27 Agustus 2011

26 Agustus malam: kebaktian syukuran pemakaian kantor Oase di Sudiang secara sederhana oleh keluarga Oase. Kebaktin dipimpin Pdt. Armin Sukri Kanna, M.Th.






23 Agustus 2011

OASE pindah


Sejak 20 Agustus 2011 kantor Oase pindah ke Sudiang, sehingga alamat posnya menjadi sbb

Oase Intim, Sudiang Nusa Idaman Blok F No. 12A, Makassar 90242 Indonesia


Dalam peta Google map ini, lokasinya di titik merah. Lihat foto di sebelah kanan teratas.

Garage sale: tak diperlukan lagi sebuah t4 tidur jati no 2, dan spring bed, dan sebuah kompor gas merk Technogas besar 4 mata dan oven. Dijual murah sekali, silahkan bagi yang berminat, kontak Jenifer (0815 242 166 405) atau Christin (081 342 284 900). Siapa cepat dia dapat.

25 Juli 2011

Catatan mengenai Oase

Enni Rosa - GTM

Mendengar tentang oase……..
Saat pertama kali mendengar kata oase, saya bayangkan bahwa oase adalah suatu tempat berhimpunnya para teolog “hebat” dan melakukan banyak kegiatan besar yang pastinya melibatkan orang-orang yang hebat pula. Dalam benak saya, oase adalah tempat bagi para teolog sekaliber Pak Ngelow dkk. Sedangkan orang-orang seperti saya, yang menempatkan diri pada kelompok yang punya pengetahuan teologi yang ‘biasa-biasa saja’, tidak akan mendapat tempat dalam dunia Oase. Sehingga ketika mendengar nama para pendiri oase dan teman-teman yang tergabung dalam oase, sepertinya saya merasa tidak percaya diri untuk berinteraksi dengan teman-teman dari oase.
Tantangan dari dalam diri……..
Saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat saya akan terlibat dalam kegiatan yang dilakukan bersama teman-teman di oase. Sebuah tantangan dimulai ketika saya pertama kali diminta terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakan Gereja Toraja Mamasa bersama dengan oase. Saya agak lupa apakah penyusunan kerangka khotbah atau pertemuan pendeta GTM yang menjadi awal perjumpaan dan keterlibatan secara langsung dalam kegiatan yang diselenggarakan oase dalam kerja sama dengan GTM. Ini menjadi sebuah tantangan tersendiri yang berasal dari dalam diri saya, karena masih saja terselip rasa kurang percaya diri ketika berjumpa dengan teman-teman dari oase. Kembali lagi, saya membayangkan teman-teman punya segudang pengetahuan sedangkan saya ini tidak punya sesuatu untuk dibagikan.
Berbagi kisah dalam kegiatan dengan Oase
Semua bayangan awal mengenai kegiatan oase dan teman-teman yang tergabung dalam oase pada akhirnya diruntuhkan dalam keterlibatan mengikuti beberapa kegiatan bersama oase. Dua kegiatan terakhir yang saya ikuti semakin menyadarkan saya bahwa apa yang saya bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.
Kegiatan pertama adalah Pemberdayaan peran ekumenis perempuan Kristen di Kabupaten Polewali Mandar yang dilaksanakan dalam bulan February tahun ini. Saya terlibat dalam kepanitiaan lokal dan sekaligus duduk bersama teman-teman oase untuk sesekali ikut dalam percakapan dengan para peserta. Walaupun dalam kegiatan ini saya belum banyak melibatkan diri dalam proses percakapan, tetapi saya sudah mulai memberi perhatian terhadap kegiatan yang dilakukan bersama kawan-kawan dari oase. Yang menarik untuk saya dalam kegiatan ini adalah sesekali saya diberi kesempatan untuk berbicara dan berbagi dengan teman-teman mengenai topik yang sedang dibahas. Saya tidak pernah mengikuti kegiatan dimana didalamnya semua peserta dan panitia lokal mendapatkan kesempatan yang sama untuk berbagi dengan para peserta. Saya merasa senang karena ada rasa penghargaan yang tulus dari teman-teman oase untuk mendengarkan apa yang menjadi pergumulan, pemahaman, dan kerinduan setiap peserta dalam mengikuti kegiatan yang dilaksanakan. Hal ini tentu juga berhubungan dengan metode pelaksanaan kegiatan yang sangat menekankan pada keterlibatan secara aktif dari setiap peserta yang mengikuti kegiatan. Benar-benar sangat memberdayakan.
Kegiatan kedua adalah ToT Pelayan Ibadah Anak/Guru Sekolah Minggu yang dilaksanakan tanggal 26-29 April 2011 di Baruga Kare Makassar. Pada saat saya mendapat telepon dari Pak Marthen untuk meminta saya mengikuti kegiatan ini, saya bergumul lagi dengan pikiran dan ketakutan saya sendiri. Pasalnya, saya menjadi pelayan anak tetapi tidak lagi terlibat secara langsung dalam pelayanan anak selama kira-kira tiga tahun terakhir. Selama mengikuti ToT ini ada beberapa hal yang menarik bagi saya, antara lain: Pertama: Jumlah peserta yang tidak terlalu banyak dan sangat ideal untuk sebuah kegiatan pelatihan. Jumlah peserta kegiatan ini 12 orang ditambah dengan teman-teman dari oase. Dengan jumlah peserta yang tidak lebih dari 20 orang, memberi kesempatan kepada semua peserta untuk berbicara dan mengungkapkan pendapat selama kegiatan berlangsung. Juga salah satu berkat bagi kami yang mengikuti pelatihan ini adalah kehadiran seorang peserta dari GMIT, Ibu Ezra, yang datang ke Makassar dengan berbagai alat peraganya. Kedua: karena jumlah peserta yang sedikit, maka kami juga punya kesempatan untuk bisa lebih saling mengenal satu dengan yang lainnya selama kegiatan ini dilaksanakan. Proses saling mengenal ini bukan hanya dilakukan selama pelaksanaan kegiatan, karena sampai hari ini kami sering berkomunikasi dengan semua teman, kecuali dengan pak Andre yang daerah pelayanannya diluar jangkauan, maksudnya tidak ada jaringan untuk berkomunikasi melalui handphone. Sungguh luar biasa karena setelah mengikuti pelatihan ini, saya bukan hanya mendapat teman yang baru, tapi saya merasa mendapatkan keluarga yang baru. Saya mendapat teman-teman yang bisa diajak untuk berbagi dan saling menguatkan dalam pelayanan sekolah minggu maupun juga dalam kegiatan sehari-hari. Ketiga: metode yang digunakan dalam pelatihan sangat variatif. Kegiatan ini menggunakan cara manual, sehingga seluruh peserta dan fasilitator benar-benar mengarahkan pikiran dan konsentrasi terhadap hal-hal yang dibicarakan. Fasilitas seperti laptop atau LCD tidak digunakan dalam kegiatan. Saya sangat tertolong dalam hal ini, karena cara manual menolong saya secara pribadi untuk lebih fokus pada proses pelatihan.

