|
27 Agustus 2011
Dua Doa
[Dari Ibu Corrie untuk kantor Oase dan untuk Christin]
23 Agustus 2011
OASE pindah
Sejak 20 Agustus 2011 kantor Oase pindah ke Sudiang, sehingga alamat posnya menjadi sbb
Oase Intim, Sudiang Nusa Idaman Blok F No. 12A, Makassar 90242 Indonesia
Dalam peta Google map ini, lokasinya di titik merah. Lihat foto di sebelah kanan teratas.
Garage sale: tak diperlukan lagi sebuah t4 tidur jati no 2, dan spring bed, dan sebuah kompor gas merk Technogas besar 4 mata dan oven. Dijual murah sekali, silahkan bagi yang berminat, kontak Jenifer (0815 242 166 405) atau Christin (081 342 284 900). Siapa cepat dia dapat.
25 Juli 2011
Catatan mengenai Oase
Enni Rosa - GTM
Mendengar tentang oase……..
Saat pertama kali mendengar kata oase, saya bayangkan bahwa oase adalah suatu tempat berhimpunnya para teolog “hebat” dan melakukan banyak kegiatan besar yang pastinya melibatkan orang-orang yang hebat pula. Dalam benak saya, oase adalah tempat bagi para teolog sekaliber Pak Ngelow dkk. Sedangkan orang-orang seperti saya, yang menempatkan diri pada kelompok yang punya pengetahuan teologi yang ‘biasa-biasa saja’, tidak akan mendapat tempat dalam dunia Oase. Sehingga ketika mendengar nama para pendiri oase dan teman-teman yang tergabung dalam oase, sepertinya saya merasa tidak percaya diri untuk berinteraksi dengan teman-teman dari oase.
Tantangan dari dalam diri……..
Saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat saya akan terlibat dalam kegiatan yang dilakukan bersama teman-teman di oase. Sebuah tantangan dimulai ketika saya pertama kali diminta terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakan Gereja Toraja Mamasa bersama dengan oase. Saya agak lupa apakah penyusunan kerangka khotbah atau pertemuan pendeta GTM yang menjadi awal perjumpaan dan keterlibatan secara langsung dalam kegiatan yang diselenggarakan oase dalam kerja sama dengan GTM. Ini menjadi sebuah tantangan tersendiri yang berasal dari dalam diri saya, karena masih saja terselip rasa kurang percaya diri ketika berjumpa dengan teman-teman dari oase. Kembali lagi, saya membayangkan teman-teman punya segudang pengetahuan sedangkan saya ini tidak punya sesuatu untuk dibagikan.
Berbagi kisah dalam kegiatan dengan Oase
Semua bayangan awal mengenai kegiatan oase dan teman-teman yang tergabung dalam oase pada akhirnya diruntuhkan dalam keterlibatan mengikuti beberapa kegiatan bersama oase. Dua kegiatan terakhir yang saya ikuti semakin menyadarkan saya bahwa apa yang saya bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.
Kegiatan pertama adalah Pemberdayaan peran ekumenis perempuan Kristen di Kabupaten Polewali Mandar yang dilaksanakan dalam bulan February tahun ini. Saya terlibat dalam kepanitiaan lokal dan sekaligus duduk bersama teman-teman oase untuk sesekali ikut dalam percakapan dengan para peserta. Walaupun dalam kegiatan ini saya belum banyak melibatkan diri dalam proses percakapan, tetapi saya sudah mulai memberi perhatian terhadap kegiatan yang dilakukan bersama kawan-kawan dari oase. Yang menarik untuk saya dalam kegiatan ini adalah sesekali saya diberi kesempatan untuk berbicara dan berbagi dengan teman-teman mengenai topik yang sedang dibahas. Saya tidak pernah mengikuti kegiatan dimana didalamnya semua peserta dan panitia lokal mendapatkan kesempatan yang sama untuk berbagi dengan para peserta. Saya merasa senang karena ada rasa penghargaan yang tulus dari teman-teman oase untuk mendengarkan apa yang menjadi pergumulan, pemahaman, dan kerinduan setiap peserta dalam mengikuti kegiatan yang dilaksanakan. Hal ini tentu juga berhubungan dengan metode pelaksanaan kegiatan yang sangat menekankan pada keterlibatan secara aktif dari setiap peserta yang mengikuti kegiatan. Benar-benar sangat memberdayakan.
