21 Oktober 2011

Dari Oikonomia Allah sampai ke Ekonomi Manusia:Sebuah Catatan Historis

John Campbell-Nelson

Pada tahun 1991, HKUP GMIT menambah dua bidang pelayanan yang “baru” pada tritunggal pelayanan yang terkenal: Koinonia, Marturia, dan Diakonia diperluas dengan Liturgia dan Oikonomia menjadi “panca pelayanan” yang dipakai sampai sekarang. Pada waktu itu, tidak ada yang mempertanyakan liturgia. Kita beribadah kepada Tuhan sejak dahulu kala. Hanya, ada yang merasa ganjil dengan soal oikonomia. Begitu mereka tahu bahwa kata “ekonomi” berasal dari bahasa Yunani oikonomia mereka berkeberatan: “Ekonomi itu soal duniawi. Gereja jangan urus bisnis.” Memang kita tidak mau kalau gereja menjadi semacam perusahaan. Hal ini sudah digumuli ketika kekayaan gereja menjadi salah satu pokok persoalan pada masa Reformasi. Pada abad-abad pertengahan, gereja telah berkembang sampai menjadi lembaga yang paling kaya di Eropa. Para Reformator mengecam korupsi dalam tubuh Kristus kalau gereja menjadi pemilik perkebunan yang luas, penjual jasa rohani, atau malah memungut pajak dan mengelola bank sendiri. Dalam keadaan demikian, terlalu gampang persembahan “demi kemuliaan Tuhan” bergeser pada “kemegaan GerejaNya” dan pada akhirnya menjadi kekayaan para “Hamba Tuhan.” Justru karena bahaya seperti itu, oikonomia perlu dipahami dalam arti yang asli dalam tradisi kita, sebab jauh sebelum oikonomia bergeser pada ekonomi dalam bahasa sehari-hari, ia adalah sebuah konsep teologis yang cukup sentral. Ada baiknya kalau kita mengikuti riwayatnya.Kata oikonomia berasal dari bahasa Yunani: oikos = “rumah” dan nomos = “penataan.” Dengan demikian oikonomia berarti penataan rumah tangga. Dalam bahasa sehari-hari, seorang oikonomos adalah juru kunci, kepala dapur, dan penilik perkebunan pada sebuah rumah besar; sedangkan oikonomia adalah tata aturan dalam sebuah rumah tangga. Berdasarkan arti yang sehari-hari ini, berkembang dalam pemikiran Rasul Paulus sebuah kiasan tentang dunia ini sebagai “rumah tangga Allah” (Ef. 2.19) dan oikonomia sebagai tatanan Allah terhadap ciptaanNya, dan lebih jauh lagi sebagai rencana penyelamatan Allah: “sebagai persiapan [oikonomian] kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.” (Ef. 1.10). Paulus juga menyebut diri sebagai “oikonomos rahasia Tuhan” (Ef. 3.9; I Kor. 4.1; Kol. 1.25).Selanjutnya, dalam pemikiran para Bapak Gerejawi konsep oikonomia sudah menjadi sebuah istilah yang khas teologis yang mencakup: (1) Tatanan internal dari Trinitas, semacam “pembagian tugas” di antara Bapak, Anak, dan Roh Kudus; (2) Konsep providentia, yaitu pemeliharaan Allah dalam pemberian alam semesta untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keberlangsungan hidup manusia; (3) Inkarnasi Allah dalam diri Yesus Kristus sebagai penggenapan rencana keselamatan. (4) Merangkum semua arti di atas, pada akhirnya disebut “Sang Oikonomia” untuk mencakup keseluruhan Rencana Tuhan dalam penciptaan, keselamatan, dan penggenapan pada akhir zaman.Dari evolusi makna oikonomia sejak Rasul Paulus lewat Krysostomus, Athanasius, Agustinus, bahkan sampai Luther dan Calvin nampak suatu keyakinan bahwa dunia ciptaan Allah dan keseluruhan perkembangan sejarah manusia adalah bagian dari suatu rencana agung yang ditata secara rapih demi kebaikan manusia dan kemuliaan Allah. Bagian manusia dalam rencana ini adalah sebagai oikonomos Allah yang dipercayakan dengan tugas untuk hidup sebagai penata rumah tangga Allah dan penjaga kebun Allah yang setia.Kalau memang demikian, sejak kapan oikonomia bergeser dari arti teologis ini menjadi “ekonomi,” dalam arti kegiatan produksi, pemasaran dan konsumsi barang, jasa, dan uang?Perobahan ini terjadi mulai pada zaman yang disebut “Pencerahan” di Eropa, pada abad ke15-18. Pertama, terjadi sejumlah terobosan dalam bidang ilmu alam, di mana para ilmuan seperti Galileo dan Kopernikus menemukan bahwa bumi ini bulat dan mengelilingi mata hari—ternyata bukan seperti dalam Alkitab, di mana bumi ini dianggap plat seperti sebuah piring dan mata hari mengelilingi