24 Mei 2014

Mimpi Yakub di Betel



Jacob by He Qi

Mimpi Yakub di Betel (Kej 28: 10-22)
 Khotbah dialog pelayanan lintas budaya, Bayern, Jerman, 18 Mei 2014
oleh Ati dan Markus Hildebrandt Rambe





Salam (Ati) :

Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus dan kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian. (Amin)

Narator (Markus) :

Jakub tengah berada dalam pelarian. Dia menjadi seorang imigran. Dia sendirian.
Memang Yakub berasal dari keluarga dengan sejarah migrasi: Abraham, kakeknya, Ishak, ayahnya, dan Ribka, ibunya - semua mereka berpengalaman bagaimana harus meninggalkan kampung halamannya dengan ketidakpastian masa depan dan menjadi pengembara dan orang asing.

Tapi Yakub? Dia memang bepindah-pindah bersama seluruh keluarga besarnya, tetapi dia selalu berada dalam kemah ayahnya; ia menikmati keamanan dan kenyamanan kehidupan yang beradab. Sebagai anak kesayangan Ribka, ibunya, ia mungkin bahkan lebih sebagai "anak kesayangan mama"; dia tidak pernah disuruh pergi jauh.

Tapi sekarang Yakub ada di perjalanan karena takut terhadap balas dendam Esau. Yakub tidak hanya mengambil hak kesulungannya, tapi juga ia menipu berkat dari ayahnya, karena dihasut oleh ibunya, Ribka. Sekarang dia disuruh pergi jauh dari Bersyeba di Kanaan ke Haran di Mesopotamia, untuk mencari perlindungan dan untuk mengambil seorang perempuan Aram dari keluarga ibunya menjadi istrinya.
Belum 100 KM perjalanan Yakub - lebih 800 KM masih di depannya! Tapi dia sekarang sudah di batas kekuatannya. Dengan kelelahan, dia datang ke suatu tempat yang masih bernama Luz pada saat itu, dan mencari tempat untuk tidur, dengan sebuah batu di bawah kepalanya. Sebuah batu untuk bantal! Ternyata begitu keras, sekeras batu ini, realitas yang dialami ketika meninggalkan rumah.

Saya tidak berpikir bahwa Yakub segera tertidur. Semua pikirannya berputar-putar dalam kepalanya. Apa saja kiranya yang datang kepadanya sebelum tidur dalam pikirannya?

Yakub (Ati) :
Ya, itu benar. Saya sungguh-sungguh tak berdaya. Saya merasakan sakit di seluruh tubuhku Saya tidak tahu mana yang lebih buruk, rasa lapar, dingin, atau gejolak batin dalam hatiku. Dan pikiranku penuh bayangan peristiwa hari-hari terakhir dan apa yang mungkin akan menimpaku.

Saya tidak tahu apakah anda dapat membayangkan ketakutanku! Untuk pertama kalinya dalam hidupku, saya meninggalkan keluarga dan rumah saya. Sangat berbeda dari saudara kembarku Esau, yang terbiasa berkeliaran ketika berburu dan bertualang sendirian di padang gurun. Sementara saya tinggal sepanjang waktu di rumah di tengah keluarga saya di Bersyeba dan menikmati rasa aman.

Di pelarian ini semua jaminan kepastian itu meninggalkan dan melawanku. Saya sendirian. Saya sangat takut pada ketidakpastian apa yang akan menimpa saya dalam perjalanan ke Haran; takut bahwa saudaraku akan mencari dan membunuhku; takut karena tidak tahu bagaimana harus melangkah lebih jauh. Dari kejauhan, saya merasa ancaman dan kesepian sedang mendekat. Tapi tidak ada jalan untuk kembali, karena keluarga dan rumah saya tidak bisa lagi memberikan keamanan bagi saya.

Sebenarnya, saya telah menerima berkat hak kesulungan dari ayah saya dan bahkan telah diberkati dua kali, tapi apakah semua ini menolong saya? Apakah para hamba, semua hasil panen dan anggur serta harta yang saya peroleh dari hak kesulungan ini, menolong saya? Tidak satu pun dari ini semua yang saya bisa andalkan. Saya harus bertahan hidup sepanjang malam yang dingin tanpa perlindungan dan atap di atas kepala. Tampaknya, sekarang berkatku telah menjadi kutukan bagiku.