Kegiatan kedua adalah ToT Pelayan Ibadah Anak/Guru Sekolah Minggu yang dilaksanakan tanggal 26-29 April 2011 di Baruga Kare Makassar. Pada saat saya mendapat telepon dari Pak Marthen untuk meminta saya mengikuti kegiatan ini, saya bergumul lagi dengan pikiran dan ketakutan saya sendiri. Pasalnya, saya menjadi pelayan anak tetapi tidak lagi terlibat secara langsung dalam pelayanan anak selama kira-kira tiga tahun terakhir. Selama mengikuti ToT ini ada beberapa hal yang menarik bagi saya, antara lain: Pertama: Jumlah peserta yang tidak terlalu banyak dan sangat ideal untuk sebuah kegiatan pelatihan. Jumlah peserta kegiatan ini 12 orang ditambah dengan teman-teman dari oase. Dengan jumlah peserta yang tidak lebih dari 20 orang, memberi kesempatan kepada semua peserta untuk berbicara dan mengungkapkan pendapat selama kegiatan berlangsung. Juga salah satu berkat bagi kami yang mengikuti pelatihan ini adalah kehadiran seorang peserta dari GMIT, Ibu Ezra, yang datang ke Makassar dengan berbagai alat peraganya. Kedua: karena jumlah peserta yang sedikit, maka kami juga punya kesempatan untuk bisa lebih saling mengenal satu dengan yang lainnya selama kegiatan ini dilaksanakan. Proses saling mengenal ini bukan hanya dilakukan selama pelaksanaan kegiatan, karena sampai hari ini kami sering berkomunikasi dengan semua teman, kecuali dengan pak Andre yang daerah pelayanannya diluar jangkauan, maksudnya tidak ada jaringan untuk berkomunikasi melalui handphone. Sungguh luar biasa karena setelah mengikuti pelatihan ini, saya bukan hanya mendapat teman yang baru, tapi saya merasa mendapatkan keluarga yang baru. Saya mendapat teman-teman yang bisa diajak untuk berbagi dan saling menguatkan dalam pelayanan sekolah minggu maupun juga dalam kegiatan sehari-hari. Ketiga: metode yang digunakan dalam pelatihan sangat variatif. Kegiatan ini menggunakan cara manual, sehingga seluruh peserta dan fasilitator benar-benar mengarahkan pikiran dan konsentrasi terhadap hal-hal yang dibicarakan. Fasilitas seperti laptop atau LCD tidak digunakan dalam kegiatan. Saya sangat tertolong dalam hal ini, karena cara manual menolong saya secara pribadi untuk lebih fokus pada proses pelatihan.
Masih banyak hal menarik yang saya dapatkan dalam kegiatan bersama oase yang tidak termuat dalam kisah ini. Tetapi, paling tidak, bekerja bersama oase selalu memberi penyegaran kepada saya untuk melakukan pelayanan. Dulu, saya tidak percaya diri untuk mengikuti kegiatan seperti yang dilaksanakan oleh teman-teman di oase. Tetapi, setelah mengikuti beberapa kegiatan dengan oase saya belajar untuk mengikis rasa tidak percaya diri tersebut. Secara pribadi, saya sangat diberkati dalam kegiatan bersama dengan Oase. Kiranya hal ini juga menolong saya untuk mengembangkan diri dalam pelayanan dan apa yang sudah saya dapatkan, juga dapat menjadi berkat bagi orang lain. GBU.
Mendengar tentang oase……..
Saat pertama kali mendengar kata oase, saya bayangkan bahwa oase adalah suatu tempat berhimpunnya para teolog “hebat” dan melakukan banyak kegiatan besar yang pastinya melibatkan orang-orang yang hebat pula. Dalam benak saya, oase adalah tempat bagi para teolog sekaliber Pak Ngelow dkk. Sedangkan orang-orang seperti saya, yang menempatkan diri pada kelompok yang punya pengetahuan teologi yang ‘biasa-biasa saja’, tidak akan mendapat tempat dalam dunia Oase. Sehingga ketika mendengar nama para pendiri oase dan teman-teman yang tergabung dalam oase, sepertinya saya merasa tidak percaya diri untuk berinteraksi dengan teman-teman dari oase.
Tantangan dari dalam diri……..
Saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat saya akan terlibat dalam kegiatan yang dilakukan bersama teman-teman di oase. Sebuah tantangan dimulai ketika saya pertama kali diminta terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakan Gereja Toraja Mamasa bersama dengan oase. Saya agak lupa apakah penyusunan kerangka khotbah atau pertemuan pendeta GTM yang menjadi awal perjumpaan dan keterlibatan secara langsung dalam kegiatan yang diselenggarakan oase dalam kerja sama dengan GTM. Ini menjadi sebuah tantangan tersendiri yang berasal dari dalam diri saya, karena masih saja terselip rasa kurang percaya diri ketika berjumpa dengan teman-teman dari oase. Kembali lagi, saya membayangkan teman-teman punya segudang pengetahuan sedangkan saya ini tidak punya sesuatu untuk dibagikan.
Berbagi kisah dalam kegiatan dengan Oase
Semua bayangan awal mengenai kegiatan oase dan teman-teman yang tergabung dalam oase pada akhirnya diruntuhkan dalam keterlibatan mengikuti beberapa kegiatan bersama oase. Dua kegiatan terakhir yang saya ikuti semakin menyadarkan saya bahwa apa yang saya bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.
Kegiatan pertama adalah Pemberdayaan peran ekumenis perempuan Kristen di Kabupaten Polewali Mandar yang dilaksanakan dalam bulan February tahun ini. Saya terlibat dalam kepanitiaan lokal dan sekaligus duduk bersama teman-teman oase untuk sesekali ikut dalam percakapan dengan para peserta. Walaupun dalam kegiatan ini saya belum banyak melibatkan diri dalam proses percakapan, tetapi saya sudah mulai memberi perhatian terhadap kegiatan yang dilakukan bersama kawan-kawan dari oase. Yang menarik untuk saya dalam kegiatan ini adalah sesekali saya diberi kesempatan untuk berbicara dan berbagi dengan teman-teman mengenai topik yang sedang dibahas. Saya tidak pernah mengikuti kegiatan dimana didalamnya semua peserta dan panitia lokal mendapatkan kesempatan yang sama untuk berbagi dengan para peserta. Saya merasa senang karena ada rasa penghargaan yang tulus dari teman-teman oase untuk mendengarkan apa yang menjadi pergumulan, pemahaman, dan kerinduan setiap peserta dalam mengikuti kegiatan yang dilaksanakan. Hal ini tentu juga berhubungan dengan metode pelaksanaan kegiatan yang sangat menekankan pada keterlibatan secara aktif dari setiap peserta yang mengikuti kegiatan. Benar-benar sangat memberdayakan.
