15 Oktober 2009

Protestantisme (2)

http://knowledgerush.com/kr/encyclopedia/Protestantism/.

Pengertian Protestantisme

Arti sempit “protestantisme” adalah kelompok raja-raja dan kota-kota kerajaan yang – pada musyawarah di Speyer tahun 1529 – menandatangani protes penolakan terhadap Edik Worms yang melarang ajaran-ajaran Lutheran dalam kekaisaran Roma Suci. Sampai sekarang kata Protestan dalam wilayah berbahasa Jerman masih secara khusus menunjuk pada gereja-gereja Lutheran, yang dibedakan dengan gereja-gereja Reformed, sementara keseluruhan gereja yang berlatar Reformasi disebut Injili (Evangelikal).

Dalam arti yang luas, Protestantisme adalah semua kelompok agama Kristen dari latar belakang Eropa Barat yang memisahkan diri dengan Gereja Roma Katolik, sebagai akibat dari pengaruh Martin Luther, pendiri gereja-gereja Lutheran, dan Yohanes Calvin, pendiri gerakan Calvinis. Cabang utama ketiga dalam Reformasi, yang bermasalah baik dengan Katolik maupun Protestan yang lain, disebut Reformasi Radikal atau Anabaptis.

Pokok-pokok Teologi

Empat slogan bahasa Latin dari kalangan Reformasi Protestan mengungkapkan prinsip-prinsip teologinya melawan Gereja Roma Katolik masa itu:

1) Solus Christus: Yesus Kristus semata. Hanya Yesus Kristus yang boleh dimuliakan dan disembah (melawan penyembahan orang kudus dalam Gereja Katolik).

2) Sola scriptura: Hanya Alkitab saja.

Protestan enentang ajaran Katolik bahwa di samping Alkitab juga diakui tulisan para Bapa dan Pengajar Gereja, dan khususnya keputusan-keputusan dogmatis Konsili dan Usku Roma (Sri Paus), dengan menegaskan bahwa hanya Alkitab semata adalah Firman Allah, sebagai dasar dan norma otoritas gereja.

3) Sola fide: Dengan iman semata.

Ajaran menentang sistem Roma Katolik – yang menerima perbuatan-perbuatan baik, pengampunan dan indulgensi, misa untuk orang mati, dan perbendaharaan kebajikan para orang kudus dan martir, suatu pelayanan keimamam, dan api penyucian (purgatory) – Protestan menegaskan bahwa setiap orang percaya adalah imam yang dipanggil menjadi orang kudus (imamat am orang percaya), dan hanya dengan iman kepada Yesus Kristus saja orang diperdamaikan dengan Allah.

4) Sola gratia: Semata-mata karunia. Ajaran melawan pandangan Roma Katolik bahwa iman dan perbuatan diperlukan untuk memelihara anugerah yang secara bebas diberikan Allah, kaun Reformasi menegaskan bahwa keselamatan adalah suatu karunia dari Allah yang disalurkan melalui Yesus Kristus, tanpa memperhitungkan kebajikannya, karena tak seorang pun layak untuk keselamatan.

Kadang-kadang pula ditambahkan slogan kelima, Soli Deo gloria -- Kemuliaan hanya bagi Allah. Kalangan Reformasi yakin bahwa manusia (seperti para orang Kudus dan Paus dalam Gereja Katolik) dan Gereja sendiri tidak layak untuk kemuliaan


Sejarah: Pengaruh Internal

Perkembangan Protestantisme dipengaruhi berbagai "gerakan reformasi" dalam kalangan gereja-gereja Protestan:

(a) Gerakan Kesucian dan Pietisme (abad ke-17 dan ke-18). Di antara akibatnya adalah munculnya Gereja Metodis (di Inggeris) dan Gereja Quakers (di Amerika Serikat). Pietisme sangat berjasa dalam bangkitnya gerakan pekabaran Injil di kalangan Protestan sejak abad ke 18.

(b) Gerakan Evangelikalisme (Injili). Pada akhir abad ke-18 gerakan kebangunan Pietisme berlangsung secara lintas denominasi, yang disebut gerakan Injili. Penekanan utama gerakan ini adalah pertobatan perorangan, kesalehan pribadi dan penelaahan Alkitab, moralitas umum (termasuk nilai-nilai hidup sederhana dan keluarga), dan menolak perbudakan, menentang formalisme ibadah dan doktrin, memberi peran yang lebih luas kepada kaum awam dan perempuan dalam ibadah, penginjilan dan pengajaran; serta kerjasama penginjilan lintas batas-batas denominasi.