Kalau saja aku tidak mengkhianati saudaraku dengan mengambil berkatnya! Jika saja saya tidak mengikuti rencana ibuku! Sekiranya hak kesulungan ini tidak saya terima! Jika saja saya tidak begitu pengecut untuk mengakui rasa bersalah saya di hadapan ayahku dan saudaraku untuk meminta pengampunan mereka!

Kalau saja…. seandainya..sekiranya…? Apa yang akan terjadi jika... ? Semua pertanyaan ini begitu sia-sia.

Saya malu terhadap ayah saya, karena bagaimana saya bisa berdiri di hadapannya dan menerima berkatnya? Bagaimana saya bisa bertatap muka dengan saudaraku, yang telah saya tipu habis-habisan dan rampok hak-haknya? Saya malu. Dan karena itu seolah-olah saya tidak hanya lari dari saudaraku melainkan dari diriku sendiri - dan dari hadapan Allah leluhurku, yang perintah-Nya saya telah langgar.

Dan ke mana saya harus pergi sekarang? Ke suatu keluarga jauh di Haran, yang saya tidak kenal? Saya tidak tahu bagaimana mereka menyambut saya. Akan menikahi seorang perempuan yang akan menganggap saya sebagai pecundang yang melarikan diri dari keluarganya sendiri?

Aku tidak tahu lagi di mana dan mengapa itu semua. Aku hanya ingin tidur - sebagaimana di rumah dan ingin bangun di kemah saya keesokan harinya, seolah semuanya hanyalah suatu mimpi buruk! Seandainya ada yang dapat memutar kembali waktu!

Narator (Markus) :

Sekali lagi Yakub memperbaiki letak batu di bawah kepalanya sebelum akhirnya ia jatuh terlelap.

Namun di tengah malam Yakub bermimpi - dan apa yang ia mimpikan begitu jelas dan begitu dahsyat, seperti sesuatu yang ia belum pernah alami. Dia melihat tangga di depannya, tegak dari bumi ke langit. Dan para malaikat, utusan Allah, tak henti-hentinya naik dan turun di tangga itu.

Lalu langit terbuka! Dan tiba-tiba ada hubungan yang mengubah semua kegelapan dan kesendirian dalam cahaya benderang. Dari atas ia mendengar suara Allah yang berbicara kepadanya: "Yakub, Akulah Allah nenek moyangmu, aku tidak meninggalkan engkau kemana pun engkau pergi, dan Aku pada suatu hari nanti aku akan membawa engkau kembali ke tempat ini. Aku punya rencana besar untukmu, engkau akan menjadi bangsa yang besar. Aku akan memberkati engkau, dan melalui engkau semua kaum di muka bumi di utara dan di selatan, barat dan timur akan mendapat berkat."

Dalam mimpi itu perspektif baru terbuka untuk Yakub. Sampai saat itu, segala sesuatu kelihatannya dalam relasi horisontal, yakni pikiran-pikirannya, keluarganya, pelariannya. Semuanya berkisar pada kekuatiran yang sama. Jalan buntu yang sama. Tapi sekarang tiba-tiba hubungan ini ada. Gerakan para malaikat yang membuat hubungan yang hidup dari atas ke bawah. Sebuah hubungan dengan Allah.

Batu yang di atasnya Yakub meletakkan kepalanya menjadi tempat yang menghubungkan sorga dan bumi. Tetapi bagaimana Yakub akan memahami semua yang telah terjadi di malam hari ketika dia bangun keesokan harinya?

Yakub (Ati) :

Ketika saya bangun di pagi hari, saya tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku. Apakah itu hanya mimpi? Atau benarkah TUHAN, Allah Abraham dan Ishak benar-benar berbicara dalam tidurku kepadaku?