Kegiatan kedua adalah ToT Pelayan Ibadah Anak/Guru Sekolah Minggu yang dilaksanakan tanggal 26-29 April 2011 di Baruga Kare Makassar. Pada saat saya mendapat telepon dari Pak Marthen untuk meminta saya mengikuti kegiatan ini, saya bergumul lagi dengan pikiran dan ketakutan saya sendiri. Pasalnya, saya menjadi pelayan anak tetapi tidak lagi terlibat secara langsung dalam pelayanan anak selama kira-kira tiga tahun terakhir. Selama mengikuti ToT ini ada beberapa hal yang menarik bagi saya, antara lain: Pertama: Jumlah peserta yang tidak terlalu banyak dan sangat ideal untuk sebuah kegiatan pelatihan. Jumlah peserta kegiatan ini 12 orang ditambah dengan teman-teman dari oase. Dengan jumlah peserta yang tidak lebih dari 20 orang, memberi kesempatan kepada semua peserta untuk berbicara dan mengungkapkan pendapat selama kegiatan berlangsung. Juga salah satu berkat bagi kami yang mengikuti pelatihan ini adalah kehadiran seorang peserta dari GMIT, Ibu Ezra, yang datang ke Makassar dengan berbagai alat peraganya. Kedua: karena jumlah peserta yang sedikit, maka kami juga punya kesempatan untuk bisa lebih saling mengenal satu dengan yang lainnya selama kegiatan ini dilaksanakan. Proses saling mengenal ini bukan hanya dilakukan selama pelaksanaan kegiatan, karena sampai hari ini kami sering berkomunikasi dengan semua teman, kecuali dengan pak Andre yang daerah pelayanannya diluar jangkauan, maksudnya tidak ada jaringan untuk berkomunikasi melalui handphone. Sungguh luar biasa karena setelah mengikuti pelatihan ini, saya bukan hanya mendapat teman yang baru, tapi saya merasa mendapatkan keluarga yang baru. Saya mendapat teman-teman yang bisa diajak untuk berbagi dan saling menguatkan dalam pelayanan sekolah minggu maupun juga dalam kegiatan sehari-hari. Ketiga: metode yang digunakan dalam pelatihan sangat variatif. Kegiatan ini menggunakan cara manual, sehingga seluruh peserta dan fasilitator benar-benar mengarahkan pikiran dan konsentrasi terhadap hal-hal yang dibicarakan. Fasilitas seperti laptop atau LCD tidak digunakan dalam kegiatan. Saya sangat tertolong dalam hal ini, karena cara manual menolong saya secara pribadi untuk lebih fokus pada proses pelatihan.
Masih banyak hal menarik yang saya dapatkan dalam kegiatan bersama oase yang tidak termuat dalam kisah ini. Tetapi, paling tidak, bekerja bersama oase selalu memberi penyegaran kepada saya untuk melakukan pelayanan. Dulu, saya tidak percaya diri untuk mengikuti kegiatan seperti yang dilaksanakan oleh teman-teman di oase. Tetapi, setelah mengikuti beberapa kegiatan dengan oase saya belajar untuk mengikis rasa tidak percaya diri tersebut. Secara pribadi, saya sangat diberkati dalam kegiatan bersama dengan Oase. Kiranya hal ini juga menolong saya untuk mengembangkan diri dalam pelayanan dan apa yang sudah saya dapatkan, juga dapat menjadi berkat bagi orang lain. GBU.
23 Juni 2011
Catatan dari Toili
Pembekalan anggota Majelis Jemaat GKLB Klasis Toili, 7-11 Juni 2011
Mendarat di antara gunung dan laut di sisi kanan dan kiri pesawat adalah awal dari langkah Tim Oase Intim melangkahkan kaki ke bumi Toili, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah tepat pada tanggal 6 Juni 2011. Daratan yang kami injak untuk pertama kali setelah turun dari pesawat bukanlah tujuan perjalanan kami, melainkan ibu kota kabupaten Banggai, Luwuk. Dari sana kami masih harus melanjutkan perjalanan melalui darat selama dua jam, dengan Ketua Panitia Kursus Teologi Terapan (KTT) Klasis Toili, dokter Christofer Ladja, sebagai sopir …
Menyisiri pantai menuju Toili, kami melihat suasana yang berbeda setiap kecamatan, ini disebabkan oleh setiap kecamatan memiliki ciri khas masing-masing. Kecamatan yang didiami oleh penduduk asli sangat berbeda dengan kecamatan yang didiami oleh penduduk pendatang atau transmigran. Pada kecamatan yang terakhir inilah, ban mobil berhenti dan kami disambut oleh panitia-panitia lokal yang telah siap menjamu kami.
Ada harapan besar yang nampaknya ingin dititipkan oleh panitia dalam setiap sentuhan tangan ketika sedang berjabat tangan dengan kami, tim dari Oase Intim. “Semoga tidak mengecewakan” pikirku tanpa mengetahui isi pikiran tim yang lain (Pak Zakaria, Pak Manggeng, Christin).
Hari pertama kedatangan kami, berlalu dengan banyak percakapan dengan panitia lokal di klasis Toili. Klasis Toili merupakan salah satu klasis GKLB (Gereja Kristen di Luwuk Banggai) yang meliputi dua kecamatan; Toili dan Toili Barat. Dua kecamatan ini adalah kecamatan transmigran mayoritas Jawa dan Bali selebihnya Mori, Manado, Bugis, dll. Karena itu tak heran jika jemaat-jemaat yang ada di klasis ini sangat beragam dari segi pandangan dan budaya. Hal ini terlihat jelas selama lima hari kegiatan yang dimulai setiap pukul 14.00-20.30 WITA.