(c) Gerakan Pentakosta. Gerakan Pentakosta muncul di AS pada awal abad ke-20 di kalangan gerakan Kesucian. Cirinutamanya adalah berusaha mewujudkan kembali bahasa lidah karunia Roh Kudus dalam Perjanjian Baru sebagai bukti “baptisan Roh Kudus”. Mereka juga menekankan penyembuhan Ilahi dan mujizat-mujizat. Hasilnya adalah meluas di kalangan gerakan Kesucian dan melahirkan banyak denominasi baru. Gerakan kiharismatik kemudian juga menekankan karunia -karunia Roh Kudus, namun lebih sering bekerja di dalam denominasi-denominasi, bukannhya muncul dari dalamnya.

(d) Liberalisme. Liberalisme merupakan berbagai upaya di kalangan gereja-gereja arus utama Protestantisme mengakomodasi prinsip-prinsip Pencerahan ke dalam ajaran dan praktek gereja. Adaptasi ini mencapai puncak kritisnya pada akhir abad ke-19 dalam gerakan Modernis dan penafsiran kristis-historis Alkitab.

(e) Fundamentalisme. Sebagai reaksi terhadap kritik Alkitab kaum liberal muncullah Fundamentalisme pada abad ke-20 di Amerika Serikat dan Canada, khususnya di kalangan denominasi yang banyak dipengaruni gerakan Injili. Fundamentalisme secara khusus menekankan otoritas dan kesempurnaan Alkitab; dan menganjurkan memisahkan diri dari penyimpangan dan berpegang pada konservatisme budaya sebagai aspek-aspek penting kehidupan Kristen.

(f) Neo-Injili. Neo-injili (neo-evangelicalism) adalah suatu gerakan pada pertengahan abad ke-20 yang bereaksi pada akibat-akibat tertentu Fundamentalisme, menekankan otoritas Alkitab dengan dukungan liberal arts (ilmu-ilmu sejarah, sastra, filsafat, dsb), kerjasama antar-gereja, apologetika Kristen, dan penginjilan non-denominasional.

(bersambung)

30 September 2009

Pergumulan Rangkap


SUARA PEMBARUAN DAILY

http://www.suarapembaruan.com/News/2009/09/30/index.html
Pergumulan Rangkap

Catatan Pra-Sidang Raya XV PGI

Trisno S Sutanto

Hampir empat dekade lalu, di Sukabumi, berlangsung suatu konsultasi teologis dalam lingkup Dewan Gereja-gereja di Indonesia -DGI (kini Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia-PGI) yang kemudian melahirkan dokumen sangat mahsyur, berjudul Pergumulan Rangkap.

Membaca kembali dokumen itu dan menempatkannya dalam konteks pergulatan gereja-gereja di Tanah Air, setidaknya gereja-gereja yang termasuk dalam lingkup PGI, membuat orang pantas bertanya: sampai sejauh manakah perubahan mendasar pada kehadiran dan misi gereja dalam empat dasawarsa terakhir? Ataukah, sesungguhnya, PGI dan bahkan protestantisme, secara keseluruhan mengalami kemandekan, berada di pinggiran, dan hanya menjadi penonton pasif perubahan masyarakat?

Sulit mencari jawaban pasti atas pertanyaan itu. Tetapi, pengalaman empat dasawarsa terakhir memperlihatkan bahwa dokumen teologis Pergumulan Rangkap (selanjutnya: PR) pantas disebut sebagai salah satu tonggak penentu arah yang penting, dan karenanya perlu dibaca ulang. Esai ini mau mengusulkan pembacaan ulang, yang menurut saya, kian mendesak dilakukan, ketika PGI akan menggelar Sidang Raya XV di Mamasa, November mendatang. Mungkin, dengan itu, kita dapat memberikan makna lebih mendalam pada pengakuan iman sang pemazmur, bahwa "Tuhan itu baik kepada semua" (Mzm 145:9).

Warisan Pietis

Teks PR punya makna sangat penting jika diletakkan pada konteks sosio-historis dan teologis yang melatarinya. Pada satu sisi, ia mau menegaskan kebutuhan bagi gereja-gereja melakukan mawas diri secara jujur dan mendalam terhadap warisan teologisnya. Pada sisi lain, ia sekaligus memberikan arah bagi upaya untuk mencari bentuk teologi yang lebih gayut bagi misi gereja dalam dunia yang sudah berubah.

