20 Februari 2014

Pengantar Diskusi Buku





Aguswati Hildebrandt Rambe, Keterjalinan dalam Keterpisahan. Mengupaya Teologi Interkultural dari Kekayaan Simbol Ritus Kematian dan Kedukaan di Sumba dan Mamasa (Oase Intim, 2014)

Pergumulan yang diangkat di dalam buku ini pada awalnya lahir dari ruang kelas mata kuliah "Teologi Interkultural", ketika penulis mengajar di STT INTIM pada tahun 1999 - 2005. Kekayaan informasi tentang budaya-budaya dan agama-agama lokal yang diangkat oleh para mahasiswa/i, demikian halnya sejumlah studi kasus yang sangat menarik dan menantang berhubungan dengan perjumpaan iman Kristen dan agama-agama lokal, secara khusus tentang ritus - ritus kematian dan kedukaan, telah membuka mata penulis bukan hanya tentang kekayaan bahasa simbol agama-agama lokal melalui ritus, namun juga penulis disadarkan tentang kompleksitas yang dihadapi oleh gereja - gereja serta urgensi  memberi jawaban teologis atas sejumlah pertanyaan yang lahir dari perjumpaan tersebut.
Kesadaran yang lahir dari ruang kelas ini membuahkan keinginan dan motivasi untuk mengenal lebih jauh konteks berteologi di Indonesia, secara khusus di Indonesia bagian Timur, dengan cara melakukan perjalanan ke daerah-daerah seperti Mamasa (Nosu, Pana) dan Sumba Timur. Di dalam perjalanan ini, penulis menemukan secara ril kompleksitas persoalan yang berkepanjangan, yang dihadapi gereja dan umatnya
Sikap dan paradigma gereja dalam menghadapi persoalan pelik relasi agama-agama lokal dan iman Kristen (baca: ajaran gereja) adalah dengan menggunakan pola atau sikap memilah (selektif dualistik), mana elemen yang sesuai iman kristen dan mana yang bertentangan. Pola berpikir seperti ini telah lama menyejarah sebagai sikap utama gereja dan cenderung menjadi sikap satu-satunya dalam menghadapi rumitnya persoalan perjumpaan iman Kristen dan agama-agama lokal.  Dalam proses studi ini ditemukan bahwa sikap dan paradigma ini justru menjadi perangkap bagi gereja dan umatnya yang secara tidak sadar diarahkan untuk masuk ke kedalaman pusaran persoalan yang semakin rumit, sehingga gereja dan umatnya tidak dapat keluar dari rumitnya persoalan yang berkepanjangan. Salah satu akibat logis dari "sikap memilah" ini adalah ketegangan dan dilema identitas. Umat diperhadapkan dengan pilihan sulit berhubungan dengan identitas dirinya: entah setia pada leluhur atau setia pada iman Kristen. Alhasil, umat Kristen dituntun untuk beriman secara ganda yang terpilah dan justru di dalam situasi - situasi tertentu seperti menghadapi kematian dan kedukaan, umat terdesak untuk menentukan pilihan yang membebaninya.
Salah satu simpul dari studi ini menunjukkan bahwa paradigma selektif dualistik ini telah gagal menolong gereja dan umat dalam sejarah perjumpaannya dengan agama-agama lokal. Berangkat dari "kegagalan sejarah" tersebut, karya ini mencoba untuk menawarkan sikap dan paradigma yang konstruktif, yakni dengan tidak lagi bertanya: mana saja elemen budaya atau agama-agama lokal yang terartikulasi di dalam ritus-ritus kematian dan kedukaan, yang sesuai dengan iman Kristen dan mana saja yang bertentangan. Melainkan karya ini merumuskan pertanyaan konstruktif yang sederhana, yakni: Manfaat apa yang didapatkan oleh gereja dan umat Kristen di dalam perjumpaannya dengan agama-agama lokal. Atau bagaimana gereja melihat perjumpaan ini sebagai momen pembelajaran dan pengayaan bentuk-bentuk artikulasi pelayanan dan kehadirannya.
Berangkat dari pertanyaan konstruktif tersebut di atas, maka tulisan ini menyingkap (entdecken)  sebagai bagian dari proses berteologi bahwa bahasa simbol yang kaya yang terungkap melalui ritus - ritus kematian dan kedukaan masyarakat tradisional di Sumba dan Mamasa, tengah mengartikulasi sejumlah informasi penting tentang kebutuhan, pergumulan, kegelisahan, ketakutan umat yang tengah menghadapi dahsyatnya kuasa maut dan kematian. Di pihak lain, kekayaan bahasa simbol tersebut menjadi penanda bahwa ritus adalah mekanisme yang digunakan agama-agama lokal untuk menolong warganya menghadapi persoalan eksistensial seperti kematian. Pengalaman menghadapi dan mengalami dekatnya keterpisahan yang kekal oleh karena kematian terkadang tak dapat terbahasakan oleh ungkapan verbal, karena di sana bahasa verbal menjadi miskin. Oleh sebab itu, simbol menjadi alat bantu membahasakan dunia yang tak terbahasakan oleh ungkapan atau bahasa verbal.
Salah satu jawaban atas pertayaan konstruktif di atas tadi, sebagai manfaat yang tersingkap dari proses mendengar dan membaca bahasa simbol dalam ritus kematian adalah pemahaman akan kebutuhan dan kerinduan serta kegelisahan umat yang tengah menghadapi kematian dan berada di masa-masa duka. Berangkat dari hasil bacaan simbol-simbol ini, gereja tertolong untuk merancang dan merumuskan jawaban-jawaban teologis, demikian halnya merancang praksis pelayanan pendampingan yang membebaskan dan berpihak serta sesuai dengan kebutuhan umat. Dengan begitu, pedekatan konstruktif ini digunakan untuk keluar dari kondisi dilematis gereja yang berkepanjangan dan membebaskan umat dari sikap dilematis dan keterpaksaan untuk memilih antara kesetiaan kepada leluhur atau kesetiaan pada imannya.
Kedua wilayah studi ini (Mamasa dan Sumba) dimaksudkan sebagai "contoh kasus" semata dari realitas yang kompleks berhubungan dengan relasi agama Kristen dan agama -agama lokal di tempat - tempat lain di Indonesia. Dipahami pula dengan sungguh akan keterbatasan penulis sebagai orang yang bukan berasal dari kedua daerah ini, secara khusus berkaitan dengan bahasa daerah yang digunakan pada pemaparan ritus.
Diharapkan bahwa karya ini menjadi "provokasi" bagi pembacanya untuk terus menerus melahirkan dan merumuskan pertanyaan - pertayaan baru di dalam berteologi sebagai sebuah proses yang dinamis dan aktual.
Semoga terprovokasi!

Makassar, 8 Februari 2014
Aguswati Hildebrandt Rambe

10 Februari 2014

Sambutan atas buku KDK



Sambutan atas buku
Keterjalinan dalam Keterpisahan: Mengupaya Teologi Interkultural dari Kekayaan Simbol Ritus Kematian dan Kedukaan di Sumba dan Mamasa. (2014, 412 hlm). Disertasi teologi lintas budaya
Pdt. Dr. Aguswati Hildebrandt Rambe

Dalam usaha memahami budaya Yahudi masa Yesus, yang menguburkan orang mati di dalam lubang batu – dan bahkan adanya penemuan ossuaries (peti-peti jenazah) -- saya pernah memeriksa budaya penguburan beberapa budaya etnis di Indonesia. Orang Batak membuat sacrophagus (peti mati dari batu), demikian juga orang Minahasa yang “mendudukkan” orang matinya di dalam waruga. Orang Toraja menguburkan mayat di dalam gua atau di dalam kuburan yang dipahat di bukit batu. Orang Sumba memotong batu besar dan menariknya ke pekuburan untuk penutup kuburan.

 Aguswaty Hildebrandt Rambe, penulis buku ini membahas lebih dalam mengenai tradisi penguburan di kalangan orag Sumba dan orang Toraja Mamasa. Buku Keterjalinan dan Keterpisahan ini adalah sebuah karya teologi kontekstual di bidang lintas budaya, yang secara khusus membahas budaya kematian pada dua suku di Indonesia, Sumba dan Mamasa. Buku ini ditulis kembali untuk pembaca Indonesia dari naskah aslinya, suatu disertasi berbahasa Jerman.
Penerbitan ini menyambung penerbitan beberapa buku Oase sebelumnya, Teologi Bencana (2006), Jalinan Sejuta Ilalang (2012) dan Teologi Politik (2013). Sumbangan penting pokok buku ini bagi pengembangan teologi kontekstual di Indonesia dengan sendirinya jelas. Sejarah pekabaran Injil di Indonesia di kalangan suku-suku berlangsung tanpa dialog yang sehat dengan budaya tradisional masyarakat Indonesia. Kalangan zending secara umum menilai budaya tradisional secara negatif. Di beberapa tempat kalangan zending membedakan antara unsur-unsur ritus dan adat istiadat, antara yang bersifat keagamaan dan yang hanya merupakan aturan-aturan atau kebiasaan sosial. Semua yang ritus dilarang sebagai yang sesat atau kafir, sedangkan adat-istiadat dipilah antara yang positif sehingga boleh diteruskan dan yang negatif, jadi harus ditinggalkan. Terlepas dari larangan-larangan itu, orang Kristen dari berbagai suku tetap berusaha hidup dalam identitas sosial budayanya, sehingga sering membingungkan gereja. Pendekatan kalangan zending yang membedakan ritus dan adat dalam budaya tradisional kini mulai dipertanyakan, baik karena keterjalinan kedua aspek itu dalam budaya tradisional, maupun karena pendekatan zending tidak memberi penghargaan teologis terhadap budaya (dan agama) tradisional. Ritus kematian pada beberapa masyarakat tradisional terkait dengan ancestor worship (penyembahan leluhur) yang berkaitan dengan faham deification (pengilahian) leluhur, dan dengan reproduksi atau rekonfirmasi status sosial. Yang pertama menjadi alasan zending menolaknya, dan yang terakhir ini menjadi alasan upacara kematian tradisional makin marak diselenggarakan, misalnya di kalangan masyarakat moderen orang Toraja dan Toraja Mamasa.

Studi Bu Ati ini tidak hanya penting bagi kalangan Kristen kedua suku, Sumba dan Mamasa; suku-suku lainnya yang bermasalah dengan tradisi budaya bisa memperoleh pedoman pastoral dalam buku ini. Buku ini penting juga sebagai rintisan dalam bidangnya secara multidisiplin, dan karena itu bermanfaat bagi banyak kalangan.

Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. (Yes 12:3)

(Zakaria J. Ngelow)

Anda ingin memesan buku ini? Klik: www.oaseintim.org/books.htm

19 Desember 2013

Empat Agenda Kristen Bugis Soppeng




Zakaria J. Ngelow


Pada abad ke 16 sejumlah bangsawan dan rakyat Bugis dan Makassar menerima agama Kristen yang disebarkan kalangan Katolik Portugis di kerajaan-kerajaan Bugis-Makassar. Namun tidak berkembang dan lenyap karena beberapa alasan. Ada usaha-usaha serius pada abad ke-19 melalui B. F. Matthes, namun ahli bahasa dari Lembaga Alkitab Belanda ini lebih berjasa mempetkenalkan dan melestarikan warisan budaya Bugis daripada membawa orang Bugis kepada Kristus. Baru pada tahun 1930-an dan awal 1940-an beberapa bangsawan Bugis di daerah Barru dan Soppeng tertarik pada Injil terkait dengan ramalan-ramalan mesianis Petta Barang, seorang tokoh religius setempat. Mereka bersama kelaurga dan banyak pengikutnya dibaptis. Gereja terbentuk namun tantangan penghambatan sejak zaman Jepang sampai revolusi kemerdekaan dan khususnya pada masa gangguan gerombolan DI/TII tahun 1950-an membuat banyak orang Kristen murtad. Beberapa terbunuh sebagai martir Kristus. 

Dewasa ini orang Kristen Bugis asal Soppeng terpisah-pisah menjadi anggota beberpa denominasi gereja yang berbeda, namun di Makassar mereka membentuk Kerukunan Keluarga Kristen Soppeng di makassar (K3SM).  Dalam suatu diskusi yang menghadirkan para sesepuh Kristen Soppeng mengemuka kebutuhan untuk menulis suatu buku sejarah Kekristenan di kalangan orang Bugis Soppeng, yang secara khusus memperlihatkan bagaimana mereka menerima Injil dan bagaimana mereka survive menghadapi gempuran penghambatan. 

Selain itu beberapa agenda dapat diusulkan untuk menjadi perhatian para pemuka Kristen Bugis, khususnya wadah seperti K3SM untuk memberi kontribusi sekaligus bagi gereja dan bagi, masyarakat Bugis -- yang tentu juga berlaku bagi komunitas Kristen Bugis lainnya, seperti dari Makassar dan dari Selayar:


1. Umat Kristen asal Bugis perlu mengembangkan kekristenan yang sekaligus afirmatif dan kritis terhadap budaya Bugis. Orang Bugis Kristen tetap hidup sebagai orang Bugis, namun berusaha menyoroti tradisi dan nilai-nilai budaya Bugis dalam terang Injil Kristus. Prinsip "siri' na pesse", misalnya, disambut positif namun dengan kritis menolak aspek-aspek budaya kekerasan di dalamnya dengan mengembangkan pola-pola budaya resolusi konflik secara damai. 

2. Umat Kristen asal Bugis perlu menghidupkan nilai-nilai ideal normatif budaya Bugis yang ditengarai dewasa ini terus digerus budaya kapitalistik-materialistik, yang al. terwujud dalam apa yang disebut "budaya pojiale", budaya menyombongkan diri. Budaya luhur seperti etos kerja tinggi yang diajarkan melalui ungkapan "tellabu' essoe ri tengngana bitarae" (jangan/tak terbenam matahari di tengah langit) dan aja’ muakkamporo’ (jangan ibarat telur dierami tak menetas).  Atau yang populer melalui semboyan pelaut, "pura ba'bara' somppekku, pura tangkisi' gulikku, ulebbirengi tellenge na toalie" (telah kupasang layarku, kuarahkan kemudiku, lebih baik tenggelam daripada pulang). 

3. Umat Kristen asal Bugis harus menebus sejarah konflik internal masa lalu dengan terus mengembangkan persaudaraan Kristen Bugis lintas denominasi, sehingga umat Kristen asal Bugis dalam berbagai gereja yang berbeda-beda saling mengasihi dan bersama-sama menjalankan panggilan pelayanan dan kesaksian gereja di tengah-tengah masyarakat, khususnya masyarakat Bugis. Pada gilirannya persaudaraan dapat diperluas secara lintas iman dengan semua orang Bugis, bahkan semua orang, sesuai perintah Krisus untuk mengasihi semua orang. Ini sesuai dengan falsafah “hukum kasih Bugis” dalam  apa yang disebut "mattulu tellue": malilu sipakainge, mali siparappe, rebba sipatokkong (tali berjalin tiga: khilaf saling mengingatkan, terdampar saling mendaratkan, rebah saling menegakkan).

4. Sebagai komunitas di rantau, pentinglah umat Kristen asal Bugis mengembangkan kecintaan, pengetahuan dan kebanggaan serta pengabdian bagi masyarakat dan tanah Bugis. Banyak orang Bugis di rantau yang tidak lagi mengenal (sehingga tidak mencintai dan membanggakan) budayanya, baik sejarah, bahasa maupun adat istiadat dan semua tradisi lainnya, dengan penekanan pada makna dan nilai-nilai luhur. 


Duami kuala sappo unganna panasae na belo-belona kanukue.


Makassar 19 Oktober 2013

31 Juli 2013

Tetaplah Berdoa

Infant Samuel by Joshua Reynolds, 1723
Oleh Zakaria J. Ngelow Bahan pada Kursus Dasar Pelayanan Gereja (KDPG), Sabtu, 13 Juli 2013

Berdoa adalah bagian normal kehidupan orang Kristen. Setiap orang Kristen merasakan kebutuhan untuk berkomunikasi dengan Tuhan menyatakan syukur dan/atau permohonan secara pribadi (melalui berdoa pribadi) maupun dalam persekutuan (berdoa bersama) di rumah bersama keluarga, maupun dalam persekutuan jemaat. Dalam doa pribadi orang memilih tempat dan waktu berdoa yang mendukung menciptakan suasana yang baik untuk berdoa. Mengenai posisi atau sikap tubuh tiap orang bebas memilih yang paling tepat baginya untuk masuk dalam komunikasi intim atau khusuk dengan Tuhan: menutup mata, merangkap tangan sambil duduk, tunduk, berlutut, atau sikap lainnya.
Menyusun kata-kata
Dalam doa bersama, hadirin ikut menyimak doa yang diucapkan, karena itu perlu membuat mereka tetap mengikuti dengan khusuk. Maka doa perlu diungkapkan dengan kata-kata yang jelas, runtut, santun, indah dan sadar batas waktu (jangan terlalu panjang). Jangan ungkapan dan pengucapan doa membuat konsentrasi hadirin hilang, sehingga tidak ikut berdoa dengan khususk lagi. Tetapi banyak orang Kristen mengalami kesulitan, khususnya jika akan memimpin doa dalam persekutuan. Kesulitan itu terutama dalam menyusun kata-kata dan urutan kalimat-kalimat doa yang dianggap baik untuk diucapkan. Karena kesulitan itu maka tidak merasa yakin sehingga gugup atau grogi. Bagaimana mengatasi itu? Dengan rajin mengikuti kebaktian dan menyimak doa yang diucapkan pemimpin ibadah maka orang akan terbiasa dengan kalimat-kalimat doa, yang kemudian dapat diulanginya. Lama-kelamaan akan terbiasa dan tidak gugup lagi, dan dapat merumuskan sendiri kata-kata yang tepat. Sebaiknya ada persiapan, bahkan sebaiknya ditulis lengkap, yang tentu dibaca dengan irama pengucapan doa, bukan seperti membaca pengumuman atau membaca Alkitab. Di dalam kitab-kitab Perjanjian Lama, khususnya Mazmur, banyak contoh-contoh doa. Doa juga dianjurkan dalam ajaran Yesus dan para rasul: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. (Mat 7:7-8) Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1Tes 5:16-18) Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur. Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan. (Kol 4:2-3) Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi! (Yak 5:13) Secara khusus Yesus mengajar berdoa, sebagaimana yang lazim dikenal sebagai Doa Bapa Kami (DBK, Mat 6: 5-9). Yesus mengajar murid-murid-Nya menghindari cara berdoa “orang munafik” yang berdoa untuk dipuji orang, "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Mat 6:5-6) Selanjutnya Yesus mengajar untuk berdoa yang tidak bertele-tele, Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. (Mat 6: 7-8)

Doa Bapa Kami
Lalu Yesus mengajarkan DBK, yang berisi tiga bagian, yakni sapaan, harapan, dan permohonan. Di bagian akhir ada puji-pujian (doksologi), yang ditambahkan ke rumusan DBK kemudian dari praktek yang lazim dalam ibadah jemaat. Doksologi ini dapat dinyanyikan sesuai Kidung Jemaat 475.
Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.) (Mat 6:9-13)
 Injil Lukas memuat DBK dalam versi yang lebih singkat, namun dengan penjelasan yang menggabungkan penekanan Yesus mengenai pentingnya berdoa, sebagaimana dikemukakan juga dalam Injil Matius (7:7-11). DBK dalam Injil Lukas sebagai berikut:
 Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan. (Luk 11:2-4)
 Sebagaimana dicatat di atas, susunan DBK adalah sapaan, harapan, dan permohonan. Sapaan menunjuk pada alamat doa. Yesus mengajar untuk berdoa kepada Bapa, Bapa-Nya, Allah Bapa kita dalam Kristus, yang ada di surga. Sapaan dalam doa kita juga bisa mengikuti Mazmur: Ya Tuhan atau Ya Allah. Sering juga dengan atribut tambahan: “Ya Allah, Bapa Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi ...” Atau “Allah Mahabesar, Mahamurah ...” Atau yang lebih dogmatis: “YaAllah Tritunggal, Bapa, Anak dan Roh Kudus ...” Timbul pertanyaan, apakah berdoa kepada Bapa saja atau bisa kepada Yesus atau Roh Kudus juga? Pada prinsipnya bisa, namun tergantung kelaziman pribadi atau persekutuan. Setelah Sapaan, DBK dilanjutkan dengan Harapan, yang berisi harapan supaya nama Allah dikuduskan, kerajaan-Nya datang, dan kehendak-Nya jadi. Harapan-harapan ini mengandung arti keinginan terwujudnya suatu kehidupan yang sesuai dengan Firman Allah kepada manusia: manusia hidup dalam kekudusan dan ketaatan kepada Allah. Harapan yang juga terungkap dalam Alkitab adalah kedatangan Tuhan, maranatha, ya Tuhan datanglah! Pada bagian ketiga, DBK berisi Permohonan: makanan yang cukup setiap hari, pengampunan dosa, dan dihindarkan dari pencobaan dan yang jahat. Jadi, pemeliharaan Allah dan pendamaian dengan Allah dan sesama. Setelah itu penutup dalam bentuk puji-pujian.  

Susunan Doa
Dari DBK kita dapat mengembangkan susunan doa, yang dapat diringkas sebagai berikut: Alamat/Sapaan Harapan/Ucapan syukur/ Pengakuan Permohonan (satu atau beberapa hal) Penutup Setiap perumusan (pengalimatan doa) mengandung pemahaman yang harus secara sadar dipilih oleh pemimpin doa. Misalnya sapaan kepada Tuhan pada alamat doa mengandung penekanan tertentu. Pada bagian kedua, dapat diungkapkan syukur, misalnya: “Tuhan, terima kasih atas perkenanmu kami boleh berkumpul di sini.” Atau pengakuan: “Tuhan atas kuasa kasih-Mu semata kami dapat selesaikan agenda pertemuan ini.” Pada bagian permohonan perhatikan pokok-pokok yang relevan diminta pada saat itu. Doakan yang sungguh-sungguh perlu didoakan, dan bukannya mengucapkan doa sebagaimana ucapan atau kalimat-kalimat doa yang biasa orang ucapkan.

DBK Keterangan tambahan?
Dalam doa yang diakhiri dengan “dalam nama Yesus”, sering ada keterangan tambahan mengenai Yesus, menjadi “dalam nama Yesus, Tuhan, Juruselamat kami”. Atau “dalam nama Yesus Kristus, Penebus dosa kami”; atau keterangan lain seperti: “yang telah disalibkan untuk penebusan kami”, dsb. Dalam bentuk keterangan tambahan sering pula (bahkan resmi dalam liturgi) doa bebas disambung dengan DBK: “... dalam nama Yesus Kristus, yang telah mengajar kami berdoa bersama ...”. Penyambungan seperti ini tidak cocok dari segi susunan kalimat, dan tidak tepat dari segi makna doa. Sebaiknya DBK berdiri sendiri, atau disambung dengan cara jedah: setelah doa selesai (dengan Amin), ada jedah sejenak lalu “Mari kita berdoa bersama DBK ...” Dalam nama Yesus Banyak orang Kristen berpegang pada pengajaran Yesus dalam Injil Yohanes, untuk berdoa dengan mengakhiri “dalam nama Yesus”, Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya. (Yo 14:14; band Yo 15:16; 16:23-24) Orang salah faham terhadap berdoa “dalam nama Yesus” ini. Ada yang mengira bahwa wajib menutup setiap doa dengan kata-kata “dalam nama Yesus” atau “dalam nama Tuhan Yesus” (1Kor 5:5; Ef 5:20). Memang telah menjadi tradisi yang lazim dalam gereja untuk menutup doa dengan rumusan “dalam nama Yesus Kristus”, namun bukan keharusan. Doa dapat pula tidak diakhiri dengan ungkapan itu. Pada bagian penutup doa dapat pula diucapkan suatu doksologi, misalnya: ”Terpujilah Tuhan selama-lamanya.” (band. Mzm 141:14; 2Kor 1:3; Ef 1:3; 1Pet 1:3) Kesalahan lainnya adalah menjadikan “dalam nama Yesus” sebagai mantra, misalnya untuk mengusir setan atau untuk menyembuhkan penyakit, sebagaimana dipraktekkan kalangan Kristen tertentu. Ungkapan “dalam nama Yesus” secara sederhana bisa berarti dalam iman kepada Allah, Bapa dalam Yesus Kristus. Itu juga makna dari perkataan Yesus dalam Injil Matius, yang terkait dengan persekutuan jemaat: “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:20) Doa kesembuhan? Dalam sejarah gereja muncul gerakan-gerakan penyembuhan ilahi, yang percaya dan mempraktekkan mujizat kesembuhan melalui doa. Mendoakan orang sakit dengan tim doa, dengan minyak urapan, dengan sentuhan tangan, dsb sebaiknya dihindari, karena berdasar faham teologi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Nasihat dalam surat Yakobus 5: 14-16 tidak bisa dijalankan seolah-olah pedoman praktis penyembuhan ilahi. Sebaiknya orang sakit didoakan dalam rangka pengobatan medis, bukan berharap pada mujizat langsung kesembuhan ilahi. Setiap orang Kristen boleh mendoakan orang lain, termasuk orang sakit -- untuk memohon kesembuhannya melalui upaya-upaya pengobatan. Tetapi tidak semua orang beroleh karunia menyembuhkan; dan tidak semua orang yang memamerkan “kuasa menyembuhkan” sungguh-sungguh melakukan mujizat dari Allah.

Doa Makan 
Setiap doa makan adalah doa syukur, yaitu bersyukur atas berkat berupa makanan dan minuman. Jika makanan dan minuman diterima sebagai berkat maka tidak perlu memohon berkat atas makanan-minuman itu. Juga jangan membiasakan mendoakan supaya Tuhan mengurus orang lapar dan yang susah lainnya, melainkan mohon kesempatan/kemampuan/kepekaan untuk melayani sesama yang memerlukan pelayanan. “Ya Tuhan, terima kasih atas makanan-dan minuman ini. Kami menerimanya sebagai berkat-Mu untuk kekuatan dan kesehatan kami. Beri kami kesempatan melayani orang yang berkekurangan ...” Bandingkan dengan syair Kidung Jemaat 469, yang biasa juga dinyanikan sebagai pengganti doa makan (sebagaimana juga KJ 471): Ya Tuhan, t’rima kasih atas yang Engkau beri: Makanan dan minuman dan segala rezeki. Haleluya, Haleluya, Haleluya! Amin.

Doa-doa Liturgis 
Dalam liturgi kebaktian hari Minggu terdapat beberapa doa, ada yang bebas, ada yang sudah dirumuskan. Doa Persiapan (di konsistori) Doa Pengakuan Dosa Doa Pembacaan Alkitab (epiklese) Doa Syafaat Doa Persembahan Doa Penutup (di konsistori) Setiap pokok doa liturgis sebaiknya terbatas pada maksud doa itu. Misalnya doa persiapan jangan menjadi doa syafaat, dan doa penutup jangan menjadi doa persembahan yang kedua. Demikian juga doa syafaat tidak usah merupakan bagian dari khotbah. Ingatlah bahwa doa jangan bertele-tele seperti doa orang yang tidak mengenal Allah! Supaya doa syafaat – yang merupakan gabungan doa syukur dan doa permohonan – tidak panjang, tetapkan pokok-pokok yang akan didoakan. Bagi atas pokok-pokok doa syukur dan pokok-pokok doa permohonan. Satukan yang sama, misalnya syukur ulang tahun beberapa orang: “Bapa di sorga, kami mengucap syukur atas karunia pemeliharaan-Mu atas saudara-saudara A, B, C, yang berulang tahun minggu ini. Tuhan tetap peliharakan hidup masing-masing.” Demikian juga warga yang sakit, dan pokok doa lainnya. Doakan secara singkat. Bisa juga disediakan saat teduh menjelang akhir doa untuk doa pribadi masing-masing anggota jemaat. Bisa dipertimbangkan untuk mengubah pola pelayanan warga jemaat, dengan menyediakan waktu untuk berdoa bersama pendeta/ Majelis Jemaat dengan orang dan/atau keluarganya di rumah atau di konsistori. Sebaiknya pokok-pokok doa seperti untuk yang ulang tahun atau yang sakit disampaikan sebelumnya, supaya doa tidak menjadi semacam pengumuman, bila tidak disediakan daftarnya dalam copy warta jemaat yang dibagikan. Beberapa pokok yang lazim dimasukkan dalam doa syafaat, seperti doa untuk pemerintah dan untuk gereja-gereja tidak selalu harus didoakan setiap minggu. Sebaiknya pokok-pokok itu didoakan hanya terkait hal khusus, misalnya perayaan atau peristiwa tertentu. Sebagaimana dicatat dalam hubungan dengan doa makan, janganlah merumuskan permohonan mendoakan orang-orang susah, miskin, sakit, menderita di mana-mana sebagai penugasan kepada Tuhan Allah untuk mengurus mereka! Pelayanan mereka adalah tanggungjawab gereja. Karena itu gereja mendoakan pelayanan yang dikerjakannya. Perhatikan pula supaya berdoa tetap suatu komunikasi khusuk dengan Tuhan, bukan menjadi akta (tindakan) liturgis yang asal dilakukan, yang membuat orang memilih meninggalkan saat doa ke kamar kecil. Seringkali orang diminta berdoa dalam acara umum, seperti pada resepsi pernikahan, atau acara lainnya, yang dihadiri undangan yang tidak beragama Kristen. Bagaimana doanya, apakah diucapkan dengan pengungkapan khas Kristen seperti “Ya Bapa di sorga” dan “dalam nama Yesus Kristus”? Ada yang menyatakan bahwa doa di pertemuan umum seperti itu sebaiknya tidak menonjolkan yang khas Kristen, melainkan ungkapan umum saja yang dapat di-amin-kan oleh semua hadirin. Tetapi ada pula yang berpendapat doa harus menampakkan cirinya secara eksklusif, dari agama mana. Biasanya pemimpin doa yang memilih cara eksklusif Kristen akan menyampaikan sebelum berdoa: “Mari kita berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Saya akan memimpin dengan cara Kristen ...” Yang mana pun pilihan, doa haruslah benar doa, yang mengarahkan hadirin menghadap Tuhan dengan khusuk. Yang perlu dihindari adalah cara berdoa dalam perkumpulan umum yang “mencuri” kesempatan untuk “berkhotbah kepada para pendengar”. Jelas itu bukan doa, dan orang bukannya akan simpati, melainkan antipati kepada cara seperti itu. Bahkan di gereja atau kebaktian Kristen orang tidak suka mengikuti doa yang dibelokkan menjadi khotbah.

Catatan Penutup 
Dengan berdoa orang berkomunikasi kepada Tuhan menyampaikan kebutuhannya, atau mengungkapkan perasaannya, sukacita (bersyukur) maupun dukacita (mengeluh). Berdoa juga memperkuat hubungan dengan Tuhan. Selain berbagai rumusan dari Alkitab, dalam sejarah Kristen ada rumusan doa yang dipelihara sebagai kekayaan rohani gereja. Dua doa berikut bermanfaat mengembangkan diri dalam spiritualitas Kristen.

Doa Santo Fransiskus Asisi (1182-1226)
Tuhan, jadikan aku pembawa damai. Bila terjadi kebencian, jadikan aku pembawa cinta kasih. Bila terjadi penghinaan, jadikan aku pembawa pengampunan. Bila terjadi perselisihan, jadikan aku pembawa kerukunan. Bila terjadi kesesatan, jadikan aku pembawa kebenaran. Bla terjadi kebimbangan, jadikan aku pembawa kepastian. Bila terjadi keputusasaan, jadikan aku pembawa harapan. Bila terjadi kegelapan, jadikan aku pembawa terang. Bila terjadi kesedihan, jadikan aku pembawa kegembiraan. Ya Tuhan, semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai. Sebab dengan memberi aku menerima, dengan mengampuni aku diampuni, dengan mati suci aku bangkit lagi, untuk hidup abadi. 

Serenity Prayer
Dipopulerkan teolog Amerika, Reinhold H. Niebuhr (1892-1971) sejak tahun 1930-an. Versi yang pendek sebagai berikut:

Ya Allah, karuniakan padaku Kedamaian untuk menerima apa yang tak dapat kuubah, Keberanian, untuk mengubah apa yang bisa Dan Kearifan membedakan keduanya. 

Versi lengkapnya:
Ya Allah, beri padaku karunia untuk menerima dengan hati damai apa yang tak dapat kuubah. Keberanian untuk mengubah apa yang harus diubah, dan Kearifan untuk membedakan yang satu dari yang lain. Hidup sehari demi sehari Menikmati setiap saat Menerima penderitaan sebagai jalan menuju damai, Menerima, sebagaimana Yesus juga, Menerima dunia berdosa ini, apa adanya, Bukan sebagaimana keinginanku. Yakin bahwa Engkau akan membuat semuanya baik Jika aku berserah pada kehendak-Mu. Maka aku akan gembira dalam hidup ini. Dan penuh sukacita dengan Engkau selama-lamanya dalam hidup yang akan datang. Amin. 

Makassar, 14 Juli 2013

09 Februari 2013

Refleksi Sewindu Oase





Orasi pada perayaan syukur 8 tahun Oase, 2005- 2013
Restoran Himalaya, Jl. G. Latimojong 142 Makassar, 9 Februari 2013

oleh Zakaria J. Ngelow, Direktur Oase Intim


Bapak, Ibu, saudara-saudara hadirin yang saya hormati. Salam kasih dalam Kristus. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk bersama kami dalam acara sederhana perayaan delapan tahun (sewindu) Oase, yang jatuh pada tanggal 7 Februari kemarin dulu.