Saya tahu, itu lebih dari hanya mimpi. Karena saya dapat merasakan di dalam diriku: ada yang berubah. Saya tidak lagi sama seperti saya yang tidur kemarin. Dan saya tahu: Allah ada di sini! Kini, saya tidak melihat tangga dan para malaikat lagi. Namun hubungan dengan Allah moyangku itu ada di sini dan jelas, sejelas yang belum pernah saya alami sebelumnya. Sekarang Dia tidak hanya Allah moyangku, tapi sungguh-sungguh Allahku juga!

Sampai pada malam sebelumnya, saya berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkan saya karena pelanggaran-pelanggaranku. Saya tidak tahu bahwa Dia bersamaku, berjalan melewati kesulitan dan ancaman. Melalui kehadiranNnya, Dia bahkan telah memperkenalkan diriNya sebagai „Allah Penyerta“.

Tradisi di rumah ayahku, seseorang harus memenuhi syarat tertentu untuk menjadi "wahana (pembawa?) berkah“, entah itu berkaitan dengan status sebagai anak sulung dan sebagai anak kesayangan, atau persyratan khusus lainnya. Seperti saudaraku Esau, ia bukan hanya anak sulung, tapi sebagai seorang pemburu ia bisa mempersiapkan hasil buruannya dengan keterampilan hidangan kesukaan ayah. Ayah suka itu. Tapi di tempat asing ini, saya sekarang mengalami berkat yang berbeda. Saya mengalami kasih tanpa syarat dari Tuhan.

Bayangkanlah!

  • Justru ketika saya merasa tidak pantas, Allah berbicara kepadaku dan bahkan memberi saya berkat-Nya. Untuk berkat ini saya tidak harus berjuang atau membuktikan diri lebih baik daripada yang lain, karena berkatNya adalah milik-Nya sendiri dan anugerah-Nya. Untuk mendapatkan berkat-Nya tidak perlu persaingan dengan orang lain.
  • Justru ketika saya mengalami perasaan putus asa, saya mengalami kehadiran Allah, harapan dan perspektif baru, yaitu menjadi berkat bagi semua orang. Tuhan berkata kepada saya "semua keluarga di bumi akan mendapat berkat melaluimu dan keturunanmu" (ayat 14). Saya, yang tidak layak ini, yang telah menipu dan mengkhianati sesama dijadikan pembawa berkat bagi semua orang di bumi!

Jika semua ini bukan tanda-tanda pendamaian Allah, lalu apa?

Dengan kekuatan pendamaian Allah ini, saya mengalami dimensi baru tentang makna berkat. Dia tidak dibatasi sebagai hadiah khusus atau hanya diperuntukkan bagi orang tertentu, sebagaimana ayah menjawab ketika Esau, saudara saya, meminta dia memberi berkat lain. Tetapi Tuhan telah menunjukkan kepada saya bahwa berkat-Nya tak terbatas, berlimpah dan untuk semua. Dari pengalaman dengan Allah ini saya mengerti sekarang apa maknanya berada di bawah berkat Tuhan.

Pengalaman dijaga dan disertai oleh Allah ketika jauh dari rumah dan di dunia yang tampaknya berbahaya ini, merupakan hal yang baru bagi saya. Karena saya selalu menempatkan keselamatan dan kenyamanan terkait dengan rumah (kampung halaman). Tapi pengalaman saya sebagai pengembara di negri asing telah mengubah saya. Allah sang Penyerta memberi saya janji-Nya: " Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke manapun engkau pergi. (...) Karena Aku tidak akan meninggalkan engkau, sampai Aku telah melakukan apa yang telah saya janjikan." (ayat 15)

Narator (Markus) :

Untuk Yakub, telah terjadi perubahan yang sangat berarti. Meskipun keadaannya masih sama. Tapi kini dia tiba-tiba memiliki perspektif baru tentang apa rencana Allah baginya. Ada harapan dan perspektif baru lagi, yang menjadikannya berguna untuk melanjutkan perjalanan.

Batu yang malam itu menjadi simbol kegagalannya, telah menjadi tempat di mana Allah berbicara kepadanya. Di sini langit dan bumi telah saling menyentuh. Ada yang terpulihkan karena dia mengalami kehadiran Allah yang tidak pernah meninggalkan dia. Sebuah tempat suci. Oleh karena itu, ia mendirikan batu di mana ia tidur, untuk menjadi tonggak. Ia kuduskan dengan minyak dan menyebutnya "Beth-El" - rumah Allah. Di sini dia pada suatu hari, jika mimpinya benar-benar terbukti, akan kembali dan membangun rumah ibadah.

