22 Maret 2012

Estetika Wajah Kemanusiaan Tana Poso


oleh Ayser Tandapai

Menyambut penghargaan kepada Lian Gogali (Coexist Prize 2012) di New York City, USA; dan Jacky Manuputty (2011 and 2012 Peacemaker in Action Award dari Tanenbaum Center ) juga di New York City USA).

Menjelajah panorama Tana Poso, tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa di sini dapat disaksikan Estetika Sang Pencipta. Atau bila boleh meminjam istilah dari kehidupan di Padang Pasir Timur Tengah, Tana Poso adalah Oase yang tidak kering akan interpretasi keindahan dan keagungan Pencipta. Bagi orang Poso atau yang pernah ke Poso, dengan telenta naluri estetik yang berbeda, mungkin kita akan sepakat mengatakan bahwa Danau Poso membawa pesan akan pesona keindahan Sang Pencipta yang amat mengagumkan.
Syair Lagu di bawah ini adalah mewakili ekspresi estetika lukisan manusia Poso pada alamnya.
 
Poso Tana anu maramba mpodago 
Beda kukalingani mau kulawamo
Peolekamo ripuse ntana mpodago
Nja’umo ranonya anu lanto-lanto
Makilaya kojo
Ewa pota’a pembayo
Njaumo yaku risambote ndano
Poso kutanondo
 Terjemahan:
Poso, Tanah yang amat mempesona,
Yang tidak akan kulupakan sekalipun jauh.
Lihatlah keindahan lembahnya,
Tampak danaunya yang seakan terapung

Sungguh memancarkan keagungan
seperti cermain memantulkan bayangan
Di seberang danau saya tertegun
Poso saya dambakan

Lirik syair, dalam sastra Pamona disebut kayori, ini adalah gubahan Leonard Badjadji sekitar tahun 1950an yang iramanya disadur dari lagu Lapaloma Amerika Latin.

Upaya menghadirkan sebuah perspektif Estetika Wajah Kemanusiaan hanyalah rangkaian kata terbatas yang tersusun jadi kalimat dalam paragraf dari lirik lagu di atas. Artinya bahwa secara sadar refleksi ini masih jauh dari pikiran merepresentasi pembacaan teks secara utuh. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa tulisan ini berada dalam bingkai yang memuat lukisan sederhana tiga dimensi berdasarkan perpaduan warna-warni yang kiranya dapat membiaskan estetika yang dimaksud. Pada sisi yang memancarkan keindahan alam, goresan warna dimulai berdasarkan ekspresi penjiwaan pada syair :

Poso Tana anu maramba mpodago
Beda kukalingani mau kulawamo
Peolekamo riwingke ntana mpodago
Nja’umo ranonya anu lanto-lanto
Tana Poso yang amat mempesona,
saya tidak akan melupakan walaupun jauh.
Lihatlah keindahan sekeliling lembah,
tampak danaunya seakan terapung.

Dua baris syair (kayori) ini merefleksikan kekaguman batin pada pesona keindahan alam Tana Poso yang menjadi kenangan mendalam. Demikian danaunya yang berada di dataran ketinggian dilukiskan seperti terapung-apung dan dari kejauhan terlihat airnya menyentuh dedaunan pada pohon-pohon yang tumbuh dilembah sehingga melengkapi keindahan itu.

Makilaya kojo
Ewa pota’a pembayo

sungguh memancarkan keagungan,
seperti cermin yang memantulkan bayangan.

Pada bagian Syair ini secara tidak langsung mengekspresikan kesadaran religiousitas. Pilihan kata makilaya (berkilau) dalam syair ini dapat dikatakan sebagai refleksi keyakinan bahwa keagungan itu sebagai pancaran Cahaya Ilahi. Sebenarnya kata makilaya hanya dipakai terbatas dalam litani pemujaan pada Ilahi dalam kaitannya dengan alam (bahasa Pamona-Poso: molamoa). Terutama kepercayaan pada benda-benda langit yang memancarkan cahaya pada malam dan dianggap memiliki pengaruh terhadap sistem pertanian. Pesan yang ingin disampaikan bahwa keindahan tersebut adalah pancaran kemulian Sang Pencipta sebagai refleksi dari pantulan-pantulan cahaya yang muncul dari permukaan air Danau Poso. Inilah lukisan batin atas kekaguman pada pesona keindahan sebagai pancaran keagungan Sang Pencipta.

Njaumo yaku risambote ndano
Poso kutanondo

Di seberang danau saya tertegun
Poso saya rindukan/dambakan.

Syair diakhiri dengan ekspresi emosional sesorang yang merasa kesunyian, sebagaimana dikatakannya: di seberang danau saya berada. Namun perasaan tersebut menemukan jawabannya melalui kemilau benda-benda langit di malam hari sebagai keagungan Ilahi. Di sinilah ekspresi pemulihan jiwa diungkapkan pada akhir syair Poso yang saya rindukan/dambakan.

Ketiga dimensi di atas memperlihatkan aura emosional kekaguman pada pesona keindahan di mana orang Poso memahami alam tempat mereka hidup yang secara esensial dilukiskan sebagai pancaran Keagungan Sang Pencipta. Inilah lukisan jiwa manusia Tana Poso dalam ikatan batin dengan konteks kehidupan di kawasan Danau Poso.

Bila di bagian awal refleksi ini menyajikan penggalian pemaknaan hidup dari latar belakang kekuatan panorama alam melalui syair (sastra Pamona menyebutnya kayori), sebenarnya bermaksud menyajikan jarak pandang antara kehidupan yang dibayangkan dengan realitas yang terjadi di penghujung pergantian ke abad 21. Estetika alam di Tana Poso pudar oleh bencana kemanusiaan yang disebabkan oleh sentuhan kasar tangan-tangan manusia itu sendiri. Danau Poso dari hulu terus ke hilir yang mengalirkan air bening berubah warna merah bercampur hitam, berbau amis. Amat mengenaskan!