bumi. Menyusul keberhasilan dalam ilmu alam, sejumlah pemikir mulai menerapkan metode observasi dan analisis yang serupa pada kehidupan dan kegiatan manusia. Tidak lagi terpaku pada “apa kata Alkitab,” mereka mencari pengetahuan tentang manusia dengan mata dan kepalanya sendiri.Salah satu pemikir yang menerapkan metode observasi-analisis ini pada kegiatan produksi dan perdagangan adalah Adam Smith, dalam bukunya Menelusuri Kekayaan Bangsa-Bangsa (An Inquiry into the Wealth of Nations, 1776). Smith meletakkan dasar bagi teori kapitalisme dan “pasar bebas” yang sempat berdaulat dalam pemikiran dan penetapan kebijakan-kebijakan perdagangan sampai abad ke 20. Pada saat yang sama, dia mempopulerkan sebuah istilah untuk bidang studinya yang melekat sampai sekarang: ekonomi politik (“political economy”). Para pemikir masa kini akan mengatakan bahwa bidang ini disebut ekonomi politik karena ia meneliti hubungan di antara kebijakan politik dan pengelolaan kegiatan ekonomi. Namun, dalam konteks berpikir Adam Smith ada alasan yang lain yang sama penting: Smith menyebut ekonomi politik untuk membedakannya dari istilah yang lebih tua: ekonomi Allah.Smith, seperti kaum “pencerahan” lain, berupaya untuk memahami dunia ini semata-mata dalam kerangka berpikir ratio manusia, tanpa mengandalkan intervensi Allah. Para ekonom selanjutnya meneruskan upaya itu, sampai ekonomi (biasanya tanpa kata sifat “politik” lagi) telah berkembang menjadi ilmu sosial yang paling berpengaruh dalam dunia masa kini. Penasehat ekonomi menjadi tokoh yang sangat berperan dalam pemerintahan, dan biarpun keadaan ekonomi memburuk betapapun, namun sulit mencari seorang ahli ekonomi yang menganggur. Bahkan di Amerika gelar akademis yang paling digemari adalah dalam bidang ekonomi.Lebih dari itu, hampir dapat dikatakan bahwa “Sang Ekonomi” dalam versi kapitalisme global telah menjadi pengganti Tuhan kalau orang mau menjelaskan apa yang paling berkuasa dalam kehidupan manusia masa kini. Mengapa kita susah? “Karena ekonomi memburuk.” Mengapa kita senang? “Karena ekonomi membaik.” Para bank besar dan kantor perusahaan global menjadi “Bait Suci” moderen, dengan bankir dan peramal ekonomis sebagai kaum imam. Salah-benar sebuah kebijakan publik dinilai dari “reaksi pasar.” Dalam pertarungan di antara Allah dan Mamon, kelihatannya seperti Mamon telah menang.Sementara itu, apa nasibnya oikonomia Allah? Dalam gereja, oikonomia, kalau disebut sama sekali, sering dibatasi pada soal keuangan dan harta milik gereja sebagai lembaga. Bahwa hal ini hanya sebagian yang kecil dari amanat Tuhan kepada manusia sebagai oikonomos Allah sepertinya dilupakan dalam upaya untuk mencari gaji bagi para pelayan dan menghimpun dana untuk membangun gedung-gedung yang dapat bersaing dengan para bait suci Mamon. Sampai sejauh gereja terlibat dalam kegiatan ekonomis, ia biasanya mengekor pada ekonomi kapitalis (misalnya melalui pinjaman-pinjaman untuk usaha-usaha kecil), atau ia mendapat bagian merawat para korban ekonomi kapitalis global melalui pelayanan diakonal. Usaha-usaha ini bukan tidak baik. Namun perlu dikatakan bahwa pelayanan gereja dalam bidang oikonomia cukup kerdil kalau dibandingkan dengan kemuliaan dari panggilannya sebagai Oikonomos Allah. Kalau dunia ini adalah kebun Allah, bagaimana kita membagi hasilnya secara adil? Bagaimana kita merawatnya supaya tidak dicemarkan oleh polusi atau dimakan erosi? Kalau kita berdiam bersama dalam rumah tangga Allah, mengapa ada yang makan dua piring dan ada yang mati kelaparan?Kalau kita mau setia pada amanat yang Tuhan berikan, kita harus mulai dengan upaya untuk mengembalikan oikonomia pada agenda teologia; para teolog harus belajar ilmu ekonomi seperti dulu kita belajar untuk berdialog dengan psikologi, sosiologi, dan antropologi. Dan yang utama, kita harus mengupayakan sebuah visi yang baru tentang Oikonomia Allah, Rencana Tuhan yang agung, yang dapat mengekspos ekonomi kapitalis global sebagai berhala kepada Mamon, dan dapat mengembalikan penataan rumah tangga Allah kepada tuan rumah yang sebenarnya.