Pergumulan Rangkap berangkat dari kesadaran bahwa warisan teologi pietis yang ditinggalkan para misionaris Barat, yang menekankan pada kesalehan individu dan keselamatan jiwa, sudah tidak gayut dalam konteks saat itu. Percepatan modernisasi, yang membawa arus industrialisasi, urbanisasi, dan sekularisasi, secara fundamental telah mengubah cara berpikir dan cara hidup masyarakat. Sementara itu, warisan teologi pietis Barat yang dihidupi gereja-gereja justru lebih berorientasi pada segi rohaniah semata, yang membuat gereja-gereja tidak mampu memainkan peran dalam perubahan masyarakat.

Situasi krisis itu tampak jelas pada tiga ranah problematis yang jadi sorotan PR: relasi gereja dengan adat, budaya, dan agama suku; relasi gereja dengan pemerintah atau kekuasaan negara; dan, akhirnya, relasi gereja dengan agama-agama dan kepercayaan lain. Pada setiap ranah itu dirasa kebuntuan yang membuat misi gereja cenderung memperkuat prasangka, dirasa asing dan tidak mampu melakukan transformasi kritis (terhadap adat dan kebudayaan sekitar), serta tunduk pada langgam kekuasaan negara, sehingga tidak mampu berperan profetis.

Dokumen PR menyerukan kebutuhan untuk melakukan pemikiran ulang teologi secara mendasar, dengan menggumuli apa yang disebut sebagai pergumulan rangkap, yakni "pada satu pihak pergumulan gereja dengan Tuhannya dalam arti menghayati kebenaran dan anugerah Allah dalam Yesus Kristus, dan di pihak lain sekaligus merupakan pergumulan dengan kebudayaan dan masyarakat, di tengah-tengah mana gereja itu hidup." Seruan inilah yang membuat PR terasa masih gayut, jauh setelah konteks awal yang melatarinya. Karena apa yang menjadi keprihatinan utama PR sebenarnya menyentuh pergulatan dasar setiap tradisi keagamaan yang otentik. Di tengah masyarakat yang berubah cepat, jika agama masih mau gayut, maka selalu dibutuhkan rethinking teologis persoalan-persoalan zamannya. Tanpa itu, agama dapat menjadi sekadar artefak peninggalan sejarah yang sudah selayaknya dimuseumkan saja!

Pergumulan Rangkap memberikan arah yang jelas dan tegas bagi rethinking itu. Agama (apalagi gereja) harus berani keluar dari benteng-benteng ke(ny)amanan dirinya, dan ikut masuk "meresapi", memakai istilah PR, perubahan yang sedang berlangsung dalam masyarakat. Karena agama (apalagi gereja) bukan tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sekadar alat, atau jalan, bagi karya Allah demi ciptaan-Nya. Kesalahan fundamental yang sering terjadi adalah ketika agama memandang diri bukan lagi sebagai alat, tetapi sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Pada titik itu, maka kehadiran agama dan kepercayaan lain justru dinilai sebagai saingan, atau bahkan musuh, bukan "mitra kerja" bagi rencana keselamatan Allah.

Teologi Inklusif

Ringkasnya, PR mengajak gereja-gereja mengembangkan suatu teologi inklusif yang transformatif. Dalam lingkup kekristenan, PR mengajak agar gereja-gereja mengembangkan relasi yang, pada satu pihak, positif terhadap nilai-nilai, adat istiadat, kepercayaan, agama lain, termasuk pemerintah; tetapi, pada pihak lain, selalu menjaga jarak dan bersikap kritis.

Jarak dan sikap kritis ini dibutuhkan agar berita keselamatan dalam Injil tidak lagi terkungkung, malah dijinakkan, oleh struktur-struktur kekuasaan, masyarakat (termasuk di dalamnya struktur gerejawi!), ataupun warisan adat-istiadat yang sudah membeku. Tetapi, pada saat bersamaan, juga dibutuhkan sikap positif yang, dengan sungguh-sungguh, mau terbuka dan berdialog dengan warisan budaya dan kepercayaan lain. Terlalu lama gereja-gereja, dan saya kira juga agama-agama, hidup dalam ghetto masing-masing yang hanya akan memelihara prasangka dan sikap saling mencurigai.

Pergumulan Rangkap mengajak kita untuk keluar dari jebakan ghetto itu, dan bersama-sama mencandra-dinamika rencana keselamatan Allah. Bukan lagi pada tataran kesalehan dan keselamatan individual, melainkan pada upaya bersama untuk "menciptakan struktur-struktur yang lebih memungkinkan terlaksananya keadilan dan kebenaran". Itulah tugas dan tantangan pokok yang diwariskan PR bagi kita.