Masih banyak hal menarik yang saya dapatkan dalam kegiatan bersama oase yang tidak termuat dalam kisah ini. Tetapi, paling tidak, bekerja bersama oase selalu memberi penyegaran kepada saya untuk melakukan pelayanan. Dulu, saya tidak percaya diri untuk mengikuti kegiatan seperti yang dilaksanakan oleh teman-teman di oase. Tetapi, setelah mengikuti beberapa kegiatan dengan oase saya belajar untuk mengikis rasa tidak percaya diri tersebut. Secara pribadi, saya sangat diberkati dalam kegiatan bersama dengan Oase. Kiranya hal ini juga menolong saya untuk mengembangkan diri dalam pelayanan dan apa yang sudah saya dapatkan, juga dapat menjadi berkat bagi orang lain. GBU.

23 Juni 2011

Catatan dari Toili

Pembekalan anggota Majelis Jemaat GKLB Klasis Toili, 7-11 Juni 2011

Mendarat di antara gunung dan laut di sisi kanan dan kiri pesawat adalah awal dari langkah Tim Oase Intim melangkahkan kaki ke bumi Toili, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah tepat pada tanggal 6 Juni 2011. Daratan yang kami injak untuk pertama kali setelah turun dari pesawat bukanlah tujuan perjalanan kami, melainkan ibu kota kabupaten Banggai, Luwuk. Dari sana kami masih harus melanjutkan perjalanan melalui darat selama dua jam, dengan Ketua Panitia Kursus Teologi Terapan (KTT) Klasis Toili, dokter Christofer Ladja, sebagai sopir …

Menyisiri pantai menuju Toili, kami melihat suasana yang berbeda setiap kecamatan, ini disebabkan oleh setiap kecamatan memiliki ciri khas masing-masing. Kecamatan yang didiami oleh penduduk asli sangat berbeda dengan kecamatan yang didiami oleh penduduk pendatang atau transmigran. Pada kecamatan yang terakhir inilah, ban mobil berhenti dan kami disambut oleh panitia-panitia lokal yang telah siap menjamu kami.

Ada harapan besar yang nampaknya ingin dititipkan oleh panitia dalam setiap sentuhan tangan ketika sedang berjabat tangan dengan kami, tim dari Oase Intim. “Semoga tidak mengecewakan” pikirku tanpa mengetahui isi pikiran tim yang lain (Pak Zakaria, Pak Manggeng, Christin).

Hari pertama kedatangan kami, berlalu dengan banyak percakapan dengan panitia lokal di klasis Toili. Klasis Toili merupakan salah satu klasis GKLB (Gereja Kristen di Luwuk Banggai) yang meliputi dua kecamatan; Toili dan Toili Barat. Dua kecamatan ini adalah kecamatan transmigran mayoritas Jawa dan Bali selebihnya Mori, Manado, Bugis, dll. Karena itu tak heran jika jemaat-jemaat yang ada di klasis ini sangat beragam dari segi pandangan dan budaya. Hal ini terlihat jelas selama lima hari kegiatan yang dimulai setiap pukul 14.00-20.30 WITA.

Seperti kegiatan-kegiatan lainnya, kegiatan KTT ini juga diawali dengan ibadah pembukaan (7/6) pada pukul 10.00 yang dipimpin secara bergantian oleh Pdt. Martoyo sebagai liturgis dan Pdt. Marthen Manggeng, membawakan khotbah. Diakhir ibadah, kegiatan ini dibuka oleh Sekum BPS GKLB, Pdt. I Made Subagiarta.