27 Agustus 2011

Dua Doa

[Dari Ibu Corrie untuk kantor Oase dan untuk Christin]
Untuk Oase:
Bless This House
Bless this house, o Lord, we pray.
Make it safe by night and day.
Bless these walls so firm and stout,
Keeping want and trouble out.
Bless the roof and chimney tall,
Let thy peace lie over all.
Bless the doors that they may prove
Ever open to joy and love.
Bless the windows shining bright,
Letting in God's heavenly light.
Bless the hearth a-blazing there,
With smoke ascending like a prayer.
Bless the people here within...
Keep them pure and free from sin.
Bless us all, that one day, we
May be fit, O lord, to dwell with Thee.
Untuk Christin:
An Old Irish Blessing
May the road rise up to meet you.
May the wind always be at your back.
May the sun shine warm upon your face,
and rains fall soft upon your fields.
And until we meet again,
May God hold you in the palm of His hand.



26 Agustus malam: kebaktian syukuran pemakaian kantor Oase di Sudiang secara sederhana oleh keluarga Oase. Kebaktin dipimpin Pdt. Armin Sukri Kanna, M.Th.






23 Agustus 2011

OASE pindah


Sejak 20 Agustus 2011 kantor Oase pindah ke Sudiang, sehingga alamat posnya menjadi sbb

Oase Intim, Sudiang Nusa Idaman Blok F No. 12A, Makassar 90242 Indonesia


Dalam peta Google map ini, lokasinya di titik merah. Lihat foto di sebelah kanan teratas.

Garage sale: tak diperlukan lagi sebuah t4 tidur jati no 2, dan spring bed, dan sebuah kompor gas merk Technogas besar 4 mata dan oven. Dijual murah sekali, silahkan bagi yang berminat, kontak Jenifer (0815 242 166 405) atau Christin (081 342 284 900). Siapa cepat dia dapat.

