ritualnya untuk melepaskan diri dari kehendak Ilahi atas keadilan dan kemurahan. Kebalikannya sama menimbulkan masalah, yakni menjauhkan diri dari tindakan persekutuan doa dan ibadah karena sibuk dalam aktivitas keadilan sosial. Setiap ektrim tidak bisa memberi yang utuh.

Kita juga harus waspada pada penyalahgunaan yang lazim ayat ini, yakni membiarkan seseorang menjauh sama sekali dari persekutuan iman. Penekanan pada “berjalan rendah hati dengan Allahku,” dalam ayat 8 dapat menjadi manifesto agama pribadi, sebuah gereja perorangan.

Micah 6:1-8
Commentary by Amy Oden
http://www.workingpreacher.org/preaching.aspx?tab=1&alt=1

Terjemahan bebas oleh Zakaria Ngelow