24 April 2012

Neo-kharismatik?



Gerakan-gerakan Pentakosta, Kharismatik, dan Gelombang Ketiga
Pentecostal, Charismatic, Third Wave Movements 
terjemahan bebas oleh: Zakaria J. Ngelow
 
  1. Gerakan Pentakosta (Gelombang Pertama)

Gerakan Pentakosta klasis moderen bermula pada awal abad ke-20 dan berakar dalam gerakan kesucian dan kebangunan pada Kebangunan Besar kedua di amerika pada abad ke-19.[1]
Pentakosta moderen ditandai dengan tiga ajaran utama:
  • Baptisan Roh Kudus
  • Manifestasi bahasa lidah
  • Manifestasi penyembuhan ilahi.
Bahasa lidah, dikenal juga sebagai glossolali, dipandang sebagai bukti baptisan dengan Roh Kudus. Ini salah satu perbedaan antara teologi Pentakosta dan Kharismatik.[2] Pengalaman baptisan Roh dan bukti awal dalam bahasa lidah harus diupayakan dengan sungguh-sungguh oleh orang-orang percaya. Hal itu tidak terjadi begitu saja; persyaratan-persyaratan harus dipenuhi. Beberapa hal berikut harus dilakukan oleh orang percaya secara sadar, bersungguh-sungguh dan aktif. Kadang-kadang juga dia memerlukan bantuan orang-orang lain yang sudah dipenuhi Roh. Mereka harus berdoa untuk dia, menumpangkan tangan atasnya supayah Roh turun kepadanya. Persyaratan-persyaratan itu beragam namun secara umum meliputi: ibadah, iman yang gembira, pengharapan yang bersungguh-sungguh, pujian dan syukur, ketaatan, menjauh dari dosa, keinginn yang mendalam, baptisan, memohon kepada Allah, dst.

Penganut Pentakosta berbeda dengan kelompok Fundamentalis yang lebih memberi penekanan pada pengalaman rohani dan dalam banyak kasus memberi tempat bagi perempuan dalam pelayanan. [3]
Perbedaan utama antara keyakinan Pentakosta dan Fundamental bukanlah dalam ajaran pembenaran, melainkan dalam ajaran pengudusan. Dewasa ini melalui pelayanan orang seperti Billy Graham, kita saksikan makin banyak denominasi, termasuk gereja Roma Katolik bersepakat mengenai ajaran pembenaran. Akan tetapi ajaran pengudusan yang menimbulkan banyak perbedaan besar. Gagasam pokok bagi Pentakostalisme adalah Injil Sepenuh. Pentakostalisme percaya dalam gagasan Injil Sepenuh yang menyatakan bahwa Roh telah membaptis semua orang percaya ke dalam Kristus pada saat pertobatan (Pembenaran), namun Kristus belum membaptis semua orang percaya ke dalam Roh (Pentakosta). Untuk menikmati Injil sepenuhnya pengalaman ini wajib. Ini adalah suatu kesalahfahaman menyangkut ajaran pembenaran.
Kaum Pentakosta juga tidak percaya pada pemeliharaan orang kudus. Jadi mereka tidak percaya pada ajaran mengenai jaminan kekal. Mereka yakin bahwa ada kemungkinan orang kehilangan keselamatan. Mereka mengikuti ajaran Arminian, menolak Calvinism.
Dalam Pentakostalisme ada satu kelompok yang mewakili Gereja Pentakosta Bersatu (United Pentecostal Church). Mereka menolak Tritunggal dan karena itu sering dikenal sebagai Oneness Pentecostalism. [4]

  1. Gerakan Pembaruan Kharismatik (Gelombang Kedua)

Pembaruan Karismatik bermula pada pertengahan abad ke-20. Kali ini ajaran-ajaran Pentakosta tersebar ke dalam gereja-gereja arus utama Protetan dan Katolik sebagai gerekan “pembaruan kharismatik” dengan tujuan membaharui gereja-gereja historis itu.
Kharismatik berbeda dengan Pentakosta dalam sikapnya terhadap ajaran. Dalam gerakan kharismatik ajaran dilihat sebagai pemecah orang percaya. Mereka menghindari ajaran Alkitab mengenai pemisahan dan mendorong orang yang ‘telah menerima Baptisan’ untuk tetap di dalam gereja dan aliran masing-masing. Demikian juga walaupun Kharismatik ajaran Bahasa Lidah, mereka tidak begitu menekankan ajaran ini sebagaimana kaum Pentakosta. Dengan kata lain, bisa menerima baptisan tanpa berbahasa lidah.[5]
Kharismatik mengajarkan bahwa anda dapat memperoleh lebih banyak dari Roh Kudus dengan dipenuhi oleh Roh (Ef. 5:18). [6]
Untuk informasi lebih lanjut mengenai Gerakan Kharismatik, lihat/klik:
-          The Line Drawn (MJ Stanford)
-          Buku, Charismatic Chaos by John MacArthur dapat dibaca on-line (http://www.biblebb.com/mac-a-g.htm masuk ke bagian charismatic chaos)

  1. Tanda-tanda dan Mujizat-mujizat atau Gerakan Neo-kharismatik (Gelombang Ketiga)

Pakar church-growth C. Peter Wagner dalam bukunya, The Third Wave of the Holy Spirit yang pertama memakai first used istilah, “Third Wave Movement” (Gerakan Gelombang Ketiga). Gerakan itu terjadi di Fuller Theological Seminary pada tahun 1981 di kelas pelayanan John Wimber, pendiri Asosiasi Gereja-gereja Kebun Anggung (Association of Vineyard Churches).[7] Mereka yang terlibat dalam gerakan ini tidak ingin disebut “Pentakosta” atau “kharismatik”. Dan sebagaimana pembaruan kharismatik, Gerakan Gelombang Ketiga adalah suatu gerakan pembaruan dan kebangunan. Dari segi ajarannya, kaum Gelombang Ketiga sulit digolongkan karena dalam gerakan ini berlangsung pengabaian ajaran. Akibatnya, ajaran menjadi sangat beragam.[8]

  1. Berikut beberapa ciri dari gerakan Gelombang Ketiga:

  1. Mereka yang terkait dengan gerakan ini tidak ingin dicap “Pentakosta” atau ‘kharismatik”, walaupun mereka juga menganut pengalaman-pengalaman dan ajaran-ajaran yang mirip Pentakosta. Mereka ingin dikenal semata-mata sebagai kaum Injili yang terbuka kepada Roh Kudus.
  2. Mereka Gnostik. Mereka yakin Allah bisa dan benar berkomunikasi di luar Alkitab secara langsung kepada anak-anak-Nya, memberi mereka wahyu baru selain Alkitab. Jadi kaum Gelombang Ketiga menolak Alkitab lengkap.
  3. Jabatan Lima Rangkap (Five-Fold Ministry) adalah salah satu “kebenaran” yang Allah pulihkan bagi gereja dan terkait dengan Latter Rain Movement.[9] Ini adalah sistem pemerintahan gereja dengan rasul-rasul, nabi-nabi, penginjil-penginjil, pendeta-pendeta dan guru-guru.[10]
  4. Di zaman akhir ini Allah memulihkan jabatan nabi dan rasul dengan kuasa dan kewenangan melampaui apapun yang dialami oleh nabi-nabi Perjanjian Lama dan rasul-rasul Perjanjian Baru.[11]
  5. Kesatuan lebih penting daripada ajaran. Kesatuan dibina melalui hubungan-hubungan, bukan melalui ajaran. Perbedaan-perbedaan ajaran dikesampingkan. Sebagai akibatnya, mereka yang berselancar di gelombang ini dapat menyusup ke dalam berbagai gereja dengan tujuan mempengaruhi gereja untuk menerima visi Gelombang Ketiga yang merupakan kesatuan di bawah rasul-rasul dan nabi-nabi masa kini.
  6. Penginjilan Kuasa dan Pertarungan Kuasa. Yesus dan para rasul menjawab kebutuhan orang dengan penyembuhan, pengusiran setan, dan membangkitkan orang mati. Mujizat-mujizat membuat orang tertarik pada Kabar Baik. Demikianlah kita seharusnya menginjil dewasa ini. Pertarungan Kuasa terjadi ketika Kerajaan Allah berhadapan dengan Kerajaan Setan. Di situlah saatnya Allah menunjukkan kuasa-Nya atas setan dan orang berbalik kepada Allah.
  7. Mereka yang terkait dengan gerakan ini tidak menunggu pada Kristus kembali namun Gereja yang bangkit dan menjadi pengantar Kerajaan Allah. Pelayanan dalam Kerajaan Allah bergantung pada gereja. Daripada menunggu kedatangan Juruselamat, gereja harus mengatasi masalah-masalah planet bumi. Kemuliaan Allah kini menggantikan kedatangan Anak Allah secara fisik.
  8. Pribadi-pribadi dapat menjadi setani, yakni roh jahat dapat hidup sebagai bagian dari tubuhnya. Bahkan orang Kristen pun dapat menjadi setani. Roh jahat tidak dapat hidup dalam roh seorang Kristen, namun dapat hidup dalam tubuh seorang Kristen.
  9. Kerajaan Sekarang; Kekuasaan Kerajaan; Teologi Pemulihan (Ini juga terkait dengan gerakan-gerakan gereja-Rumah dan Pemulihan.[12]
  10. Teks Alkitab favorit gerakan ini adalah kutipan Yesaya 43: 49: “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru”.[13] 

  1. Gnostik

Kata Yunani gnosis berarti pengetahuan. Pada abad pertama kaum Gnostik menekankan bahwa mereka orang Kristen sejati, yang percaya Alkitab. Mereka tidak menolak para rasul atau menentang ajaran mereka. Mereka semata-mata mengklaim bahwa mereka mempunyai suatu tambahan sumber pengetahuan atau pandangan yang melampaui pengetahuan Alkitab. Pengetahuan ekstra ini tidak datang dari pemahaman Firman Allah. Ia bersifat mistik dan datang dari komunikasi langsung dengan Allah. ‘Wahyu-wahyu’ pribadi ini disanggap otoritas ilahi. Karena itu kaum gnostik dianggap ajaran sesat oleh gereja mula-mula karena pandangan mereka mengenai penyataan Allah (wahyu).
Pada masa kini Allah tidak memberi ‘wahyu baru’ kepada manusia. Allah tidak melakukan ‘suatu hal baru’. Semua pengetahuan dan pengalaman, segala ‘sesuatu’ dapat ditemukan tertulis dalam Alkitab. Setiap pengetahuan, pengalaman atau ‘sesuatu’ yang tidak dapat ditemukan dalam Alkitab bukan dari Allah dan bukan untuk umat Allah. Setiap wahyu yang melampaui atau bertentangan dengan atau menambahi atau mengurangi apa yang dinyatakan dalam Firman Allah yang tertulis adalah kepalsuan. Pengalaman-pengalaman seperti ‘terbunuh dalam roh’ atau ‘tertawa kudus’ atau ‘menjadi ‘mabuk dalam roh’ tidak ditemukan dalam Alkitab. Semua dikenal baik oleh mereka yang mengajarkan hal-hal ini. Sebagai akibatnya, mereka yang mengajarkannya tidak berusaha membela ajaran mereka dengan Alkitab. Sebaliknya mereka mencari suatu ‘hal baru’, suatu pengalaman atau wakyu yang berada di luar Firman Allah. Karena pengalaman-pengalaman ini berada di luar Firman Allah, mereka juga berada di luar wilayah di mana Roh allah bergerak. Jadi pengalaman-pengalaman ini datang dari wilayah-wilayah di mana roh-roh lain bergerak, dalam wilayah klenik.

c. Guru-guru Gelombang Ketiga:
C. Peter Wagner
(baca tulisan-tulisannya berikut secara on-line):

Rick Joyner
Rich Joyner seorang Gnostic.  Apologetics Research Resources on Religious Cults, Sects, Religions, Doctrines etc.[14]  menulis sejumlah artikel mengenai guru-guru Gelombang ketiga dan ajaran-ajarannya. Lembaga riset ini yakin bahwa Rick Joyner and Morningstar Ministries [15] salah satu guru paling sesat dan berhaya. Ajaran-ajarannya yang penuh kesesatan,unorthodox termasuk (dan tidak terbatas) pada Kingdom Now (or Dominion) theology,[16] extra-biblical revelation,[17] dan penyangkalan kebangkitan badaniah Yesus Kristus. Rick Joyner adalah guru Gelombang Ketiga yang telah menulis banyak buku, termasuk  The Final Quest[18] mengenai visi Joyner atas apa yang dia pandang sebagai perang sipil yang kini sedang terjadi dalam Kekristenan antara mereka yang mendukung apa yang Allah lakukan kini (disebut langkah Allah, “move of God”) dengan mereka yang menentangnya. Mereka yang menetang “langkah” sebagaimana dilihat Joyner, merupakan gerombolan neraka. Pendukung-pendukung “Langkah Allah” Joyner adalah Toronto Blessing[19] dan gerakan-gerakan pembaruan dan kebangunan sejenis.[20] Menentang ‘hal baru yang Allah sedang lakukan’ ini maka anda dalam masalah. Dia telah menyerukan perang terhadap mereka yang menentang hal baru yang Allah sedang lakukan. Lihat selengkapnya dalam Rick Joyner, Christian Gnostic:  Civil War.[21] 

Guru-guru Gelombang Ketiga lainnya:
Guru-guru Gelombang Ketiga lainnya termasuk Jack Deere, Ted Haggard, Bill Hamon, Cindy Jacobs, George Ortis Jr. dan,Dutch Sheets.[22]  

  1. Pemberitaan mengenai Kristus dan Firman Allah

Ada orang yang memberitakan Kristus untuk berbagai alasan. Dalam Fil 1: 18 Paulus menulis:
Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita, (Fil 1:18 ITB)

Di kalangan Pentakosta, Kharismatik dan Gelombang Ketiga, ada anyak orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Yesus. Mereka mengasihi Tuhan dan berusaha menaati Dia. Banyak yang memberitakan Kristus dan orang dimenangkan bagi Kristus. Dalam hal ini kita bersukacita. Namun Alkitab juga memngingatkan kita: Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. (1Tes 5:21 ITB)  
Alkitab ingatkan kita bahwa akan ada waktu di mana orang tidak akan tertarik pada ajaran yang sehat (2 Tim 4:2-4). Kita harus mengatakan kebanran dalam kasih (Ef 4: 15). Inilah tujuan kritik ini. Kita bersukacita bahwa Kristus diberitakan; namun kita mengajarkan bahwa Firman Allah dan memperingatkan orang-orang laon bahaya dari penyesatan yang berlangsung di zaman akhir ini (2 Tim 3: 13; Tit 3:3).
Bacalah Deception in the Church[23] untuk artikel-artikel berikut:
Exposing Error: Is it worthwhile? (Dr. Harry Ironside)
False Prophets and Teachers (Deuteronomy 13)
What the Bible says about False Teachers
How to recognize false teachers
The True vs. False Teacher[24] Miles J. Stanford
The Cost of Discernment[25] Dr. Robert Morey
----------------------------------
Catatan penerjemah:
· Dalam About di situs sumber karangan disebut nama suami isteri Mark dan Tami Swaim. Tidak secara jelas, tetapi saya menduga mereka yang menulis karangan ini.
· Naskah internet tulisan ini memberi link ke berbagai sumber atau referensi yang tidak seluruhnya dapat diikuti dalam terjemahan ini.

Jakarta/Yogya, 23-24 April 2012
***


[1] Klik A Brief History of Pentecostalism.  Banyak orang menganggapnya kebangunan Montanism, sebuah aliran sesat abad ke-2. Klik juga Neo-Montanism: Pentecostalism is the ancient heresy of Montanism revived
[2] Klik The Doctrine of Tongues (Harold MacKay) dan Speaking in Tongues (Lehman Strauss).
[3] Untuk suatu artikel menarik dari perspektif Reform mengenai Pentakostalisme klik Pentecostalism: Its identity, History and influence dan Pentecostalism in light of the Word.
[4] Untuk informasi lebih lanjut, klik apologetics index on Oneness Pentecostalism dan juga Oneness Pentecostals and their Schizophrenic God oleh Jay N. Forrest
[5] Lihat The Doctrine of Tongues (Harold MacKay) dan Speaking in Tongues (Lehman Strauss)
[6] Untuk pembahasan topik ini lihat The filling of the Spirit, (Eph. 5:18) (Mark Swaim) dan juga The Filling of the Holy Spirit: Is it the Biblical Basis for Christian Maturity? (Arthur F. Temmesfeld, Th.M)
[8] Klik Third Wave Doctrines. Buku, Charismatic Chaos oleh John MacArthur dapat dibaca on-line (masuk ke bagian the charismatic chaos).  Bab 6 buku ini mengenai The Third Wave (John MacArthur). dalam Bible.org terdapat artikel akademik yang layak dibaca: Excited Utterances: A Historical Perspective On Prophesy, Tongues and Other Manifestations of Spiritual Ecstasy (Dr Matthew Allen).
[11] Untuk informasi lebih lanjut klik False Prophets, Pseudo Apostles, and a New Gospel
[12] Untuk informasi selanjutnya, klik Kingdom Theology.  Sebuah artikel bagus yang layak dibaca tentang ini, klik  Ten reasons to reject Kingdom-Dominion teaching. Artikel lainnya adalah Dominion Theology, Kingdom Now Theology, Recontructionism.
[13] Untuk informasi selanjutnya, klik The New Thing.
[22] Klik di sini untuk informasi selengkapnya: http://www.deceptioninthechurch.com/page3.html

17 April 2012

Bencana di Indonesia Tuhan, Mbah Merapi, dan Nietzsche


Salam teman-teman, dalam getar gempa hari ini, saya kutipkan resensi yang dulu pernah terbit di PUSTAKALOKA Kompas atas buku TEOLOGI BENCANA suntingan Zakaria Ngelow. Cakupan buku ini cukup luas, karena melibatkan komunitas ekumenis dan lintas-agama. Sekadar berbagi keprihatinan dan harapan.. salam, martin

--- Pustakaloka-KOMPAS Sabtu, 16 Desember 2006/
Bencana di Indonesia Tuhan, Mbah Merapi, dan Nietzsche

Judul Buku: Teologi Bencana, Pergumulan Iman dalam Konteks Bencana Alam dan Bencana Sosial
Penyunting: Zakaria J Ngelow
Penerbit: Oase-Intim, Makassar, 2006
Tebal: 370 halaman
resensi oleh: Martin Lukito Sinaga
Adakah kata-kata yang tepat yang dapat menjelaskan rentetan bencana yang menimpa Nusantara kita ini? Dan, adakah penjelasan tersebut dapat meringankan beban orang-orang yang menanggung bencana tadi sehingga dengan itu hidup dapat terus dilanjutkan dan ratapan tidak sampai menyesakkan kita ke dalam pusaran duka yang menetap?
Buku ini mencoba menjawab berbagai persoalan di atas dan rupanya berhamburan pulalah jawaban atas soal bencana ini. Hal ini menjadi isyarat bahwa kita tak terlalu mampu mencerna bencana yang terjadi di tengah hidup kita sekalipun iman dikerahkan dan nalar direntangkan.
Buku ini memang bunga rampai renungan atas bencana, dan ia memakai jalan dari bawah: maksudnya bukan pertama-tama bencana dicerna dengan membaca teks filosofis Leibniz mengenai Teodice, tetapi renungan dimulai dengan meminta orang-orang yang melihat dan mengalami bencana itu sendiri yang menggoreskan perspektifnya.
Salah satu percobaan yang diajukan ialah dengan merekam ke dalam kanvas perjalanan pelukis Bali, Ni Ketut Ayu Sri Wardani, ke Aceh, pascatsunami. Hasil perenungannya ialah gambar di kover depan buku ini yang ia beri judul "Jadilah Kehendak-Mu"; potongan dari doa Yesus.
Tampak di situ air bah yang menabrak seseorang yang sedang bersimpuh berdoa, terbungkuk. Seluruh gambar dilukis dengan garis kasar berwarna putih, biru, abu-abu; dan di situ terguratlah kuasa yang menghilangkan segala kepastian—orang itu menunduk lantas melihat tangannya yang kosong, cermin nasib manusia. Namun, kedua tangannya tidak tertutup, tetapi terbuka berharap pada kekuatan baru, berharap pada kehidupan.
Karena judul lukisan tadi adalah potongan doa Yesus, momen lain dari tragedi Yesus—yaitu penyaliban—tampak membayang di sini. Di salib, Yesus menjerit putus asa, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku." Dan tak ada jawaban, malah maut menunggu di ujung jalannya.
Yang menarik, karena jeritan itu adalah gema dari Mazmur 22, maka jeritan itu adalah sebentuk doa. Bercermin dari kanvas Ni Ketut dan dari momen penyaliban Yesus, maka dalam momen bencana manusia rupanya ditinggalkan, walau dalam doa. Namun, doa, bagaimanapun, selalu membuka kemungkinan-kemungkinan baru di hadapannya.
Dalam buku ini, religiositas lokal tampaknya mirip dengan kanvas perenungan Ni Ketut dalam cara dan teologi menghadapi bencana, "Mbah Merapi menakutkan, tetapi juga penuh cinta terhadap penduduk desa" (hal 254). Di sini dapat dikatakan juga bahwa Tuhan ambigu adanya, Ia dahsyat sekaligus memesona, mematikan sekaligus menghidupkan.
Orang-orang di Jawa, saat bencana menimpa—demikian analisis Gerrit Singgih seorang penulis buku ini—menghadapi bencana dengan menghayati kembali cerita-cerita nenek moyang mereka. Cerita itu adalah mengenai takdir yang akan mereka alami, tetapi justru dengan cerita sedemikian mereka bisa menghadapi (atau malah: melampaui) takdir yang kini menimpa hidup mereka.
Memang, takdir yang satu menderitakan, tetapi takdir yang lain menyembuhkan! (hal 261). Manusia rupanya ditinggalkan dalam rentetan takdir dan berkat, doa air mata dan doa sorak-sorai bergantian menjawab pertanyaan-pertanyaan di seputar bencana.
Kitab suci kontroversial
Karena para penulis buku ini adalah para teolog, tentu Kitab Suci pun diacu, Tuhan pun dicari. Dan tampaknya, Tuhan tidak berbicara dalam satu perspektif yang konsisten. Kalau dicatat pada kisah Penciptaan Alam Semesta (dalam Alkitab bab Kejadian 1), Tuhan menguasai dan membatasi yang "chaos" dengan menggesernya, lalu memberi tempat bagi kehidupan yang baik (hal 117).
Arah ciptaan ialah menuju damai sejahtera. Namun, sang "chaos" tadi tetap dapat secara liar menyergap ciptaan yang baik ini; dari pinggir-pinggir dunia ia menusuk, dan hal tadi menunjukkan bahwa Allah tidak berdaulat sepenuhnya atas kenyataan yang ada. Damai sejahtera ciptaan di mana Allah berdaulat sepenuhnya masih sebentuk harapan!
Dalam pada itu, situasi absen harus diterima (dan ini yang menohok hati saat melihat reruntuhan World Trade Center di New York tahun 2005; gedung dan lanskap arsitektur yang bakal mereka bangun di situ diberi tema "absen"). Dalam kisah Alkitab, kisah Ayub adalah saksi akan Tuhan yang absen, tetapi akan manusia yang berani beriman!
Terhadap bencana yang menimpa dirinya—Ayub adalah seorang yang dicatat dalam Kitab Suci sebagai yang paling saleh dan tak berdosa—ia mengambil kesimpulan yang mengagetkan, "dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga akan akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan" (Ayub 1:21).
Ayub mengungkapkan sebentuk resignasi sebab Tuhan ia bolehkan berbuat apa yang dipandang-Nya baik. Dan, ini setelah Ayub mengalami bencana yang melenyapkan semua anaknya dan segala miliknya dalam satu malam, dan terhadap itu ia pun masih berargumen melawan dirinya, "masakan manusia benar di hadapan Allah?" (Ayub 9:1).
Ayub terus menegaskan imannya, dan itu saja yang ia bisa lakukan, sementara dari Allah belum keluar penjelasan apa pun mengenai petaka yang melanda diri Ayub. Di tengah itu semua, Ayub pun tidak menuntut bukti dan penjelasan; dan teman-temannya yang mencoba mengaitkan bencana itu semua dengan dosa-dosa Ayub terpojok bisu sebab memang tidak ada setitik pun dosa Ayub. Yang ada, selain iman Ayub yang tak terpadamkan, juga harapannya, "harapan untuk semua orang yang hilang" (hal 179).
Jelaslah, tidak ada lagi kata mengenai hukuman Tuhan di sini. Dari kisah Ayub kita tiba pada kesimpulan bahwa bencana yang menimpa bukan pentas tempat hukuman ilahi dijalankan. Bencana malah menjadi pentas iman yang tak terpadamkan, sekalipun kebisuan ilahi tak tertembus.
Dengan demikian, yang perlu—demikian catat Yewangoe (Ketua Umum Persekutuan Gereja Indonesia pun harus merenung!), hal 249—"agar kita memperoleh ruang yang lebih lapang untuk hidup dalam dunia yang memang selalu bermasalah". Ini mirip dengan pendapat teolog besar Katolik, Karl Rahner, yang mengatakan, "Kita mesti belajar untuk menerima hal tidak terpahamkannya penderitaan sebagai bagian dari tidak terpahamkannya Allah sendiri" (hal 235).
Seperti Nietzsche
Seorang putra Aceh, Teuku Kemal Fasya, yang kehilangan keluarga dekatnya pada malam tsunami 26 Desember 2004 itu, ikut mengguratkan teologinya tentang bencana. Dan teologinya muncul perlahan, lahir dari puing-puing yang ia bereskan di Aceh. Ada nada optimisme saat ia sendiri ikut meringankan penderitaan orang-orang di kampung halamannya. Ia menemukan kemanusiaannya saat menolong sesamanya.
Walau, di hadapan itu semua, saat merenung, ia memanggil nama Nietzsche, sambil bertanya, "Apakah Tuhan itu ada? Jika ya, bagaimana Tuhan mengambil wujudnya dalam eksistensi kemanusiaan kita?" Nietzsche memang mengambil kesimpulan bahwa Tuhan telah mati. Namun, putra Aceh ini menarik makna yang lain dari Nietzsche.
Bagi Teuku Fasya, takdir adalah saya, dan dengan demikian saya harus menemukan makna atas bencana ini semua. Manusia harus menanggung dan menatap hidup di dunia ini dengan apa adanya. Fasya pun teringat ayat-ayat Al Quran Surat At-Tiin (hal 83), "Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya (sempurna)".
Jadi, sang manusia "Sempurna" tadi harus menebus deritanya sendiri. Dan, hanya orang yang tak mampu mengatasi dirinya sendirilah yang akan dikoyak-koyak penyesalan tak berdaya. Teuku Fasya dalam tulisannya ini agak ragu untuk sepenuhnya menjadi Nietzsche, makanya ia pun mengutip penyair Lebanon, Mahmoud Darwish, penulis novel Memory of Forgetfullness. Di tengah bencana perang, Darwish bertutur, "di musim gugur, kesunyian berbicara". Ia tidak manja, bahkan di situlah ia bertemu dengan moment of truth, yang harus dibicarakan kepada sesama.
Merenungkan itu semua, Teuku Fasya mengakhiri pergulatannya dengan mengutip Al Quran (QS Al Insyirah), "Sesungguhnya sesudah derita itu ada kemudahan. Maka, apabila kamu telah selesai (segala urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmu hendaknya semua harapan".
Jelaslah, tak ada satu kata sepakat mengenai bencana yang menimpa manusia. Rupanya yang nyata ialah manusia mengerahkan segala cerita dan perspektif untuk menanggung itu semua. Dan dalam buku ini bunga rampai ratapan dan goresan pikiran dicatat dengan sungguh baik.
Ratapan dan goresan tadi dicoba dikaitkan dengan Tuhan, dan berbagai komentar pun bermunculan. Yang mengejutkan kita bahwa komentar (baca: teologi) itu plural dan tidak bisa tegas, apalagi konklusif, menjawab pertanyaan manusia mengenai derita dan bencana. Terkait dengan hal tersebut, buku ini memberi tahu kita bahwa teologi adalah percakapan yang belum berakhir mengenai subyeknya sendiri, yaitu Theos (Tuhan).
Tampak juga di sini bahwa ketika Tuhan dipercakapkan di hadapan bencana, ternyata manusia bisa tertolong. Setidaknya untuk tetap berdoa, untuk menerima, untuk menanggung, dan untuk berharap.
Martin Lukito Sinaga Pendeta di Gereja Kristen Protestan Simalungun Simalungun dan Kini Bekerja pada Lembaga Oikoumene di Geneva, Swiss

08 April 2012

Dalam Jumat yang Agung



by Jenifer Astin S. Ladja on Saturday, April 7, 2012 at 11:43am ·

Dengan nafas terengah-engah dan jantung yang berdegup kencang aku mencoba terus berlari dan berlari menyusuri jalan-jalan kota. Mengejar sebuah peristiwa yang tak asing dan sekaligus juga tak lazim. Kota yang biasanya padat riuh karena minggu paskah, kini lengang.

Aku terus mengejar kerumunan orang-orang yang sudah mulai nampak. Meski dengan kaki yang sudah terluka.

Seseorang akan disalib! Ini memang bukan hal yang baru, tapi entah mengapa kali ini rasanya ada yang berbeda dari penyaliban yang biasanya. Aku mengenalnya, memang tidak pernah bercakap secara langsung, tapi aku selalu melihatnya.

Aku berada di bukit ketika Ia mengajarkan orang-orang tentang Kerajaan Sorga. Bahkan, Aku menikmati roti dan ikan yang Ia bagikan bagi kami, juga saat ia melakukan mukjizat-mukjizat.

Di pasar, banyak orang Yahudi berbisik bahwa “Ia adalah Mesias” yang akan membawa orang Israel pada kemerdekaan. Ia adalah Mesias yang telah dinantikan.


Tak lama berselang aku mendengar berita bahwa para tentara Romawi akan menangkapnya karena ia akan membahayakan posisi kaisar dan ia melakukan perlawanan kepada Kaisar dengan menyebut dirinya mesias. Akhirnya, hari ini terjadi.


Seluruh kota hening. Masih nampak telapak-telapak kaki kuda tentara romawi. Dan cucuran darah yang merah amis dan pilu. Hampir pukul 12 siang, namun langit sama sekali tak secerah yang seharusnya. Melainkan Gelap! Kelam!

.........

Itu dia! Aku telah melihatnya dari kejauhan dan mencoba semakin dekat melewati kerumunan orang-orang. Aku melihat seorang perempuan tua menangis di sana. Terluka! Di dekat kaki salibnya. Merana, tak berdaya. Ingin merontah, tapi tak mampu, hanya bisa menangis dan menangis tiada henti.


Luka-luka pada sekujur tubuhnya dan tangan serta kaki yang terpaku sungguh memilukan! Aku mengenalnya sebagai orang yang baik. Seorang di sampingku berbisik, muridnya menyerahkan dia kepada tentara Romawi dengan 30 keping perak.


Tapi... Mengapa orang ini? Mengapa ia nampak begitu pasrah? Mengapa ia membiarkan dirinya dicerca? Mengapa ia tak menunjukkan kekuatannya? Kekuatan yang sama ketika ia menyembuhkan banyak orang dan ketika ia melakukan banyak mukjizat.

Di mana? Dimana keberaniannya ketika ia berdebat dengan orang farisi dan ahli taurat? Di mana nyalinya ketika ia membela ketidakadilan yang terjadi di halaman bait Allah yang berubah jadi pasar? Di mana, di mana ketegasannya ketika harus berhadapan dengan orang-orang yang membawa perempuan yang berzinah kepadanya?



Mengapa salib itu membuat ia diam..tak berdaya.. dan memalukan?

Langit makin gelap! Golgota mencekam! Dan hati bergolak! Apa sebenarnya salib itu baginya?

------

Pada salib itu, aku melihat; Diskriminasi, aku melihat Segala bentuk ketidakadilan, aku melihat Marjinalisasi, Kekerasan, Penindasan dan segala penderitaan manusia.

Apakah ia membiarkan dirinya memikul semua itu? Ya, bersamanya ia menyalibkan segala bentuk kejahatan dan dosa.

Rupanya, ia tidak selemah seperti yang kukira pada awalnya. Kekuatannya yang sesungguhnya ia nampakkan dalam perjuangan yang hening untuk mengangkat dan mengembalikan harkat dan martabat manusia.


Salib itu merobohkan segala jarak; antara yang transenden dan imanen, antara yang ilahi dan manusiawi. Antara yang kaya dan yang miskin, antara yang lemah dan yang kuat, antara budak dan orang merdeka.

Salib merobohkan segala jarak dan keangkuhan!!


Melalui salib, ia memberi dirinya demi martabat kemanusiaan.



Jenifer,
6/7 April 2012

22 Maret 2012

Estetika Wajah Kemanusiaan Tana Poso


oleh Ayser Tandapai

Menyambut penghargaan kepada Lian Gogali (Coexist Prize 2012) di New York City, USA; dan Jacky Manuputty (2011 and 2012 Peacemaker in Action Award dari Tanenbaum Center ) juga di New York City USA).

Menjelajah panorama Tana Poso, tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa di sini dapat disaksikan Estetika Sang Pencipta. Atau bila boleh meminjam istilah dari kehidupan di Padang Pasir Timur Tengah, Tana Poso adalah Oase yang tidak kering akan interpretasi keindahan dan keagungan Pencipta. Bagi orang Poso atau yang pernah ke Poso, dengan telenta naluri estetik yang berbeda, mungkin kita akan sepakat mengatakan bahwa Danau Poso membawa pesan akan pesona keindahan Sang Pencipta yang amat mengagumkan.
Syair Lagu di bawah ini adalah mewakili ekspresi estetika lukisan manusia Poso pada alamnya.
 
Poso Tana anu maramba mpodago 
Beda kukalingani mau kulawamo
Peolekamo ripuse ntana mpodago
Nja’umo ranonya anu lanto-lanto
Makilaya kojo
Ewa pota’a pembayo
Njaumo yaku risambote ndano
Poso kutanondo
 Terjemahan:
Poso, Tanah yang amat mempesona,
Yang tidak akan kulupakan sekalipun jauh.
Lihatlah keindahan lembahnya,
Tampak danaunya yang seakan terapung

Sungguh memancarkan keagungan
seperti cermain memantulkan bayangan
Di seberang danau saya tertegun
Poso saya dambakan

Lirik syair, dalam sastra Pamona disebut kayori, ini adalah gubahan Leonard Badjadji sekitar tahun 1950an yang iramanya disadur dari lagu Lapaloma Amerika Latin.

Upaya menghadirkan sebuah perspektif Estetika Wajah Kemanusiaan hanyalah rangkaian kata terbatas yang tersusun jadi kalimat dalam paragraf dari lirik lagu di atas. Artinya bahwa secara sadar refleksi ini masih jauh dari pikiran merepresentasi pembacaan teks secara utuh. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa tulisan ini berada dalam bingkai yang memuat lukisan sederhana tiga dimensi berdasarkan perpaduan warna-warni yang kiranya dapat membiaskan estetika yang dimaksud. Pada sisi yang memancarkan keindahan alam, goresan warna dimulai berdasarkan ekspresi penjiwaan pada syair :

Poso Tana anu maramba mpodago
Beda kukalingani mau kulawamo
Peolekamo riwingke ntana mpodago
Nja’umo ranonya anu lanto-lanto
Tana Poso yang amat mempesona,
saya tidak akan melupakan walaupun jauh.
Lihatlah keindahan sekeliling lembah,
tampak danaunya seakan terapung.

Dua baris syair (kayori) ini merefleksikan kekaguman batin pada pesona keindahan alam Tana Poso yang menjadi kenangan mendalam. Demikian danaunya yang berada di dataran ketinggian dilukiskan seperti terapung-apung dan dari kejauhan terlihat airnya menyentuh dedaunan pada pohon-pohon yang tumbuh dilembah sehingga melengkapi keindahan itu.

Makilaya kojo
Ewa pota’a pembayo

sungguh memancarkan keagungan,
seperti cermin yang memantulkan bayangan.

Pada bagian Syair ini secara tidak langsung mengekspresikan kesadaran religiousitas. Pilihan kata makilaya (berkilau) dalam syair ini dapat dikatakan sebagai refleksi keyakinan bahwa keagungan itu sebagai pancaran Cahaya Ilahi. Sebenarnya kata makilaya hanya dipakai terbatas dalam litani pemujaan pada Ilahi dalam kaitannya dengan alam (bahasa Pamona-Poso: molamoa). Terutama kepercayaan pada benda-benda langit yang memancarkan cahaya pada malam dan dianggap memiliki pengaruh terhadap sistem pertanian. Pesan yang ingin disampaikan bahwa keindahan tersebut adalah pancaran kemulian Sang Pencipta sebagai refleksi dari pantulan-pantulan cahaya yang muncul dari permukaan air Danau Poso. Inilah lukisan batin atas kekaguman pada pesona keindahan sebagai pancaran keagungan Sang Pencipta.

Njaumo yaku risambote ndano
Poso kutanondo

Di seberang danau saya tertegun
Poso saya rindukan/dambakan.

Syair diakhiri dengan ekspresi emosional sesorang yang merasa kesunyian, sebagaimana dikatakannya: di seberang danau saya berada. Namun perasaan tersebut menemukan jawabannya melalui kemilau benda-benda langit di malam hari sebagai keagungan Ilahi. Di sinilah ekspresi pemulihan jiwa diungkapkan pada akhir syair Poso yang saya rindukan/dambakan.

Ketiga dimensi di atas memperlihatkan aura emosional kekaguman pada pesona keindahan di mana orang Poso memahami alam tempat mereka hidup yang secara esensial dilukiskan sebagai pancaran Keagungan Sang Pencipta. Inilah lukisan jiwa manusia Tana Poso dalam ikatan batin dengan konteks kehidupan di kawasan Danau Poso.

Bila di bagian awal refleksi ini menyajikan penggalian pemaknaan hidup dari latar belakang kekuatan panorama alam melalui syair (sastra Pamona menyebutnya kayori), sebenarnya bermaksud menyajikan jarak pandang antara kehidupan yang dibayangkan dengan realitas yang terjadi di penghujung pergantian ke abad 21. Estetika alam di Tana Poso pudar oleh bencana kemanusiaan yang disebabkan oleh sentuhan kasar tangan-tangan manusia itu sendiri. Danau Poso dari hulu terus ke hilir yang mengalirkan air bening berubah warna merah bercampur hitam, berbau amis. Amat mengenaskan!

Kenyataan memilukan itu semakin melukai batin justru karena menyentuh substansi religiousitas umat. Apakah benar fungsi-fungsi agama adalah mencari pembenaran Sang Pencipta untuk saling membinasakan sesama ciptaan. Di sini substansi agama di gugat untuk menjawab pertanyaan Tuhan, apa AgamaMu? Dan pertenyaan inilah yang menjiwai kehadiran kita semua dalam berbagai kerja-kerja kemanusiaan untuk meretas prasangka atas laim-klaim kebenaran tunggal yang menyebabkan Air Danau yang mengaliri Lembah Poso menjadi keruh.

Peristiwa ini menggugan nurani untuk menggambil bagian dalam proses melukis kembali wajah kemanusiaan yang pudar tersebut. Teman kita, Lian Gogali, salah seorang yang memenuhi panggilan nurani kemanusiaannya untuk bersama-sama membuat lukisan wajah religiousitas kemanusiaan yang diharapkan akan memancarkan kembali pesona keindahan Keagungan Sang Pencipta. Panggilan kemanusiaan Lian Gogali ingin menghadirkan goresan kedamaian hidup, ibarat pelangi yang akan membiaskan warna-warni pesona keindahan sehabis mendung dan hujan yang akan melengkapi cakrawala kehidupan damai di Tana Poso.

Selamat buat Bung Jacky, serta teman-teman Memasuki Hari Nyepi, kesunyian batin kira menjadi media untuk untuk memperkuat naluri kemanusiaan kita.

Salam Persaudaraan
Asyer Tandapai.

20 Februari 2012

Al-Amin

Oleh: Fredrik Y. A. Doeka*


Korupsi Berjamaah

Akhir-akhir ini korupsi berjamaah yang melibatkan para politisi, birokrat pemerintahan dan tokoh-tokoh agama terlihat secara kasat mata. Untuk yang terakhir ini, konon khabarnya keberangkatan sejumlah pendeta GMIT yang bertugas di Kota Kupang dan sekitarnya ke Jerusalem dalam kelompok terbang I dengan tiket ziarah yang diberikan oleh Walikota Kupang. Sementara itu, konon khabar pula, kelompok terbang II sedang siap-siap untuk berangkat dengan sponsor yang sama. Tentu pemberian semacam ini beraroma sangat politis menjelang PILKADA pada 1 Mei 2012.

Renungan penting kita dari kasus di atas ialah mengapa korupsi yang sejatinya membeberkan akar dari segala kejahatan (the root of all evils) masih terus menyebar di Indonesia dan bahkan telah membakar semangat hidup kalangan rohaniawan kita?

Mari Belajar dari Nabi

Qadi ‘Iyad ibn Musa (m. 1149), seorang ahli teologi yang sangat radikal, mengungkapkan perasaan kagumnya terhadap Muhammad dalam karyanya Kitab ash-Shifa’ fi Ta’rif Huquq al-Mushtafa: “Allah telah meninggikan derajad nabi-Nya dan memberinya kebajikan-kebajikan, sifat-sifat terpuji dan hak-hak istimewa tertentu. ... Dalam kitab-Nya Allah telah secara jelas dan secara terbuka memeragakan peringkatnya yang tinggi dan memujinya karena mutu sifat dan perilakunya yang mulia. ...” (Annemarie Schimmel, And Muhammad is His Messanger 1985:46).

Dalam karya agung Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin buku XX, di sana digambarkan akhlak mulia nabi yang sangat mengendalikan diri, adil, pemurah, sederhana dan jujur. Dia juga tidak pernah menyentuh tangan dari perempuan yang bukan isterinya, apalagi melakukan hubungan seksual dengan wanita yang tidak dinikahinya secara hukum. ... Yang menarik ialah kesaksian ‘A’isha (m. 678), salah satu istri nabi, bahwa Muhammad sangat menghemat kata-kata, dan setiap kata yang keluar dari mulutnya bernas. Sekalipun demikian nabi juga memiliki sense of humor yang tinggi. Suatu ketika seorang wanita tua bertubuh kurus dan ceking datang kepada nabi dan bertanya: “apakah wanita seperti saya dapat masuk surga?” Spontan nabi menjawab: “Tidak! Tidak ada wanita tua di surga”. Wanita itu menjadi sedih. Melihat kesedihannya, nabi dengan senyum berkata, mereka semua akan diubah. Sebab di surga hanya akan ada penghuni berusia muda”. (L. Zolondek, Book XX of Al-Ghazali’s Ihya ‘Ulumuddin 1963:23-24).

Jalaluddin al-Rumi (m. 1273) dalam karyanya, Matsnawi, menguraikan refleksinya tentang Muhammad. Dikisahkan bahwa seorang kafir mengunjungi nabi dan, sebagaimana adat orang-orang kafir, yakni makan dengan tujuh “perut”. Setelah mengenyangkan perutnya dia berbaring di ruang tamu. Di sana dia mengotori karpet lenan dan meninggalkan ruangan itu dalam keadaan kotor. Ia menyelinap keluar sebelum fajar menyingsing. Akan tetapi dia harus kembali untuk mencari jimatnya yang ketinggalan di ruangan itu. Lalu ia menemukan nabi sedang mencuci karpet lenan yang ia kotori semalam dengan tangan nabi sendiri. Tentu saja sang kafir sangat malu dan kemudian menyatakan masuk Islam oleh karena kerendahan dan kemurahan hari sang nabi (Annemarie Schimmel, And Muhammad is His Messanger 1985:47).

Hidup sangat sederhana adalah ‘pakaian’ yang nabi dan keluarganya kenakan setiap hari. Suatu hari ‘Umar ibn al-Khattab (m. 644), khalifah II, meneteskan air mata ketika menyaksikan rumah tangga nabi yang sangat menyedihkan. Lalu nabi bertanya, “mengapa kamu mengeluarkan air mata?” Kemudian ‘Umar menjawab dengan terus terang. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Khores dan Kaisar, para penguasa Persia dan Bizantium, hidup dalam kemewahan sementara nabi Allah hampir kelaparan dalam kemiskinannya. “Mereka memiliki dunia ini, dan kita memiliki akhirat”, sahut nabi menenangkan hati sahabatnya itu (Annemarie Schimmel, And Muhammad is His Messanger 1985:48).

Masduri, peneliti di Pusat Kajian Filsafat dan Keislaman Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya, menyimpulkan akhlak mulia nabi dalam empat karakter utama, yaitu jujur (sidik), terpercaya (amanah), menyampaikan (tablig), dan cerdas (fatanah). Selanjutnya ia menekankan, bahwa kejujuran adalah karakter nabi yang paling dominan dan menjadi kunci kesuksesan Muhammad dalam memimpin negara (Sinar Harapan, 8/2/2012).

Akhlak mulia makin mendorong Muhammad untuk berperan sebagai pemimpin yang sungguh-sungguh menolong kaum Muhajirun dan Ansar di Medina. Dua kaum ini, yang sebenarnya termarginalisasi di tengah-tengah pengaruh dua kerajaan besar: Bizantium dan Persia, bukanlah penduduk yang tidak tahu-menahu tentang kekuasaan dan struktur kekuasaan koruptif kedua bangsa itu. Mereka juga tahu kegelimangan harta kekayaan dua kerajaan tetangga itu dan kemungkinan besar tergoda juga. Hal-hal semacam ini Muhammad tentu menyadarinya. Karena itu berkhlak mulia seperti digambarkan di atas menjadi pilihan sikap nabi yang tepat di dalam membina kaum Muslimin agar tidak terlibat dalam peluang-peluang koruptif abad ke-7.

Hari ini, Indonesia sangat membutuhkan akhlak mulia nabi sebagai “obat” untuk menyembuhkan orang dari penyakit korupsi. “Obat” ini bukan hanya berguna bagi kaum Muslimin, tetapi juga bagi orang-orang Kristen di republik ini. Memiliki akhlak mulia nabi akan menobatkan orang dari perilaku korup kepada integritas diri yang tangguh. Pengaruh lain dari “obat” ini adalah orang menjadi sopan, hemat bicara, humoris, hidup sederhana, rendah hati, bertanggung jawab dan jujur. Bagi yang berakhlak demikian pasti tidak akan pernah mau terlibat dalam tindak korupsi, sekalipun diberi kesempatan tersebut.

Sejak kecil hingga dewasa Muhammad tidak pernah mau mengambil kesempatan tersebut dan karena itu ia diberi gelar al-amin (orang yang dapat dipercaya ) oleh orang-orang di sekitarnya. Maukah anda dan saya menjadi orang yang dapat dipercaya pula?


* Dosen Islamologi dan Teologi Agama-agama Fakultas Teologi UKAW – Kupang.