Sebagaimana biasanya dalam pendekatan yang Oase lakukan, tim tidak memulainya dengan penyajian materi kepada peserta, melainkan terlebih dahulu melakukan penggalian informasi; motivasi, harapan dan permasalahan-permasalahan dalam pelayanan yang dialami peserta. Dari informasi-informasi tersebut inilah, tim Oase menyusun materi dan langkah-langkah strategis untuk disajikan pada hari kedua. Berita baik pada hari pertama kegiatan ini adalah kedatangan salah satu fasilitator Oase yang menyusul dari Kupang, Pak John Campbell Nelson. Hari pertama berlalu dengan “penggalian” masalah, yang nampaknya dari beberapa peserta yang belum terbiasa dengan pendekatan seperti ini sedikit kecewa, karena pada hari pertama mereka sudah siap dengan materi-materi.

Menarik bahwa, dari 35 peserta, sebagian diantaranya telah menjadi Majelis Jemaat belasan hingga puluhan tahun dengan motivasi ditunjuk maupun karena panggilan secara pribadi untuk melayani Tuhan. Dan sebagian besar peserta membutuhkan materi mengenai pengetahuan isi alkitab, metode berkhotbah, dll.

Hari kedua dan seterusnya, diawali dengan penyajian materi sesuai dengan hasil penggalian hari pertama kegiatan. Selama beberapa hari ini, tim telah mencoba untuk menyajikan materi dengan metode yang berbeda-beda agar peserta tidak bosan dan juga “energizer’ untuk menyegarkan pikiran peserta yang lelah berkegiatan. Bagaimana tidak, peserta yang terdaftar pada umumnya adalah pegawai dan petani yang telah beraktivitas di kantor dan di ladang pada pagi hari dan melanjutkan kursus pada sore harinya. Ini pula yang menjadi alasan penyelenggaraan KTT ini hingga diadakan pada siang hari

Meskipun demikian, mereka adalah peserta-peserta yang luar biasa bersemangat hingga hari terakhir, bahkan salah seorang peserta, Ibu Marni T. Bisi, berharap bahwa Oase masih akan memberikan materi pada hari minggu (12/6) sebelum penutupan berlangsung. Menurut Ibu Marni, kegiatan ini sangat membantu mereka dalam pelayanan, apalagi kegiatan seperti ini belum pernah ada sebelumnya, khusus di jemaat ibu Marni, bahkan pembekalan Penatua dan Syamas pun belum pernah ada.

Di tengah waktu seggang, pada pagi hari, kami dikunjungi oleh pendeta-pendeta klasis setempat untuk melakukan percakapan-percakapan seputar pelayanan. Dalam percakapan tersebut juga muncul beberapa pergumulan yang dibagi bersama dan hampir tidak begitu jauh berbeda dengan pesoalan yang dikemukakan oleh para peserta; Majelis dan Pelayan Kategorial. Persoalan yang paling banyak muncul adalah persoalan terkait Tata Gereja; bolehkan Penatua menumpangkan tangan pada saat mengucapkan berkat? Dll.

Karena begitu banyak pertanyaan dan pergumulan yang dialami oleh para pelayan Tuhan di Klasis ini, maka salah satu upaya Oase untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah membuka sessi bebas, untuk menjawab semua pertanyaan peserta yang ditulis dalam kertas yang disiapkan; 3 pertanyaan untuk setiap peserta. Pertanyaan yang paling banyak mencuat adalah; Bagaimana status pendeta yang menjadi Pegawai Negeri Sipil? Tritunggal dan Trinitas, persembahan perpuluhan, liturgi, pakaian jabatan, baptisan, denominasi, dan masalah budaya di dalam gereja.

Pada hari terakhir, hal yang tidak biasanya kami temui dalam kegiatan Oase adalah, panitia mencari peserta favorite perempuan dan laki-laki pilihan peserta. Dan terpilihlah dua orang, Ibu Tin dan Pak Darius. Kesan dari mereka berdua adalah, bahwa KTT yang diselanggarakan oleh Oase dan Klasis Toili ini sangat membantu mereka dan berharap bahwa kegiatan ini tidak berakhir sampai di sini saja.

Akhirnya, setelah melalui hari-hari yang tidak “normal” karena cukup melelahkan panitia dan peserta yang setia hingga akhir, kursus pun ditutup pada tanggal 12 Juni 2011 oleh Koordinator Klasis Toili, Pdt. Marthon. [Jenifer Ladja]