Dari Kampus ke Kampung-kampung

Pada tanggal 7 Februari 2005 Oase Intim didirikan, sebagai wadah yang menghubungkan kajian akademik teologi kontekstual di kampus dengan praksis pelayanan di jemaat-jemaat, namun dalam perkembangannya Oase menjadi wadah pelayanan di kalangan gereja-gereja dan komunitas Kristen. Para pendiri Oase adalah para dosen STT INTIM, [1] dan wadah ini dilembagakan bertolak dari berbagai pengalaman mengembangkan pola-pola baru pembelajaran melalui program-program pemberdayaan di kampus dan di jemaat-jemaat. Dalam sebuah dokumen Oase dicatat mengenai pembentukan Oase:

Untuk menyalurkan enersi secara kreatif dan positif dan memberi dukungan substansial terhadap tugas-tugas sebagai dosen, kami sepakat membentuk suatu wadah, Oase Intim: Lembaga Pemberdayaan Praksis Pelayanan dan Kajian Teologi Kontekstual Indonesia Timur. Wadah ini tidaklah tiba-tiba dipikirkan. Gagasan-gagasannya sudah lama berkembang dalam berbagai aktivitas, baik penelitian-penelitian, seminar & konsultasi, maupun dalam proses revisi kurikulum. [2]

Pelembagaan Oase merupakan alternatif ketika sejumlah dosen sepakat untuk bergiat dalam pengembangan akademik dan pelayanan kreatif, daripada masuk dalam jajaran pimpinan sekolah di bawah Ketua baru yang ditunjuk Yayasan. Keputusan itu diambil dalam suatu pertemuan historis di Restoran Istana Laut, gedung Menara Makassar.

Pilihan itu ternyata ditanggapi sebagai pembangkangan, sehingga kami berurusan dengan fihak yang memakai pendekatan kekuasaan dalam mengatasi konflik. Tapi akhirnya kami putuskan tidak perlu menghabiskan energi untuk berkonflik, dan memilih tindakan soft exit -- satu per satu kami mundur meninggalkan kampus. Lalu kami saling bertanya, apakah Oase yang baru dibentuk ini akan dibubarkan begitu saja atau diteruskan? Kami berkumpul memikirkannya bersama keluarga masing-masing dalam suatu retreat keluarga besar Oase di pantai Tanjung Bira, Bulukumba. Di hamparan pasir putih sehalus tepung, yang terus bercumbu dengan ombak selat Selayar itu, kami mengambil tekad untuk maju terus, pantang mundur, sesuai falsafah hidup siri’ na pacce Bugis-Makassar:

Takunjunga’ bangung turu’ nakugunciri’ gulingku, kualleanna tallanga na toalia. Aku tak sekadar ikut angin buritan tapi kuarahkan kemudiku, lebih baik tenggelam daripada berbalik pulang.

[Bugis: Pura ba’bara’ sompe’ku, pura tangkisi’ gulikku, ulebbirengngi telleng natoalie. (Karena) layar sudah kukembangkan, kemudi sudah kuarahkan, maka lebih baik tenggelam daripada berbalik pulang.

Demikianlah, dalam keyakinan bahwa Oase dapat dipakai Tuhan bagi pelayanan gereja-gereja dan masyarakat di Indonesia (bagian Timur), kami telah mendirikan kemah penyegaran di belantara pelayanan gereja. Kami mengandalkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengatasi jarak jauh persebaran para pendiri dan pengurus Oase: Ibu Ati dan Pak Markus di Jerman; Ibu Corrie dan Pak Jilles di Belanda; Pak Mojau di Tobelo, Halmahera Utara; Pak Marthen Manggeng di Mamuju; Ibu Lian di Salatiga; dan hanya saya sendiri di Makassar. [3] Maka saya diberi tanggung jawab untuk kelangsungan pelayanan Oase, dibantu Christin Hutubessy dan Jean Wattimena, dan kemudian juga Jenifer Ladja. [4] Mula-mula kami berkantor di rumah yang dikontrak per dua tahun di Jl. Mappaoddang, kemudian di kompleks Hartaco, lalu di Maizonette, Panakkukang. Setelah itu, pada bulan Agustus 2011, kami dapat menempati sebuah rumah mungil di Sudiang sebagai kantor tetap Oase.


Kompetensi Profesional

Sebagaimana ketika memimpin administrasi kampus sebelumnya, kehidupan Oase kami bingkai dalam hubungan-hubungan pribadi yang mengedepankan nilai-nilai pelayanan Kristiani seperti akuntabilitas, transparansi dan kompetensi profesional. Dalam hal itu kami berterima kasih atas persaudaraan dan kepercayaan kawan-kawan pelayan dan pimpinan gereja-gereja dan berbagai lembaga atau komunitas Kristen, yang menjadi mitra pelayanan Oase selama ini. Juga terima kasih kami sampaikan kepada lembaga-lembaga mitra kami di luar negeri, yang setia memberi bantuan finansil bagi pelayanan kami. [5]

Pendekatan kontekstual Oase memerlukan dukungan dari kawan-kawan teolog maupun non-teolog, dalam upaya bersama memahami tantangan pelayanan dan pemberdayaan para pelayan. Oase diberkati dengan masuknya seorang yang punya kepakaran teologis secara akademis dan pengalaman praktis selama puluhan tahun dalam pelayanan jemaat-jemaat di NTT, Pdt. John Campbell-Nelson, Ph.D. Terima kasih Pak John, kami bersyukur hari ini Pak John dapat hadir dengan Ibu Karen, yang juga seorang profesional dalam pelayanan gereja, khususnya di bidang gender dan masalah-masalah HAM. Pak John dan Ibu Karen melayani di GMIT di Sinode dan di Fakultas Teologi UKAW, Kupang, sudah sekitar 30 tahun. Dari dunia praktisi hukum dan kesetaraan jender, kami mendapat dukungan Ibu Lusy Palulungan, yang kini menjabat Sekretaris Yayasan Oase, dan yang terkasih Ibu Fietje Pelupessy-Tatontos setia melayani kami sebagai Bendahara. Beberapa rekan lain terus membantu sebagai fasilitator dalam bidang-bidang berbeda sesuai kebutuhan program. Pada kesempatan ini saya menyebut dan sampaikan terima kasih kepada Ibu Hiltraut Link dan Pdt. Johann Link, Sisca Dalawir, Erni Tonapa, Dr. Lazarus Purwanto, Dr. Andreas Yewangoe, Dr. Ery Hutabarat-Lebang, Trisno Sutanto. Ada sejumlah nama yang dapat ditambahkan di daftar ini, termasuk beberapa rekan Muslim/ah. Saya juga mengingat dengan haru dan terima kasih dua rekan yang kini telah dipanggil mendahului kita: alm. Pdt. Dr. Nazarius Rumpak, dan alm. Asmara Nababan.



Lingkaran Hermeneutik

Fokus pelayanan Oase sejak semula adalah pengembangan teologi kontekstual dan pemberdayaan pelayan(an) lokal. Misi berganda ini dijalin dalam setiap pelayanan Oase: pemberdayaan para pelayan setempat difokuskan pada pembinaan kompetensi pelayanan transformatif setempat. [6] Karena itu kepekaan memahami realitas pelayanan lokal, dan kecermatan mengembangkan pemahaman teologis yang transformatif menjadi targetnya. Dalam pendekatan Oase ini teologi adalah produk bersama komunitas setempat. Sebab itu para peserta adalah nara sumber, dengan pengalaman-pengalaman yang berharga dan pemikiran-pemikiran serta visi masing-masing yang berguna bagi pengembangan teologi yang otentik: lahir dari pelayanan gereja dan bermuara pada kesaksian Injil yang transformatif.

Penekanan Oase pada teologi kontekstual dan pemberdayaan pelayanan lokal diletakkan dalam kerangka lingkaran hermeneutik, dengan keempat langkahnya: pengalaman, analisis sosial, refleksi teologis dan rencana tindak lanjut. [7] Konsultasi, lokakarya atau semiloka diselenggarakan dengan memulai dari pengalaman para peserta sebagai pelayan jemaat, untuk menemukan isu-isu yang menjadi pergumulan pelayanan setempat. Ini langkah untuk mengungkapkan apa yang menjadi persoalan dalam pelayanan, langkah “penggalian masalah”. Untuk itu berbagai metode dipakai – termasuk, misalnya metode world café, [8] yang diperkenalkan dalam Konsultasi Gereja dan Politik tahun lalu -- intinya adalah menempatkan pengalaman semua peserta sebagai informasi berharga untuk menemukan pokok-pokok kajian dalam proses selanjutnya. Setelah itu analisis sosial dimanfaatkan untuk memahami bersama akar-akar dan kaitan-kaitan setiap isu dalam menjawab pertanyaan mendasar mengapa terjadi demikian? [9]

Kedua langkah dalam proses ini – penggalian masalah dan analisis sosial – sering diselenggarakan Oase dengan pendekatan metode studi kasus (MSK), [10] yang dulu diperkenalkan kepada para mahasiswa dalam rangka metode penelitian sosial, baik secara teoritis di kampus maupun dalam praktiknya di lapangan. Di sini juga terungkap pendekatan pembelajaran partisipatif sesuai tuntutan pendidikan orang dewasa (andragogy). Setelah masalah dan sebab-musabab serta kaitan-kaitan akibatnya menjadi jelas, refleksi teologi dikemukakan, untuk menjawab aspek normatif (bagaimana yang seharusnya) dengan mempertimbangkan petunjuk alkitabiah dan tradisi iman yang diwarisi di dalam gereja. Dapat terjadi bahwa masalah muncul karena pemahaman teologi yang dibakukan justru mendukung ketidakadilan, sehingga perlu dekonstruksi teologi; misalnya dalam sikap gereja terhadap perempuan, atau terhadap kebudayaan. Dari refleksi teologi itu akan muncul pilihan-pilihan program pelayanan yang dirancang sebagai langkah action plan, yang bertujuan mengubah keadaan yang dipersoalkan menjadi keadaan ideal yang diharapkan.

Dalam pemahaman Oase, konteks tidaklah statis dan tertutup, melainkan dinamis dan terbuka. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, serta jaringan transportasi telah memungkinkan saling pengaruh yang mendalam dan cepat antara perkembangan di satu tempat dengan di tempat lain, atau perkembangan di satu bidang ke bidang lain, termasuk ke dalam kehidupan gereja. Di antara akibatnya adalah marginalisasi, dan mengaburnya identitas dalam proses hibridisasi manusia moderen. Karena itu teologi kontekstual tidak saja berurusan dengan bagaimana gereja secara formal-ritual dibina dalam bentuk-bentuk seni budaya lokal, melainkan bagaimana ikatan persekutuannya merangkul yang terpinggirkan dan memberi jati diri serta bersama-sama menghidupkan Injil melalui penegakan keadilan, perdamaian dan pemeliharaan alam ciptaan. Di sini mengemuka pendekatan pemihakan teologi pembebasan, preferential option for the poor. Dengan kata lain eklesiologi yang dipromosikan adalah yang memberi perhatian pada panggilan menampakkan tanda-tanda kerajaan Allah, shalom: keadilan, perdamaian, keutuhan ciptaan. 





Eklesiologi Kontekstual

Selama ini Oase berusaha melayani berbagai permintaan gereja-gereja untuk pengembangan bahan ajar dalam pengajaran Kristen (dari sekolah Minggu sampai katekisasi), pembekalan pejabat gereja, pembekalan khusus para pendeta, konsultasi, seminar, dsb. Dalam semua program itu tugas Oase adalah mendampingi proses pengembangan diri, penemuan atau pemahaman gagasan, serta pendalaman spiritualitas. Sesuai prinsip pendampingan dan pemberdayaan, Oase mengembangkan bersama, bukan membuat untuk gereja-gereja. Tetapi sebagaimana dikemukakan di atas, Oase juga memberi penekanan pada panggilan sosial gereja menghadapi masalah-masalah kemiskinan dan HAM, daripada hanya menjadi gereja yang beribadah. Tata gereja merupakan salah satu yang banyak digumuli, karena aturan yang digariskan tidak relevan atau tidak operasional di lapangan. Dan masalahnya yang lebih dalam menyangkut kualitas sumber daya manusia, yakni lemahnya pemahaman teologis mengenai hakekat dan fungsi Tata Gereja dan kaburnya pemahaman eklesiologi maupun teologi jabatan di kalangan para pelayan gereja. Salah satu masalah ketatagerejaan adalah kuatnya pemahaman hierarkhis jabatan pendeta, penatua dan diaken. Masalah lain muncul dalam keinginan banyak pendeta terlibat dalam politik kekuasaan – dari tim sukses sampai caleg, yang menimbulkan pro dan kontra di dalam gereja.

Oase mencoba memperkenalkan eklesiologi yang alkitabiah-historis-kontekstual, artinya, yang berakar dalam pemahaman Alkitab dan mendapat bentuknya dari tradisi Kristen yang diwariskan, serta mempertimbangkan kenyataan sosial dan warisan budaya setempat. [11] Kekristenan dalam format “gereja etnis”, misalnya, yang berhadapan dengan format “gereja teritorial” dan “gereja denominasional” dalam gerakan ekumene, dapat difahami melalui eklesiologi alkitabiah-historis-kontekstual ini. Selain itu, Oase juga menambahkan aspek-aspek kontemporer bagi format tripanggilan gereja dalam eklesiologi tradisional, dengan memberi penekanan juga pada tugas pendidikan (didache), peribadatan (leitourgia) dan penatalayanan (oikonomia), selain ketiga yang lazim, koinonia, martyria dan diakonia. [12]

Persoalan lain menyangkut kebudayaan, yang memang sejarahnya sudah sejak Yesus mengecam orang Farisi, yang lebih menaati tradisi budaya Yahudi daripada Firman Allah (Mat 20; Mrk 7). Tetapi dalam sejarah zending di Indonesia masalahnya berakar pada penolakan kebudayaan tradisional sebagai yang khalaik, kafir atau demonis. Di era posmo dewasa ini dan dengan postcolonial theology kita harus memulihkan tempat kebudayaan di dalam gereja, atau bahkan menghidupkan Injil di dalam kebudayaan. [13] Dan sementara itu perjumpaan antaragama, khususnya dengan Islam, makin dewasa, baik dalam penerimaan terhadap kepelbagaian dalam panggilan bersama memulihkan martabat manusia dan ciptaan, maupun dalam penolakan terhadap radikalisme dan fundamentalisme yang merusak citra agama. Perjumpaan lain yang tak kalah sengitnya adalah hubungan ekumenis antargereja, yang sama bersepakat saling menerima dan mengakui dalam perbedaan, sesuai hakekat gereja sebagai satu Tubuh Kristus dengan kepelbagaian anggota, namun yang sering dicederai konflik inter- dan antargereja. [14] Agenda interfaith dan ekumene gereja-gereja akan menjadi perhatian khusus Oase ke depan. Kedua pokok terjalin, karena gerakan ekumene gereja-gereja dewasa ini sudah berkembang dari lingkaran dalam hubungan antargereja ke lingkaran luar hubungan antaragama, dengan fokus pada panggilan bersama untuk kemanusiaan (keadilan, perdamaian, kesejahteraan, HAM, dsb) dan kelestarian ciptaan. Mudah-mudahan Oase bisa mendampingi dan memberdayakan gereja-gereja dalam perjumpaan interfaith. Agenda lain adalah penelitian. Pelayanan gereja di abad ke-21 ini sudah perlu didasarkan pada hasil-hasil penelitian yang sahih, bukan hanya berdasar asumsi atau repetisi dari program-program sebelumnya.



Jalinan Sejuta Ilalang

Oase juga memberi perhatian pada masalah-masalah yang konteksnya berskala nasional. Pada tahun-tahun pertama, setelah trauma bencana sosial di Indonesia bagian Timur (tragedi kemanusiaan di Poso, Ambon, Halmahera, dll) dan bencana alam (terutama tsunami Aceh), masalah teodise menjadi pokok aktual. Maka Oase menyelenggarakan konsultasi yang melahirkan buku Teologi Bencana: Pergumulan Iman dalam Konteks Bencana Alam dan Bencana Sosial (Oase, 2006). Dan sejak tahun 2008 Oase memberi perhatian pada pertanyaan seputar politik, khususnya bagaimana gereja-gereja di Indonesia (bagian Timur, khususnya) berhadapan dengan reformasi nasional, yang salah satu perkembangan fenomenalnya adalah pemekaran kabupaten dalam rangka otonomi daerah. [15] Sebuah assessment dilakukan pada tahun 2008, dan karena satu dan lain hal maka baru pada tahun 2012 lalu seminar dan konsultasinya diteruskan; dan kini hasil-hasilnya akan segera diterbitkan dalam buku Oase yang lain, Teologi Politik: Panggilan Gereja di Bidang Politik Pascaorde Baru (Oase, 2013). [16]

Pada hari ini, sebuah buku Oase akan diluncurkan secara resmi. Sesuai hakekatnya, buku Jalinan Sejuta Ilalang adalah liber amicorum – ungkapan bahasa Latin yang bermakna buku yang ditulis oleh para sahabat, sebagai hadiah peringatan ulang tahun saya yang ke-60 pada awal Desember tahun lalu. [17] Proses penyusunan buku ini dirahasiakan sedemikian rupa dan berhasil diterbitkan Oase tanpa sepengetahuan saya, sekalipun Ike dan anak-anak kami terlibat. Yang memimpin ‘konspirasi’ penerbitan buku ini adalah Bu Ati – Pdt. Dr. Ati Hildebrandt Rambe – yang sayang sekali tidak bisa hadir pada acara syukuran sewindu Oase ini, karena sedang dalam suatu tugas memimpin suatu tim peninjau ke beberapa sekolah teologi terpilih di Indonesia dan Malaysia menyangkut pengembangan teologi kontekstual di sekolah-sekolah itu. Sejak beberapa hari ini Bu Ati dan dua rekan sedang berada di UKDW, Yogyakarta, dan akan melanjutkan ke STT JAKARTA minggu depan.

Saya ucapkan terima kasih kepada kawan-kawan semua, yang terlibat menulis dan menerbitkan liber amicorum ini. Saya sungguh tidak sangka akan mendapat hadiah luar biasa ini, apalagi diberikan dengan cara yang sungguh-sungguh suatu kejutan yang membuat saya terkesima.

Saya tidak sanggup mengulas lebih 30 tulisan dalam buku setebal 400 halaman ini. Tetapi saya ingin kemukakan beberapa catatan singkat, mulai dengan judul buku, Jalinan Sejuta Ilalang. Tentu saja ilalang yang dimaksudkan di judul ini bukan lalang yang disemai di antara gandum, sebagaimana perumpamaan Yesus (Mat 13: 24-30, 36-43). Bu Ati, Pak Jilles dan Lady Mandalika-Wilar sebagai editor rupanya terinspirasi oleh anyaman tikar ibunda saya, ale tika’ – sebagaimana gambar sampul buku – yang merupakan salah satu kerajinan tradisional kami, masyarakat Seko. [18] Bahannya memang bukan ilalang, melainkan sejenis rumput rawa, yang dalam kamus bahasa Indonesia disebut mendong (Lat. scirpus articularis). Falsafah di balik ale tika’ adalah harmoni warna-warni kepelbagaian yang terjalin menyatu dan simbol kebersamaan dalam musyawarah, serta keramah-tamahan: orang Seko menyambut dan menghormati tamu dengan menggelarkan ale tika’ di lantai rumah panggungnya. [19] Saya berterima kasih atas gambar sampul, yang membawa sekaligus dua hal yang melekat di hati saya: ibunda saya (dengan perkenan Tuhan tahun ini mencapai usia 80 tahun), dan masyarakat Seko. [20]

Terima kasih untuk Ike dan ketiga putera-puteri kami, Dion, Ca, Ela dan adik saya Martha Pandonge, yang menulis mengenai saya dengan jujur dari hati mereka masing-masing. Demikian juga penilaian dari guru dan sahabat saya almarhum Prof. Pieter Holtrop, yang dilengkapi oleh Bu Ati, Prof. Nico Schulte Nordholt dan Pak Jusuf Ladja.

Saya ingin mencatat bahwa Bu Ati dan kawan-kawan editor, menangkap dengan jitu bidang-bidang perhatian saya melalui pembagian isi buku ini: hubungan interfaith, gereja dan politik, sastra, pendidikan teologi dan panggilan sosial gereja. Mengenai hubungan lintas iman, saya dikenal kawan-kawan di luar gereja sebagai aktivis lintas iman. Dan di kampus, setelah menyelesaikan studi di bidang sejarah gereja, saya malah ditugaskan mengajar beberapa mata kuliah yang terkait dengan misiologi dan teologi agama-agama. Khusus mengenai gereja dan politik, perhatian saya lebih pada perspektif sejarah daripada etika. Dan berbeda dengan teman-teman yang mendalami sejarah gereja sebagai bagian dari ensiklopedi teologi, saya menempatkannya pertama-tama sebagai bagian dari ilmu sejarah, dalam hal ini sejarah agama Kristen. Saya menulis disertasi mengenai suatu pokok yang terkait politik, yakni tanggapan umat Kristen Indonesia terhadap pergerakan nasional memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. [21] Sejarah perlu didalami bukan sekadar daftar urutan kejadian peristiwa-peristiwa, melainkan bagaimana gereja merespon peristiwa-peristiwa atau perkembangan dalam masyarakatnya, di tiap zaman dan tempat. Karena itu studi sejarah yang kritis diperlukan untuk memahami konteks kehadiran dan respon gereja (sebagai lembaga dan/atau sebagai perorangan Kristen). Di sini aspek teologis pengutusan gereja ke dalam dunia menjadi fokus perhatian sejarah, bukan hanya kronologi perluasan geografis atau pertambahan jumlah warganya atau perkembangan organisasinya.

Keksusastraan: saya anggap kesusasteraan, sebagaimana kesenian pada umumnya, merupakan bidang penting bagi para teolog, khususnya karena kesusasteraan dan teologi sama bermain di arena kata-kata, tafsir dan inspirasi. [22]

Kalau ada yang terlampaui dalam rangkuman lima bidang dari para editor, mungkin itu perhatian saya pada IT. [23] Generasi saya memang bukan digital native seperti generasi ketiga anak kami, namun saya tergolong warga digital immigrants, [24] yakni orang yang sudah lahir sebelum era komputer dan internet, namun telah ikut masuk menjadi warga dunia maya, cyberworld alias cybernaut. [25] Pertama kali saya belajar dan punya komputer pribadi pada tahun 1990 ketika studi di Negeri Belanda, namun baru pada tahun 2000, juga di negeri kincir itu – dalam suatu konsultasi mengenai IT and Christian Education, saya menemukan titik sambung antara teologi dan teknologi. Teknologi informasi dan komunikasi adalah alat maha dahsyat di tangan segelintir orang pandai, kaya atau berkuasa, sesuai semboyan information is power (yang melengkapi knowledge is power) untuk kepentingannya. Maka gereja dan pendidikan teologi harus juga memanfaatkannya sebagai alat yang bisa sangat efektif dalam pelayanan gereja, pemberitaan Injil dan pendidikan teologi (dhi. pengembangan SDM). [26] Sebab itu saya dan kawan-kawan mengembangkan aplikasi IT di kampus, dalam administrasi, perkuliahan, sarana informasi publik, email (surel, surat elektronik) dan layanan perpustakaan. [27] Ketika menjabat sebagai Ketua PERSETIA, saya juga anjurkan pemanfaatan IT di kalangan sekolah-sekolah teologi. Saya memotivasi para mahasiswa dengan mencanangkan bahwa di abad ke-21 ini pendeta yang tidak memanfaatkan IT, gagap teknologi – gaptek dan tidak mampu memahami teks berbahasa Inggeris – tidak layak menjadi pelayan umat, apalagi memimpin gereja atau lembaga-lembaga Kristen.

Ike menulis betapa saya mencintai buku; I am a booklover, bibliophile. IT memberi kemungkinan baru bagi saya mengoleksi buku, yang tidak memerlukan kertas, rak buku atau kamar perpustakaan, bahkan juga dengan biaya yang sangat irit, yakni melalui koleksi eBooks secara offline. Saya tidak hanya mengunduh (atau juga mengopi dari teman-teman) buku-buku ke dalam koleksi, melainkan juga artikel-artikel, karya sastra, lukisan, foto, dsb dalam berbagai bidang yang saya minati. Banyak teman telah tertolong dari koleksi itu. Tapi saya juga perlu sampaikan sedikitnya empat bahaya dalam cyberworld dewasa ini: yang pertama, adanya beragam cybercrime, mulai dari sekadar penipuan pulsa sampai pembobolan ATM, penculikan gadis-gadis, dan kejahatan lainnya. Bahaya yang kedua adalah memudarnya hubungan-hubungan sosial yang hangat dan manusiawi. Sering orang bilang teknologi informasi mendekatkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat. Yang ketiga, cyberworld penuh bujuk rayu menawarkan gadgetnya: maka ingatlah, jangan tergiur mengganti HP atau laptop anda hanya karena ada model baru, supaya anda jangan terpaksa ngutang. Yang keempat, khusus untuk para mahasiswa, internet menyediakan begitu banyak bahan sehingga banyak yang cari gampang, mengerjakan tugas kuliah dengan mengcopy-paste dari internet, alias nyontek. Bahaya yang sama bagi para pengkhotbah, termasuk pendeta, karena ada begitu banyak khotbah jadi di internet, termasuk yang ditayangkan di Youtube …

Baiklah Bapak, Ibu, saudara-saudara sekalian saya akhiri orasi ini dengan sekali lagi – mewakili seluruh jajaran dan pengurus Oase-- menyampaikan terima kasih atas dukungan terhadap Oase, atas kehadiran di acara sewindu Oase dan peluncuran Jalinan Sejuta Ilalang di sini.

Kiranya nama Tuhan dimuliakan dalam hidup dan pelayanan kita.

***


Catatan:

[1] Para pendiri Oase adalah: Aguswati Hildebrandt Rambe, Corrie van de Ven, Jilles de Klerk, Julianus Mojau, Markus Hildebrandt Rambe, Marthen Manggeng, Yuberlian Padele, Zakaria Ngelow.

[2] Point 4 naskah “Beberapa Penjelasan atas Keputusan Bersama: mundur dari posisi sebagai Dosen Tetap STT INTIM MAKASSAR, terhitung mulai tanggal 1 Agustus 2005” Dokumen empat halaman (1.666 kata) ini, memuat 12 point alasan pengunduran diri para dosen pendiri Oase. Dokumen ditandatangani oleh enam (dari delapan) dosen pendiri Oase. Pdt. Aguswati Hildebrandt Rambe dan Pdt. Markus Hildebrandt Rambe pada waktu itu sudah pulang ke Jerman, karena BP Yayasan STT INTIM menolak memberi rekomendasi untuk urusan perpanjangan visa mereka.

[3] Setelah menyelesaikan masa baktinya sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Barat, Pdt. Marthen Manggeng kebali ke Makassar melanjutkan studinya pada program S3 jurusan Anthropologi Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Sejak meninggalkan kampus, berturut-turut menyelesaikan program doktornya Pak Jilles (Biblika PL), Bu Ati (Teologi Lintas Budaya) dan Bu Lian (Studi Perempuan). 

[4] Christin Hutubessy sementara ini sedang menyelesaikan program magister dalam studi perempuan di Universitas Indonesia, Jakarta, sebagai bagian dari pengembangan SDM Oase. Mudah-mudahan Jenifer Ladja dapat menyusul secepatnya.
[5] ICCO/Kerkinactie (di Negeri Belanda), CGMB of UCC and DC (di Amerika Serikat), Eukumindo (di Eropa), serta jaringan Oase Circle of Friends (CoF).

[6] Pemberdayaan juga terhadap kemampuan pembiayaan gereja, dengan berbagi beban: Oase menanggung biaya perjalanan pergi-pulang dan honorarium fasilitator, sedangkan gereja/jemaat sebagai host menanggung board and lodging dan biaya penyelenggaraan lainnya.

[7] Untuk rangkuman lingkaran pastoral, lihat "The Pastoral Spiral: a Framework for Action" di http://www.faithdoingjustice.com.au/docs/ThePastoralSpiralFrameworkforAction.pdf. Uraian cukup lengkap dalam konteks Indonesia lihat J.B. Banawiratma and J. Müller, Contextual Social Theology. An Indonesian Model. Online di http://eapi.admu.edu.ph/content/east-asian-pastoral-review-1999.

[8] Untuk memahami metode ini silakan kunjungi situsnya, http://www.theworldcafe.com.

[9] Untuk analsis sosial (ansos), lihat Ch. 5 Notion and Functions of Social Analysis dalam J.B. Banawiratma and J. Müller, Contextual Social Theology. An Indonesian Model. Klik di http://eapi.admu.edu.ph/content/chapter-5-notion-and-steps-social-analysis. Asia Development Bank menerbitkan suatu handbook, Handbook on Social Analysis A Working Document di http://www.adb.org/sites/default/files/pub/2007/social-analysis-handbook.pdf

[10] Untuk pengantar MSK (dan analisis sosial), lihat tulisan tulisan Corrie van de Ven di http://www.oaseonline.org (klik Indeks Pengarang); lihat juga Susan K. Soy, "The Case Study as a Research Method", di http://www.gslis.utexas.edu/~ssoy/usesusers/l391d1b.htm; dan "Introduction to the Case-Study Method", di http://www.uiweb.uidaho.edu/ag/agecon/391/casestudmeth.html.

[11] Lihat untuk pengantar eklesiologi, John Campbell-Nelson, “Sumber-sumber Identitas Gereja: Bahan Baku bagi Eklesiologi yang Kontekstual” di http://www.oaseonline.org/artikel/johncampbellnelson/identitas.htm.

[12] Untuk aspek-aspek tambahan terhadap tripanggilan gereja, lihat artikel-artikel tulisan John Campbell-Nelson di di http://www.oaseonline.org.

[13] Untuk rangkuman postcolonial theology, lihat Steve Hu, "The Task of the Postcolonial Theologian" di http://isaacblog.wordpress.com/2009/09/11/the-task-of-the-postcolonial-theologian-by-steve-hu/

[14] Penting mencatat bahwa masalah dalam hubungan antargereja bukan saja timbul oleh gangguan gerakan (neo)kharismatik, melainkan juga dalam konflik-konflik internal gereja, yang tak jarang bermuara pada perpecahan dan pembentukan gereja baru. Lembaga gereja bertambah, tetapi jumlah warga gereja tidak bertambah …

[15] Sampai 2011 di Indonesia sudah terdapat 33 provinsi, 399 kabupaten, 98 kota (total 497 kabupaten dan kota), dimuat di http://www.ditjen-otda.depdagri.go.id/otdaii/otda-iia.pdf. Pertambahan kabupaten/kota hampir dua kali lipat dari sebelumnya.

[16] Isu politik reformasi ini juga telah menjadi perhatian Badan Litkom PGI dalam penelitian akhir tahun 2012 lalu. Lihat Badan Litkom PGI, “Gereja dan Politik Pasca Orde Baru: Refleksi 15 Tahun Reformasi”.

[17] Juga biasa dipakai kata Jerman festschrift (=buku perayaan).

[18] Kerajinan menganyam tikar dari bahan mendong ini tidak khas masyarakat Seko. Beberapa tempat di Jawa Barat menjadi pusat kerajinan anyaman, termasuk anyaman mendong. Demikian juga suku-suku Dayak di Kalimantan dan Malaysia. Selain tikar, juga dianyam wadah beragam ukuran untuk beberapa liter beras atau tempat nasi, yang disebut kapipe, dan dalam pengembangan kemudian juga topi (seperti topi cowboy).

[19] Sekali pun bukan bahan tikar itu, di Seko ilalang dipakai sebagai atap rumah, khususnya di kebun. Bagian besar negeri indah subur terpencil di balik pegunungan di Luwu Utara ini telah menjadi padang ilalang, karena sejak zaman leluhur rimba raya dibakar dijadikan padang rumput bagi kelompok-kelompok ratusan-ribuan kerbau milik pribadi yang dibiarkan hidup liar di padang rumput. Dalam Google earth wilayah Seko tampak seperti dataran padang rumput.

[20] Saya memimpin suatu yayasan untuk masyarakat Seko. Kami telah menerbitkan sebuah buku yang mengungkapkan masa lalu masyarakat pegunungan ini, ketika mengalami pendudukan gerombolan DI/TII pada tahun 1950-an. Lihat Zakaria J. Ngelow dan Martha Kumala Pandonge, Masyarakat Seko Pada Masa DI/TII (1951-1965). Makassar, Yayasan Ina Seko, 2008. Informasi mengenai masyarakat Seko al. dapat dilihat online di: http://toseko.blogspot.com.

[21] Disertasi saya yang diterbitkan BPK Gunung Mulia (1993, 1996), Kekristenan dan Nasionalisme: Perjumpaan Umat Kristen Protestan dengan Pergerakan Nasional Indonesia, 1900-1950. Untuk versi online silakan akses di website Institut Leimena, http://www.leimena.org/id/page/v/286.

[22] Salah satu buku penting mengenai hal ini ditulis oleh Y. B Mangunwijaya, Sastra dan Religiositas. Kanisius 1982.

[23] IT, information technology, lengkapnya information and communication technology. Dalam bahasa Indonesia teknologi informasi dan komunikasi, disingkat TIK, namun sehari-hari orang terbiasa menyebut IT (ai-ti). Mengenai IT, lihat pengantar dalam “Information technology” di http://en.wikipedia.org/wiki/Information_technology.

[24] Lihat “Digital native” di http://en.wikipedia.org/wiki/Digital_native. Lihat juga evaluasi Apostolos Koutropoulos, "Digital Natives: Ten Years After" Merlot Journal of Online Learning and Teaching Vol. 7, No. 4, December 2011 di http://jolt.merlot.org/vol7no4/koutropoulos_1211.pdf

[25] Cica, anak kami yang kedua, menulis penilaiannya: “He is pretty much old school and conservative in general, but he keeps up to date with the world and technologies. It is rare to find an old historian who knows how to write HTML tags and design websites.” (h. 380)

[26] Sengaja rujukan tulisan ini pada sumber-sumber online. Salah satu layanan informasi digital yang saya kerjakan belakangan ini – dalam peran sebagai Moderator Persekutuan Gereja-gereja Reform di Indonesia (beranggotakan 27 gereja)-- adalah informasi terkait warisan gereja-gereja Reform dalam website Oase, http://www.oaseintim.org/wcrc-indonesia.

[27] Di masa itu, STT INTIM salah satu lembaga pendidikan teologi di Indonesia yang mulai menggunakan website sebagai sarana informasi, dan selain dalam hal automasi, juga STT pertama di Indonesia yang mengembangkan layanan digitalisasi local content di perpustakaan.

***