Kenyataan memilukan itu semakin melukai batin justru karena menyentuh substansi religiousitas umat. Apakah benar fungsi-fungsi agama adalah mencari pembenaran Sang Pencipta untuk saling membinasakan sesama ciptaan. Di sini substansi agama di gugat untuk menjawab pertanyaan Tuhan, apa AgamaMu? Dan pertenyaan inilah yang menjiwai kehadiran kita semua dalam berbagai kerja-kerja kemanusiaan untuk meretas prasangka atas laim-klaim kebenaran tunggal yang menyebabkan Air Danau yang mengaliri Lembah Poso menjadi keruh.

Peristiwa ini menggugan nurani untuk menggambil bagian dalam proses melukis kembali wajah kemanusiaan yang pudar tersebut. Teman kita, Lian Gogali, salah seorang yang memenuhi panggilan nurani kemanusiaannya untuk bersama-sama membuat lukisan wajah religiousitas kemanusiaan yang diharapkan akan memancarkan kembali pesona keindahan Keagungan Sang Pencipta. Panggilan kemanusiaan Lian Gogali ingin menghadirkan goresan kedamaian hidup, ibarat pelangi yang akan membiaskan warna-warni pesona keindahan sehabis mendung dan hujan yang akan melengkapi cakrawala kehidupan damai di Tana Poso.

Selamat buat Bung Jacky, serta teman-teman Memasuki Hari Nyepi, kesunyian batin kira menjadi media untuk untuk memperkuat naluri kemanusiaan kita.

Salam Persaudaraan
Asyer Tandapai.

20 Februari 2012

Al-Amin

Oleh: Fredrik Y. A. Doeka*


Korupsi Berjamaah

Akhir-akhir ini korupsi berjamaah yang melibatkan para politisi, birokrat pemerintahan dan tokoh-tokoh agama terlihat secara kasat mata. Untuk yang terakhir ini, konon khabarnya keberangkatan sejumlah pendeta GMIT yang bertugas di Kota Kupang dan sekitarnya ke Jerusalem dalam kelompok terbang I dengan tiket ziarah yang diberikan oleh Walikota Kupang. Sementara itu, konon khabar pula, kelompok terbang II sedang siap-siap untuk berangkat dengan sponsor yang sama. Tentu pemberian semacam ini beraroma sangat politis menjelang PILKADA pada 1 Mei 2012.

Renungan penting kita dari kasus di atas ialah mengapa korupsi yang sejatinya membeberkan akar dari segala kejahatan (the root of all evils) masih terus menyebar di Indonesia dan bahkan telah membakar semangat hidup kalangan rohaniawan kita?

Mari Belajar dari Nabi

Qadi ‘Iyad ibn Musa (m. 1149), seorang ahli teologi yang sangat radikal, mengungkapkan perasaan kagumnya terhadap Muhammad dalam karyanya Kitab ash-Shifa’ fi Ta’rif Huquq al-Mushtafa: “Allah telah meninggikan derajad nabi-Nya dan memberinya kebajikan-kebajikan, sifat-sifat terpuji dan hak-hak istimewa tertentu. ... Dalam kitab-Nya Allah telah secara jelas dan secara terbuka memeragakan peringkatnya yang tinggi dan memujinya karena mutu sifat dan perilakunya yang mulia. ...” (Annemarie Schimmel, And Muhammad is His Messanger 1985:46).

Dalam karya agung Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin buku XX, di sana digambarkan akhlak mulia nabi yang sangat mengendalikan diri, adil, pemurah, sederhana dan jujur. Dia juga tidak pernah menyentuh tangan dari perempuan yang bukan isterinya, apalagi melakukan hubungan seksual dengan wanita yang tidak dinikahinya secara hukum. ... Yang menarik ialah kesaksian ‘A’isha (m. 678), salah satu istri nabi, bahwa Muhammad sangat menghemat kata-kata, dan setiap kata yang keluar dari mulutnya bernas. Sekalipun demikian nabi juga memiliki sense of humor yang tinggi. Suatu ketika seorang wanita tua bertubuh kurus dan ceking datang kepada nabi dan bertanya: “apakah wanita seperti saya dapat masuk surga?” Spontan nabi menjawab: “Tidak! Tidak ada wanita tua di surga”. Wanita itu menjadi sedih. Melihat kesedihannya, nabi dengan senyum berkata, mereka semua akan diubah. Sebab di surga hanya akan ada penghuni berusia muda”. (L. Zolondek, Book XX of Al-Ghazali’s Ihya ‘Ulumuddin 1963:23-24).

Jalaluddin al-Rumi (m. 1273) dalam karyanya, Matsnawi, menguraikan refleksinya tentang Muhammad. Dikisahkan bahwa seorang kafir mengunjungi nabi dan, sebagaimana adat orang-orang kafir, yakni makan dengan tujuh “perut”. Setelah mengenyangkan perutnya dia berbaring di ruang tamu. Di sana dia mengotori karpet lenan dan meninggalkan ruangan itu dalam keadaan kotor. Ia menyelinap keluar sebelum fajar menyingsing. Akan tetapi dia harus kembali untuk mencari jimatnya yang ketinggalan di ruangan itu. Lalu ia menemukan nabi sedang mencuci karpet lenan yang ia kotori semalam dengan tangan nabi sendiri. Tentu saja sang kafir sangat malu dan kemudian menyatakan masuk Islam oleh karena kerendahan dan kemurahan hari sang nabi (Annemarie Schimmel, And Muhammad is His Messanger 1985:47).