08 Juni 2011

Revisi tata Gereja Gepsultra

Laporan kegiatan, oleh Jenifer Ladja

Untuk menjawab tantangan zaman yang terus berkembang, Gereja Protestan di Sulawesi Tenggara (Gepsultra) merasa perlu untuk merevisi Tata Gereja yang berlaku saat ini. Maka untuk mewujudkan hal tersebut Gepsultra membentuk Tim Revisi Tata Gereja dan bekerja sama dengan Yayasan Oase Intim untuk mendampingi proses revisi ini.
Salah satu proses yang dilakukan oleh tim sebelum perampungan draft revisi adalah melakukan Konsultasi Tata Gereja dengan menghadirkan presbiter-presbiter dan Vikaris dari seluruh jemaat Gepsultra. Selain sebagai sosialisasi kepada presbiter, juga untuk mendapatkan masukan-masukan dari para presbiter sesuai dengan pergumulan di jemaat masing-masing agar kemudian “digodok” oleh Tim Revisi merupakan tujuan yang hendak dicapai.
Kerjasama Yayasan Oase Intim dan Sinode Gepsultra, bukanlah yang pertama kalinya, khususnya dalam hal revisi Tata Gereja, konsultasi ini adalah langkah kedua setelah sebelumnya dilakukan Lokakarya Tata Gereja (4-6 November 2010) di Kendari.
Bersama dengan narasumber yang ahli di bidang Tata Gereja; Pdt. Dr Lazarus Purwanto, Pdt. Dr. Zakaria Ngelow dan Pdt. Marthen Manggeng, M.Th, Konsultasi ini berlangsung selama tiga hari (26-30 Maret 2011) di Pendopo Kantor Sinode Gepsultra, Kendari.
Meskipun dalam suhu yang panas karena hujan yang tak kunjung menghampiri Kendari beberapa hari itu, konsultasi yang dihadiri oleh 83 peserta ini berlangsung dengan serius. Walau terkadang terjadi perdebatan yang alot, namun gelak tawa pun sering kali menghiasi seluruh proses. Menarik bahwa diskusi tidak hanya berlangsung di pendopo yang terbuka, tapi juga berlanjut pada waktu-waktu informal; di ruang makan atau bahkan saat istrahat. Ini menunjukkan keseriusan mereka untuk kemajuan pelayanan Gepultra.
Adapun pendekatan yang dilakukan oleh Fasilitator Oase; “semua peserta adalah fasiltator”, hingga Tata Gereja yang dihasilkan pun adalah Tata Gereja “dari, oleh dan untuk Gepsultra”; berasal dari pergumulan Gepsultra dari berbagai lingkup bagi kemajuan pelayanan Gepsultra. Salah satu hal substansial yang berubah adalah perubahan dari dua lingkup pelayanan (Jemaat dan Sinode) menjadi tiga lingkup (Jemaat-Klasis-Sinode)
Berdasarkan hasil evaluasi dan wawancara dengan beberapa peserta, mereka mengatakan bahwa proses ini sangat bermanfaat bagi mereka dan menambah banyak pengetahuan. Bahkan salah seorang peserta- Pnt. Benyamin Sampe, yang telah menjadi presbiter selama 4 periode –mengaku; mendapat hal baru/pengetahuan tambahan, misalnya mengenai sistem presbiterial sinodal yang selama ini dianut oleh Gepsultra namun tidak begitu dipahami secara lebih baik.
Selain itu Pdt. Pempy Maria Syella, S.T- salah satu peserta- menilai kegiatan ini mendapat perhatian yang besar di kalangan para penatua. Jika selama ini dalam rapat, Tata Gereja, hanyalah urusan pendeta dan para penatua hanya menunggu, kali ini penatua memperlihatkan antusias yang besar. Menurut Pdt. Pempy, hal ini dimungkinkan oleh beberapa faktor; kerinduan untuk kemajuan Gepsultra dan pola penyampaian materi dari fasilitator yang menarik. Namun, dibalik proses yang menarik ini, terbersit harapan bahwa Tata Gereja yang dirumuskan tidak hanya sekedar perbincangan di Pendopo, melainkan dapat terealisasi di jemaat-jemaat.

28 Maret 2011

White Crucifixion


Marc Chagall, White Crucifixion (1938)

Chagall melukis “Penyaliban Putih” untuk menarik perhatian terhadap serangkaian kejadian politik masa itu yang dilakukan oleh partai Nasional Sosialis (Nazi) yang berkuasa di Jerman. Chagall yang sekaligus sebagai seorang Yahudi dan sebagai seniman abstrak adalah sasaran kebijakan sensor kesenian Hitler. Agennya di Jerman, Herwarth Walden, dipaksa menutup galerinya di Berlin (Der Sturm), gagal menerbitkan newsletter-nya yang berpengaruh, dan mengungsi ke Uni Soviet pada tahun 1932.

Chagall painted "White Crucifixion" to draw attention to a recent series of political events perpetrated by the ruling National Socialist party in Germany. Both as a Jew and as an abstract artist,Chagall was a target of Hitler's art censorship policies. His dealer in Germany, Herwarth Walden, was forced to close hisBerlin gallery (Der Sturm), cease publication of its influential newsletter, and flee to the Soviet Union in 1932.

Pada tahun 1937 Nazi melakukan suatu inventarisasi sistematik seni moderen di museum-museum Jerman, membuang sekitar 16.000 karya yang tidak berterima bagi selera mereka untuk dipakai dalam kampanye, dihancurkan, atau dijual di luar negeri. Empat karya Chagall dimasukkan dalam ruangan “Yahudi” pameran ‘Seni Buruk’ di Munich pada akhir tahun 1937, yang mengejek penyimpangan dari standar seni Partai Nazi. Sementara itu, kebijakan-kebijakan anti-Yahudi di Jerman makin meningkat sampai pada tahap yang tak terduga. Mengikuti UU tahun 1935 untuk membatasi hak-hak sipil Yahudi, maka pada tahun 1938 Nazi melakukan sensus dan mendaftarkan semua usaha orang Yahudi sebagai pendahuluan rencana penumpasan etnik (genocide). Pada bulan Juni dan Agustus tahun 1938 kenisah (sinagoge) di Munich dan Nurenberg dihancurkan, dan pada tgl 9 November, yang disebut Malam Kristal, kekejaman-kekejaman anti-Semitik itu mencapai puncaknya.