Seperti kegiatan-kegiatan lainnya, kegiatan KTT ini juga diawali dengan ibadah pembukaan (7/6) pada pukul 10.00 yang dipimpin secara bergantian oleh Pdt. Martoyo sebagai liturgis dan Pdt. Marthen Manggeng, membawakan khotbah. Diakhir ibadah, kegiatan ini dibuka oleh Sekum BPS GKLB, Pdt. I Made Subagiarta.
Sebagaimana biasanya dalam pendekatan yang Oase lakukan, tim tidak memulainya dengan penyajian materi kepada peserta, melainkan terlebih dahulu melakukan penggalian informasi; motivasi, harapan dan permasalahan-permasalahan dalam pelayanan yang dialami peserta. Dari informasi-informasi tersebut inilah, tim Oase menyusun materi dan langkah-langkah strategis untuk disajikan pada hari kedua. Berita baik pada hari pertama kegiatan ini adalah kedatangan salah satu fasilitator Oase yang menyusul dari Kupang, Pak John Campbell Nelson. Hari pertama berlalu dengan “penggalian” masalah, yang nampaknya dari beberapa peserta yang belum terbiasa dengan pendekatan seperti ini sedikit kecewa, karena pada hari pertama mereka sudah siap dengan materi-materi.
Menarik bahwa, dari 35 peserta, sebagian diantaranya telah menjadi Majelis Jemaat belasan hingga puluhan tahun dengan motivasi ditunjuk maupun karena panggilan secara pribadi untuk melayani Tuhan. Dan sebagian besar peserta membutuhkan materi mengenai pengetahuan isi alkitab, metode berkhotbah, dll.
Hari kedua dan seterusnya, diawali dengan penyajian materi sesuai dengan hasil penggalian hari pertama kegiatan. Selama beberapa hari ini, tim telah mencoba untuk menyajikan materi dengan metode yang berbeda-beda agar peserta tidak bosan dan juga “energizer’ untuk menyegarkan pikiran peserta yang lelah berkegiatan. Bagaimana tidak, peserta yang terdaftar pada umumnya adalah pegawai dan petani yang telah beraktivitas di kantor dan di ladang pada pagi hari dan melanjutkan kursus pada sore harinya. Ini pula yang menjadi alasan penyelenggaraan KTT ini hingga diadakan pada siang hari
Meskipun demikian, mereka adalah peserta-peserta yang luar biasa bersemangat hingga hari terakhir, bahkan salah seorang peserta, Ibu Marni T. Bisi, berharap bahwa Oase masih akan memberikan materi pada hari minggu (12/6) sebelum penutupan berlangsung. Menurut Ibu Marni, kegiatan ini sangat membantu mereka dalam pelayanan, apalagi kegiatan seperti ini belum pernah ada sebelumnya, khusus di jemaat ibu Marni, bahkan pembekalan Penatua dan Syamas pun belum pernah ada.
Di tengah waktu seggang, pada pagi hari, kami dikunjungi oleh pendeta-pendeta klasis setempat untuk melakukan percakapan-percakapan seputar pelayanan. Dalam percakapan tersebut juga muncul beberapa pergumulan yang dibagi bersama dan hampir tidak begitu jauh berbeda dengan pesoalan yang dikemukakan oleh para peserta; Majelis dan Pelayan Kategorial. Persoalan yang paling banyak muncul adalah persoalan terkait Tata Gereja; bolehkan Penatua menumpangkan tangan pada saat mengucapkan berkat? Dll.
Karena begitu banyak pertanyaan dan pergumulan yang dialami oleh para pelayan Tuhan di Klasis ini, maka salah satu upaya Oase untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah membuka sessi bebas, untuk menjawab semua pertanyaan peserta yang ditulis dalam kertas yang disiapkan; 3 pertanyaan untuk setiap peserta. Pertanyaan yang paling banyak mencuat adalah; Bagaimana status pendeta yang menjadi Pegawai Negeri Sipil? Tritunggal dan Trinitas, persembahan perpuluhan, liturgi, pakaian jabatan, baptisan, denominasi, dan masalah budaya di dalam gereja.
Pada hari terakhir, hal yang tidak biasanya kami temui dalam kegiatan Oase adalah, panitia mencari peserta favorite perempuan dan laki-laki pilihan peserta. Dan terpilihlah dua orang, Ibu Tin dan Pak Darius. Kesan dari mereka berdua adalah, bahwa KTT yang diselanggarakan oleh Oase dan Klasis Toili ini sangat membantu mereka dan berharap bahwa kegiatan ini tidak berakhir sampai di sini saja.
Akhirnya, setelah melalui hari-hari yang tidak “normal” karena cukup melelahkan panitia dan peserta yang setia hingga akhir, kursus pun ditutup pada tanggal 12 Juni 2011 oleh Koordinator Klasis Toili, Pdt. Marthon. [Jenifer Ladja]
Mendarat di antara gunung dan laut di sisi kanan dan kiri pesawat adalah awal dari langkah Tim Oase Intim melangkahkan kaki ke bumi Toili, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah tepat pada tanggal 6 Juni 2011. Daratan yang kami injak untuk pertama kali setelah turun dari pesawat bukanlah tujuan perjalanan kami, melainkan ibu kota kabupaten Banggai, Luwuk. Dari sana kami masih harus melanjutkan perjalanan melalui darat selama dua jam, dengan Ketua Panitia Kursus Teologi Terapan (KTT) Klasis Toili, dokter Christofer Ladja, sebagai sopir …
Menyisiri pantai menuju Toili, kami melihat suasana yang berbeda setiap kecamatan, ini disebabkan oleh setiap kecamatan memiliki ciri khas masing-masing. Kecamatan yang didiami oleh penduduk asli sangat berbeda dengan kecamatan yang didiami oleh penduduk pendatang atau transmigran. Pada kecamatan yang terakhir inilah, ban mobil berhenti dan kami disambut oleh panitia-panitia lokal yang telah siap menjamu kami.