Hidup sangat sederhana adalah ‘pakaian’ yang nabi dan keluarganya kenakan setiap hari. Suatu hari ‘Umar ibn al-Khattab (m. 644), khalifah II, meneteskan air mata ketika menyaksikan rumah tangga nabi yang sangat menyedihkan. Lalu nabi bertanya, “mengapa kamu mengeluarkan air mata?” Kemudian ‘Umar menjawab dengan terus terang. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Khores dan Kaisar, para penguasa Persia dan Bizantium, hidup dalam kemewahan sementara nabi Allah hampir kelaparan dalam kemiskinannya. “Mereka memiliki dunia ini, dan kita memiliki akhirat”, sahut nabi menenangkan hati sahabatnya itu (Annemarie Schimmel, And Muhammad is His Messanger 1985:48).

Masduri, peneliti di Pusat Kajian Filsafat dan Keislaman Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya, menyimpulkan akhlak mulia nabi dalam empat karakter utama, yaitu jujur (sidik), terpercaya (amanah), menyampaikan (tablig), dan cerdas (fatanah). Selanjutnya ia menekankan, bahwa kejujuran adalah karakter nabi yang paling dominan dan menjadi kunci kesuksesan Muhammad dalam memimpin negara (Sinar Harapan, 8/2/2012).

Akhlak mulia makin mendorong Muhammad untuk berperan sebagai pemimpin yang sungguh-sungguh menolong kaum Muhajirun dan Ansar di Medina. Dua kaum ini, yang sebenarnya termarginalisasi di tengah-tengah pengaruh dua kerajaan besar: Bizantium dan Persia, bukanlah penduduk yang tidak tahu-menahu tentang kekuasaan dan struktur kekuasaan koruptif kedua bangsa itu. Mereka juga tahu kegelimangan harta kekayaan dua kerajaan tetangga itu dan kemungkinan besar tergoda juga. Hal-hal semacam ini Muhammad tentu menyadarinya. Karena itu berkhlak mulia seperti digambarkan di atas menjadi pilihan sikap nabi yang tepat di dalam membina kaum Muslimin agar tidak terlibat dalam peluang-peluang koruptif abad ke-7.

Hari ini, Indonesia sangat membutuhkan akhlak mulia nabi sebagai “obat” untuk menyembuhkan orang dari penyakit korupsi. “Obat” ini bukan hanya berguna bagi kaum Muslimin, tetapi juga bagi orang-orang Kristen di republik ini. Memiliki akhlak mulia nabi akan menobatkan orang dari perilaku korup kepada integritas diri yang tangguh. Pengaruh lain dari “obat” ini adalah orang menjadi sopan, hemat bicara, humoris, hidup sederhana, rendah hati, bertanggung jawab dan jujur. Bagi yang berakhlak demikian pasti tidak akan pernah mau terlibat dalam tindak korupsi, sekalipun diberi kesempatan tersebut.

Sejak kecil hingga dewasa Muhammad tidak pernah mau mengambil kesempatan tersebut dan karena itu ia diberi gelar al-amin (orang yang dapat dipercaya ) oleh orang-orang di sekitarnya. Maukah anda dan saya menjadi orang yang dapat dipercaya pula?


* Dosen Islamologi dan Teologi Agama-agama Fakultas Teologi UKAW – Kupang.

07 Januari 2012

Seminar Gereja dan Politik, 13 Feb 2012

Senin, 13 Februari 2012 Tempat : Aula Hotel Grand Wisata, Jl. St. Hasanuddin 36-38 Makassar Topik: (1) Perkembangan politik Indonesia dewasa ini dari perspektif demokrasi oleh Prof.Dr. Franz Magnis Suseno, (mahaguru STF Drijarkara): (2) Mengenal gerakan politik Islam di Indonesia, oleh Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, MA. [Mahaguru UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ), Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)]. (3) Panggilan Gereja/Umat Kristen di bidang politik, oleh Matius Ho, MS. [Direktur Institut Leimena] dan Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe [Ketua Umum PGI]. [Selengkapnya klik www.oaseintim.org]

15 Desember 2011

Surat akhir tahun


Marie-Claire Barth- Frommel

Surat tahunan kepada sahabat dan kenalan
pada masa Natal 2011 dan Tahun Baru 2012


Salam sejahtera dalam Tuhan kita,

Hujan turun bergerimis, pohon-pohonan sudah telanjang, hanya bermacam cemara besar yang tetap hijau tua, asap kecil bagaikan bulu burung naik dari cerobong di atas atap basah, hawa dingin, tetapi belum di bawah 0° sehingga geranyum di depan jendela masih merah. Lilin menyala di depan saya di meja tulis , tanda masa Adven, dan hati mencari sahabat yang jauh.

1.Bagi saya tahun yang hampir silam ini ditandai oleh gelar „doctor theologia“. Pertama-tama Ati Hildebrand-Rambe menulis tentang upacara pada kematian orang di Sumba dan Mamasa, menganalisa makna dan peran dalam hidup orang yang berduka dan dalam masyarakat. Ia memikirkan arti kematian baik dalam agama lokal maupun dalam Alkitab dan melihat bahwa ayat seperti „Ishak dikeumpulkan pada leluhurnya“ (Kej 29:33) dan „di rumah BapaKu banyak tempat tinggal“ searah dengan harapan duduk bersama leluhur di rumah Pencipta . Dikembangkan pastoral baru yang menghormati agama lokal tetapi melihat dengan jelas bahwa dalam Injil semua anak Allah setingkat-sederajat dan oang yang masih hidup di dunia ini tidak tergantung pada berkat (atau kutuk) leluhur, tetapi pada Allah sajalah. Disertasi ini akan diterbitkan dalam bentuk dan bahasa Indonesia dan cukup penting! Disertasi kedua ditulis oleh Septemmy Lakawa di Boston: ia menganalisa akibat kerusuhan atas kehidupan penduduk di suatu desa di Halmahera Utara dan mencatat bahwa istilah inti iman kita mendapat warna baru: seorang martir adalah orang yang seperti Yesus sendiri menderita karena iman dan kini mengajak kita untuk mengikuti Jesus dan mencari perdamaian dan hidup dengan Tuhan, Salib tidak lagi mengingat akan pengampunan saja, melainkan akan penderitaan Yesus dan penderitaan sendiri yang bermuarah dalam kebangkitan dan mengajak kita memelihara hidup bersama... Disertasi ini amat kaya dan iapun akan diindonesiakan. Disertasi ketiga ditulis di Kampen oleh Agustinus Setiawidi yang melihat di mana ahli Perjanjan Lama telah berpikir secara kontekstual, Disertasi keempat dikerjakan oleh Yuberlian Padele di UKSW Salatiga dan berinti pada keadilan serta sumbangan yang dinberikan Agustina Lumentut, ketua sinode per. yang pertama di Indonesia, dalam perjuangan untuk keadilan itu. Akhirnya saya sendiri dikaruniakan doctor theologia honoris causa untuk karya sehidup di tengah gereja-gereja di Indonesia.; saya sangat heran menerima kehormatan ini dan merasa bahwa saya jauh lebih banyak belajar dari pada teman-teman dari memberikan sendiri; saya menjadi semacam penerjemah antara dua budaya. (Pidato di depan fakultas dengan judul „Persoalan toelogis yang kini dihadapi gereja-gereja protestan di Indonesia “ dapat diminta dan akan dikirim sebagai attachement mail). Saya berusaha menulis tafsiran kitab Ayub, tugas indah, sulit dan menantang dan maju pelan-pelan.