In 1937, the Nazis undertook a systematic inventory of modern art in German museums, removing some 16,000 works unacceptable to their taste to use in propaganda campaigns, to destroy, or to sell outside the country. Four works by Chagall were among those included in the 'Jewish' room of the infamous 'Degenerate Art' exhibition staged in Munich at the end of 1937, which mocked deviations from Nazi Party art standards. Meanwhile, anti-Jewish policies in Germany escalated to an unthinkable level. Following the September 1935 laws to curtail the civil rights of Jews, the Nazis in 1938 took a Jewish census and registered all Jewish businesses as preliminaries to plans for ethnic genocide. In June and August of that year the synagogues in Munich and Nuremberg were destroyed, and on November 9, the so-called Crystal Night, these anti-semitic atrocities reached a climax.

Sebagai reaksi, Chagall menghasilkan suatu lukisan gugurnya Yesus orang Yahudi sebagai suatu simbol universal bagi penindasan keagamaan. Bukan dengan mahkota duri, melainkan Yesus dalam lukisan Chagall memakai kain penutup kepala dan syal doa Yahudi melingkari pinggangnya. Cahaya suci bulat (halo) di kepalanya digandakan dengan cahaya sekeliling Menorah di dekat kakinya. Sosok kakek moyang dan Rachel nenek moyang Ibrani muncul di langit malam berasap meratapi penganiayaannya. Di sekeliling salibnya, Chagall melukis pemandangan salju yang suram dengan suasana mencekam Jerman moderen. Pada latar belakang bagian kanan seorang serdadu membuka pintu-pintu sebuah tabut Torah yang bernyala-nyala, yang diambil dari sinagoge yang dijarah dan isinya terhambur mengotori latar depannya. Baik bendera di atas sinanoge maupun ban tangan serdadu dihiasi dengan swastika-swastika terbalik. Salah satu sosok yang melarikan diri di latar depan bagian kiri memakai tanda yang bertulisan “Ich bin Jude” (Saya seorang Yahudi). Pada latar belakang bagian atas sebuah perahu penuh pengungsi bersusah payah meninggalkan sebuah kampung yang terbakar, yang dihancurkan sebelum Tentara Rakyat dari Uni Soviet dengan bendera merah tiba membebaskan. Detil terakhir ini adalah suatu angan-angan yang dimotivasi permusuhan pemerintahan Stalin terhadap Hitler sebelum tahun1939.


In reaction, Chagall conceived a painting of the martyrdom of the Jew Jesus as a universal symbol for religious persecution. Instead of a crown of thorns, the Jesus on Chagall's picture wears a head-cloth and a prayershawl around his loins. The round halo around his head is repeated by the round glow around the Menorah at his feet. Mourning his persecution, figures of the Hebrew patriarchs and the matriarch Rachel appear in the smoke-fille nightimt sky. All aroound he cross, Chagall has depicted a bleak snowscape with horrific scenes of modern Germany.In the backgound to the right, a soldier opens the doors of a flaming Torah ark removed from a pillaged synagogue, the contents of which litter the foreground. Both the flag above the synagogue and the soldier's armband originally were decorated with inverted swastikas. One of the fleeing figures in the foreground at the left wears a sign which originally bore the inscription "Ich bin Jude" ('I am a Jew'). In the background above is a ship full of refugees trying ineffectively to flee a burning village, destroyed before the arrival of a liberating People's Army from the Soviet Union carrying red flags; this last detail was wishful thinking, motivated by the antagonism of Stalin's government toward Hitler's before 1939.


“Penyaliban Putih” termasuk dalam pameran karya Chagall di Paris pada awal tahun 1940, yang dimaksudkan meningkatkan kesadaran terhadap peristiwa-peristiwa di Jerman di bawah Hitler dan akibat-akibatnya secara umum bagi umat manusia. Chagall sendiri melarikan diri dari wilayah pendudukan mula-mula ke Marseilles, dan kemudian meninggalkan negerinya selama masa peperangan atas bantuan Museum of Modern Art di New York. Lukisan bersejarah ini dibahas secara detil dalam suatu artikel oleh Ziva Amishai-Maisels, mahaguru Hebrew University di Yerusalem, diterbitkan dalam jurnal Institut Kesenian, “Museum Studies” (vol. 17 no. 2).


Included in an exbition of Chagall's works in Paris in early 1940, the "White Crucifixion" was designed to raise awareness of the events in Hitler's Germany and their implications for mankind in general. Evidently the artist decided to paint over the most explicit historical details after the invasion of France in May 1940 or after the German army's occupation of Paris, begun in June 1940. Chagall himself fled the first occupied zone for Marseilles, and with the help to (sic) the Museum of Modern Art in New York, escaped to his country for the duration of the war. This historic painting is discussed in detail in an article by Ziva Amishai-Maisels, Professor at the Hebrew University of Jerusalem, published in the Art Institute's journal "Museum Studies" (vol. 17, no. 2).



http://www.davidrumsey.com/amica/amico249474-5325.html

Untuk riwayat hidup Marc Chagall (1887-1985), lihat "Marc Chagall" dalam Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Marc_Chagall

[Terjemahan Zakaria Ngelow]

Di mana gerangan Allah (dalam penderitaan manusia)?