25 Juli 2011

Catatan mengenai Oase

Enni Rosa - GTM

Mendengar tentang oase……..
Saat pertama kali mendengar kata oase, saya bayangkan bahwa oase adalah suatu tempat berhimpunnya para teolog “hebat” dan melakukan banyak kegiatan besar yang pastinya melibatkan orang-orang yang hebat pula. Dalam benak saya, oase adalah tempat bagi para teolog sekaliber Pak Ngelow dkk. Sedangkan orang-orang seperti saya, yang menempatkan diri pada kelompok yang punya pengetahuan teologi yang ‘biasa-biasa saja’, tidak akan mendapat tempat dalam dunia Oase. Sehingga ketika mendengar nama para pendiri oase dan teman-teman yang tergabung dalam oase, sepertinya saya merasa tidak percaya diri untuk berinteraksi dengan teman-teman dari oase.
Tantangan dari dalam diri……..
Saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat saya akan terlibat dalam kegiatan yang dilakukan bersama teman-teman di oase. Sebuah tantangan dimulai ketika saya pertama kali diminta terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakan Gereja Toraja Mamasa bersama dengan oase. Saya agak lupa apakah penyusunan kerangka khotbah atau pertemuan pendeta GTM yang menjadi awal perjumpaan dan keterlibatan secara langsung dalam kegiatan yang diselenggarakan oase dalam kerja sama dengan GTM. Ini menjadi sebuah tantangan tersendiri yang berasal dari dalam diri saya, karena masih saja terselip rasa kurang percaya diri ketika berjumpa dengan teman-teman dari oase. Kembali lagi, saya membayangkan teman-teman punya segudang pengetahuan sedangkan saya ini tidak punya sesuatu untuk dibagikan.
Berbagi kisah dalam kegiatan dengan Oase
Semua bayangan awal mengenai kegiatan oase dan teman-teman yang tergabung dalam oase pada akhirnya diruntuhkan dalam keterlibatan mengikuti beberapa kegiatan bersama oase. Dua kegiatan terakhir yang saya ikuti semakin menyadarkan saya bahwa apa yang saya bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.
Kegiatan pertama adalah Pemberdayaan peran ekumenis perempuan Kristen di Kabupaten Polewali Mandar yang dilaksanakan dalam bulan February tahun ini. Saya terlibat dalam kepanitiaan lokal dan sekaligus duduk bersama teman-teman oase untuk sesekali ikut dalam percakapan dengan para peserta. Walaupun dalam kegiatan ini saya belum banyak melibatkan diri dalam proses percakapan, tetapi saya sudah mulai memberi perhatian terhadap kegiatan yang dilakukan bersama kawan-kawan dari oase. Yang menarik untuk saya dalam kegiatan ini adalah sesekali saya diberi kesempatan untuk berbicara dan berbagi dengan teman-teman mengenai topik yang sedang dibahas. Saya tidak pernah mengikuti kegiatan dimana didalamnya semua peserta dan panitia lokal mendapatkan kesempatan yang sama untuk berbagi dengan para peserta. Saya merasa senang karena ada rasa penghargaan yang tulus dari teman-teman oase untuk mendengarkan apa yang menjadi pergumulan, pemahaman, dan kerinduan setiap peserta dalam mengikuti kegiatan yang dilaksanakan. Hal ini tentu juga berhubungan dengan metode pelaksanaan kegiatan yang sangat menekankan pada keterlibatan secara aktif dari setiap peserta yang mengikuti kegiatan. Benar-benar sangat memberdayakan.
Kegiatan kedua adalah ToT Pelayan Ibadah Anak/Guru Sekolah Minggu yang dilaksanakan tanggal 26-29 April 2011 di Baruga Kare Makassar. Pada saat saya mendapat telepon dari Pak Marthen untuk meminta saya mengikuti kegiatan ini, saya bergumul lagi dengan pikiran dan ketakutan saya sendiri. Pasalnya, saya menjadi pelayan anak tetapi tidak lagi terlibat secara langsung dalam pelayanan anak selama kira-kira tiga tahun terakhir. Selama mengikuti ToT ini ada beberapa hal yang menarik bagi saya, antara lain: Pertama: Jumlah peserta yang tidak terlalu banyak dan sangat ideal untuk sebuah kegiatan pelatihan. Jumlah peserta kegiatan ini 12 orang ditambah dengan teman-teman dari oase. Dengan jumlah peserta yang tidak lebih dari 20 orang, memberi kesempatan kepada semua peserta untuk berbicara dan mengungkapkan pendapat selama kegiatan berlangsung. Juga salah satu berkat bagi kami yang mengikuti pelatihan ini adalah kehadiran seorang peserta dari GMIT, Ibu Ezra, yang datang ke Makassar dengan berbagai alat peraganya. Kedua: karena jumlah peserta yang sedikit, maka kami juga punya kesempatan untuk bisa lebih saling mengenal satu dengan yang lainnya selama kegiatan ini dilaksanakan. Proses saling mengenal ini bukan hanya dilakukan selama pelaksanaan kegiatan, karena sampai hari ini kami sering berkomunikasi dengan semua teman, kecuali dengan pak Andre yang daerah pelayanannya diluar jangkauan, maksudnya tidak ada jaringan untuk berkomunikasi melalui handphone. Sungguh luar biasa karena setelah mengikuti pelatihan ini, saya bukan hanya mendapat teman yang baru, tapi saya merasa mendapatkan keluarga yang baru. Saya mendapat teman-teman yang bisa diajak untuk berbagi dan saling menguatkan dalam pelayanan sekolah minggu maupun juga dalam kegiatan sehari-hari. Ketiga: metode yang digunakan dalam pelatihan sangat variatif. Kegiatan ini menggunakan cara manual, sehingga seluruh peserta dan fasilitator benar-benar mengarahkan pikiran dan konsentrasi terhadap hal-hal yang dibicarakan. Fasilitas seperti laptop atau LCD tidak digunakan dalam kegiatan. Saya sangat tertolong dalam hal ini, karena cara manual menolong saya secara pribadi untuk lebih fokus pada proses pelatihan.