2. Dalam tahun yang silam arus perobahan dunia makin nyata: kelainan iklim: belum pernah kami menikmati musim rontok dengan bunga dan daun pohon kuning muda, mas tua dan merah di bahwa sinar matahari; kini akhirnya turun hujan grimis, para petani bersyukur, demikian juga penduduk gunung yang dapat mengharapkan touris yang main salju di liburan akhir tahun.
Krisis yang mulai di Amerika Serikat, kini sampai ke Eropa: dalam tahun 90an ekonomi berkembang, proyek riset dan pendididkan serta budaya dimulai, asuransi sosial diperluas, suasana terbuka; tetapi sekarang nyata bahwa Eropa hidup melebihi kemampuan, negara makin berutang, di mana-mana rencana baik dicoret, budget dikecilkan, orang dan lembaga harus menghemat. Rakyat kecil, yang tidak pernah memboros, paling terpukul. Situasi di Swis
masih lumayan, tetapi karena orang yang tadinya simpan uangnya dalam US dollar atau Euro kini pindah ke Franc Swis, maka uang itu naik harganya dengan akibat bahwa barang dan jasa yang diproduksi di Swis menajdi sangat mahal untuk negara tetangga dan ekspor berkurang. Perusahan melepaskan tenaga kerja dan /atau mentransfer sebagian produksi ke negara bergaji rendah; pengangguran bertambah dan orang gelisah. Prognose pun suram: kalau penduduk Eropa masih merupakan 20% penduduk dunia pada tahun 1950, diperkirakan bahwa 2050 masih tinggal 7% (karena jumlah orang tua bertambah dan anak berkurang); kalau tahun 1950 ekonomi Eropa masih merupakan 30% hasil di dunia, maka 1050 masih akan berjumlah 10% karena Cina, India, India dsb maju. Sebagai akibat krisis ini partai politik kanan menggunakan keresahan masyarakat untuk mengembangkan suatu nasionalisme sempit, yang mengagungkan masa lampau dan mempersalahkan “yang lain“ – globalisasi, imigrasi, Islam, dsb- sebagai ancaman nilai luhur. Mereka menutup diri pada perobahan dan menjanjikan keamanan yang takkan mungkin. Makin sulit mempertahankan „civil society“ yang terbuka, kreatip dan menghormati hak-hak asasi manusia. Namun kita harus tekun.

3. Berita keluarga: (omitted, zjn)

Saya mendoakan saudara sekalian dan mohon agar Tuhan menyertai dan memberkati uadara sekalian. Ia datang dalam bentuk seorang anak kecil dan mendampingi kita dalam kelemahan kita, iinlah kekuatan yang mendorong kita mengikuti jalanNya


Marie-Claire Barth- Frommel
e.mail < nenek@bluewin.ch

12 Desember 2011

Catatan kecil di minggu Adven ke-3


by Ati Hildebrandt Rambe
on Monday, December 12, 2011 at 4:07pm

"Weihnachten wird unterm Baum entschieden" terjemahan bebasnya: yang menentukan dalam perayaan natal adalah (hadiah-hadiah yang terletak) di bawah pohon. Begitu bunyi iklan salah satu mega store elektronik di Eropa Media Markt. Iklan ini menuai reaksi protes khusunya dari umat Kristen di Jerman yang anti terhadap komersialisasi perayaan-perayaan religius seperti hari Natal. Salah satu bentuk protes adalah dengan membentuk aksi di Facebook melalui grup „Weihnachten wird in der Krippe entschieden” (Natal di tentukan di palungan”) lihat: https://www.facebook.com/#!/events/100664083386195/ untuk menunjukkan esensi natal bukan di bawah pohon di mana hadiah natal terletak, melainkan di dalam palungan di tempat kelahiran sang Bayi Yesus sebagai Juruselamat dunia dan Raja damai.

Terlepas dari modus Media Markt yang selalu membuat sensasi atas slogan-slogan iklannya, misalnya “ich bin doch nicht blöd” (saya toh tidak bego), sebernarnya iklan ini tengah mengambarkan apa yang terjadi pada perayaan malam Natal (pada tanggal 24 malam) di kebanyakan keluarga di Jerman sini. Hadiah-hadiah natal sudah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya, bahkan minggu-minggu Adven yang seharusnya diisi dengan minggu penghayatan kedatangan (Adven), dilalui sebagai minggu-minggu stress mencari hadiah. Bagaimana tidak, di negara yang berlebihan (superfluous) seperti di Jerman ini, di mana hampir semua orang telah memiliki semua, tidak gampang untuk mencari hadiah yang dapat membuat si penerima hadiah bergembira di malam Natal. Apalagi tekanan superlatif membuat seseorang terdesak untuk membeli sesuatu yang “lebih baik dari” yang lain atau dari Natal yang lalu. Toh, kekecewaan sering terjadi! Salah satu jawaban atas pertanyan, apa yang anda lakukan dengan hadiah-hadiah natal yang anda dapatkan tetapi tidak perlukan adalah: “untung ada ebay!” (ebay: portal online shopping).