Richard Leonard SJ

Kebanyakan uraian mengenai di mana atau bagaimana menemukan Allah dalam penderitaan manusia cenderung bersifat akademik. Saya berpendapat uraian-uraian itu penting, sekalipun ada yang tidak saya setujui argumentasi atau kesimpulan-kesimpulannya. Bahkan saya menemukan bahwa jarak intelektual yang mereka patok tetap berguna dalam memisahkan untuk penelitian dari jauh. Kecintaan saya mencari jawab di bidang ini bertolak dari suatu dasar yang lain. Saya pertama-tama tidak melakukan suatu pembahasan akademik, walaupun saya berharap pikiran-pikiran saya bernalar. Saya mulai tertarik berdasarkan pengalaman, dari pergumulan dengan suatu tragedi keluarga yang memaksa saya menghadapi masalah bagaimana tetap beriman kepada suatu Allah yang pengasih menghadapi penderitaan.

Pada tgl 23 Oktober 1988 saudara perempuan saya, Tracy, mengalami kecelakaan mengerikan: ruas ke-5 tulang belakangnya keseleo, dan ruas ke-6 dan ke-7 retak. Selama 23 tahun sesudah itu dia mengalami quadriplegia, lumpuh total kaki dan tangannya. Tracey saya kenal sebagai seorang yang sangat baik, dan ketika kecelakaan pada usia 28 tahun, dia telah tinggal di Calcutta selama tiga tahun merawat orang-orang termiskin di Wisma orang Sekarat Bunda Teresa. Dia kembali ke Australia dan mendapat pekerjaan dengan para Zuster Hati Suci Bunda Kita (Sisters of Our Lady of Sacred Heart) mengurus suatu pusat kesehatan bagi orang Aborigin di Port Keats. Dekat sanalah kecelakaan mobil itu terjadi. Dalam 24 jam ibu saya mengetahui kecelakaan Tracey, dia berdiri di sebuah ruangan rumah sakit di Darwin bertanya, 'Di manakah gerangan Allah?'

Dalam bulan-bulan berikutnya saya menerima sejumlah surat yang paling mengejutkan dan mengerikan dari sejumlah orang Kristen terbaik yang saya kenal. Beberapa menulis, 'Pastilah Tracey sudah melakukan sesuatu yang sangat melukai Allah sehingga dia harus dihukum di dunia ini.' Mereka sungguh percaya bahwa Allah mengejar kita. Saya temukan sejah tahun 1988 bahwa teologi ini jauh lebih lazim daripada yang saya bayangkan. Saya bertemu dengan orang-orang yang menderita kanker, pasangan yang mandul, dan orangtua yang kehilangan anak - semua bertanya apa yang telah mereka lakukan sehingga mereka menerima kutukan yang mereka pikir Allah berikan kepada mereka. Yang lain menulis, 'penderitaan Tracey adalah mengirim ke sorga bahan-bahan bangunan terbaik untuk kediamannya kalau dia meninggal.' Inilah apa yang biasa disebut 'teologi kue di sorga kalau anda mati'. Saya tidak tahu bahwa di sorga, di mana banyak tempat di rumah Bapa, ada suite kelas-kelas satu, bisnis dan ekonomi.

Ada sejumlah surat dan kartu yang mengatakan, 'Keluarga anda sebenarnya sangat diberkati, karena Allah hanya mengirim salib terbesar bagi mereka yang mampu memikulnya.' Saya selalu menganggap aneh bahwa sejumlah orang yang tidak menerima berkat macam itu dapat melihatnya pada penderitaan orang lain. Namun baiklah kita memikirkan sejenak kalimat ini. Kita sering mendengarnya. Jika benar demikian, maka kita semua harus berlutut pagi, siang, malam dengan satu doa: 'Aku seorang pengecut. Aku seorang pengecut. Aku seorang pengecut, ya Allah. Jangan kira aku kuat.'

Ada beberapa orang yang baik, yang menambahkan dengan berusaha menghiburkan, dan mengemukakan trio jawaban nyang lazim menghadapi kabar buruk: 'Itu semua suatu misteri; menyertakan kutipan Yesaya 55, 'Jalan-Ku bukan jalanmu'; dan 'Hanya di sorga nanti kita akan mengerti rencana Allah.' Ada kebenaran dalam setiap pernyataan ini, namun saya pikir bahwa salah satu poin dalam Inkarnasi adalah justru Allah ingin menyatakan jalan dan pikiran-Nya, ingin dikenal, khususnya dalam saat-saat ketika kita mengalami penderitaan yang hebat. Kita tidak pecaya dan mengasihi suatu oknum yang jauh yang suka misteri dan menghilang ketika kesulitan melanda hidup kita. Inkarnasi secara jelas memperlihatkan kepada kita bahwa Allah bertanggungjawab untuk berperan serta dalam perjalanan hidup manusia dengan segala kompleksitas dan deritanya.

23 tahun kemudian saya berterima kasih kepada para penulis surat yang menyurati saya setelah kecelakaan saudara perempuanku. Mereka menyadarkan saya betapa sering kita mendengar teologi yang mengerikan, yang tidak mendekatkan orang kepada Allah pada saat-saat terburuk dalam kehidupan kita. Teologi macam itu mengasingkan kita; mengasingkan saya sejenak dari percaya kepada Allah yang menghendaki kita melakukan suatu diskusi bernalar mengenai kompleksitas pertanyaan di mana dan bagaimana kehadiran Ilahi cocok dengan dunia kita yang rentan dan manusiawi. Jadi, inilah langkah-langkah saya ke kesadaran spiritual ketika kita tergoda dan digoda untuk mempertanyakan, 'Di manakah gerangan Allah?'