Masih banyak hal menarik yang saya dapatkan dalam kegiatan bersama oase yang tidak termuat dalam kisah ini. Tetapi, paling tidak, bekerja bersama oase selalu memberi penyegaran kepada saya untuk melakukan pelayanan. Dulu, saya tidak percaya diri untuk mengikuti kegiatan seperti yang dilaksanakan oleh teman-teman di oase. Tetapi, setelah mengikuti beberapa kegiatan dengan oase saya belajar untuk mengikis rasa tidak percaya diri tersebut. Secara pribadi, saya sangat diberkati dalam kegiatan bersama dengan Oase. Kiranya hal ini juga menolong saya untuk mengembangkan diri dalam pelayanan dan apa yang sudah saya dapatkan, juga dapat menjadi berkat bagi orang lain. GBU.

23 Juni 2011

Catatan dari Toili

Pembekalan anggota Majelis Jemaat GKLB Klasis Toili, 7-11 Juni 2011

Mendarat di antara gunung dan laut di sisi kanan dan kiri pesawat adalah awal dari langkah Tim Oase Intim melangkahkan kaki ke bumi Toili, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah tepat pada tanggal 6 Juni 2011. Daratan yang kami injak untuk pertama kali setelah turun dari pesawat bukanlah tujuan perjalanan kami, melainkan ibu kota kabupaten Banggai, Luwuk. Dari sana kami masih harus melanjutkan perjalanan melalui darat selama dua jam, dengan Ketua Panitia Kursus Teologi Terapan (KTT) Klasis Toili, dokter Christofer Ladja, sebagai sopir …

Menyisiri pantai menuju Toili, kami melihat suasana yang berbeda setiap kecamatan, ini disebabkan oleh setiap kecamatan memiliki ciri khas masing-masing. Kecamatan yang didiami oleh penduduk asli sangat berbeda dengan kecamatan yang didiami oleh penduduk pendatang atau transmigran. Pada kecamatan yang terakhir inilah, ban mobil berhenti dan kami disambut oleh panitia-panitia lokal yang telah siap menjamu kami.

Ada harapan besar yang nampaknya ingin dititipkan oleh panitia dalam setiap sentuhan tangan ketika sedang berjabat tangan dengan kami, tim dari Oase Intim. “Semoga tidak mengecewakan” pikirku tanpa mengetahui isi pikiran tim yang lain (Pak Zakaria, Pak Manggeng, Christin).

Hari pertama kedatangan kami, berlalu dengan banyak percakapan dengan panitia lokal di klasis Toili. Klasis Toili merupakan salah satu klasis GKLB (Gereja Kristen di Luwuk Banggai) yang meliputi dua kecamatan; Toili dan Toili Barat. Dua kecamatan ini adalah kecamatan transmigran mayoritas Jawa dan Bali selebihnya Mori, Manado, Bugis, dll. Karena itu tak heran jika jemaat-jemaat yang ada di klasis ini sangat beragam dari segi pandangan dan budaya. Hal ini terlihat jelas selama lima hari kegiatan yang dimulai setiap pukul 14.00-20.30 WITA.

Seperti kegiatan-kegiatan lainnya, kegiatan KTT ini juga diawali dengan ibadah pembukaan (7/6) pada pukul 10.00 yang dipimpin secara bergantian oleh Pdt. Martoyo sebagai liturgis dan Pdt. Marthen Manggeng, membawakan khotbah. Diakhir ibadah, kegiatan ini dibuka oleh Sekum BPS GKLB, Pdt. I Made Subagiarta.