Komersialisasi perayaan-perayaan relijius bukan hanya terjadi pada hari Natal, tetapi intensitasnya terasa di hari natal karena tradisi saling memberi hadiah natal telah menjadi sebuah transaksi materi yang berfokus pada nilai nominal benda. Sehingga di sini yang utama adalah benda-benda apa yang ada “unterm Baum” (di bawah pohon natal) dan bukan interaksi relasional yang justru menjadi pesan utama Natal, yakni “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan AnakNya…(Yoh. 3: 16). Interaksi relasional antara Allah dan dunia serta manusia yang berdasar kasih adalah dasar tradisi memberi yang juga dasar tradisi Natal. Namun dalam kenyataannya, benda-benda mati memperoleh tempat yang lebih tinggi ketimbang relasi antar sesama manusia. Sehingga tidak jarang terjadi, benda-benda mati tersebut justru “menghancurkan” relasi antar sesama justru pada hari Natal. Banyak dari apa yang ada “unterm Baum” adalah benda-benda mati hasil penderitaan panjang bahkan pengorbanan hidup para oppressed women dan buruh anak di dunia ketiga, justru diglorifikasi pada malam Natal. Sangat ironis memang!

Yang menentukan pada hari Natal bukan apa yang ada di bawah pohon, melainkan yang ada di dalam palungan, yakni Hadiah dari Allah karena Ia mengasihi kita. Hadiah ini bukan benda mati melainkan seorang bayi manusia yang kelahiranNya mendamaikan relasi-relasi yang hancur: relasi antar sesama, relasi manusia dan alam serta relasi antara bumi dan langit.

Selamat menghayati minggu-minggu Adventus & mempersiapkan perayaan penerimaan Hadiah Allah, Kelahiran (Natal) Kristus. Gloria in excelsis Deo

08 Desember 2011

Pesan Natal 2011

PESAN NATAL BERSAMA PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI) KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) TAHUN 2011

“Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar” (Yes. 9:1a)

Saudara-saudari yang terkasih, segenap umat Kristiani Indonesia di mana pun berada,

Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

Telah tiba pula tahun ini hari Natal, perayaan kedatangan Dia, yang dahulu sudah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya sebagai “seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putra telah diberikan untuk kita, lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”1. Tokoh inilah yang disebutnya juga di dalam nubuatan itu sebagai “Terang yang besar” dan “yang dilihat oleh bangsa-bangsa yang berjalan dalam kegelapan”2.

Inilah Kabar Gembira tentang kedatangan Sang Juruselamat, Yesus Kristus, Tuhan kita. Pada hari Natal yang pertama itu, para gembala di padang Efrata, orang-orang kecil, sederhana dan terpinggirkan di masa itu, melihat terang besar kemuliaan Tuhan bersinar di kegelapan malam itu3. Mereka menanggapi sapaan ilahi “Jangan takut” dengan saling mengajak sesama yang dekat dan senasib dengan mereka dengan mengatakan satu sama lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita”4. Para Majus yang masing-masing telah melihat terang besar di langit negara asal mereka, telah menempuh perjalanan jauh untuk mencari dan mendapatkan Dia yang mereka imani sebagai Raja yang baru lahir. Mereka bertemu di Yerusalem dan mengatakan: “Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia”5.

Sayang sekali, bahwa di samping para gembala dan para Majus dari Timur yang tulus itu, ada pula Raja Herodes. Ia juga mendapat tahu tentang kedatangan Yesus, bukan hanya dari para Majus, tetapi juga dari keyakinan agamanya, tetapi ia malah merasa tersaingi dan terancam kedudukannya. Maka dengan berpura-pura mau menyembah-Nya, ia mau mencari-Nya juga dengan maksud untuk membunuh-Nya. Ketika niat jahatnya ini gagal, ia malah melakukan kejahatan lain dengan membunuh anakanak tak bersalah dari Bethehem6. Kepada kita pun, yang hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia dan merayakan Natal pada tahun 2011 ini, telah disampaikan Kabar Gembira tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus, yang adalah “Firman, yang di dalamnya ada hidup dan hidup itu adalah terang bagi manusia”7.

Memang, yang kita rayakan pada hari Natal itu adalah: “Terang yang sesungguhnya yang sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya”8. Tetapi sayangnya ialah bahwa, “dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya”9. Dan kita tidak bisa, bahkan tidak boleh, menutup mata untuk itu. Kita juga menyaksikan, bahwa bangsa kita masih mengalami berbagai persoalan. Kemiskinan sebagai akibat ketidakadilan masih menjadi persoalan sebahagian besar bangsa kita, yang mengakibatkan masih sulitnya menanggulangi biaya-biaya bahkan kebutuhan dasar, apalagi untuk pendidikan dan kesehatan;

Kekerasan masih merupakan bahasa yang digemari guna menyelesaikan masalah relasi antar-manusia; Kecenderungan penyeragaman, ketimbang keanekaragaman masih merupakan pengalaman kita. Akibatnya, kerukunan hidup, termasuk kerukunan antar-umat beragama, tetap masih menjadi barang mahal; Korupsi, bukannya dihapuskan, tetapi malah makin beranak-pinak dan merasuki segala aras kehidupan bangsa kita bahkan secara membudaya;

Penegakan hukum yang berkeadilan dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia masih merupakan pergumulan dan harus tetap kita perjuangkan; Pencemaran dan perusakan lingkungan yang menyebabkan bencana alam, seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetap mencemaskan kita. Mereka yang diberi amanat dan kekuasaan untuk memimpin bangsa kita ini dengan benar dan membawanya kepada kesejahteraan yang adil dan merata, malah cenderung melupakan tugas-tugasnya itu.