Ada harapan besar yang nampaknya ingin dititipkan oleh panitia dalam setiap sentuhan tangan ketika sedang berjabat tangan dengan kami, tim dari Oase Intim. “Semoga tidak mengecewakan” pikirku tanpa mengetahui isi pikiran tim yang lain (Pak Zakaria, Pak Manggeng, Christin).
Hari pertama kedatangan kami, berlalu dengan banyak percakapan dengan panitia lokal di klasis Toili. Klasis Toili merupakan salah satu klasis GKLB (Gereja Kristen di Luwuk Banggai) yang meliputi dua kecamatan; Toili dan Toili Barat. Dua kecamatan ini adalah kecamatan transmigran mayoritas Jawa dan Bali selebihnya Mori, Manado, Bugis, dll. Karena itu tak heran jika jemaat-jemaat yang ada di klasis ini sangat beragam dari segi pandangan dan budaya. Hal ini terlihat jelas selama lima hari kegiatan yang dimulai setiap pukul 14.00-20.30 WITA.
Seperti kegiatan-kegiatan lainnya, kegiatan KTT ini juga diawali dengan ibadah pembukaan (7/6) pada pukul 10.00 yang dipimpin secara bergantian oleh Pdt. Martoyo sebagai liturgis dan Pdt. Marthen Manggeng, membawakan khotbah. Diakhir ibadah, kegiatan ini dibuka oleh Sekum BPS GKLB, Pdt. I Made Subagiarta.
Sebagaimana biasanya dalam pendekatan yang Oase lakukan, tim tidak memulainya dengan penyajian materi kepada peserta, melainkan terlebih dahulu melakukan penggalian informasi; motivasi, harapan dan permasalahan-permasalahan dalam pelayanan yang dialami peserta. Dari informasi-informasi tersebut inilah, tim Oase menyusun materi dan langkah-langkah strategis untuk disajikan pada hari kedua. Berita baik pada hari pertama kegiatan ini adalah kedatangan salah satu fasilitator Oase yang menyusul dari Kupang, Pak John Campbell Nelson. Hari pertama berlalu dengan “penggalian” masalah, yang nampaknya dari beberapa peserta yang belum terbiasa dengan pendekatan seperti ini sedikit kecewa, karena pada hari pertama mereka sudah siap dengan materi-materi.
Menarik bahwa, dari 35 peserta, sebagian diantaranya telah menjadi Majelis Jemaat belasan hingga puluhan tahun dengan motivasi ditunjuk maupun karena panggilan secara pribadi untuk melayani Tuhan. Dan sebagian besar peserta membutuhkan materi mengenai pengetahuan isi alkitab, metode berkhotbah, dll.
Hari kedua dan seterusnya, diawali dengan penyajian materi sesuai dengan hasil penggalian hari pertama kegiatan. Selama beberapa hari ini, tim telah mencoba untuk menyajikan materi dengan metode yang berbeda-beda agar peserta tidak bosan dan juga “energizer’ untuk menyegarkan pikiran peserta yang lelah berkegiatan. Bagaimana tidak, peserta yang terdaftar pada umumnya adalah pegawai dan petani yang telah beraktivitas di kantor dan di ladang pada pagi hari dan melanjutkan kursus pada sore harinya. Ini pula yang menjadi alasan penyelenggaraan KTT ini hingga diadakan pada siang hari
Meskipun demikian, mereka adalah peserta-peserta yang luar biasa bersemangat hingga hari terakhir, bahkan salah seorang peserta, Ibu Marni T. Bisi, berharap bahwa Oase masih akan memberikan materi pada hari minggu (12/6) sebelum penutupan berlangsung. Menurut Ibu Marni, kegiatan ini sangat membantu mereka dalam pelayanan, apalagi kegiatan seperti ini belum pernah ada sebelumnya, khusus di jemaat ibu Marni, bahkan pembekalan Penatua dan Syamas pun belum pernah ada.
Di tengah waktu seggang, pada pagi hari, kami dikunjungi oleh pendeta-pendeta klasis setempat untuk melakukan percakapan-percakapan seputar pelayanan. Dalam percakapan tersebut juga muncul beberapa pergumulan yang dibagi bersama dan hampir tidak begitu jauh berbeda dengan pesoalan yang dikemukakan oleh para peserta; Majelis dan Pelayan Kategorial. Persoalan yang paling banyak muncul adalah persoalan terkait Tata Gereja; bolehkan Penatua menumpangkan tangan pada saat mengucapkan berkat? Dll.
Karena begitu banyak pertanyaan dan pergumulan yang dialami oleh para pelayan Tuhan di Klasis ini, maka salah satu upaya Oase untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah membuka sessi bebas, untuk menjawab semua pertanyaan peserta yang ditulis dalam kertas yang disiapkan; 3 pertanyaan untuk setiap peserta. Pertanyaan yang paling banyak mencuat adalah; Bagaimana status pendeta yang menjadi Pegawai Negeri Sipil? Tritunggal dan Trinitas, persembahan perpuluhan, liturgi, pakaian jabatan, baptisan, denominasi, dan masalah budaya di dalam gereja.