Sebagaimana biasanya dalam pendekatan yang Oase lakukan, tim tidak memulainya dengan penyajian materi kepada peserta, melainkan terlebih dahulu melakukan penggalian informasi; motivasi, harapan dan permasalahan-permasalahan dalam pelayanan yang dialami peserta. Dari informasi-informasi tersebut inilah, tim Oase menyusun materi dan langkah-langkah strategis untuk disajikan pada hari kedua. Berita baik pada hari pertama kegiatan ini adalah kedatangan salah satu fasilitator Oase yang menyusul dari Kupang, Pak John Campbell Nelson. Hari pertama berlalu dengan “penggalian” masalah, yang nampaknya dari beberapa peserta yang belum terbiasa dengan pendekatan seperti ini sedikit kecewa, karena pada hari pertama mereka sudah siap dengan materi-materi.

Menarik bahwa, dari 35 peserta, sebagian diantaranya telah menjadi Majelis Jemaat belasan hingga puluhan tahun dengan motivasi ditunjuk maupun karena panggilan secara pribadi untuk melayani Tuhan. Dan sebagian besar peserta membutuhkan materi mengenai pengetahuan isi alkitab, metode berkhotbah, dll.

Hari kedua dan seterusnya, diawali dengan penyajian materi sesuai dengan hasil penggalian hari pertama kegiatan. Selama beberapa hari ini, tim telah mencoba untuk menyajikan materi dengan metode yang berbeda-beda agar peserta tidak bosan dan juga “energizer’ untuk menyegarkan pikiran peserta yang lelah berkegiatan. Bagaimana tidak, peserta yang terdaftar pada umumnya adalah pegawai dan petani yang telah beraktivitas di kantor dan di ladang pada pagi hari dan melanjutkan kursus pada sore harinya. Ini pula yang menjadi alasan penyelenggaraan KTT ini hingga diadakan pada siang hari

Meskipun demikian, mereka adalah peserta-peserta yang luar biasa bersemangat hingga hari terakhir, bahkan salah seorang peserta, Ibu Marni T. Bisi, berharap bahwa Oase masih akan memberikan materi pada hari minggu (12/6) sebelum penutupan berlangsung. Menurut Ibu Marni, kegiatan ini sangat membantu mereka dalam pelayanan, apalagi kegiatan seperti ini belum pernah ada sebelumnya, khusus di jemaat ibu Marni, bahkan pembekalan Penatua dan Syamas pun belum pernah ada.

Di tengah waktu seggang, pada pagi hari, kami dikunjungi oleh pendeta-pendeta klasis setempat untuk melakukan percakapan-percakapan seputar pelayanan. Dalam percakapan tersebut juga muncul beberapa pergumulan yang dibagi bersama dan hampir tidak begitu jauh berbeda dengan pesoalan yang dikemukakan oleh para peserta; Majelis dan Pelayan Kategorial. Persoalan yang paling banyak muncul adalah persoalan terkait Tata Gereja; bolehkan Penatua menumpangkan tangan pada saat mengucapkan berkat? Dll.

Karena begitu banyak pertanyaan dan pergumulan yang dialami oleh para pelayan Tuhan di Klasis ini, maka salah satu upaya Oase untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah membuka sessi bebas, untuk menjawab semua pertanyaan peserta yang ditulis dalam kertas yang disiapkan; 3 pertanyaan untuk setiap peserta. Pertanyaan yang paling banyak mencuat adalah; Bagaimana status pendeta yang menjadi Pegawai Negeri Sipil? Tritunggal dan Trinitas, persembahan perpuluhan, liturgi, pakaian jabatan, baptisan, denominasi, dan masalah budaya di dalam gereja.

Pada hari terakhir, hal yang tidak biasanya kami temui dalam kegiatan Oase adalah, panitia mencari peserta favorite perempuan dan laki-laki pilihan peserta. Dan terpilihlah dua orang, Ibu Tin dan Pak Darius. Kesan dari mereka berdua adalah, bahwa KTT yang diselanggarakan oleh Oase dan Klasis Toili ini sangat membantu mereka dan berharap bahwa kegiatan ini tidak berakhir sampai di sini saja.