Dalam menawarkan sesuatu menyangkut topik ini kita sama sekali berada dalam wilayah teologi spekulatif. Pemikir-pemikir yang lebih besar dari saya selama berabad-abad telah berkutat dengan peryanyaan ini dan sampai pada kesimpulan yang berbeda-beda. Saya gembira untuk hal itu. Masalahnya ketika saya sungguh memerlukan pendapat-pendapat mereka, ternyata jawaban-jawaban mereka tidak memadai. Saya tidak mempersalahkan mereka. Kebanyakan mereka tidak punya akses pada dukungan studi biblika, teologi, sains dan psikologi kontemporer.

Gereja juga tahu bahwa ia tidak dapat memberi jawaban definitif terhadap pertanyaan ini, karena di seberang sini kematian kita tidak tahu di mana dan bagaimana Allah cocok dengan penderitaan dunia. Maka saya tidak mengklaim lebih besar untuk gagasan-gagasan saya daripada yang mereka telah bantu dalam mempertahankan iman saya kepada Allah yang pengasih ketika saya berjalan di 'lembah airmata' dan dalam 'bayang-bayang maut'.

Allah tidak secara langsung mengirim kepedihan, pendritaan dan wabah. Allah tidak menghukum kita, setidaknya dalam hidup ini. Saya pegang hal ini seyakinnya karena dalam 1Yo 1: 5 kita diberitahu bahwa 'Allah adalah terang, dalam Dia tidak ada kegelapan' sehingga hal-hal mematikan dan menghancurkan tidak dapat ada dalam hakekat dan tindakan Allah. Yang kedua, apapun yang kita lakukan terhadap berbagai citra Allah dalam Perjanjian Lama, dalam Yesus Allah dinyatakan sebagai yang terkait kehidupan bukan kematian, pembangunan bukan penghancuran, pengampunan bukan pembalasan, kesembuhan bukan kesakitan. Ada perbedaan besar antara Allah mengizinkan adanya hal jahat dan Allah melakukan yang jahat terhadap kita. Kita harus meremehkan mereka yang menyebarkan dan mendukung suatu teologi yang menggambarkan Allah sebagai seorang tiran.

Allah tidak membuat kecelakaan untuk mengajar kita sesuatu, meskipun kita dapat belajar dari peristiwa itu. Kita tidak dapat mempersalahkan Allah secara langsung karena menyebabkan penderitaan kita demi kita membaliknya dan memanfaatkannya menjadi kebaikan. Pencarian manusia akan makna adalah suatu naluri yang kuat, namun saya pikir kejernihan rohani terletak dalam melihat bahwa setiap saat setiap hari Allah melakukan apa yang Dia lakukan pada hari Jumat Agung: tidak membiarkan yang jahat, maut dan kehancuran menentukan, melainkan memuliakan manusia dengan suatu kekenyalan luar biasa, dan melalui kuasa anugerah yang ajaib memampukan kita bertahan, juga dalam situasi yang paling buruk, dan membiarkan terang dan kehidupan yang menentukan. Hari Minggu Paskah adalah respon Allah terhadap Jumat Agung: kehidupan dari dalam kematian.

Allah tidak inginkan gempa bumi, banjir, kekeringan atau bencana alam lainnya: dapatkah kita berhenti saja berdoa minta hujan? Jika Allah secara langsung menangani iklim, jelas Dia adalah seorang meteorologis yang tidak becus. Jika orang bertanya, 'mengapa gempa bumi dan tsunami terjadi?' Saya kira paling baik kita menjawab mereka dengan kebenaran sederhana geofisik: 'Sebab lempeng bumi bergerak dan menimbulkan gelombang besar.' Di balik ide meteorologis-di-langit bukanlah Allah dan Bapa Yesus Kristus, melainkan Zeus, dan saya pikir kita harus hati-hati apa yang kita pikir doa syafaat lakukan. Doa tidak mengubah Allah kita yang takberubah (Ja 1), makanya doa meminta kepada Allah yang tak berubah untuk mengubah kita untuk mengubah dunia.

Kehendak Allah lebih dalam gambar besar, bukan yang kecil. Saya sangat yakin pada kehendak Allah. Kehendaknya saya yakin ditemukan pada kanvas yang lebar, bukan pada detilnya. Saya pikir Allah menghendaki saya untuk hidup sesuai kebajikan teologis iman, harap dan kasih (1 Kor 13). Melalui berkat waktu dan tempat, pemberian alam dan rahmat, saya bekerja dengan Allah mewujudkan potensi saya dengan cara yang sebaik mungkin, meskipun jika itu mengandung keharusan mengerjakan apa yang sulit, menuntut dan berkorban. Saya pikir kita harus sangat hati-hati berbicara mengenai kehendak Allah dengan kalimat-kalimat seperti, 'Dengan rahmat Allah saya berangkat.' Bagaimana dengan orang miskin yang tidak beruntung? Apakah Allah tidak pedulikan mereka? Allah tidak memerlukan darah Yesus. Yesus tidak sekedar datang 'untuk mati' melainkan Allah memakai kematian-Nya mengumumkan akhir kematian. Inilah wilayah teologi 'persembahkan pada-Nya' - 'offering it up' theology: cukup baik Yesus menderita; cukup baik bagimu juga.