Seperti Yakub, kita juga sedang berada di perjalanan hari ini. Dan seperti Yakub, kita juga memerlukan batu seperti itu, yakni tempat-tempat perjumpaan dengan Allah, di mana di dalam pengembaraan, kita menemukan perspektif baru. Sebuah tempat di mana kita mengalami pemulihan di tengah-tengah kerapuhan dan kegalauan hidup kita. Sebuah tempat di mana langit dan bumi bersentuhan satu sama lain.

Juga, Allah ingin memberikan tempat-tempat suci seperti itu kepada anda. Juga Allah ingin memberikan pengalaman di mana anda akan menyadari, berkat-berkat apa saja, rumah (home) mana saja dan keamanan yang bagaimana, yang Allah sang Penyerta berikan.

Mungkin hal ini terjadi dalam pertemuan dengan seseorang yang akan menjadi malaikat Allah bagi anda. Mungkin ini terjadi dalam ibadah di gereja anda, di mana Allah berbicara kepada anda dan Roh-Nya menyentuh anda.

Akan tetapi kadang-kadang terjadi juga seperti melalui mimpi, ketika kita berada di titik terendah kesepian dan merasa ditinggalkan seorang diri.

Allah tidak meninggalkan anda. Dia memberkati anda. Dan melalui anda, orang-orang lain akan mendapat berkat.

Berkat akhir (Ati) :

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. (Amin)


---------------


20 Februari 2014

Pengantar Diskusi Buku





Aguswati Hildebrandt Rambe, Keterjalinan dalam Keterpisahan. Mengupaya Teologi Interkultural dari Kekayaan Simbol Ritus Kematian dan Kedukaan di Sumba dan Mamasa (Oase Intim, 2014)