Oleh karena itu, saudara-saudari yang terkasih, dalam pesan Natal bersama kami tahun ini, kami hendak menggarisbawahi semangat kedatangan Kristus tersebut dengan bersaksi dan beraksi, bukan hanya untuk perayaan Natal kali ini saja, tetapi hendaknya juga menjadi semangat hidup kita semua:

• Sederhana dan bersahaja: Yesus telah lahir di kandang hewan, bukan hanya karena “tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan”10, tetapi justru karena Dia yang “walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”11.
• Rajin dan giat: seperti para gembala yang setelah diberitahu tentang kelahiran Yesus dan tanda-tandanya, lalu “cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria, Yusuf dan bayi itu”12. •?Tanpa membeda-bedakan secara eksklusif: sebagaimana semangat kanak-kanak Yesus yang menerima para Majus dari Timur seperti adanya, apapun warna kulit mereka dan apapun yang menjadi persembahan mereka masing-masing13.
• Tidak juga bersifat dan bersikap mengkotak-kotakkan, karena Yesus sendiri mengajarkan bahwa “barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu"14.

Saudara-saudari yang terkasih, Tuhan Yesus, yang kedatangan-Nya sudah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya hampir delapan ratus tahun sebelum kelahiran-Nya, disebut sebagai “terang besar” yang “dilihat oleh bangsa-bangsa yang berjalan di dalam kegelapan”15. Nubuat itu direalisasikan-Nya sendiri dengan bersabda: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup”16.

Di samping penegasan tentang diri-Nya sendiri itu, barangkali baik juga kita senantiasa mengingat apa yang ditegaskannya tentang kita para pengikut-Nya: "Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi”17. Akhirnya marilah kita menyambut kedatangan-Nya dengan sederhana dan tidak mencolok karena kita tidak boleh melupakan, bahwa sebagian besar bangsa kita masih dalam kemiskinan yang ekstrim. Dengan demikian semoga terjadilah kini seperti yang terjadi pada Natal yang pertama: ”Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya”18.

SELAMAT NATAL 2011 DAN TAHUN BARU 2012

Jakarta, 17 November 2011

Atas nama PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI),
Pdt. Dr. A.A. Yewangoe/Ketua Umum
Pdt. Gomar Gultom, M.Th /Sekretaris Umum

KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI),
Mgr. M.D. Situmorang /Ketua
Mgr.J.M. Pujasumarta /Sekretaris Jendral

1 Yes. 9:5. 2 Bdk. Yes. 9:1a. 3 Bdk. Luk. 2:8-9. 4 Ibid. ay 15. 5 Mat. 2:2. 6 Lih. Mat. 2: 8, 10-12. 7 Bdk. Yoh. 1:1-4. 8 Bdk Yoh 1:9 9 Ibid. ay. 1:10-11 10 Luk. 2:7. 11 Flp. 2:5-7. 12 Luk. 2:16. 13 Lih. Mat. 2:11 14 Luk. 9:50. 15 Bdk Yes. 9:1a. 16 Yoh. 8:12. 17 Yoh. 12:35. 18Luk. 2:14.

14 November 2011

Yerusalem Bukan Tanah Suci

Oleh: Dr. Fredrik Y. A. Doeka*

Minggu ini rombongan Haji NTT sedang menunaikan rukun Islam ke-5 di Mekah. Minggu ini pula satu rombongan pendeta GMIT sedang mempersiapkan diri untuk berkunjung ke Yerusalem. Pelepasan rombongan penziarah rohani ini menjadi pekerjaan publik perdana Majelis Sinode GMIT periode 2011-2015. Dari pekerjaan ini, kita dapat membayangkan mengenai apa yang Majelis Sinode baru harapkan terhadap perjalanan para kafilah Kristen itu yang dipimpin oleh mantan Ketua Sinode GMIT 2007-2011. Majelis Sinode baru yang diketuai oleh Pdt. Robert Litelnoni, S.Th. pasti mengharapkan rombongan akan kembali dari Yerusalem dengan selamat dan menjadi penziarah yang mabrūr (b. Arab), artinya penziarah yang diterima dalam anugerah dan berkat Allah.

Yerusalem menyimpan situs arkeologis dan religius bagi tiga agama besar, yaitu Yudaisme, Islam dan Kristen. Tembok Ratapan adalah salah satu situs religius penting Yudaisme. Penganut agama Yahudi orthodoks percaya, bahwa tembok ini tidak ikut hancur sebab di situlah berdiam "Shekhinah" (kehadiran ilahi). Jadi, berdoa di situ sama artinya dengan berdoa kepada Tuhan. Bagi kaum Muslimin, tembok ini juga merupakan bagian dari dasar Masjid al-Aqsa dan Masjid al-Omar, serta diyakini sebagai gerbang tempat terangkatnya Muhammad dari Yerusalem ke surga (mi'raj) dengan mengendarai buraq (http://id.wikipedia.org/wiki/Tembok_Barat). Sedangkan bagi orang-orang Kristen, mereka dapat menyaksikan secara langsung tempat kelahiran, pelayanan, kesengsaraan dan kematian Yesus, sang Juru Selamat.