Pada hari terakhir, hal yang tidak biasanya kami temui dalam kegiatan Oase adalah, panitia mencari peserta favorite perempuan dan laki-laki pilihan peserta. Dan terpilihlah dua orang, Ibu Tin dan Pak Darius. Kesan dari mereka berdua adalah, bahwa KTT yang diselanggarakan oleh Oase dan Klasis Toili ini sangat membantu mereka dan berharap bahwa kegiatan ini tidak berakhir sampai di sini saja.
Akhirnya, setelah melalui hari-hari yang tidak “normal” karena cukup melelahkan panitia dan peserta yang setia hingga akhir, kursus pun ditutup pada tanggal 12 Juni 2011 oleh Koordinator Klasis Toili, Pdt. Marthon. [Jenifer Ladja]
08 Juni 2011
Revisi tata Gereja Gepsultra
Laporan kegiatan, oleh Jenifer Ladja
Untuk menjawab tantangan zaman yang terus berkembang, Gereja Protestan di Sulawesi Tenggara (Gepsultra) merasa perlu untuk merevisi Tata Gereja yang berlaku saat ini. Maka untuk mewujudkan hal tersebut Gepsultra membentuk Tim Revisi Tata Gereja dan bekerja sama dengan Yayasan Oase Intim untuk mendampingi proses revisi ini.
Salah satu proses yang dilakukan oleh tim sebelum perampungan draft revisi adalah melakukan Konsultasi Tata Gereja dengan menghadirkan presbiter-presbiter dan Vikaris dari seluruh jemaat Gepsultra. Selain sebagai sosialisasi kepada presbiter, juga untuk mendapatkan masukan-masukan dari para presbiter sesuai dengan pergumulan di jemaat masing-masing agar kemudian “digodok” oleh Tim Revisi merupakan tujuan yang hendak dicapai.
Kerjasama Yayasan Oase Intim dan Sinode Gepsultra, bukanlah yang pertama kalinya, khususnya dalam hal revisi Tata Gereja, konsultasi ini adalah langkah kedua setelah sebelumnya dilakukan Lokakarya Tata Gereja (4-6 November 2010) di Kendari.
Bersama dengan narasumber yang ahli di bidang Tata Gereja; Pdt. Dr Lazarus Purwanto, Pdt. Dr. Zakaria Ngelow dan Pdt. Marthen Manggeng, M.Th, Konsultasi ini berlangsung selama tiga hari (26-30 Maret 2011) di Pendopo Kantor Sinode Gepsultra, Kendari.
Meskipun dalam suhu yang panas karena hujan yang tak kunjung menghampiri Kendari beberapa hari itu, konsultasi yang dihadiri oleh 83 peserta ini berlangsung dengan serius. Walau terkadang terjadi perdebatan yang alot, namun gelak tawa pun sering kali menghiasi seluruh proses. Menarik bahwa diskusi tidak hanya berlangsung di pendopo yang terbuka, tapi juga berlanjut pada waktu-waktu informal; di ruang makan atau bahkan saat istrahat. Ini menunjukkan keseriusan mereka untuk kemajuan pelayanan Gepultra.
Adapun pendekatan yang dilakukan oleh Fasilitator Oase; “semua peserta adalah fasiltator”, hingga Tata Gereja yang dihasilkan pun adalah Tata Gereja “dari, oleh dan untuk Gepsultra”; berasal dari pergumulan Gepsultra dari berbagai lingkup bagi kemajuan pelayanan Gepsultra. Salah satu hal substansial yang berubah adalah perubahan dari dua lingkup pelayanan (Jemaat dan Sinode) menjadi tiga lingkup (Jemaat-Klasis-Sinode)
Berdasarkan hasil evaluasi dan wawancara dengan beberapa peserta, mereka mengatakan bahwa proses ini sangat bermanfaat bagi mereka dan menambah banyak pengetahuan. Bahkan salah seorang peserta- Pnt. Benyamin Sampe, yang telah menjadi presbiter selama 4 periode –mengaku; mendapat hal baru/pengetahuan tambahan, misalnya mengenai sistem presbiterial sinodal yang selama ini dianut oleh Gepsultra namun tidak begitu dipahami secara lebih baik.
Selain itu Pdt. Pempy Maria Syella, S.T- salah satu peserta- menilai kegiatan ini mendapat perhatian yang besar di kalangan para penatua. Jika selama ini dalam rapat, Tata Gereja, hanyalah urusan pendeta dan para penatua hanya menunggu, kali ini penatua memperlihatkan antusias yang besar. Menurut Pdt. Pempy, hal ini dimungkinkan oleh beberapa faktor; kerinduan untuk kemajuan Gepsultra dan pola penyampaian materi dari fasilitator yang menarik. Namun, dibalik proses yang menarik ini, terbersit harapan bahwa Tata Gereja yang dirumuskan tidak hanya sekedar perbincangan di Pendopo, melainkan dapat terealisasi di jemaat-jemaat.
Untuk menjawab tantangan zaman yang terus berkembang, Gereja Protestan di Sulawesi Tenggara (Gepsultra) merasa perlu untuk merevisi Tata Gereja yang berlaku saat ini. Maka untuk mewujudkan hal tersebut Gepsultra membentuk Tim Revisi Tata Gereja dan bekerja sama dengan Yayasan Oase Intim untuk mendampingi proses revisi ini.