Pergumulan yang diangkat di dalam buku ini pada awalnya lahir dari ruang kelas mata kuliah "Teologi Interkultural", ketika penulis mengajar di STT INTIM pada tahun 1999 - 2005. Kekayaan informasi tentang budaya-budaya dan agama-agama lokal yang diangkat oleh para mahasiswa/i, demikian halnya sejumlah studi kasus yang sangat menarik dan menantang berhubungan dengan perjumpaan iman Kristen dan agama-agama lokal, secara khusus tentang ritus - ritus kematian dan kedukaan, telah membuka mata penulis bukan hanya tentang kekayaan bahasa simbol agama-agama lokal melalui ritus, namun juga penulis disadarkan tentang kompleksitas yang dihadapi oleh gereja - gereja serta urgensi  memberi jawaban teologis atas sejumlah pertanyaan yang lahir dari perjumpaan tersebut.
Kesadaran yang lahir dari ruang kelas ini membuahkan keinginan dan motivasi untuk mengenal lebih jauh konteks berteologi di Indonesia, secara khusus di Indonesia bagian Timur, dengan cara melakukan perjalanan ke daerah-daerah seperti Mamasa (Nosu, Pana) dan Sumba Timur. Di dalam perjalanan ini, penulis menemukan secara ril kompleksitas persoalan yang berkepanjangan, yang dihadapi gereja dan umatnya
Sikap dan paradigma gereja dalam menghadapi persoalan pelik relasi agama-agama lokal dan iman Kristen (baca: ajaran gereja) adalah dengan menggunakan pola atau sikap memilah (selektif dualistik), mana elemen yang sesuai iman kristen dan mana yang bertentangan. Pola berpikir seperti ini telah lama menyejarah sebagai sikap utama gereja dan cenderung menjadi sikap satu-satunya dalam menghadapi rumitnya persoalan perjumpaan iman Kristen dan agama-agama lokal.  Dalam proses studi ini ditemukan bahwa sikap dan paradigma ini justru menjadi perangkap bagi gereja dan umatnya yang secara tidak sadar diarahkan untuk masuk ke kedalaman pusaran persoalan yang semakin rumit, sehingga gereja dan umatnya tidak dapat keluar dari rumitnya persoalan yang berkepanjangan. Salah satu akibat logis dari "sikap memilah" ini adalah ketegangan dan dilema identitas. Umat diperhadapkan dengan pilihan sulit berhubungan dengan identitas dirinya: entah setia pada leluhur atau setia pada iman Kristen. Alhasil, umat Kristen dituntun untuk beriman secara ganda yang terpilah dan justru di dalam situasi - situasi tertentu seperti menghadapi kematian dan kedukaan, umat terdesak untuk menentukan pilihan yang membebaninya.
Salah satu simpul dari studi ini menunjukkan bahwa paradigma selektif dualistik ini telah gagal menolong gereja dan umat dalam sejarah perjumpaannya dengan agama-agama lokal. Berangkat dari "kegagalan sejarah" tersebut, karya ini mencoba untuk menawarkan sikap dan paradigma yang konstruktif, yakni dengan tidak lagi bertanya: mana saja elemen budaya atau agama-agama lokal yang terartikulasi di dalam ritus-ritus kematian dan kedukaan, yang sesuai dengan iman Kristen dan mana saja yang bertentangan. Melainkan karya ini merumuskan pertanyaan konstruktif yang sederhana, yakni: Manfaat apa yang didapatkan oleh gereja dan umat Kristen di dalam perjumpaannya dengan agama-agama lokal. Atau bagaimana gereja melihat perjumpaan ini sebagai momen pembelajaran dan pengayaan bentuk-bentuk artikulasi pelayanan dan kehadirannya.
Berangkat dari pertanyaan konstruktif tersebut di atas, maka tulisan ini menyingkap (entdecken)  sebagai bagian dari proses berteologi bahwa bahasa simbol yang kaya yang terungkap melalui ritus - ritus kematian dan kedukaan masyarakat tradisional di Sumba dan Mamasa, tengah mengartikulasi sejumlah informasi penting tentang kebutuhan, pergumulan, kegelisahan, ketakutan umat yang tengah menghadapi dahsyatnya kuasa maut dan kematian. Di pihak lain, kekayaan bahasa simbol tersebut menjadi penanda bahwa ritus adalah mekanisme yang digunakan agama-agama lokal untuk menolong warganya menghadapi persoalan eksistensial seperti kematian. Pengalaman menghadapi dan mengalami dekatnya keterpisahan yang kekal oleh karena kematian terkadang tak dapat terbahasakan oleh ungkapan verbal, karena di sana bahasa verbal menjadi miskin. Oleh sebab itu, simbol menjadi alat bantu membahasakan dunia yang tak terbahasakan oleh ungkapan atau bahasa verbal.
Salah satu jawaban atas pertayaan konstruktif di atas tadi, sebagai manfaat yang tersingkap dari proses mendengar dan membaca bahasa simbol dalam ritus kematian adalah pemahaman akan kebutuhan dan kerinduan serta kegelisahan umat yang tengah menghadapi kematian dan berada di masa-masa duka. Berangkat dari hasil bacaan simbol-simbol ini, gereja tertolong untuk merancang dan merumuskan jawaban-jawaban teologis, demikian halnya merancang praksis pelayanan pendampingan yang membebaskan dan berpihak serta sesuai dengan kebutuhan umat. Dengan begitu, pedekatan konstruktif ini digunakan untuk keluar dari kondisi dilematis gereja yang berkepanjangan dan membebaskan umat dari sikap dilematis dan keterpaksaan untuk memilih antara kesetiaan kepada leluhur atau kesetiaan pada imannya.
Kedua wilayah studi ini (Mamasa dan Sumba) dimaksudkan sebagai "contoh kasus" semata dari realitas yang kompleks berhubungan dengan relasi agama Kristen dan agama -agama lokal di tempat - tempat lain di Indonesia. Dipahami pula dengan sungguh akan keterbatasan penulis sebagai orang yang bukan berasal dari kedua daerah ini, secara khusus berkaitan dengan bahasa daerah yang digunakan pada pemaparan ritus.
Diharapkan bahwa karya ini menjadi "provokasi" bagi pembacanya untuk terus menerus melahirkan dan merumuskan pertanyaan - pertayaan baru di dalam berteologi sebagai sebuah proses yang dinamis dan aktual.
Semoga terprovokasi!