Terminologi Yerusalem

Yerusalem berasal dari kata yerūsyāsalaim (b. Ibrani), yang menunjuk kepada sebuah kota, yang dalam Alkitab digambarkan sebagai negeri beradab dengan sejumlah nilai-nilai kemanusiaan. Dampak dari negeri beradab itu adalah kebenaran, keadilan, kesetaraan, perdamaian, dan cinta kasih menjadi suasana sehari-hari Yerusalem. Dengan demikian orang yang hidup di sana merasa bahagia.
Selain idealisasi Yerusalem secara terminologis, term religius juga memberi sumbangan bagi meningkatnya jumlah penziarah ke negeri yang saat ini dipimpin oleh PM Benjamin Netanyahu. Yerusalem, seperti apa kata Alkitab, mendorong tiap-tiap orang untuk rindu ke sana. Sekitar abad ke-6 s.M., atau abad-abad sebelumnya, Yerusalem sudah menjadi magnet spiritual bagi orang-orang yang hidup di Timur Tengah. Penulis kitab Mazmur adalah salah satu yang begitu tertarik atas peradaban kota itu sehingga dalam refleksi imannya ia gambarkan, Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel (Maz 122:3-4). Di tempat lain, masih sang pemazmur, dikatakan bahwa Tuhanlah yang membangun Yerusalem dan di negeri itu Dia mengumpulkan umat Israel yang tercerai berai (Maz 147:2). Singkatnya, Yerusalem sudah menjadi sebuah kota impian sejak itu. Maka pemazmur menulis lagi: Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku! Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, jika aku tidak jadikan Yerusalem puncak sukacitaku! (Maz 137:5-6).

Tafsir Islam

Yerusalem mendapat perhatian sungguh-sungguh dari para penafsir Islam di Indonesia. Negeri ini dipahami sebagai Tanah Perjanjian bagi Israel, umat Musa. Prof. Dr. Haji Abdul Malik Bin Abdul Karim Amirullah, disingkat HAMKA (1908-1981), dalam tafsirnya tentang sura 7:137, mengatakan Allah memberikan kepada umat Musa Tanah Perjanjian, yakni wilayah Syam yang menyebar hingga mencapai batas Timur, negeri Syria, ke Barat berbatasan dengan negeri Mesir, dan di dalamnya terdapat tanah Palestina (Hamka, Tafsir Al Azhar Jus IX, 2005:49). Sambil mengutip Kejadian 12:7, Hamka menegaskan Tanah Perjanjian (ardhul mi’ad) diberikan kepada anak-cucu Abraham (sura 5:21). Seperti diketahui Abraham memiliki dua anak laki-laki, Ismael dan Isak. Ismael dan keturunannya telah hidup di negeri Hijaz dan mereka beranak cucu menjadi bangsa yang besar, yakni bangsa Arab. Kemudian bangsa Israel, keturunan Isak, menduduki Tanah Perjanjian sesudah 400 tahun pada periode Musa (Hamka, Tafsir Al Azhar Jus VI, 2000:203). Umat Musa hanya menikmati tanah itu selama periode singkat. Hal ini karena umat Israel tidak suci di hadapan Allah (Hamka, Tafsir Al Azhar Jus IX 2005:141). Beberapa periode berikut, bangsa-bangsa seperti Babel, Persia, Roma dan Arab menduduki Tanah Perjanjian secara bergantian. Selama 1.400 tahun tanah itu di bawah kontrol bangsa Arab. Akan tetapi pada 1948, orang-orang Yahudi, yang didukung oleh Inggris dan Amerika Serikat, mengambil alih Tanah Perjanjian. Alasannya, mereka telah diberi hak untuk memiliki Tanah Perjanjian sejak 2500 s.M. Melalui tindakan itu, mereka mengusir 2 juta orang Arab, yakni populasi asli Tanah Perjanjian. Sejak itu orang-orang Yahudi memiliki negerinya dan tidak lagi hidup terpencar di penjuru dunia, termasuk hidup terasing di wilayah Arab. Tetapi, orang-orang Yahudi telah berdosa hingga hari ini karena menjadikan penduduk asli itu tercerai-berai. Karena itu hak istimewa mereka telah dicabut. Hamka mengutip sura 7:167, Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sungguh, Dia akan mengirim orang-orang yang akan menimpakan azab yang seburuk-buruknya kepada mereka (orang Yahudi) sampai hari kiamat. Sesudah menaklukan wilayah Palestina dalam 1948, Israel menyerang lagi negeri-negeri Arab lainnya pada 1967 dan membakar mesjid Al-Aqsa pada 1969. Waktu itu bangsa Arab-Palestina melawan di bawah pimpinan Yaser Arafat. Mereka menuntut balas dan berjanji untuk tidak berhenti sebelum orang-orang Yahudi itu diusir dari Yerusalem, tanah tumpah darah mereka (Hamka, Tafsir Al Azhar Jus IX, 2005:151,152). Berbagai protes dan tindakan bom bunuh diri terhadap Israel yang dilakukan oleh pengikut-pengikut Yaser Arafat [atau yang dilakukan oleh kelompok Hammas saat ini] adalah hak mereka untuk menuntut tanah air. Tindakan bunuh diri warga Palestina merupakan pengejewantahan sikap hidup yang suci di hadapan Allah. Selanjutnya, Hamka mengajak seluruh Muslim sedunia mengambil kembali Yerusalem, sebagai Tanah Perjanjian, dan diserahkan kepada bangsa Arab. Allah-lah yang memiliki bumi ini, bukan orang-orang Yahudi. Oleh kehendak-Nya, Dia akan memberikan Yerusalem kepada kaum Muslim, yaitu orang-orang yang berserah kepada-Nya (Hamka, Tafsir Al Azhar Jus IX, 2005:50, 151).
Departemen Agama menafsirkan, Yerusalem sebagai sebuah wilayah yang lebih luas dari apa yang Hamka jelaskan. Wilayah itu terdiri dari Syria hingga Mesir dan seluruh negeri jajahan yang pernah dijajah oleh Firaun (pada zaman Musa) juga diberikan kepada Israel (sura 7:137). Pemberian ini oleh karena sikap Israel yang sabar menunggu pemenuhan janji Allah (Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid III, 1997/1998:563-564).
Berkaitan sura 7:128 dalam tafsir Al-Mishbāh, Prof. Dr. M. Quraish Shihab menerangkan secara teologis seluruh dunia adalah milik Allah. Demikian halnya Yerusalem yang sebenarnya dijanjikan kepada orang-orang Yahudi kecuali kalau mereka menjadi orang-orang takwa. Mereka akan menikmati tanah ini, tidak hanya untuk sementara, tetapi juga sesudah berakhirnya dunia ini (M. Quraish Shihab, Al-Mishbah Volume 5, 2006: 215).