Menurut saya, tantangan itu masih gayut untuk dibicarakan lagi dalam persidangan PGI, November mendatang. Karena hanya dengan cara itu, tema yang dipilih PGI, yakni pengakuan iman sang pemazmur bahwa "Tuhan itu baik kepada semua" akan punya makna. Semoga!

Penulis adalah mahasiswa STF "Driyarkara", bekerja di MADIA (Masyarakat Dialog Antar Agama), Jakarta

Last modified: 29/9/09


•

29 September 2009

Catatan kunjungan ke Mamasa


Lokasi pelaksanaan suatu program Oase --yang direncanakan berlangsung di Polewali (4 jam dengan mobil dari Makassar)-- dipindahkan ke kota Mamasa. Saya tanyakan bagaimana kondisi jalan. Beberapa kawan mengatakan sudah bagus, jarak 90 KM yang dahulu ditempuh 7 - 8 jam kini hanya 3 jam kata mereka. Jadi kami berangkat jam 8 malam dari Polewali dengan mobil sewa Kijang kapsul yang cukup gesit di jalan yang masih banyak yang harus dengan “gigi 2". Beberapa bagian ternyata belum diperbaiki. Untunglah kemarau panjang sehingga kami tidak terhalang jalan berlumpur ... Kami tiba jam 12 malam di kota Mamasa yang sangat dingin (di bawah 20C).

Kami berkesempatan mempercakapkan dan “meninjau” persiapan Gereja Toraja Mamasa menyelenggarakan Sidang Raya PGI bulan November mendatang. Sebuah gedung aula sedang diselesaikan. Menurut ketua panitia pembangunan gedung itu, Ir. John Bataragoa, selain panggung, ruangan aula berukuran 22 x 34 M dapat menampung sekitar 1.500 peserta (dengan menyebut 3 orang per meter). Lantai mulai dipasangi ubin, tetapi plafon akan darurat saja karena perlu minimal 2 bulan memasang yang permanen. Kamar kecil di bagian belakang dan bagian depan gedung sedang dikerjakan juga. Lapangan di samping aula baru akan di-beton/paving untuk dipasangi tenda sebagai tempat makan peserta. Menurut Pak Bataragoa, keseluruhannya dihitung sudah rampung 75%.

Bagaimana dengan akomodasi? Beberapa hotel kecil rupanya disiapkan untuk tamu-tamu khusus. Peserta persidangan akan ditampung di rumah-rumah warga, yang kabarnya sudah didata sekitar 300 - 600 rumah. Konsumsi akan diurus oleh tim PKK Kabupaten.

Jalan raya jelas tidak dapat mulus dalam 2 bulan ke depan, namun diharapkan pengerasan di beberapa bagian yang bakal berlumpur kalau diguyur hujan, terutama sekitar Balabatu dan beberapa kilo meter memasuki kota Mamasa.

Hal lain yang juga penting adalah pergumulan internal Gereja Toraja Mamasa menyangkut “lemahnya hubungan antar jemaat dan dengan pimpinan sinodal”. Apakah GTM memanfaatkan peristiwa menjadi tuan rumah Sidang Raya PGI untuk konsolidasi “kesatuan dan persatuan” GTM? Pdt. P. Buntuborrong, Ketua II Badan Pekerja Sinode, menjawab positif. Tetapi beberapa rekan pendeta GTM memberi informasi yang lain. Ada sinyalemen bahwa panitia pelaksana tidak begitu gencar menggalang partisipasi jemaat-jemaat karena lebih bersandar pada dukungan pemerintah dan para pengusaha ...


Bagaimana persiapan Pertemuan Raya Perempuan di Nosu? Informasinya singkat saja: gedung aula (ukuran 22 x 44 meter) tidak akan siap benar, jadi akan memakai tenda saja (?) Jalan raya lebih buruk daripada ke Mamasa (dan semoga tidak hujan, walaupun bulan November adalah musimnya ...) Dukungan digalang di kalangan warga masyarakat Nosu di rantau. Tentu panitia sudah memberitahu calon peserta mengenai perlengkapan yang perlu dipersiapkan. Pakaian hangat (Nosu salah satu tempat terdingin di daerah ini, rata-rata di bawah 20 C), sepatu untuk jalan kaki (kalau mobil tidak bisa sampai ke tempat tujuan), dan karena itu lebih baik bawa ransel daripada koper. Dan jangan lupa tisu untuk toilet, karena airnya sedingin air es ...

22 September 2009

Calvinisme di Toraja


500 tahun Yohanes Calvin
Pada 22-23 September 2009 Gereja Toraja melalui Institut Teologi Gereja Toraja merayakan 500 tahun Yohanes Calvin (10 Juli 1509-2009)di Hotel Misiliana Rantepao. Perayaan ini dihadiri sekitar 70 pendeta. Beberapa aspek dari kehidupan dan pemikiran Calvin serta teologi Calvinisme dibahas bersama beberapa fasilitator, al. Dr Lazarus Poerwanto.

01 September 2009

Kristen Halmahera abad ke-16

(bagian dari Teks Orasi pada Dies Natalies I Universitas Halmahera)
Tobelo, 1 September 2009 oleh Zakaria J. Ngelow

Dalam orasi ini, saya mengandalkan studi Dr. James Haire (Sifat dan Pergumulan Gereja Halmahera 1941-1979) untuk mengenal latar belakang sejarah konteks sosial-keagamaan di Halmahera. Secara detil beliau menganalisis fakta-fakta sejarah untuk memperlihatkan berbagai faktor yang menentukan sehingga gereja ini ada kini sebagaimana adanya. Rupanya belum ada yang peneliti kelanjutan studi GMIH untuk periode 30 tahun terakhir (1979- sekarang). Sejarah GMIH dalam 30 tahun terakhir tentu saja menampakkan fakta-fakta dinamika yang berbeda, juga dalam hubungan dengan dunia sekitarnya, termasuk dunia agama-agama. Dalam beberapa tahun di awal abad ke-21 ini GMIH mengalami salah satu periode paling kritis dalam sejarahnya, yakni konflik berdarah antar komunitas, yang mungkin dapat dibandingkan dengan krisis umat Allah ketika terjadi penghancuran Yerusalem dan pembuangan umat Allah ke Babilonia pada abad ke-6 sebelum Kristus. Meskipun tidak mencakup periode 30 tahun terakhir, studi Dr. Haire yang meliputi seluruh latar sejarah GMIH ini secara lengkap memperlihatkan kaitan-kaitan antara kehidupan jemaat dengan dunianya, baik dunia politik dan ekonomi, maupun dunia agama-agama dan kebudayaan.

Kekristenan di Halmahera dikenal dalam sejarah sebagi awal mula Kekristenan moderen di Indonesia. Ada keyakinan bahwa Kekristenan Nestorian sudah sampai ke Nusantara pada abad ke-7 (bersamaan dengan munculnya Islam di semenanjung Arabia). Tetapi data sejarah yang jelas adalah pembaptisan Kolano Mamuya dan pengikutnya pada tahun 1534. Demikian pula pembunuhan imam Fransiskan, Simon Vas, tak lama sesudah itu, pada tahun 1536, sebagai martir pertama di Indonesia.

Kedatangan Portugis ke Maluku merupakan bagian dari ekspansi kolonial bangsa-bangsa Barat. Pada tahun 1498 armada laut Portugis di bawah pimpinan Vasco da Gama tiba di Calicut, India, sebagai penemuan jalan laut dari Eropa ke Asia. Dengan penemuan itu mulailah era yang disebut “Era Vasco da Gama”, era dominasi kolonialisme Barat atas Asia dan Afrika, yang baru berakhir pada pertengahan abad ke-20. Selanjutnya, armada Portugis, yang juga membawa para imam Katolik, menaklukkan kesultanan Malaka pada tahun 1511. Tahun 1512 seorang kapten Portugis sudah tiba di Ternate, di mana 10 tahun kemudian sebuah benteng Portugis didirikan untuk kepentingan penguasaan monopoli perdagangan rempah-rempah yang dihasilkan kepulauan Maluku ini.

Kepentingan ekonomi, perluasan wilayah jajahan dan penyebaran agama (Kristen) memunculkan apa yang disebut tujuan 3G kolonialisme Barat, for gold, glory and God, yang terarah pada pencarian kekayaan (emas, gold) dan kejayaan (kemuliaan, glory) bangsanya, serta penyebaran agama Kristen (Injil, gospel). Dengan kata lain, menggabungkan kepentingan ekonomi, kekuasaan dan penyebaran agama Kristen. Sering pula disebutkan sebagai persekongkolan 3M, the merchants (para saudagar), the military (serdadu), dan the missionaries (pekabar Injil).