Akhirnya, setelah melalui hari-hari yang tidak “normal” karena cukup melelahkan panitia dan peserta yang setia hingga akhir, kursus pun ditutup pada tanggal 12 Juni 2011 oleh Koordinator Klasis Toili, Pdt. Marthon. [Jenifer Ladja]

08 Juni 2011

Revisi tata Gereja Gepsultra

Laporan kegiatan, oleh Jenifer Ladja

Untuk menjawab tantangan zaman yang terus berkembang, Gereja Protestan di Sulawesi Tenggara (Gepsultra) merasa perlu untuk merevisi Tata Gereja yang berlaku saat ini. Maka untuk mewujudkan hal tersebut Gepsultra membentuk Tim Revisi Tata Gereja dan bekerja sama dengan Yayasan Oase Intim untuk mendampingi proses revisi ini.
Salah satu proses yang dilakukan oleh tim sebelum perampungan draft revisi adalah melakukan Konsultasi Tata Gereja dengan menghadirkan presbiter-presbiter dan Vikaris dari seluruh jemaat Gepsultra. Selain sebagai sosialisasi kepada presbiter, juga untuk mendapatkan masukan-masukan dari para presbiter sesuai dengan pergumulan di jemaat masing-masing agar kemudian “digodok” oleh Tim Revisi merupakan tujuan yang hendak dicapai.
Kerjasama Yayasan Oase Intim dan Sinode Gepsultra, bukanlah yang pertama kalinya, khususnya dalam hal revisi Tata Gereja, konsultasi ini adalah langkah kedua setelah sebelumnya dilakukan Lokakarya Tata Gereja (4-6 November 2010) di Kendari.
Bersama dengan narasumber yang ahli di bidang Tata Gereja; Pdt. Dr Lazarus Purwanto, Pdt. Dr. Zakaria Ngelow dan Pdt. Marthen Manggeng, M.Th, Konsultasi ini berlangsung selama tiga hari (26-30 Maret 2011) di Pendopo Kantor Sinode Gepsultra, Kendari.
Meskipun dalam suhu yang panas karena hujan yang tak kunjung menghampiri Kendari beberapa hari itu, konsultasi yang dihadiri oleh 83 peserta ini berlangsung dengan serius. Walau terkadang terjadi perdebatan yang alot, namun gelak tawa pun sering kali menghiasi seluruh proses. Menarik bahwa diskusi tidak hanya berlangsung di pendopo yang terbuka, tapi juga berlanjut pada waktu-waktu informal; di ruang makan atau bahkan saat istrahat. Ini menunjukkan keseriusan mereka untuk kemajuan pelayanan Gepultra.
Adapun pendekatan yang dilakukan oleh Fasilitator Oase; “semua peserta adalah fasiltator”, hingga Tata Gereja yang dihasilkan pun adalah Tata Gereja “dari, oleh dan untuk Gepsultra”; berasal dari pergumulan Gepsultra dari berbagai lingkup bagi kemajuan pelayanan Gepsultra. Salah satu hal substansial yang berubah adalah perubahan dari dua lingkup pelayanan (Jemaat dan Sinode) menjadi tiga lingkup (Jemaat-Klasis-Sinode)
Berdasarkan hasil evaluasi dan wawancara dengan beberapa peserta, mereka mengatakan bahwa proses ini sangat bermanfaat bagi mereka dan menambah banyak pengetahuan. Bahkan salah seorang peserta- Pnt. Benyamin Sampe, yang telah menjadi presbiter selama 4 periode –mengaku; mendapat hal baru/pengetahuan tambahan, misalnya mengenai sistem presbiterial sinodal yang selama ini dianut oleh Gepsultra namun tidak begitu dipahami secara lebih baik.
Selain itu Pdt. Pempy Maria Syella, S.T- salah satu peserta- menilai kegiatan ini mendapat perhatian yang besar di kalangan para penatua. Jika selama ini dalam rapat, Tata Gereja, hanyalah urusan pendeta dan para penatua hanya menunggu, kali ini penatua memperlihatkan antusias yang besar. Menurut Pdt. Pempy, hal ini dimungkinkan oleh beberapa faktor; kerinduan untuk kemajuan Gepsultra dan pola penyampaian materi dari fasilitator yang menarik. Namun, dibalik proses yang menarik ini, terbersit harapan bahwa Tata Gereja yang dirumuskan tidak hanya sekedar perbincangan di Pendopo, melainkan dapat terealisasi di jemaat-jemaat.