Salah satu proses yang dilakukan oleh tim sebelum perampungan draft revisi adalah melakukan Konsultasi Tata Gereja dengan menghadirkan presbiter-presbiter dan Vikaris dari seluruh jemaat Gepsultra. Selain sebagai sosialisasi kepada presbiter, juga untuk mendapatkan masukan-masukan dari para presbiter sesuai dengan pergumulan di jemaat masing-masing agar kemudian “digodok” oleh Tim Revisi merupakan tujuan yang hendak dicapai.
Kerjasama Yayasan Oase Intim dan Sinode Gepsultra, bukanlah yang pertama kalinya, khususnya dalam hal revisi Tata Gereja, konsultasi ini adalah langkah kedua setelah sebelumnya dilakukan Lokakarya Tata Gereja (4-6 November 2010) di Kendari.
Bersama dengan narasumber yang ahli di bidang Tata Gereja; Pdt. Dr Lazarus Purwanto, Pdt. Dr. Zakaria Ngelow dan Pdt. Marthen Manggeng, M.Th, Konsultasi ini berlangsung selama tiga hari (26-30 Maret 2011) di Pendopo Kantor Sinode Gepsultra, Kendari.
Meskipun dalam suhu yang panas karena hujan yang tak kunjung menghampiri Kendari beberapa hari itu, konsultasi yang dihadiri oleh 83 peserta ini berlangsung dengan serius. Walau terkadang terjadi perdebatan yang alot, namun gelak tawa pun sering kali menghiasi seluruh proses. Menarik bahwa diskusi tidak hanya berlangsung di pendopo yang terbuka, tapi juga berlanjut pada waktu-waktu informal; di ruang makan atau bahkan saat istrahat. Ini menunjukkan keseriusan mereka untuk kemajuan pelayanan Gepultra.
Adapun pendekatan yang dilakukan oleh Fasilitator Oase; “semua peserta adalah fasiltator”, hingga Tata Gereja yang dihasilkan pun adalah Tata Gereja “dari, oleh dan untuk Gepsultra”; berasal dari pergumulan Gepsultra dari berbagai lingkup bagi kemajuan pelayanan Gepsultra. Salah satu hal substansial yang berubah adalah perubahan dari dua lingkup pelayanan (Jemaat dan Sinode) menjadi tiga lingkup (Jemaat-Klasis-Sinode)
Berdasarkan hasil evaluasi dan wawancara dengan beberapa peserta, mereka mengatakan bahwa proses ini sangat bermanfaat bagi mereka dan menambah banyak pengetahuan. Bahkan salah seorang peserta- Pnt. Benyamin Sampe, yang telah menjadi presbiter selama 4 periode –mengaku; mendapat hal baru/pengetahuan tambahan, misalnya mengenai sistem presbiterial sinodal yang selama ini dianut oleh Gepsultra namun tidak begitu dipahami secara lebih baik.
Selain itu Pdt. Pempy Maria Syella, S.T- salah satu peserta- menilai kegiatan ini mendapat perhatian yang besar di kalangan para penatua. Jika selama ini dalam rapat, Tata Gereja, hanyalah urusan pendeta dan para penatua hanya menunggu, kali ini penatua memperlihatkan antusias yang besar. Menurut Pdt. Pempy, hal ini dimungkinkan oleh beberapa faktor; kerinduan untuk kemajuan Gepsultra dan pola penyampaian materi dari fasilitator yang menarik. Namun, dibalik proses yang menarik ini, terbersit harapan bahwa Tata Gereja yang dirumuskan tidak hanya sekedar perbincangan di Pendopo, melainkan dapat terealisasi di jemaat-jemaat.
28 Maret 2011
White Crucifixion

Marc Chagall, White Crucifixion (1938)
Chagall melukis “Penyaliban Putih” untuk menarik perhatian terhadap serangkaian kejadian politik masa itu yang dilakukan oleh partai Nasional Sosialis (Nazi) yang berkuasa di Jerman. Chagall yang sekaligus sebagai seorang Yahudi dan sebagai seniman abstrak adalah sasaran kebijakan sensor kesenian Hitler. Agennya di Jerman, Herwarth Walden, dipaksa menutup galerinya di Berlin (Der Sturm), gagal menerbitkan newsletter-nya yang berpengaruh, dan mengungsi ke Uni Soviet pada tahun 1932.
Chagall painted "White Crucifixion" to draw attention to a recent series of political events perpetrated by the ruling National Socialist party in Germany. Both as a Jew and as an abstract artist,Chagall was a target of Hitler's art censorship policies. His dealer in Germany, Herwarth Walden, was forced to close hisBerlin gallery (Der Sturm), cease publication of its influential newsletter, and flee to the Soviet Union in 1932.
Pada tahun 1937 Nazi melakukan suatu inventarisasi sistematik seni moderen di museum-museum Jerman, membuang sekitar 16.000 karya yang tidak berterima bagi selera mereka untuk dipakai dalam kampanye, dihancurkan, atau dijual di luar negeri. Empat karya Chagall dimasukkan dalam ruangan “Yahudi” pameran ‘Seni Buruk’ di Munich pada akhir tahun 1937, yang mengejek penyimpangan dari standar seni Partai Nazi. Sementara itu, kebijakan-kebijakan anti-Yahudi di Jerman makin meningkat sampai pada tahap yang tak terduga. Mengikuti UU tahun 1935 untuk membatasi hak-hak sipil Yahudi, maka pada tahun 1938 Nazi melakukan sensus dan mendaftarkan semua usaha orang Yahudi sebagai pendahuluan rencana penumpasan etnik (genocide). Pada bulan Juni dan Agustus tahun 1938 kenisah (sinagoge) di Munich dan Nurenberg dihancurkan, dan pada tgl 9 November, yang disebut Malam Kristal, kekejaman-kekejaman anti-Semitik itu mencapai puncaknya.