Sejarah Kekristenan Roma Katolik pada abad ke-16 di Maluku Utara menjadi lembaran hitam sejarah gereja karena setelah sempat berkembang pesat di bawah asuhan para imam Yesuit, umat Kristen dikorbankan dalam petarungan politik memperebutkan monopoli perdagangan rempah-rempah. Penganut agama Kristen kala itu dianggap sebagai pendukung Portugis, sehingga diperangi oleh kesultanan Ternate dalam pembalasan dendam atas terbunuhnya Sultan Hairun di benteng Portugis pada tahun 1570. Kemudian, bukan hanya gereja yang akhirnya ditumpas melainkan seluruh Maluku Utara dikucilkan dari arena perdagangan internasional setelah Belanda memindahkan pusat perdagangan rempah-rempah ke Maluku bagian Selatan, yang berpusat di Ambon. Sejarah memperlihatkan bahwa kemajuan ekonomi, dan pengembangan pendidikan membuat Maluku Selatan (Ambon dan sekitarnya) memiliki sumber daya manusia yang handal, sehingga berperan penting dalam sejarah Indonesia, baik pada zaman kolonial maupun kemudian dalam sejarah Indonesia merdeka.

Sejarah musnahnya Kekristenan Katolik abad ke-16 menjadi pelajaran berharga bagi zending Protestan kemudian hari, untuk tidak mengidentifikasi diri dengan penguasa kolonial. Gereja tidak boleh menumpang atau mencampurkan panggilannya dengan sesuatu kekuatan politik duniawi mana pun. Hubungan gereja dengan politik “berlangsung dari luar”, dalam rangka gereja hadir dan bersaksi dalam segala lapangan kehidupan termasuk politik, ekonomi, kebudayaan, dsb. Sebab itu pemberitaan Injil jelas berdampak ekonomi, karena mengubah cara hidup masyarakat, termasuk etika kerja; jelas berdampak politik karena membangun kekuatan persekutuan yang bahkan melampaui ikatan-ikatan primordial kesukuan atau kedaerahan dan peka terhadap ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan. Juga berdampak budaya karena mengubah cara pandang dan relasi terhadap alam, sesama dan kehidupan serta relasi dengan Yang Ilahi.

25 Agustus 2009

Warisan Calvin


Materi diskusi Peringatan 500 Tahun Calvin, 24 Agustus 2009

The Legacy of John Calvin:
Some Actions for the Church in the 21st Century


Dalam rangka memperingati Ulang Tahun tokoh gerakan reformasi John Calvin, maka pada tahun 2008 World Alliance of Reformed Church (WARC) dan John Knox International Center menerbitkan sebuah buku berjudul: “The Legacy of John Calvin: Some Actions for the Church in the 21st Century” (Warisan John Calvin: Beberapa Tindakan yang dapat dilakukan oleh Gereja Abad ke-21”). Penggagas utama dari penerbitan tulisan ini adalah Dr. Lukas Vischer, salah seorang pemimpin gereja Reformed dan mantan Sekjen Dewan Gereja se-Dunia (WCC). Menurut Lukas Vischer, penerbitan buku ini akan merupakan sumbangan yang berharga mengenai bagaimana gereja-gereja dan orang Kristen dapat menggunakan kesempatan peringatan Ulang Tahun Calvin yang ke-500 ini untuk mengadakan perubahan atau pembaruan di tengah dunia masa kini. Usul ini disambut baik oleh pimpinan WARC maupun John Knox International Center. Dalam rangka penulisan ini, penelitian atas karya-karya Calvin yang dapat merupakan sumber inspirasi bagi gereja-gereja masa kini untuk mempromosikan kehidupan, dilakukan oleh Lukas Vischer. Sayang bahwa beliau meninggal dunia pada bulan Maret 2008, hanya beberapa bulan sebelum tulisan tersebut diterbitkan. Kita mengucap syukur kepada Tuhan atas hidup dan pelayanan Lukas Vischer, yang dilakukan bersama isterinya, Barbara Vischer.

Bagaimanakah gereja-gereja, khususnya gereja berlatarbelakang reformed atau yang biasa kita kenal dengan gereja berlatar belakang reformasi atau lebih khusus lagi, gereja yang mengikuti ajaran Calvin, merayakan ulang tahun ke-500 John Cavin? Secara umum dikenal bahwa inti pokok ajaran Calvin adalah memuliakan Tuhan. Setiap upaya untuk menjadikan manusia sebagai pusat pengagungan diri, bertentangan dengan prinsip dan ajaran Calvin. Dengan kesadaran ini, maka dalam memperingati ulang tahun Calvin ke-500, gereja-gereja reformed menyatakan syukur kepada Tuhan atas gagasan-gagasan, khotbah-khotbah dan tindakan-tindakan Calvin yang telah memberi pengaruh pada masanya dan yang terus memberikan inspirasi bagi kemanusiaan saat ini. Dalam rasa syukur ini, Tim Penulis tulisan ini memilih beberapa gagasan kunci untuk dibagikan dan digumuli bersama oleh gereja-gereja, khususnya rumpun keluarga gereja reformed. Tiga tema utama dipilih, yakni: “Making manifest the gift of communion” (Mewujudnyatakan karunia persekutuan), “Covenanting for Justice” (Mengikat perjanjian bagi keadilan), dan “Addressing Violence and Destructions in the Times of War and Armed Conflict” (Menggumuli kekerasan dan kerusakan-kerusakan pada saat perang dan konflik bersenjata). John Calvin banyak menulis dan memusatkan khotbahnya di sekitar ketiga tema tersebut, yang juga merupakan pokok-pokok pergumulan kita pada abad ke-21 ini. Setiap tema tersebut merupakan bab-bab dari buku tersebut.

Dalam menelusuri buku ini, tidaklah cukup dengan hanya memuji pikiran Calvin atau mengagumi bagaimana para penulis menempatkan situasi kekinian di bawah sorotan karya Calvin. Hal ini dapat berakhir pada pengagungan diri seorang manusia John Calvin, hal mana ditentang sendiri oleh John Calvin. Para penulis dalam buku ini secara sadar menempatkan secara berdampingan pikiran-pikiran Calvin dan analisis situasi abad ke-21 ini, untuk menunjuk kepada kenyataan bahwa Allah yang telah berbicara sepanjang sejarah juga terus berbicara bagi kita yang ada pada abad ke-21 ini. Dan pesanNya urgen, mendesak, yakni memanggil gerejaNya untuk dibarui dan untuk menjadi agen pembaruan atau transformasi (ekklesia reformata, semper reformanda). Buku ini bukan sekadar sebuah buku mengenai John Calvin. Secara sadar para penulis menampilkan bagaimana John Calvin berbicara kepada kita masa kini. Setiap bab diawali dengan beberapa kutipan pemikiran Calvin mengenai tema yang disoroti. Kemudian disusul dengan suatu diskusi dan analisis mengenai pemikiran Calvin tersebut dan tantangan-tantangan situasi dunia modern dewasa ini. Buku ini mengajak pembacanya untuk melakukan tindakan konrit. Karena itu setiap bab diakhiri dengan saran mengenai apa yang dapat dilakukan sebagai implikasi-implikasi refleksi teologis ini bagi gereja dan orang Kristen masa kini.

Tim penulis, khususnya editor buku ini, Setri Nyomi, sekjen WARC, mengajak para pembaca untuk mengembangkan diskusi di jemaat-jemaat, institusi teologi maupun melalui berbagai forum, dengan memberikan perhatian pada “What can be done?” (Apa yang dapat dilakukan?). Penekanan ini memperlihatkan sebuah kesungguhan dan kesediaan gereja-gereja untuk membarui diri, atau lebih tepat lagi diperbarui oleh FirmanNya, dan kesediaan menjadi agen pembaruan yang sedang dikerjakan oleh Allah sendiri di tengah dunia ini.

Henriette Hutabarat Lebang
Wakil Presiden WARC

17 Agustus 2009

Undangan Diskusi 500 Tahun Calvin

Kepada Yth.
Bapak/Ibu/Sdr. …………………………………..
di Makassar.


Salam dalam Yesus Kristus, Tuhan.

Dalam rangka peringatan 500 Tahun Yohanes Calvin (lahir tanggal 10 Juli 1409 di Noyon, Perancis), kami dari Yayasan Oase Intim dan Yayasan Pelayanan Reformed Makassar, menyelenggarakan suatu diskusi mengenai relevansi Calvinisme dalam kehidupan pelayanan gereja dan masyarakat dewasa ini.

Dengan hormat dan sukacita kami mengundang Bapak/Ibu/Sdr para pendeta dan pemuka jemaat-jemaat di kota Makassar dan sekitarnya untuk bersedia berbagi pengalaman dan bertukar gagasan dalam diskusi tersebut di atas.

Sebagaimana dalam acuan terlampir, acara kami rencanakan pada,

Hari/Tanggal : Senin, 24 Agustus 2009
Tempat : Aula Hotel Valentino (Lantai 6)
Jl Dr. Sutomo 35 tlp 314272 Makassar
Jam : 08.30 – 13.00 (makan siang)

Untuk pengaturan kegiatan, mohon konfirmasi kehadiran anda selambat-lambatnya tgl 20 Agustus 2009 melalui Sdri. Christin (HP 081342284900 atau Tlp 433978).Terima kasih atas perhatian Bapak/Ibu/Sdr meluangkan waktu untuk kegiatan ini. Tuhan memberkati.

