Tampilkan postingan dengan label teologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teologi. Tampilkan semua postingan

10 Februari 2014

Sambutan atas buku KDK



Sambutan atas buku
Keterjalinan dalam Keterpisahan: Mengupaya Teologi Interkultural dari Kekayaan Simbol Ritus Kematian dan Kedukaan di Sumba dan Mamasa. (2014, 412 hlm). Disertasi teologi lintas budaya
Pdt. Dr. Aguswati Hildebrandt Rambe

Dalam usaha memahami budaya Yahudi masa Yesus, yang menguburkan orang mati di dalam lubang batu – dan bahkan adanya penemuan ossuaries (peti-peti jenazah) -- saya pernah memeriksa budaya penguburan beberapa budaya etnis di Indonesia. Orang Batak membuat sacrophagus (peti mati dari batu), demikian juga orang Minahasa yang “mendudukkan” orang matinya di dalam waruga. Orang Toraja menguburkan mayat di dalam gua atau di dalam kuburan yang dipahat di bukit batu. Orang Sumba memotong batu besar dan menariknya ke pekuburan untuk penutup kuburan.

 Aguswaty Hildebrandt Rambe, penulis buku ini membahas lebih dalam mengenai tradisi penguburan di kalangan orag Sumba dan orang Toraja Mamasa. Buku Keterjalinan dan Keterpisahan ini adalah sebuah karya teologi kontekstual di bidang lintas budaya, yang secara khusus membahas budaya kematian pada dua suku di Indonesia, Sumba dan Mamasa. Buku ini ditulis kembali untuk pembaca Indonesia dari naskah aslinya, suatu disertasi berbahasa Jerman.
Penerbitan ini menyambung penerbitan beberapa buku Oase sebelumnya, Teologi Bencana (2006), Jalinan Sejuta Ilalang (2012) dan Teologi Politik (2013). Sumbangan penting pokok buku ini bagi pengembangan teologi kontekstual di Indonesia dengan sendirinya jelas. Sejarah pekabaran Injil di Indonesia di kalangan suku-suku berlangsung tanpa dialog yang sehat dengan budaya tradisional masyarakat Indonesia. Kalangan zending secara umum menilai budaya tradisional secara negatif. Di beberapa tempat kalangan zending membedakan antara unsur-unsur ritus dan adat istiadat, antara yang bersifat keagamaan dan yang hanya merupakan aturan-aturan atau kebiasaan sosial. Semua yang ritus dilarang sebagai yang sesat atau kafir, sedangkan adat-istiadat dipilah antara yang positif sehingga boleh diteruskan dan yang negatif, jadi harus ditinggalkan. Terlepas dari larangan-larangan itu, orang Kristen dari berbagai suku tetap berusaha hidup dalam identitas sosial budayanya, sehingga sering membingungkan gereja. Pendekatan kalangan zending yang membedakan ritus dan adat dalam budaya tradisional kini mulai dipertanyakan, baik karena keterjalinan kedua aspek itu dalam budaya tradisional, maupun karena pendekatan zending tidak memberi penghargaan teologis terhadap budaya (dan agama) tradisional. Ritus kematian pada beberapa masyarakat tradisional terkait dengan ancestor worship (penyembahan leluhur) yang berkaitan dengan faham deification (pengilahian) leluhur, dan dengan reproduksi atau rekonfirmasi status sosial. Yang pertama menjadi alasan zending menolaknya, dan yang terakhir ini menjadi alasan upacara kematian tradisional makin marak diselenggarakan, misalnya di kalangan masyarakat moderen orang Toraja dan Toraja Mamasa.

Studi Bu Ati ini tidak hanya penting bagi kalangan Kristen kedua suku, Sumba dan Mamasa; suku-suku lainnya yang bermasalah dengan tradisi budaya bisa memperoleh pedoman pastoral dalam buku ini. Buku ini penting juga sebagai rintisan dalam bidangnya secara multidisiplin, dan karena itu bermanfaat bagi banyak kalangan.

Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. (Yes 12:3)

(Zakaria J. Ngelow)

Anda ingin memesan buku ini? Klik: www.oaseintim.org/books.htm

15 Januari 2013

Buku: Jalinan Sejuta Ilalang



Aguswati Hildebrandt Rambe dkk (eds) 
 Jalinan Sejuta Ilalang: Pergumulan, Tantangan dan Harapan (Makassar: Yayasan Oase Intim, 2012; 400 halaman). 

Buku ini kumpulan tulisan sejumlah sahabat – liber amicorum -- dalam berbagai bidang terkait teologi, diterbitkan sebagai festscrift 60 tahun Zakaria Ngelow


Harga: Rp. 40,000.- belum termasuk ongkos kirim
[pemesanan email ke oaseintim@yahoo.com]
atau kontak: Jean Wattimena atau Jenifer Ladja


Daftar Isi
Sekapur Sirih
Aguswati Hildebrandt Rambe ................................................................................ 9
I. Agama-Agama dalam Keterjalinan Dialogis

Zakaria Ngelow: Pejuang Pandangan Pluralistik di Indonesia Bagian Timur
Nico Schulte Nordholt ....................................................................................... 15

Aftermath, Survivors, dan Narasi Perempuan Kristen Lokal: Sebuah Refleksi Misiologis-Feminis Kristen Lintas Agama
Septemmy E. Lakawa .......................................................................................... 24

Pencitraan Islam oleh Kaum Kristen di Belanda
Manakah yang diwariskan kepada umat Kristen di Indonesia?
Jaspert Slob ........................................................................................................ 41

Tipologi yang Dinamis: Kontribusi Paul Tillich bagi Teologi Agama-agama
Aguswati Hildebrandt Rambe ............................................................................ 56

Apakah Tujuan Orang Beragama? Sebuah Catatan tentang Kitab Ayub
Marie-Claire Barth-Frommel ............................................................................. 65

Umat Kristen dan Sunat
Jan A.B. Jongeneel ............................................................................................ 78

II. Agama dalam Relasi dan Wacana Kekuasaan dan Politik

Indonesia Rumah Kita Bersama
Andreas A. Yewangoe ........................................................................................... 85

Tantangan Gereja Masa Kini
Robert P. Borrong ................................................................................................ 95

Civil Society vs Pemerintah
Zet. A. Sandia  ...................................................................................... 106

Pertanyaan Identitas dalam Konteks Perebutan Kekuasaan dan Ekonomi:
Cerita Perempuan Filistin, Istri Simson dalam Hakim-hakim 14-15:8
Lady Paula R. Mandalika ................................................................................... 111

Dua Kerajaan atau Dua Cara Pemerintahan? Pandangan Politis Martin Luther dan Beberapa Catatan Perbandingan Aktual
Olaf Schumann ................................................................................................ 120





III. Ungkapan Iman dalam Jalinan Sastra

Dari Amnesia ke Anamnesis: Sebuah Refleksi atas Puisi Dramatis Goenawan
Mohamad, Kali
Emanuel Gerrit Singgih .................................................................................. 171

Sajak – Sajak Paskah Sitor Situmorang.: Suatu analisis singkat
Alle G. Hoekema .............................................................................................. 181

Puan yang Tak Sekedar Istimewa
Jennifer Ladja .................................................................................................. 195

Zakaria J. Ngelow dalam Cakrawala Tana Poso
Asyer Tandapai ................................................................................................ 203

Jelaskanlah Injil – Perhatikanlah Sastra! Drama Bakhae dan Kisah Para Rasul
Barend F. Drewes ........................................................................................... 216

IV. Beberapa Pemikiran di Sekitar Pendidikan Teologis

Revitalisasi Pendidikan Teologi di Indonesia
Julianus Mojau ................................................................................................ 231

Gereja dan Pendidikan
Nancy Souisa ................................................................................................... 246

Kontribusi Antropologi Budaya bagi Pendidikan Teologi dan Perubahan Gereja
Corrie M. van der Ven ................................................................................... 252

Metode Partisipatif dalam Pendidikan Orang Dewasa
Markus Hildebrandt Rambe ............................................................................ 262

V. Gereja dalam Tantangjawab Praksis

Kontekstualisasi Alami: Pengalaman dari Timor
John Campbell Nelson ..................................................................................... 281

Ber-Teologi Kontekstual dari Cerita-cerita Rakyat
Ronald Arulangi ................................................................................................ 295

Perempuan Merawat Bumi
Mery Kolimon .................................................................................................. 301

Seberkas Cahaya di Gunung Sandapang
Kalvin Palebangi Kalambo ................................................................................ 308


Tak Kenal Maka Tak Peduli: Peran dan Tantangan Gereja Menghadapi AIDS
Erni Tonapa .................................................................................................. 317

Apa yang Telah Dipersatukan Allah, Tidak Boleh Diceraikan Manusia:
Tafsiran Matius 19: 3-9 dengan Perhatian pada Konteks
Jilles M. de Klerk ............................................................................................. 328

Memelihara Kemajemukan di Indonesia
Marthen Manggeng .......................................................................................... 340

VI. Zakaria Ngelow dalam Kisah Sahabat dan Keluarga

A Bit Wild, Rather Straight and Very Smart
Pieter N. Holtrop ............................................................................................. 349

Pak Ngelow: Sang Guru yang Memberi Inspirasi
Aguswati Hildebrandt Rambe ......................................................................... 361

Si “Kutu Buku” Menjadi Penggagas: Sebayang Pandang dari Rekan Sekerja
Yusuf Ladja ..................................................................................................... 365

Mozaik Hidup Keluarga Generasi Pionir
Martha Kumala Ngelow Pandonge ................................................................. 372

Zakaria Ngelow di Mata Anak-anak
Dion, Cica dan Ela Ngelow ............................................................................ 379

Selamat Ulang Tahun. Adi
Ike Ngelow ........................................................................................................... 382

Lampiran
Profil Singkat Pdt. Dr. Zakaria Jusuf Ngelow ............................................. 389
Zakaria. J. Ngelow dalam Gambar ............................................................. 391
Profil Singkat Penulis ...................................................................................... 395

24 April 2012

Neo-kharismatik?



Gerakan-gerakan Pentakosta, Kharismatik, dan Gelombang Ketiga
Pentecostal, Charismatic, Third Wave Movements 
terjemahan bebas oleh: Zakaria J. Ngelow
 
  1. Gerakan Pentakosta (Gelombang Pertama)

Gerakan Pentakosta klasis moderen bermula pada awal abad ke-20 dan berakar dalam gerakan kesucian dan kebangunan pada Kebangunan Besar kedua di amerika pada abad ke-19.[1]
Pentakosta moderen ditandai dengan tiga ajaran utama:
  • Baptisan Roh Kudus
  • Manifestasi bahasa lidah
  • Manifestasi penyembuhan ilahi.
Bahasa lidah, dikenal juga sebagai glossolali, dipandang sebagai bukti baptisan dengan Roh Kudus. Ini salah satu perbedaan antara teologi Pentakosta dan Kharismatik.[2] Pengalaman baptisan Roh dan bukti awal dalam bahasa lidah harus diupayakan dengan sungguh-sungguh oleh orang-orang percaya. Hal itu tidak terjadi begitu saja; persyaratan-persyaratan harus dipenuhi. Beberapa hal berikut harus dilakukan oleh orang percaya secara sadar, bersungguh-sungguh dan aktif. Kadang-kadang juga dia memerlukan bantuan orang-orang lain yang sudah dipenuhi Roh. Mereka harus berdoa untuk dia, menumpangkan tangan atasnya supayah Roh turun kepadanya. Persyaratan-persyaratan itu beragam namun secara umum meliputi: ibadah, iman yang gembira, pengharapan yang bersungguh-sungguh, pujian dan syukur, ketaatan, menjauh dari dosa, keinginn yang mendalam, baptisan, memohon kepada Allah, dst.

Penganut Pentakosta berbeda dengan kelompok Fundamentalis yang lebih memberi penekanan pada pengalaman rohani dan dalam banyak kasus memberi tempat bagi perempuan dalam pelayanan. [3]
Perbedaan utama antara keyakinan Pentakosta dan Fundamental bukanlah dalam ajaran pembenaran, melainkan dalam ajaran pengudusan. Dewasa ini melalui pelayanan orang seperti Billy Graham, kita saksikan makin banyak denominasi, termasuk gereja Roma Katolik bersepakat mengenai ajaran pembenaran. Akan tetapi ajaran pengudusan yang menimbulkan banyak perbedaan besar. Gagasam pokok bagi Pentakostalisme adalah Injil Sepenuh. Pentakostalisme percaya dalam gagasan Injil Sepenuh yang menyatakan bahwa Roh telah membaptis semua orang percaya ke dalam Kristus pada saat pertobatan (Pembenaran), namun Kristus belum membaptis semua orang percaya ke dalam Roh (Pentakosta). Untuk menikmati Injil sepenuhnya pengalaman ini wajib. Ini adalah suatu kesalahfahaman menyangkut ajaran pembenaran.
Kaum Pentakosta juga tidak percaya pada pemeliharaan orang kudus. Jadi mereka tidak percaya pada ajaran mengenai jaminan kekal. Mereka yakin bahwa ada kemungkinan orang kehilangan keselamatan. Mereka mengikuti ajaran Arminian, menolak Calvinism.
Dalam Pentakostalisme ada satu kelompok yang mewakili Gereja Pentakosta Bersatu (United Pentecostal Church). Mereka menolak Tritunggal dan karena itu sering dikenal sebagai Oneness Pentecostalism. [4]

  1. Gerakan Pembaruan Kharismatik (Gelombang Kedua)

Pembaruan Karismatik bermula pada pertengahan abad ke-20. Kali ini ajaran-ajaran Pentakosta tersebar ke dalam gereja-gereja arus utama Protetan dan Katolik sebagai gerekan “pembaruan kharismatik” dengan tujuan membaharui gereja-gereja historis itu.
Kharismatik berbeda dengan Pentakosta dalam sikapnya terhadap ajaran. Dalam gerakan kharismatik ajaran dilihat sebagai pemecah orang percaya. Mereka menghindari ajaran Alkitab mengenai pemisahan dan mendorong orang yang ‘telah menerima Baptisan’ untuk tetap di dalam gereja dan aliran masing-masing. Demikian juga walaupun Kharismatik ajaran Bahasa Lidah, mereka tidak begitu menekankan ajaran ini sebagaimana kaum Pentakosta. Dengan kata lain, bisa menerima baptisan tanpa berbahasa lidah.[5]
Kharismatik mengajarkan bahwa anda dapat memperoleh lebih banyak dari Roh Kudus dengan dipenuhi oleh Roh (Ef. 5:18). [6]
Untuk informasi lebih lanjut mengenai Gerakan Kharismatik, lihat/klik:
-          The Line Drawn (MJ Stanford)
-          Buku, Charismatic Chaos by John MacArthur dapat dibaca on-line (http://www.biblebb.com/mac-a-g.htm masuk ke bagian charismatic chaos)

  1. Tanda-tanda dan Mujizat-mujizat atau Gerakan Neo-kharismatik (Gelombang Ketiga)

Pakar church-growth C. Peter Wagner dalam bukunya, The Third Wave of the Holy Spirit yang pertama memakai first used istilah, “Third Wave Movement” (Gerakan Gelombang Ketiga). Gerakan itu terjadi di Fuller Theological Seminary pada tahun 1981 di kelas pelayanan John Wimber, pendiri Asosiasi Gereja-gereja Kebun Anggung (Association of Vineyard Churches).[7] Mereka yang terlibat dalam gerakan ini tidak ingin disebut “Pentakosta” atau “kharismatik”. Dan sebagaimana pembaruan kharismatik, Gerakan Gelombang Ketiga adalah suatu gerakan pembaruan dan kebangunan. Dari segi ajarannya, kaum Gelombang Ketiga sulit digolongkan karena dalam gerakan ini berlangsung pengabaian ajaran. Akibatnya, ajaran menjadi sangat beragam.[8]

  1. Berikut beberapa ciri dari gerakan Gelombang Ketiga:

  1. Mereka yang terkait dengan gerakan ini tidak ingin dicap “Pentakosta” atau ‘kharismatik”, walaupun mereka juga menganut pengalaman-pengalaman dan ajaran-ajaran yang mirip Pentakosta. Mereka ingin dikenal semata-mata sebagai kaum Injili yang terbuka kepada Roh Kudus.
  2. Mereka Gnostik. Mereka yakin Allah bisa dan benar berkomunikasi di luar Alkitab secara langsung kepada anak-anak-Nya, memberi mereka wahyu baru selain Alkitab. Jadi kaum Gelombang Ketiga menolak Alkitab lengkap.
  3. Jabatan Lima Rangkap (Five-Fold Ministry) adalah salah satu “kebenaran” yang Allah pulihkan bagi gereja dan terkait dengan Latter Rain Movement.[9] Ini adalah sistem pemerintahan gereja dengan rasul-rasul, nabi-nabi, penginjil-penginjil, pendeta-pendeta dan guru-guru.[10]
  4. Di zaman akhir ini Allah memulihkan jabatan nabi dan rasul dengan kuasa dan kewenangan melampaui apapun yang dialami oleh nabi-nabi Perjanjian Lama dan rasul-rasul Perjanjian Baru.[11]
  5. Kesatuan lebih penting daripada ajaran. Kesatuan dibina melalui hubungan-hubungan, bukan melalui ajaran. Perbedaan-perbedaan ajaran dikesampingkan. Sebagai akibatnya, mereka yang berselancar di gelombang ini dapat menyusup ke dalam berbagai gereja dengan tujuan mempengaruhi gereja untuk menerima visi Gelombang Ketiga yang merupakan kesatuan di bawah rasul-rasul dan nabi-nabi masa kini.
  6. Penginjilan Kuasa dan Pertarungan Kuasa. Yesus dan para rasul menjawab kebutuhan orang dengan penyembuhan, pengusiran setan, dan membangkitkan orang mati. Mujizat-mujizat membuat orang tertarik pada Kabar Baik. Demikianlah kita seharusnya menginjil dewasa ini. Pertarungan Kuasa terjadi ketika Kerajaan Allah berhadapan dengan Kerajaan Setan. Di situlah saatnya Allah menunjukkan kuasa-Nya atas setan dan orang berbalik kepada Allah.
  7. Mereka yang terkait dengan gerakan ini tidak menunggu pada Kristus kembali namun Gereja yang bangkit dan menjadi pengantar Kerajaan Allah. Pelayanan dalam Kerajaan Allah bergantung pada gereja. Daripada menunggu kedatangan Juruselamat, gereja harus mengatasi masalah-masalah planet bumi. Kemuliaan Allah kini menggantikan kedatangan Anak Allah secara fisik.
  8. Pribadi-pribadi dapat menjadi setani, yakni roh jahat dapat hidup sebagai bagian dari tubuhnya. Bahkan orang Kristen pun dapat menjadi setani. Roh jahat tidak dapat hidup dalam roh seorang Kristen, namun dapat hidup dalam tubuh seorang Kristen.
  9. Kerajaan Sekarang; Kekuasaan Kerajaan; Teologi Pemulihan (Ini juga terkait dengan gerakan-gerakan gereja-Rumah dan Pemulihan.[12]
  10. Teks Alkitab favorit gerakan ini adalah kutipan Yesaya 43: 49: “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru”.[13] 

  1. Gnostik

Kata Yunani gnosis berarti pengetahuan. Pada abad pertama kaum Gnostik menekankan bahwa mereka orang Kristen sejati, yang percaya Alkitab. Mereka tidak menolak para rasul atau menentang ajaran mereka. Mereka semata-mata mengklaim bahwa mereka mempunyai suatu tambahan sumber pengetahuan atau pandangan yang melampaui pengetahuan Alkitab. Pengetahuan ekstra ini tidak datang dari pemahaman Firman Allah. Ia bersifat mistik dan datang dari komunikasi langsung dengan Allah. ‘Wahyu-wahyu’ pribadi ini disanggap otoritas ilahi. Karena itu kaum gnostik dianggap ajaran sesat oleh gereja mula-mula karena pandangan mereka mengenai penyataan Allah (wahyu).
Pada masa kini Allah tidak memberi ‘wahyu baru’ kepada manusia. Allah tidak melakukan ‘suatu hal baru’. Semua pengetahuan dan pengalaman, segala ‘sesuatu’ dapat ditemukan tertulis dalam Alkitab. Setiap pengetahuan, pengalaman atau ‘sesuatu’ yang tidak dapat ditemukan dalam Alkitab bukan dari Allah dan bukan untuk umat Allah. Setiap wahyu yang melampaui atau bertentangan dengan atau menambahi atau mengurangi apa yang dinyatakan dalam Firman Allah yang tertulis adalah kepalsuan. Pengalaman-pengalaman seperti ‘terbunuh dalam roh’ atau ‘tertawa kudus’ atau ‘menjadi ‘mabuk dalam roh’ tidak ditemukan dalam Alkitab. Semua dikenal baik oleh mereka yang mengajarkan hal-hal ini. Sebagai akibatnya, mereka yang mengajarkannya tidak berusaha membela ajaran mereka dengan Alkitab. Sebaliknya mereka mencari suatu ‘hal baru’, suatu pengalaman atau wakyu yang berada di luar Firman Allah. Karena pengalaman-pengalaman ini berada di luar Firman Allah, mereka juga berada di luar wilayah di mana Roh allah bergerak. Jadi pengalaman-pengalaman ini datang dari wilayah-wilayah di mana roh-roh lain bergerak, dalam wilayah klenik.

c. Guru-guru Gelombang Ketiga:
C. Peter Wagner
(baca tulisan-tulisannya berikut secara on-line):

Rick Joyner
Rich Joyner seorang Gnostic.  Apologetics Research Resources on Religious Cults, Sects, Religions, Doctrines etc.[14]  menulis sejumlah artikel mengenai guru-guru Gelombang ketiga dan ajaran-ajarannya. Lembaga riset ini yakin bahwa Rick Joyner and Morningstar Ministries [15] salah satu guru paling sesat dan berhaya. Ajaran-ajarannya yang penuh kesesatan,unorthodox termasuk (dan tidak terbatas) pada Kingdom Now (or Dominion) theology,[16] extra-biblical revelation,[17] dan penyangkalan kebangkitan badaniah Yesus Kristus. Rick Joyner adalah guru Gelombang Ketiga yang telah menulis banyak buku, termasuk  The Final Quest[18] mengenai visi Joyner atas apa yang dia pandang sebagai perang sipil yang kini sedang terjadi dalam Kekristenan antara mereka yang mendukung apa yang Allah lakukan kini (disebut langkah Allah, “move of God”) dengan mereka yang menentangnya. Mereka yang menetang “langkah” sebagaimana dilihat Joyner, merupakan gerombolan neraka. Pendukung-pendukung “Langkah Allah” Joyner adalah Toronto Blessing[19] dan gerakan-gerakan pembaruan dan kebangunan sejenis.[20] Menentang ‘hal baru yang Allah sedang lakukan’ ini maka anda dalam masalah. Dia telah menyerukan perang terhadap mereka yang menentang hal baru yang Allah sedang lakukan. Lihat selengkapnya dalam Rick Joyner, Christian Gnostic:  Civil War.[21] 

Guru-guru Gelombang Ketiga lainnya:
Guru-guru Gelombang Ketiga lainnya termasuk Jack Deere, Ted Haggard, Bill Hamon, Cindy Jacobs, George Ortis Jr. dan,Dutch Sheets.[22]  

  1. Pemberitaan mengenai Kristus dan Firman Allah

Ada orang yang memberitakan Kristus untuk berbagai alasan. Dalam Fil 1: 18 Paulus menulis:
Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita, (Fil 1:18 ITB)

Di kalangan Pentakosta, Kharismatik dan Gelombang Ketiga, ada anyak orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus. Mereka mengasihi Tuhan dan berusaha menaati Dia. Banyak yang memberitakan Kristus dan orang dimenangkan bagi Kristus. Dalam hal ini kita bersukacita. Namun Alkitab juga memngingatkan kita: Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. (1Tes 5:21 ITB)  
Alkitab ingatkan kita bahwa akan ada waktu di mana orang tidak akan tertarik pada ajaran yang sehat (2 Tim 4:2-4). Kita harus mengatakan kebanran dalam kasih (Ef 4: 15). Inilah tujuan kritik ini. Kita bersukacita bahwa Kristus diberitakan; namun kita mengajarkan bahwa Firman Allah dan memperingatkan orang-orang laon bahaya dari penyesatan yang berlangsung di zaman akhir ini (2 Tim 3: 13; Tit 3:3).
Bacalah Deception in the Church[23] untuk artikel-artikel berikut:
Exposing Error: Is it worthwhile? (Dr. Harry Ironside)
False Prophets and Teachers (Deuteronomy 13)
What the Bible says about False Teachers
How to recognize false teachers
The True vs. False Teacher[24] Miles J. Stanford
The Cost of Discernment[25] Dr. Robert Morey
----------------------------------
Catatan penerjemah:
· Dalam About di situs sumber karangan disebut nama suami isteri Mark dan Tami Swaim. Tidak secara jelas, tetapi saya menduga mereka yang menulis karangan ini.
· Naskah internet tulisan ini memberi link ke berbagai sumber atau referensi yang tidak seluruhnya dapat diikuti dalam terjemahan ini.

Jakarta/Yogya, 23-24 April 2012
***


[1] Klik A Brief History of Pentecostalism.  Banyak orang menganggapnya kebangunan Montanism, sebuah aliran sesat abad ke-2. Klik juga Neo-Montanism: Pentecostalism is the ancient heresy of Montanism revived
[2] Klik The Doctrine of Tongues (Harold MacKay) dan Speaking in Tongues (Lehman Strauss).
[3] Untuk suatu artikel menarik dari perspektif Reform mengenai Pentakostalisme klik Pentecostalism: Its identity, History and influence dan Pentecostalism in light of the Word.
[4] Untuk informasi lebih lanjut, klik apologetics index on Oneness Pentecostalism dan juga Oneness Pentecostals and their Schizophrenic God oleh Jay N. Forrest
[5] Lihat The Doctrine of Tongues (Harold MacKay) dan Speaking in Tongues (Lehman Strauss)
[6] Untuk pembahasan topik ini lihat The filling of the Spirit, (Eph. 5:18) (Mark Swaim) dan juga The Filling of the Holy Spirit: Is it the Biblical Basis for Christian Maturity? (Arthur F. Temmesfeld, Th.M)
[8] Klik Third Wave Doctrines. Buku, Charismatic Chaos oleh John MacArthur dapat dibaca on-line (masuk ke bagian the charismatic chaos).  Bab 6 buku ini mengenai The Third Wave (John MacArthur). dalam Bible.org terdapat artikel akademik yang layak dibaca: Excited Utterances: A Historical Perspective On Prophesy, Tongues and Other Manifestations of Spiritual Ecstasy (Dr Matthew Allen).
[11] Untuk informasi lebih lanjut klik False Prophets, Pseudo Apostles, and a New Gospel
[12] Untuk informasi selanjutnya, klik Kingdom Theology.  Sebuah artikel bagus yang layak dibaca tentang ini, klik  Ten reasons to reject Kingdom-Dominion teaching. Artikel lainnya adalah Dominion Theology, Kingdom Now Theology, Recontructionism.
[13] Untuk informasi selanjutnya, klik The New Thing.
[22] Klik di sini untuk informasi selengkapnya: http://www.deceptioninthechurch.com/page3.html