Tafsir Kristen

Beberapa tafsiran Kristen Indonesia mengenai Yerusalem atau Tanah Suci menarik untuk disimak. Dr. Joas Adiprasetya, Ketua Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, memahami Yerusalem sebagai kota suci kalau negeri itu sudah damai. Selama belum ada perdamaian antara Israel dan warga Palestina, maka Yerusalem bukanlah Tanah Suci (Memahami Israel Alkitab dan Israel Kontemporer, 2011:1).
Selanjutnya Dr. Ioanes Rakhmat, mantan dosen STT Jakarta, menyinggung sepintas mengenai kerinduan orang ke Yerusalem sebagai bentuk zionisme Kristen. Gerakan fundamentalisme Kristen a la Amerika menginspirasi orang-orang Kristen Indonesia untuk berkunjung ke sana. Gerakan ini sesungguhnya hendak menggeser posisi masyarakat Israel sekarang dan menjadikan penganut aliran ini sebagai “Israel baru”. Tugas utama “Israel baru” adalah menobatkan warga Israel saat ini sehingga dengan pertobatan itu akan memungkinkan “Israel baru” terangkat ke sorga (Mulai dari Musa dan Segala Nabi, 1996: 65-67).
H. A. Pandopo, teolog Belanda bernama asli Harry A. van Dop yang bekerja di Indonesia selama 38 tahun, menafsirkan Yerusalem (dalam syair dan lagu “Kidung Jemaat” 134) sebagai kota yang tidak aman dan penuh dengan manusia pendosa. Tetapi jika Yerusalem sejahtera, maka pada saat itu juga sang Mesias sudah datang.
Di tempat lain “Madah Bakti” (buku nyanyian umat Katolik Indonesia) nomor 834 memberi gambaran Yerusalem sebagai kota surgawi. Di sana melimpah segala nikmat yang dapat membahagiakan setiap penghuni. Juga terjadi pesta akbar bersama Allah karena itu setiap orang diundang ke sana.

Bisnis Parawisata Israel

Sejak Negara Israel membuka situs-situs purbakala untuk kepentingan parawisata, banyak orang Kristen Indonesia berbondong-bondong ke sana. Para penziarah memiliki satu tujuan, yakni mengkultuskan Israel masa lampau. Sekurang-kurangnya, mereka memahami ikatan-ikatan sejarah dan tradisi-tradisi agama yang berkaitan dengan Israel di masa lampau yang merindukan Yerusalem dan percaya bahwa tanah itu sebagai bagian dari iman Kristen (Fredrik Doeka, The Enduring Mission of Moses, 2011:5). Motivasi religius semacam ini menjadi peluang bisnis pemerintah Israel untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Tercatat bisnis pariwisata Israel menjadi salah satu sumber pendapatan paling besar dalam rancangan pendapatan negara zionist itu. Lebih dari 2.7 juta turis asing mengunjungi Israel pada 2009 (http://id.wikipedia.org/wiki/Pariwisata_di_Israel). Tidaklah mustahil hasil pendapatan inilah yang dipakai untuk membeli peralatan militer Israel yang terkenal sangat canggih di dunia, yang dipakai untuk membunuh pejuang Palestina.

Penziarah yang mabrūr

Dalam tafsir Islam dan Kristen di atas, Yerusalem sekarang ini dengan luas 123 km2, yang dirindukankan rombongan pendeta GMIT dan juga rombongan orang-orang Kristen lainnya, bukanlah Tanah Suci. Kecuali kalau penghuni Yerusalem saat ini sudah bertobat dan bertakwa kepada Allah, hidup suci di hadapan-Nya dan mengasihi sesama manusia.
Hati kita teriris ketika mendengar penziarah-penziarah Kristen mau saja menghabiskan puluhan juta rupiah untuk pergi ke negeri yang sedang digenangi oleh darah dan air mata para martir Palestina. Hati tambah teriris lagi ketika kita mengetahui, bahwa orang terpaksa berhutang untuk ke sana. Sementara itu di sini, di bumi Flobamora, kemiskinan sedang merajalela, hantu KKN (Kolusi, Korupsi dan Nepotisme) bergentayangan, busung lapar menjadi penyakit akut, kematian ibu-ibu hamil meningkat, mutu pendidikan sangat rendah, pengangguran di mana-mana, dan masih banyak masalah sosial lainnya. Bukankah ini keadaan riil negeri kita dan menjadi tugas anda dan saya untuk menjadikannya sebagai “Yerusalem”, negeri adil dan makmur atau Tanah Suci?
Sekali lagi Yerusalem yang berada di Timur Tengah itu bukanlah Tanah Suci. Ia hanyalah pentas kebrutalan tentara Israel saat ini. Ziarah ke Yerusalem sama dengan ikut mendukung aksi kekerasan Israel terhadap warga sipil Palestina. Tugas kita seharusnya menjadikan “Yerusalem” ideal itu nyata di bumi Flobamora dengan cara mengentaskan kemiskinan, memberantas KKN, meningkatkan dan menyediakan layanan kesehatan memadai bagi masyarakat, meningkatkan mutu pendidikan, menyediakan lapangan pekerjaan, dst. Selama tugas-tugas tersebut kita tunaikan, maka selama itu pula kita menjadi penziarah yang mabrūr.

*Dr. Frederik Doeka promosi doktoral di Universitas Utrecht, Negeri Belanda, dengan disertasi berjudul The Enduring Mission of Moses. Indonesian Muslim and Christian Representations of a Jewish Prophet. Bekerja sebagai pengajar Islamologi dan Teologi Agama-agama pada Fakultas Teologi Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang