17 April 2012

Bencana di Indonesia Tuhan, Mbah Merapi, dan Nietzsche


Salam teman-teman, dalam getar gempa hari ini, saya kutipkan resensi yang dulu pernah terbit di PUSTAKALOKA Kompas atas buku TEOLOGI BENCANA suntingan Zakaria Ngelow. Cakupan buku ini cukup luas, karena melibatkan komunitas ekumenis dan lintas-agama. Sekadar berbagi keprihatinan dan harapan.. salam, martin

--- Pustakaloka-KOMPAS Sabtu, 16 Desember 2006/
Bencana di Indonesia Tuhan, Mbah Merapi, dan Nietzsche

Judul Buku: Teologi Bencana, Pergumulan Iman dalam Konteks Bencana Alam dan Bencana Sosial
Penyunting: Zakaria J Ngelow
Penerbit: Oase-Intim, Makassar, 2006
Tebal: 370 halaman
resensi oleh: Martin Lukito Sinaga
Adakah kata-kata yang tepat yang dapat menjelaskan rentetan bencana yang menimpa Nusantara kita ini? Dan, adakah penjelasan tersebut dapat meringankan beban orang-orang yang menanggung bencana tadi sehingga dengan itu hidup dapat terus dilanjutkan dan ratapan tidak sampai menyesakkan kita ke dalam pusaran duka yang menetap?
Buku ini mencoba menjawab berbagai persoalan di atas dan rupanya berhamburan pulalah jawaban atas soal bencana ini. Hal ini menjadi isyarat bahwa kita tak terlalu mampu mencerna bencana yang terjadi di tengah hidup kita sekalipun iman dikerahkan dan nalar direntangkan.
Buku ini memang bunga rampai renungan atas bencana, dan ia memakai jalan dari bawah: maksudnya bukan pertama-tama bencana dicerna dengan membaca teks filosofis Leibniz mengenai Teodice, tetapi renungan dimulai dengan meminta orang-orang yang melihat dan mengalami bencana itu sendiri yang menggoreskan perspektifnya.
Salah satu percobaan yang diajukan ialah dengan merekam ke dalam kanvas perjalanan pelukis Bali, Ni Ketut Ayu Sri Wardani, ke Aceh, pascatsunami. Hasil perenungannya ialah gambar di kover depan buku ini yang ia beri judul "Jadilah Kehendak-Mu"; potongan dari doa Yesus.
Tampak di situ air bah yang menabrak seseorang yang sedang bersimpuh berdoa, terbungkuk. Seluruh gambar dilukis dengan garis kasar berwarna putih, biru, abu-abu; dan di situ terguratlah kuasa yang menghilangkan segala kepastian—orang itu menunduk lantas melihat tangannya yang kosong, cermin nasib manusia. Namun, kedua tangannya tidak tertutup, tetapi terbuka berharap pada kekuatan baru, berharap pada kehidupan.
Karena judul lukisan tadi adalah potongan doa Yesus, momen lain dari tragedi Yesus—yaitu penyaliban—tampak membayang di sini. Di salib, Yesus menjerit putus asa, "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku." Dan tak ada jawaban, malah maut menunggu di ujung jalannya.
Yang menarik, karena jeritan itu adalah gema dari Mazmur 22, maka jeritan itu adalah sebentuk doa. Bercermin dari kanvas Ni Ketut dan dari momen penyaliban Yesus, maka dalam momen bencana manusia rupanya ditinggalkan, walau dalam doa. Namun, doa, bagaimanapun, selalu membuka kemungkinan-kemungkinan baru di hadapannya.
Dalam buku ini, religiositas lokal tampaknya mirip dengan kanvas perenungan Ni Ketut dalam cara dan teologi menghadapi bencana, "Mbah Merapi menakutkan, tetapi juga penuh cinta terhadap penduduk desa" (hal 254). Di sini dapat dikatakan juga bahwa Tuhan ambigu adanya, Ia dahsyat sekaligus memesona, mematikan sekaligus menghidupkan.
Orang-orang di Jawa, saat bencana menimpa—demikian analisis Gerrit Singgih seorang penulis buku ini—menghadapi bencana dengan menghayati kembali cerita-cerita nenek moyang mereka. Cerita itu adalah mengenai takdir yang akan mereka alami, tetapi justru dengan cerita sedemikian mereka bisa menghadapi (atau malah: melampaui) takdir yang kini menimpa hidup mereka.
Memang, takdir yang satu menderitakan, tetapi takdir yang lain menyembuhkan! (hal 261). Manusia rupanya ditinggalkan dalam rentetan takdir dan berkat, doa air mata dan doa sorak-sorai bergantian menjawab pertanyaan-pertanyaan di seputar bencana.
Kitab suci kontroversial
Karena para penulis buku ini adalah para teolog, tentu Kitab Suci pun diacu, Tuhan pun dicari. Dan tampaknya, Tuhan tidak berbicara dalam satu perspektif yang konsisten. Kalau dicatat pada kisah Penciptaan Alam Semesta (dalam Alkitab bab Kejadian 1), Tuhan menguasai dan membatasi yang "chaos" dengan menggesernya, lalu memberi tempat bagi kehidupan yang baik (hal 117).
Arah ciptaan ialah menuju damai sejahtera. Namun, sang "chaos" tadi tetap dapat secara liar menyergap ciptaan yang baik ini; dari pinggir-pinggir dunia ia menusuk, dan hal tadi menunjukkan bahwa Allah tidak berdaulat sepenuhnya atas kenyataan yang ada. Damai sejahtera ciptaan di mana Allah berdaulat sepenuhnya masih sebentuk harapan!
Dalam pada itu, situasi absen harus diterima (dan ini yang menohok hati saat melihat reruntuhan World Trade Center di New York tahun 2005; gedung dan lanskap arsitektur yang bakal mereka bangun di situ diberi tema "absen"). Dalam kisah Alkitab, kisah Ayub adalah saksi akan Tuhan yang absen, tetapi akan manusia yang berani beriman!
Terhadap bencana yang menimpa dirinya—Ayub adalah seorang yang dicatat dalam Kitab Suci sebagai yang paling saleh dan tak berdosa—ia mengambil kesimpulan yang mengagetkan, "dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga akan akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan" (Ayub 1:21).
Ayub mengungkapkan sebentuk resignasi sebab Tuhan ia bolehkan berbuat apa yang dipandang-Nya baik. Dan, ini setelah Ayub mengalami bencana yang melenyapkan semua anaknya dan segala miliknya dalam satu malam, dan terhadap itu ia pun masih berargumen melawan dirinya, "masakan manusia benar di hadapan Allah?" (Ayub 9:1).
Ayub terus menegaskan imannya, dan itu saja yang ia bisa lakukan, sementara dari Allah belum keluar penjelasan apa pun mengenai petaka yang melanda diri Ayub. Di tengah itu semua, Ayub pun tidak menuntut bukti dan penjelasan; dan teman-temannya yang mencoba mengaitkan bencana itu semua dengan dosa-dosa Ayub terpojok bisu sebab memang tidak ada setitik pun dosa Ayub. Yang ada, selain iman Ayub yang tak terpadamkan, juga harapannya, "harapan untuk semua orang yang hilang" (hal 179).
Jelaslah, tidak ada lagi kata mengenai hukuman Tuhan di sini. Dari kisah Ayub kita tiba pada kesimpulan bahwa bencana yang menimpa bukan pentas tempat hukuman ilahi dijalankan. Bencana malah menjadi pentas iman yang tak terpadamkan, sekalipun kebisuan ilahi tak tertembus.
Dengan demikian, yang perlu—demikian catat Yewangoe (Ketua Umum Persekutuan Gereja Indonesia pun harus merenung!), hal 249—"agar kita memperoleh ruang yang lebih lapang untuk hidup dalam dunia yang memang selalu bermasalah". Ini mirip dengan pendapat teolog besar Katolik, Karl Rahner, yang mengatakan, "Kita mesti belajar untuk menerima hal tidak terpahamkannya penderitaan sebagai bagian dari tidak terpahamkannya Allah sendiri" (hal 235).
Seperti Nietzsche
Seorang putra Aceh, Teuku Kemal Fasya, yang kehilangan keluarga dekatnya pada malam tsunami 26 Desember 2004 itu, ikut mengguratkan teologinya tentang bencana. Dan teologinya muncul perlahan, lahir dari puing-puing yang ia bereskan di Aceh. Ada nada optimisme saat ia sendiri ikut meringankan penderitaan orang-orang di kampung halamannya. Ia menemukan kemanusiaannya saat menolong sesamanya.
Walau, di hadapan itu semua, saat merenung, ia memanggil nama Nietzsche, sambil bertanya, "Apakah Tuhan itu ada? Jika ya, bagaimana Tuhan mengambil wujudnya dalam eksistensi kemanusiaan kita?" Nietzsche memang mengambil kesimpulan bahwa Tuhan telah mati. Namun, putra Aceh ini menarik makna yang lain dari Nietzsche.
Bagi Teuku Fasya, takdir adalah saya, dan dengan demikian saya harus menemukan makna atas bencana ini semua. Manusia harus menanggung dan menatap hidup di dunia ini dengan apa adanya. Fasya pun teringat ayat-ayat Al Quran Surat At-Tiin (hal 83), "Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya (sempurna)".
Jadi, sang manusia "Sempurna" tadi harus menebus deritanya sendiri. Dan, hanya orang yang tak mampu mengatasi dirinya sendirilah yang akan dikoyak-koyak penyesalan tak berdaya. Teuku Fasya dalam tulisannya ini agak ragu untuk sepenuhnya menjadi Nietzsche, makanya ia pun mengutip penyair Lebanon, Mahmoud Darwish, penulis novel Memory of Forgetfullness. Di tengah bencana perang, Darwish bertutur, "di musim gugur, kesunyian berbicara". Ia tidak manja, bahkan di situlah ia bertemu dengan moment of truth, yang harus dibicarakan kepada sesama.
Merenungkan itu semua, Teuku Fasya mengakhiri pergulatannya dengan mengutip Al Quran (QS Al Insyirah), "Sesungguhnya sesudah derita itu ada kemudahan. Maka, apabila kamu telah selesai (segala urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmu hendaknya semua harapan".
Jelaslah, tak ada satu kata sepakat mengenai bencana yang menimpa manusia. Rupanya yang nyata ialah manusia mengerahkan segala cerita dan perspektif untuk menanggung itu semua. Dan dalam buku ini bunga rampai ratapan dan goresan pikiran dicatat dengan sungguh baik.
Ratapan dan goresan tadi dicoba dikaitkan dengan Tuhan, dan berbagai komentar pun bermunculan. Yang mengejutkan kita bahwa komentar (baca: teologi) itu plural dan tidak bisa tegas, apalagi konklusif, menjawab pertanyaan manusia mengenai derita dan bencana. Terkait dengan hal tersebut, buku ini memberi tahu kita bahwa teologi adalah percakapan yang belum berakhir mengenai subyeknya sendiri, yaitu Theos (Tuhan).
Tampak juga di sini bahwa ketika Tuhan dipercakapkan di hadapan bencana, ternyata manusia bisa tertolong. Setidaknya untuk tetap berdoa, untuk menerima, untuk menanggung, dan untuk berharap.
Martin Lukito Sinaga Pendeta di Gereja Kristen Protestan Simalungun Simalungun dan Kini Bekerja pada Lembaga Oikoumene di Geneva, Swiss

08 April 2012

Dalam Jumat yang Agung



by Jenifer Astin S. Ladja on Saturday, April 7, 2012 at 11:43am ·

Dengan nafas terengah-engah dan jantung yang berdegup kencang aku mencoba terus berlari dan berlari menyusuri jalan-jalan kota. Mengejar sebuah peristiwa yang tak asing dan sekaligus juga tak lazim. Kota yang biasanya padat riuh karena minggu paskah, kini lengang.

Aku terus mengejar kerumunan orang-orang yang sudah mulai nampak. Meski dengan kaki yang sudah terluka.

Seseorang akan disalib! Ini memang bukan hal yang baru, tapi entah mengapa kali ini rasanya ada yang berbeda dari penyaliban yang biasanya. Aku mengenalnya, memang tidak pernah bercakap secara langsung, tapi aku selalu melihatnya.

Aku berada di bukit ketika Ia mengajarkan orang-orang tentang Kerajaan Sorga. Bahkan, Aku menikmati roti dan ikan yang Ia bagikan bagi kami, juga saat ia melakukan mukjizat-mukjizat.

Di pasar, banyak orang Yahudi berbisik bahwa “Ia adalah Mesias” yang akan membawa orang Israel pada kemerdekaan. Ia adalah Mesias yang telah dinantikan.


Tak lama berselang aku mendengar berita bahwa para tentara Romawi akan menangkapnya karena ia akan membahayakan posisi kaisar dan ia melakukan perlawanan kepada Kaisar dengan menyebut dirinya mesias. Akhirnya, hari ini terjadi.


Seluruh kota hening. Masih nampak telapak-telapak kaki kuda tentara romawi. Dan cucuran darah yang merah amis dan pilu. Hampir pukul 12 siang, namun langit sama sekali tak secerah yang seharusnya. Melainkan Gelap! Kelam!

.........

Itu dia! Aku telah melihatnya dari kejauhan dan mencoba semakin dekat melewati kerumunan orang-orang. Aku melihat seorang perempuan tua menangis di sana. Terluka! Di dekat kaki salibnya. Merana, tak berdaya. Ingin merontah, tapi tak mampu, hanya bisa menangis dan menangis tiada henti.


Luka-luka pada sekujur tubuhnya dan tangan serta kaki yang terpaku sungguh memilukan! Aku mengenalnya sebagai orang yang baik. Seorang di sampingku berbisik, muridnya menyerahkan dia kepada tentara Romawi dengan 30 keping perak.


Tapi... Mengapa orang ini? Mengapa ia nampak begitu pasrah? Mengapa ia membiarkan dirinya dicerca? Mengapa ia tak menunjukkan kekuatannya? Kekuatan yang sama ketika ia menyembuhkan banyak orang dan ketika ia melakukan banyak mukjizat.

Di mana? Dimana keberaniannya ketika ia berdebat dengan orang farisi dan ahli taurat? Di mana nyalinya ketika ia membela ketidakadilan yang terjadi di halaman bait Allah yang berubah jadi pasar? Di mana, di mana ketegasannya ketika harus berhadapan dengan orang-orang yang membawa perempuan yang berzinah kepadanya?



Mengapa salib itu membuat ia diam..tak berdaya.. dan memalukan?

Langit makin gelap! Golgota mencekam! Dan hati bergolak! Apa sebenarnya salib itu baginya?

------

Pada salib itu, aku melihat; Diskriminasi, aku melihat Segala bentuk ketidakadilan, aku melihat Marjinalisasi, Kekerasan, Penindasan dan segala penderitaan manusia.

Apakah ia membiarkan dirinya memikul semua itu? Ya, bersamanya ia menyalibkan segala bentuk kejahatan dan dosa.

Rupanya, ia tidak selemah seperti yang kukira pada awalnya. Kekuatannya yang sesungguhnya ia nampakkan dalam perjuangan yang hening untuk mengangkat dan mengembalikan harkat dan martabat manusia.


Salib itu merobohkan segala jarak; antara yang transenden dan imanen, antara yang ilahi dan manusiawi. Antara yang kaya dan yang miskin, antara yang lemah dan yang kuat, antara budak dan orang merdeka.

Salib merobohkan segala jarak dan keangkuhan!!


Melalui salib, ia memberi dirinya demi martabat kemanusiaan.



Jenifer,
6/7 April 2012

22 Maret 2012

Estetika Wajah Kemanusiaan Tana Poso


oleh Ayser Tandapai

Menyambut penghargaan kepada Lian Gogali (Coexist Prize 2012) di New York City, USA; dan Jacky Manuputty (2011 and 2012 Peacemaker in Action Award dari Tanenbaum Center ) juga di New York City USA).

Menjelajah panorama Tana Poso, tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa di sini dapat disaksikan Estetika Sang Pencipta. Atau bila boleh meminjam istilah dari kehidupan di Padang Pasir Timur Tengah, Tana Poso adalah Oase yang tidak kering akan interpretasi keindahan dan keagungan Pencipta. Bagi orang Poso atau yang pernah ke Poso, dengan telenta naluri estetik yang berbeda, mungkin kita akan sepakat mengatakan bahwa Danau Poso membawa pesan akan pesona keindahan Sang Pencipta yang amat mengagumkan.
Syair Lagu di bawah ini adalah mewakili ekspresi estetika lukisan manusia Poso pada alamnya.
 
Poso Tana anu maramba mpodago 
Beda kukalingani mau kulawamo
Peolekamo ripuse ntana mpodago
Nja’umo ranonya anu lanto-lanto
Makilaya kojo
Ewa pota’a pembayo
Njaumo yaku risambote ndano
Poso kutanondo
 Terjemahan:
Poso, Tanah yang amat mempesona,
Yang tidak akan kulupakan sekalipun jauh.
Lihatlah keindahan lembahnya,
Tampak danaunya yang seakan terapung

Sungguh memancarkan keagungan
seperti cermain memantulkan bayangan
Di seberang danau saya tertegun
Poso saya dambakan

Lirik syair, dalam sastra Pamona disebut kayori, ini adalah gubahan Leonard Badjadji sekitar tahun 1950an yang iramanya disadur dari lagu Lapaloma Amerika Latin.

Upaya menghadirkan sebuah perspektif Estetika Wajah Kemanusiaan hanyalah rangkaian kata terbatas yang tersusun jadi kalimat dalam paragraf dari lirik lagu di atas. Artinya bahwa secara sadar refleksi ini masih jauh dari pikiran merepresentasi pembacaan teks secara utuh. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa tulisan ini berada dalam bingkai yang memuat lukisan sederhana tiga dimensi berdasarkan perpaduan warna-warni yang kiranya dapat membiaskan estetika yang dimaksud. Pada sisi yang memancarkan keindahan alam, goresan warna dimulai berdasarkan ekspresi penjiwaan pada syair :

Poso Tana anu maramba mpodago
Beda kukalingani mau kulawamo
Peolekamo riwingke ntana mpodago
Nja’umo ranonya anu lanto-lanto
Tana Poso yang amat mempesona,
saya tidak akan melupakan walaupun jauh.
Lihatlah keindahan sekeliling lembah,
tampak danaunya seakan terapung.

Dua baris syair (kayori) ini merefleksikan kekaguman batin pada pesona keindahan alam Tana Poso yang menjadi kenangan mendalam. Demikian danaunya yang berada di dataran ketinggian dilukiskan seperti terapung-apung dan dari kejauhan terlihat airnya menyentuh dedaunan pada pohon-pohon yang tumbuh dilembah sehingga melengkapi keindahan itu.

Makilaya kojo
Ewa pota’a pembayo

sungguh memancarkan keagungan,
seperti cermin yang memantulkan bayangan.

Pada bagian Syair ini secara tidak langsung mengekspresikan kesadaran religiousitas. Pilihan kata makilaya (berkilau) dalam syair ini dapat dikatakan sebagai refleksi keyakinan bahwa keagungan itu sebagai pancaran Cahaya Ilahi. Sebenarnya kata makilaya hanya dipakai terbatas dalam litani pemujaan pada Ilahi dalam kaitannya dengan alam (bahasa Pamona-Poso: molamoa). Terutama kepercayaan pada benda-benda langit yang memancarkan cahaya pada malam dan dianggap memiliki pengaruh terhadap sistem pertanian. Pesan yang ingin disampaikan bahwa keindahan tersebut adalah pancaran kemulian Sang Pencipta sebagai refleksi dari pantulan-pantulan cahaya yang muncul dari permukaan air Danau Poso. Inilah lukisan batin atas kekaguman pada pesona keindahan sebagai pancaran keagungan Sang Pencipta.

Njaumo yaku risambote ndano
Poso kutanondo

Di seberang danau saya tertegun
Poso saya rindukan/dambakan.

Syair diakhiri dengan ekspresi emosional sesorang yang merasa kesunyian, sebagaimana dikatakannya: di seberang danau saya berada. Namun perasaan tersebut menemukan jawabannya melalui kemilau benda-benda langit di malam hari sebagai keagungan Ilahi. Di sinilah ekspresi pemulihan jiwa diungkapkan pada akhir syair Poso yang saya rindukan/dambakan.

Ketiga dimensi di atas memperlihatkan aura emosional kekaguman pada pesona keindahan di mana orang Poso memahami alam tempat mereka hidup yang secara esensial dilukiskan sebagai pancaran Keagungan Sang Pencipta. Inilah lukisan jiwa manusia Tana Poso dalam ikatan batin dengan konteks kehidupan di kawasan Danau Poso.

Bila di bagian awal refleksi ini menyajikan penggalian pemaknaan hidup dari latar belakang kekuatan panorama alam melalui syair (sastra Pamona menyebutnya kayori), sebenarnya bermaksud menyajikan jarak pandang antara kehidupan yang dibayangkan dengan realitas yang terjadi di penghujung pergantian ke abad 21. Estetika alam di Tana Poso pudar oleh bencana kemanusiaan yang disebabkan oleh sentuhan kasar tangan-tangan manusia itu sendiri. Danau Poso dari hulu terus ke hilir yang mengalirkan air bening berubah warna merah bercampur hitam, berbau amis. Amat mengenaskan!

Kenyataan memilukan itu semakin melukai batin justru karena menyentuh substansi religiousitas umat. Apakah benar fungsi-fungsi agama adalah mencari pembenaran Sang Pencipta untuk saling membinasakan sesama ciptaan. Di sini substansi agama di gugat untuk menjawab pertanyaan Tuhan, apa AgamaMu? Dan pertenyaan inilah yang menjiwai kehadiran kita semua dalam berbagai kerja-kerja kemanusiaan untuk meretas prasangka atas laim-klaim kebenaran tunggal yang menyebabkan Air Danau yang mengaliri Lembah Poso menjadi keruh.

Peristiwa ini menggugan nurani untuk menggambil bagian dalam proses melukis kembali wajah kemanusiaan yang pudar tersebut. Teman kita, Lian Gogali, salah seorang yang memenuhi panggilan nurani kemanusiaannya untuk bersama-sama membuat lukisan wajah religiousitas kemanusiaan yang diharapkan akan memancarkan kembali pesona keindahan Keagungan Sang Pencipta. Panggilan kemanusiaan Lian Gogali ingin menghadirkan goresan kedamaian hidup, ibarat pelangi yang akan membiaskan warna-warni pesona keindahan sehabis mendung dan hujan yang akan melengkapi cakrawala kehidupan damai di Tana Poso.

Selamat buat Bung Jacky, serta teman-teman Memasuki Hari Nyepi, kesunyian batin kira menjadi media untuk untuk memperkuat naluri kemanusiaan kita.

Salam Persaudaraan
Asyer Tandapai.

20 Februari 2012

Al-Amin

Oleh: Fredrik Y. A. Doeka*


Korupsi Berjamaah

Akhir-akhir ini korupsi berjamaah yang melibatkan para politisi, birokrat pemerintahan dan tokoh-tokoh agama terlihat secara kasat mata. Untuk yang terakhir ini, konon khabarnya keberangkatan sejumlah pendeta GMIT yang bertugas di Kota Kupang dan sekitarnya ke Jerusalem dalam kelompok terbang I dengan tiket ziarah yang diberikan oleh Walikota Kupang. Sementara itu, konon khabar pula, kelompok terbang II sedang siap-siap untuk berangkat dengan sponsor yang sama. Tentu pemberian semacam ini beraroma sangat politis menjelang PILKADA pada 1 Mei 2012.

Renungan penting kita dari kasus di atas ialah mengapa korupsi yang sejatinya membeberkan akar dari segala kejahatan (the root of all evils) masih terus menyebar di Indonesia dan bahkan telah membakar semangat hidup kalangan rohaniawan kita?

Mari Belajar dari Nabi

Qadi ‘Iyad ibn Musa (m. 1149), seorang ahli teologi yang sangat radikal, mengungkapkan perasaan kagumnya terhadap Muhammad dalam karyanya Kitab ash-Shifa’ fi Ta’rif Huquq al-Mushtafa: “Allah telah meninggikan derajad nabi-Nya dan memberinya kebajikan-kebajikan, sifat-sifat terpuji dan hak-hak istimewa tertentu. ... Dalam kitab-Nya Allah telah secara jelas dan secara terbuka memeragakan peringkatnya yang tinggi dan memujinya karena mutu sifat dan perilakunya yang mulia. ...” (Annemarie Schimmel, And Muhammad is His Messanger 1985:46).

Dalam karya agung Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin buku XX, di sana digambarkan akhlak mulia nabi yang sangat mengendalikan diri, adil, pemurah, sederhana dan jujur. Dia juga tidak pernah menyentuh tangan dari perempuan yang bukan isterinya, apalagi melakukan hubungan seksual dengan wanita yang tidak dinikahinya secara hukum. ... Yang menarik ialah kesaksian ‘A’isha (m. 678), salah satu istri nabi, bahwa Muhammad sangat menghemat kata-kata, dan setiap kata yang keluar dari mulutnya bernas. Sekalipun demikian nabi juga memiliki sense of humor yang tinggi. Suatu ketika seorang wanita tua bertubuh kurus dan ceking datang kepada nabi dan bertanya: “apakah wanita seperti saya dapat masuk surga?” Spontan nabi menjawab: “Tidak! Tidak ada wanita tua di surga”. Wanita itu menjadi sedih. Melihat kesedihannya, nabi dengan senyum berkata, mereka semua akan diubah. Sebab di surga hanya akan ada penghuni berusia muda”. (L. Zolondek, Book XX of Al-Ghazali’s Ihya ‘Ulumuddin 1963:23-24).

Jalaluddin al-Rumi (m. 1273) dalam karyanya, Matsnawi, menguraikan refleksinya tentang Muhammad. Dikisahkan bahwa seorang kafir mengunjungi nabi dan, sebagaimana adat orang-orang kafir, yakni makan dengan tujuh “perut”. Setelah mengenyangkan perutnya dia berbaring di ruang tamu. Di sana dia mengotori karpet lenan dan meninggalkan ruangan itu dalam keadaan kotor. Ia menyelinap keluar sebelum fajar menyingsing. Akan tetapi dia harus kembali untuk mencari jimatnya yang ketinggalan di ruangan itu. Lalu ia menemukan nabi sedang mencuci karpet lenan yang ia kotori semalam dengan tangan nabi sendiri. Tentu saja sang kafir sangat malu dan kemudian menyatakan masuk Islam oleh karena kerendahan dan kemurahan hari sang nabi (Annemarie Schimmel, And Muhammad is His Messanger 1985:47).

Hidup sangat sederhana adalah ‘pakaian’ yang nabi dan keluarganya kenakan setiap hari. Suatu hari ‘Umar ibn al-Khattab (m. 644), khalifah II, meneteskan air mata ketika menyaksikan rumah tangga nabi yang sangat menyedihkan. Lalu nabi bertanya, “mengapa kamu mengeluarkan air mata?” Kemudian ‘Umar menjawab dengan terus terang. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Khores dan Kaisar, para penguasa Persia dan Bizantium, hidup dalam kemewahan sementara nabi Allah hampir kelaparan dalam kemiskinannya. “Mereka memiliki dunia ini, dan kita memiliki akhirat”, sahut nabi menenangkan hati sahabatnya itu (Annemarie Schimmel, And Muhammad is His Messanger 1985:48).

Masduri, peneliti di Pusat Kajian Filsafat dan Keislaman Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya, menyimpulkan akhlak mulia nabi dalam empat karakter utama, yaitu jujur (sidik), terpercaya (amanah), menyampaikan (tablig), dan cerdas (fatanah). Selanjutnya ia menekankan, bahwa kejujuran adalah karakter nabi yang paling dominan dan menjadi kunci kesuksesan Muhammad dalam memimpin negara (Sinar Harapan, 8/2/2012).

Akhlak mulia makin mendorong Muhammad untuk berperan sebagai pemimpin yang sungguh-sungguh menolong kaum Muhajirun dan Ansar di Medina. Dua kaum ini, yang sebenarnya termarginalisasi di tengah-tengah pengaruh dua kerajaan besar: Bizantium dan Persia, bukanlah penduduk yang tidak tahu-menahu tentang kekuasaan dan struktur kekuasaan koruptif kedua bangsa itu. Mereka juga tahu kegelimangan harta kekayaan dua kerajaan tetangga itu dan kemungkinan besar tergoda juga. Hal-hal semacam ini Muhammad tentu menyadarinya. Karena itu berkhlak mulia seperti digambarkan di atas menjadi pilihan sikap nabi yang tepat di dalam membina kaum Muslimin agar tidak terlibat dalam peluang-peluang koruptif abad ke-7.

Hari ini, Indonesia sangat membutuhkan akhlak mulia nabi sebagai “obat” untuk menyembuhkan orang dari penyakit korupsi. “Obat” ini bukan hanya berguna bagi kaum Muslimin, tetapi juga bagi orang-orang Kristen di republik ini. Memiliki akhlak mulia nabi akan menobatkan orang dari perilaku korup kepada integritas diri yang tangguh. Pengaruh lain dari “obat” ini adalah orang menjadi sopan, hemat bicara, humoris, hidup sederhana, rendah hati, bertanggung jawab dan jujur. Bagi yang berakhlak demikian pasti tidak akan pernah mau terlibat dalam tindak korupsi, sekalipun diberi kesempatan tersebut.

Sejak kecil hingga dewasa Muhammad tidak pernah mau mengambil kesempatan tersebut dan karena itu ia diberi gelar al-amin (orang yang dapat dipercaya ) oleh orang-orang di sekitarnya. Maukah anda dan saya menjadi orang yang dapat dipercaya pula?


* Dosen Islamologi dan Teologi Agama-agama Fakultas Teologi UKAW – Kupang.

07 Januari 2012

Seminar Gereja dan Politik, 13 Feb 2012

Senin, 13 Februari 2012 Tempat : Aula Hotel Grand Wisata, Jl. St. Hasanuddin 36-38 Makassar Topik: (1) Perkembangan politik Indonesia dewasa ini dari perspektif demokrasi oleh Prof.Dr. Franz Magnis Suseno, (mahaguru STF Drijarkara): (2) Mengenal gerakan politik Islam di Indonesia, oleh Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, MA. [Mahaguru UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ), Ketua Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)]. (3) Panggilan Gereja/Umat Kristen di bidang politik, oleh Matius Ho, MS. [Direktur Institut Leimena] dan Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe [Ketua Umum PGI]. [Selengkapnya klik www.oaseintim.org]

15 Desember 2011

Surat akhir tahun


Marie-Claire Barth- Frommel

Surat tahunan kepada sahabat dan kenalan
pada masa Natal 2011 dan Tahun Baru 2012


Salam sejahtera dalam Tuhan kita,

Hujan turun bergerimis, pohon-pohonan sudah telanjang, hanya bermacam cemara besar yang tetap hijau tua, asap kecil bagaikan bulu burung naik dari cerobong di atas atap basah, hawa dingin, tetapi belum di bawah 0° sehingga geranyum di depan jendela masih merah. Lilin menyala di depan saya di meja tulis , tanda masa Adven, dan hati mencari sahabat yang jauh.

1.Bagi saya tahun yang hampir silam ini ditandai oleh gelar „doctor theologia“. Pertama-tama Ati Hildebrand-Rambe menulis tentang upacara pada kematian orang di Sumba dan Mamasa, menganalisa makna dan peran dalam hidup orang yang berduka dan dalam masyarakat. Ia memikirkan arti kematian baik dalam agama lokal maupun dalam Alkitab dan melihat bahwa ayat seperti „Ishak dikeumpulkan pada leluhurnya“ (Kej 29:33) dan „di rumah BapaKu banyak tempat tinggal“ searah dengan harapan duduk bersama leluhur di rumah Pencipta . Dikembangkan pastoral baru yang menghormati agama lokal tetapi melihat dengan jelas bahwa dalam Injil semua anak Allah setingkat-sederajat dan oang yang masih hidup di dunia ini tidak tergantung pada berkat (atau kutuk) leluhur, tetapi pada Allah sajalah. Disertasi ini akan diterbitkan dalam bentuk dan bahasa Indonesia dan cukup penting! Disertasi kedua ditulis oleh Septemmy Lakawa di Boston: ia menganalisa akibat kerusuhan atas kehidupan penduduk di suatu desa di Halmahera Utara dan mencatat bahwa istilah inti iman kita mendapat warna baru: seorang martir adalah orang yang seperti Yesus sendiri menderita karena iman dan kini mengajak kita untuk mengikuti Jesus dan mencari perdamaian dan hidup dengan Tuhan, Salib tidak lagi mengingat akan pengampunan saja, melainkan akan penderitaan Yesus dan penderitaan sendiri yang bermuarah dalam kebangkitan dan mengajak kita memelihara hidup bersama... Disertasi ini amat kaya dan iapun akan diindonesiakan. Disertasi ketiga ditulis di Kampen oleh Agustinus Setiawidi yang melihat di mana ahli Perjanjan Lama telah berpikir secara kontekstual, Disertasi keempat dikerjakan oleh Yuberlian Padele di UKSW Salatiga dan berinti pada keadilan serta sumbangan yang dinberikan Agustina Lumentut, ketua sinode per. yang pertama di Indonesia, dalam perjuangan untuk keadilan itu. Akhirnya saya sendiri dikaruniakan doctor theologia honoris causa untuk karya sehidup di tengah gereja-gereja di Indonesia.; saya sangat heran menerima kehormatan ini dan merasa bahwa saya jauh lebih banyak belajar dari pada teman-teman dari memberikan sendiri; saya menjadi semacam penerjemah antara dua budaya. (Pidato di depan fakultas dengan judul „Persoalan toelogis yang kini dihadapi gereja-gereja protestan di Indonesia “ dapat diminta dan akan dikirim sebagai attachement mail). Saya berusaha menulis tafsiran kitab Ayub, tugas indah, sulit dan menantang dan maju pelan-pelan.

2. Dalam tahun yang silam arus perobahan dunia makin nyata: kelainan iklim: belum pernah kami menikmati musim rontok dengan bunga dan daun pohon kuning muda, mas tua dan merah di bahwa sinar matahari; kini akhirnya turun hujan grimis, para petani bersyukur, demikian juga penduduk gunung yang dapat mengharapkan touris yang main salju di liburan akhir tahun.
Krisis yang mulai di Amerika Serikat, kini sampai ke Eropa: dalam tahun 90an ekonomi berkembang, proyek riset dan pendididkan serta budaya dimulai, asuransi sosial diperluas, suasana terbuka; tetapi sekarang nyata bahwa Eropa hidup melebihi kemampuan, negara makin berutang, di mana-mana rencana baik dicoret, budget dikecilkan, orang dan lembaga harus menghemat. Rakyat kecil, yang tidak pernah memboros, paling terpukul. Situasi di Swis
masih lumayan, tetapi karena orang yang tadinya simpan uangnya dalam US dollar atau Euro kini pindah ke Franc Swis, maka uang itu naik harganya dengan akibat bahwa barang dan jasa yang diproduksi di Swis menajdi sangat mahal untuk negara tetangga dan ekspor berkurang. Perusahan melepaskan tenaga kerja dan /atau mentransfer sebagian produksi ke negara bergaji rendah; pengangguran bertambah dan orang gelisah. Prognose pun suram: kalau penduduk Eropa masih merupakan 20% penduduk dunia pada tahun 1950, diperkirakan bahwa 2050 masih tinggal 7% (karena jumlah orang tua bertambah dan anak berkurang); kalau tahun 1950 ekonomi Eropa masih merupakan 30% hasil di dunia, maka 1050 masih akan berjumlah 10% karena Cina, India, India dsb maju. Sebagai akibat krisis ini partai politik kanan menggunakan keresahan masyarakat untuk mengembangkan suatu nasionalisme sempit, yang mengagungkan masa lampau dan mempersalahkan “yang lain“ – globalisasi, imigrasi, Islam, dsb- sebagai ancaman nilai luhur. Mereka menutup diri pada perobahan dan menjanjikan keamanan yang takkan mungkin. Makin sulit mempertahankan „civil society“ yang terbuka, kreatip dan menghormati hak-hak asasi manusia. Namun kita harus tekun.

3. Berita keluarga: (omitted, zjn)

Saya mendoakan saudara sekalian dan mohon agar Tuhan menyertai dan memberkati uadara sekalian. Ia datang dalam bentuk seorang anak kecil dan mendampingi kita dalam kelemahan kita, iinlah kekuatan yang mendorong kita mengikuti jalanNya


Marie-Claire Barth- Frommel
e.mail < nenek@bluewin.ch

12 Desember 2011

Catatan kecil di minggu Adven ke-3


by Ati Hildebrandt Rambe
on Monday, December 12, 2011 at 4:07pm

"Weihnachten wird unterm Baum entschieden" terjemahan bebasnya: yang menentukan dalam perayaan natal adalah (hadiah-hadiah yang terletak) di bawah pohon. Begitu bunyi iklan salah satu mega store elektronik di Eropa Media Markt. Iklan ini menuai reaksi protes khusunya dari umat Kristen di Jerman yang anti terhadap komersialisasi perayaan-perayaan religius seperti hari Natal. Salah satu bentuk protes adalah dengan membentuk aksi di Facebook melalui grup „Weihnachten wird in der Krippe entschieden” (Natal di tentukan di palungan”) lihat: https://www.facebook.com/#!/events/100664083386195/ untuk menunjukkan esensi natal bukan di bawah pohon di mana hadiah natal terletak, melainkan di dalam palungan di tempat kelahiran sang Bayi Yesus sebagai Juruselamat dunia dan Raja damai.

Terlepas dari modus Media Markt yang selalu membuat sensasi atas slogan-slogan iklannya, misalnya “ich bin doch nicht blöd” (saya toh tidak bego), sebernarnya iklan ini tengah mengambarkan apa yang terjadi pada perayaan malam Natal (pada tanggal 24 malam) di kebanyakan keluarga di Jerman sini. Hadiah-hadiah natal sudah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya, bahkan minggu-minggu Adven yang seharusnya diisi dengan minggu penghayatan kedatangan (Adven), dilalui sebagai minggu-minggu stress mencari hadiah. Bagaimana tidak, di negara yang berlebihan (superfluous) seperti di Jerman ini, di mana hampir semua orang telah memiliki semua, tidak gampang untuk mencari hadiah yang dapat membuat si penerima hadiah bergembira di malam Natal. Apalagi tekanan superlatif membuat seseorang terdesak untuk membeli sesuatu yang “lebih baik dari” yang lain atau dari Natal yang lalu. Toh, kekecewaan sering terjadi! Salah satu jawaban atas pertanyan, apa yang anda lakukan dengan hadiah-hadiah natal yang anda dapatkan tetapi tidak perlukan adalah: “untung ada ebay!” (ebay: portal online shopping).

Komersialisasi perayaan-perayaan relijius bukan hanya terjadi pada hari Natal, tetapi intensitasnya terasa di hari natal karena tradisi saling memberi hadiah natal telah menjadi sebuah transaksi materi yang berfokus pada nilai nominal benda. Sehingga di sini yang utama adalah benda-benda apa yang ada “unterm Baum” (di bawah pohon natal) dan bukan interaksi relasional yang justru menjadi pesan utama Natal, yakni “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan AnakNya…(Yoh. 3: 16). Interaksi relasional antara Allah dan dunia serta manusia yang berdasar kasih adalah dasar tradisi memberi yang juga dasar tradisi Natal. Namun dalam kenyataannya, benda-benda mati memperoleh tempat yang lebih tinggi ketimbang relasi antar sesama manusia. Sehingga tidak jarang terjadi, benda-benda mati tersebut justru “menghancurkan” relasi antar sesama justru pada hari Natal. Banyak dari apa yang ada “unterm Baum” adalah benda-benda mati hasil penderitaan panjang bahkan pengorbanan hidup para oppressed women dan buruh anak di dunia ketiga, justru diglorifikasi pada malam Natal. Sangat ironis memang!

Yang menentukan pada hari Natal bukan apa yang ada di bawah pohon, melainkan yang ada di dalam palungan, yakni Hadiah dari Allah karena Ia mengasihi kita. Hadiah ini bukan benda mati melainkan seorang bayi manusia yang kelahiranNya mendamaikan relasi-relasi yang hancur: relasi antar sesama, relasi manusia dan alam serta relasi antara bumi dan langit.

Selamat menghayati minggu-minggu Adventus & mempersiapkan perayaan penerimaan Hadiah Allah, Kelahiran (Natal) Kristus. Gloria in excelsis Deo