Teriring salam,
Yayasan Oase Intim, Yayasan Pelayanan Reformed Makassar,



Pdt. Zakaria Ngelow Pdt. Libert Simatupang, M.Th.


Acuan Diskusi Calvinisme
Peringatan 500 Tahun Yohanes Calvin

Pembaruan Gereja pada abad ke-16 di Eropa menampilkan sejumlah tokoh pembaru (reformator), di antaranya Martin Luther (1483-1546 ) di Jerman dan Yohanes Calvin (1509-1564) di Swiss, yang melahirkan gereja-gereja Protestan. Berbeda dengan Martin Luther -- yang namanya diabadikan dalam penyebutan “gereja-gereja Lutheran” untuk gereja-gereja yang terbentuk dari pembaruannya -- tidak ada gereja Calvinis untuk para pengikut Yohanes Calvin. Gereja Calvinis di Eropa umumnya dikenal dengan nama gereja Reform dan di negara-negara berbahasa Inggeris sebagai gereja Presbiterian dan Kongregasional. Gereja-gereja Reform sedunia menyatu dalam dua badan ekumenis, the World Alliance of Reformed Churches (WARC) dan the Reformed Ecumenical Council (REC) yang akan menyatu menjadi the Worl Council of Reformed Churches (WCRC) tahun depan.

Kecuali beberapa gereja Protestan yang berlatar Lutheran (terutama di kalangan masyarakat Batak dan Nias), gereja-gereja Protestan di Indonesia umumnya berlatar tradisi Calvinisme -- ada yang menamakan diri Gereja Kristen, Gereja Masehi Injili, Gereja Protestan, dst.

Siapa Calvin dan apa pokok-pokok pembaruannya pada masa Reformasi? Bagaimana ajarannya diteruskan menjadi tradisi Calvinisme? Bagaimana pergumulan dan pengembangan Calvinisme oleh gereja-gereja Reform dalam gerakan ekumene dewasa ini? Apa relevansi warisan Calvinisme dalam panggilan dan pergumulan gereja-gereja di Indonesia dewasa ini?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini diharapkan memberi pencerahan, inspirasi dan membuka wawasan bagi para pelayan dan pemimpin gereja. Pertanyaan-pertanyaan ini akan dibahas dalam acara Peringatan 500 Tahun Yohanes Calvin yang diselenggarakan oleh Yayasan Oase Intim dan Yayasan Pelayanan Reformed Makassar.

Peserta

Peserta diskusi diundang dari kalangan pendeta dan pemuka Kristen di Makassar dan sekitarnya, kl. 100 orang.

Nara Sumber

Pembahasan akan dilaksanakan dengan pendampingan para nara sumber:
Pdt. Dr. Ery Hutabarat-Lebang,Direktur Insitut Teologi Gereja Toraja dan tokoh ekumenis Indonesia yang kini al. menjadi salah seorang anggota eksekutif WARC, akan mengantar percakapan mengenai perkembangan dan komitmen ekumenis tradisi Calvinisme dewasa ini dalam berbagai bidang, seperti ketidakadilan ekonomi, kekerasan dan kerusakan lingkungan.
Pdt. Dr. Zakaria Ngelow, anggota Komisi Penasihat Proyek Misi WARC, akan mengantar diskusi mengenai relevansi warisan Calvin/isme dalam gereja-gereja dan masyarakat di Indonesia, termasuk di bidang (teologia) politik.

Jadwal Pelaksanaan

Diskusi dalam rangka Peringatan 500 Tahun Yohanes Calvin akan dilangsungkan pada,

Hari/Tanggal : Senin, 24 Agustus 2009
Tempat : Aula Hotel Valentino
Jl Dr. Sutomo 35 tlp 314272 Makassar
Jam : 08.30 - 13.00



Acara dijadwalkan sbb:

No Jam Kegiatan
1 08.30 - 09.00 Registrasi, snack
2 09.00 - 09.30 Ibadah/Pembukaan
3 09.30 - 13.00 Diskusi Panel
4 13.00 - selesai Penutupan/Makan siang bersama


Pelaksana:

Ketua : Pdt. Armin Sukri, M.Th.
Sekretaris : Christine Hutubessy
Bendahara : Ny. Fietje Pelupessy
Anggota : Pdt. Libert Simatupang, M.Th
Anggota : Pdt. Zakaria Ngelow




Makassar, Agustus 2009