In 1937, the Nazis undertook a systematic inventory of modern art in German museums, removing some 16,000 works unacceptable to their taste to use in propaganda campaigns, to destroy, or to sell outside the country. Four works by Chagall were among those included in the 'Jewish' room of the infamous 'Degenerate Art' exhibition staged in Munich at the end of 1937, which mocked deviations from Nazi Party art standards. Meanwhile, anti-Jewish policies in Germany escalated to an unthinkable level. Following the September 1935 laws to curtail the civil rights of Jews, the Nazis in 1938 took a Jewish census and registered all Jewish businesses as preliminaries to plans for ethnic genocide. In June and August of that year the synagogues in Munich and Nuremberg were destroyed, and on November 9, the so-called Crystal Night, these anti-semitic atrocities reached a climax.
Sebagai reaksi, Chagall menghasilkan suatu lukisan gugurnya Yesus orang Yahudi sebagai suatu simbol universal bagi penindasan keagamaan. Bukan dengan mahkota duri, melainkan Yesus dalam lukisan Chagall memakai kain penutup kepala dan syal doa Yahudi melingkari pinggangnya. Cahaya suci bulat (halo) di kepalanya digandakan dengan cahaya sekeliling Menorah di dekat kakinya. Sosok kakek moyang dan Rachel nenek moyang Ibrani muncul di langit malam berasap meratapi penganiayaannya. Di sekeliling salibnya, Chagall melukis pemandangan salju yang suram dengan suasana mencekam Jerman moderen. Pada latar belakang bagian kanan seorang serdadu membuka pintu-pintu sebuah tabut Torah yang bernyala-nyala, yang diambil dari sinagoge yang dijarah dan isinya terhambur mengotori latar depannya. Baik bendera di atas sinanoge maupun ban tangan serdadu dihiasi dengan swastika-swastika terbalik. Salah satu sosok yang melarikan diri di latar depan bagian kiri memakai tanda yang bertulisan “Ich bin Jude” (Saya seorang Yahudi). Pada latar belakang bagian atas sebuah perahu penuh pengungsi bersusah payah meninggalkan sebuah kampung yang terbakar, yang dihancurkan sebelum Tentara Rakyat dari Uni Soviet dengan bendera merah tiba membebaskan. Detil terakhir ini adalah suatu angan-angan yang dimotivasi permusuhan pemerintahan Stalin terhadap Hitler sebelum tahun1939.
In reaction, Chagall conceived a painting of the martyrdom of the Jew Jesus as a universal symbol for religious persecution. Instead of a crown of thorns, the Jesus on Chagall's picture wears a head-cloth and a prayershawl around his loins. The round halo around his head is repeated by the round glow around the Menorah at his feet. Mourning his persecution, figures of the Hebrew patriarchs and the matriarch Rachel appear in the smoke-fille nightimt sky. All aroound he cross, Chagall has depicted a bleak snowscape with horrific scenes of modern Germany.In the backgound to the right, a soldier opens the doors of a flaming Torah ark removed from a pillaged synagogue, the contents of which litter the foreground. Both the flag above the synagogue and the soldier's armband originally were decorated with inverted swastikas. One of the fleeing figures in the foreground at the left wears a sign which originally bore the inscription "Ich bin Jude" ('I am a Jew'). In the background above is a ship full of refugees trying ineffectively to flee a burning village, destroyed before the arrival of a liberating People's Army from the Soviet Union carrying red flags; this last detail was wishful thinking, motivated by the antagonism of Stalin's government toward Hitler's before 1939.
“Penyaliban Putih” termasuk dalam pameran karya Chagall di Paris pada awal tahun 1940, yang dimaksudkan meningkatkan kesadaran terhadap peristiwa-peristiwa di Jerman di bawah Hitler dan akibat-akibatnya secara umum bagi umat manusia. Chagall sendiri melarikan diri dari wilayah pendudukan mula-mula ke Marseilles, dan kemudian meninggalkan negerinya selama masa peperangan atas bantuan Museum of Modern Art di New York. Lukisan bersejarah ini dibahas secara detil dalam suatu artikel oleh Ziva Amishai-Maisels, mahaguru Hebrew University di Yerusalem, diterbitkan dalam jurnal Institut Kesenian, “Museum Studies” (vol. 17 no. 2).
Included in an exbition of Chagall's works in Paris in early 1940, the "White Crucifixion" was designed to raise awareness of the events in Hitler's Germany and their implications for mankind in general. Evidently the artist decided to paint over the most explicit historical details after the invasion of France in May 1940 or after the German army's occupation of Paris, begun in June 1940. Chagall himself fled the first occupied zone for Marseilles, and with the help to (sic) the Museum of Modern Art in New York, escaped to his country for the duration of the war. This historic painting is discussed in detail in an article by Ziva Amishai-Maisels, Professor at the Hebrew University of Jerusalem, published in the Art Institute's journal "Museum Studies" (vol. 17, no. 2).
http://www.davidrumsey.com/amica/amico249474-5325.html
Untuk riwayat hidup Marc Chagall (1887-1985), lihat "Marc Chagall" dalam Wikipedia, http://en.wikipedia.org/wiki/Marc_Chagall
[Terjemahan Zakaria Ngelow]
Langganan:
Postingan (Atom)