Sambil mengingat Rasul Paulus dalam surat Roma, Klement dari Aleksandria, Anselmus dari Canterbury, dan kemudian karya Yohanes Calvin mengenai teori penebusan dan teologi pemenuhan, saya tidak dapat langsung menyetujui bahwa Allah kasih yang sempurna mengatur kejatuhan ke dalam dosa, lalu demikian marah kepada kita, sehingga hanya dengan kematian mengerikan Putra-Nya yang sempurna Dia memulihkan hubungan dengan manusia. Ini bukanlah satu-satunya jalan ke dalam misteri Minggu Kudus. Dalam sejarah panjang Kekristenan, pertanyaan yang mengganggu banyak orang percaya nampaknya adalah. 'Mengapa Yesus mati?' Saya pikir ini pertanyaan yang keliru. Yang tepat adalah 'Mengapa Yesus dibunuh?' Pertanyaan ini menempatkan seluruh hari-hari terakhir sengsara dan kematian Yesus dalam suatu sudut pandang yang sama sekali baru. Yesus tidak sekadar dan hanya datang untuk mati. Melainkan Yesus datang untuk hidup. Sebagai suatu akibat dari cara berani dan radikal Dia jalani hidup-Nya, dan kasih yang menyelamatkan yang Dia wujudkan bagi semua umat manusia, Dia mengancam penguasa politik, sosial dan keagamaan masa-Nya sedemikian sehingga mereka menghukum mati Dia. Tetapi Allah menentukan untuk Hari Jumat Agung: Hari Minggu Paskah.

Allah telah menciptakan suatu dunia yang kurang sempurna, kalau tidak maka surga jadinya, di mana ada kenyataan sengsara, wabah dan kepedihan. Beberapa di antaranya kita ciptakan bagi diri sendiri lalu mempersalahkan Allah. Saya tidak ingat lagi berapa banyak orang yang mengatakan kepada saya. 'Saya tidak bisa percaya pada Allah yang membiarkan kelaparan terjadi'. Saya kira Allah yang heran mengapa manusia membiarkan kelaparan terjadi. Allah bertanggungjawab membiarkan dunia berkembang yang didalamnya akibat-akibat kejahatan moral dan fisik dapat menciptakan ketidakadilan. Namun Allah tidak bertanggungjawab karena kita menolak untuk melakukan pilihan berat yang akan membuat dunia kita mengalami perubahan menjadi tempat yang lebih adil dan setara bagi semua orang. Dengan ketegaran ini, tidak mengherankan bahwa kita menemukan kambi ng hitam ilahi untuk menanggung pelanggaran bagi kelemahan kehendak politik dan solidaritas sosial kita.

Allah tidak membinasakan kita. Syukur kepada Allah, sebagai seorang Katolik, setidaknya sejak tahun 1960an, secara resmi kita tidak memahami Kitab Suci secara hurufiah, sehingga kita sampai kita menghampiri teks tentang Allah mengenal 'rambut di kepalamu' dan 'panjang hari-hari hidup kita' (Yer 1:5; Gal 1: 15-16; Ams 16:33; Mat 10:30). Maka kita menjadi sepenuhnya fundamentalis. Ketika saya pergi ke panti jompo, saya sering ditanya, 'Romo, mengapa Allah tidak mengambil Oma?' Lalu saya jawab, 'Sebab Oma masih tetap bernafas.' Sebenarnya saya tidak maksudkan itu. Saya punya perasaan yang lebih pastoral, namun saya jawab saja. Kat kerja 'mengambil' demikian menyingkap apa yang kita pikir terjadi. Mengapa Allah berkeinginan 'mengambil' anak umur dua tahun ke sorga daripada 'membiarkan' anak ini berda dalam dekapan orangtua yang mengasihinya/ Bertentangan dengan ini, saya pikir sama sekali tepat untuk percaya bahwa kehidupan, dari rahim ke panti jompo, tidaklah ditentukan Allah jangka panjangnya, melainkan bahwa tubuh kita akan hidup sampai tidak berfungsi lagi, apa pun alasannya, alami atau kebetulan. Allah bukanlah pemain aktif dalam proses ini, namu sekali lagi, bertanggungjawab membuat kita fana. Lalu ketika tubuh kita mati, jiwa atau roh kita mulai perjalan terakhirnya ke sorga.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa teologi yang dibderikan garis besarnya di sini mengajukan Allah sebagai yang asing dan jauh. Saya tidak perlu memikirkan bahwa Allah adalah sebab langsung segala sesuatu dalam hidup saya untuk sengan kuat dan bersemangat yakin pada Allah yang personal. Dan memang saya menyukai kasih dan kehadiran pribadi Allah. Berpendapat bahwa Allah dipisahkan dari detil rumit bagaimana sesuatu berlangsung, tidak menjauhkan Allah dari drama kehidupan, penderitaan dan kematian kita. Allah menunggu dengan sabarsuatu undangan untuk masuk ke dalam hidup kita, pa tingkat mana pun yang kita mau. Kristus menjumpai kita di mana kita berada, memeluk dan memegang erat ketika kita mengalami hal yang berat, dan menolong menemukan jalan maju, bakan dan khususnya, pada hari terakhir ketika kita menemukan jalan pulang ke rumah Bapa.

Rev Dr Richard Leonard is a Jesuit of the Australian Province and author of Where the hell is God? (Paulist Press, 2010).
--------------

Where the hell is God?
http://www.thinkingfaith.org/articles/20110321_1.htm
Terjemahan Zakaria J. Ngelow