Makassar, 8 Februari 2014
Aguswati Hildebrandt Rambe

10 Februari 2014

Sambutan atas buku KDK



Sambutan atas buku
Keterjalinan dalam Keterpisahan: Mengupaya Teologi Interkultural dari Kekayaan Simbol Ritus Kematian dan Kedukaan di Sumba dan Mamasa. (2014, 412 hlm). Disertasi teologi lintas budaya
Pdt. Dr. Aguswati Hildebrandt Rambe

Dalam usaha memahami budaya Yahudi masa Yesus, yang menguburkan orang mati di dalam lubang batu – dan bahkan adanya penemuan ossuaries (peti-peti jenazah) -- saya pernah memeriksa budaya penguburan beberapa budaya etnis di Indonesia. Orang Batak membuat sacrophagus (peti mati dari batu), demikian juga orang Minahasa yang “mendudukkan” orang matinya di dalam waruga. Orang Toraja menguburkan mayat di dalam gua atau di dalam kuburan yang dipahat di bukit batu. Orang Sumba memotong batu besar dan menariknya ke pekuburan untuk penutup kuburan.

 Aguswaty Hildebrandt Rambe, penulis buku ini membahas lebih dalam mengenai tradisi penguburan di kalangan orag Sumba dan orang Toraja Mamasa. Buku Keterjalinan dan Keterpisahan ini adalah sebuah karya teologi kontekstual di bidang lintas budaya, yang secara khusus membahas budaya kematian pada dua suku di Indonesia, Sumba dan Mamasa. Buku ini ditulis kembali untuk pembaca Indonesia dari naskah aslinya, suatu disertasi berbahasa Jerman.
Penerbitan ini menyambung penerbitan beberapa buku Oase sebelumnya, Teologi Bencana (2006), Jalinan Sejuta Ilalang (2012) dan Teologi Politik (2013). Sumbangan penting pokok buku ini bagi pengembangan teologi kontekstual di Indonesia dengan sendirinya jelas. Sejarah pekabaran Injil di Indonesia di kalangan suku-suku berlangsung tanpa dialog yang sehat dengan budaya tradisional masyarakat Indonesia. Kalangan zending secara umum menilai budaya tradisional secara negatif. Di beberapa tempat kalangan zending membedakan antara unsur-unsur ritus dan adat istiadat, antara yang bersifat keagamaan dan yang hanya merupakan aturan-aturan atau kebiasaan sosial. Semua yang ritus dilarang sebagai yang sesat atau kafir, sedangkan adat-istiadat dipilah antara yang positif sehingga boleh diteruskan dan yang negatif, jadi harus ditinggalkan. Terlepas dari larangan-larangan itu, orang Kristen dari berbagai suku tetap berusaha hidup dalam identitas sosial budayanya, sehingga sering membingungkan gereja. Pendekatan kalangan zending yang membedakan ritus dan adat dalam budaya tradisional kini mulai dipertanyakan, baik karena keterjalinan kedua aspek itu dalam budaya tradisional, maupun karena pendekatan zending tidak memberi penghargaan teologis terhadap budaya (dan agama) tradisional. Ritus kematian pada beberapa masyarakat tradisional terkait dengan ancestor worship (penyembahan leluhur) yang berkaitan dengan faham deification (pengilahian) leluhur, dan dengan reproduksi atau rekonfirmasi status sosial. Yang pertama menjadi alasan zending menolaknya, dan yang terakhir ini menjadi alasan upacara kematian tradisional makin marak diselenggarakan, misalnya di kalangan masyarakat moderen orang Toraja dan Toraja Mamasa.

Studi Bu Ati ini tidak hanya penting bagi kalangan Kristen kedua suku, Sumba dan Mamasa; suku-suku lainnya yang bermasalah dengan tradisi budaya bisa memperoleh pedoman pastoral dalam buku ini. Buku ini penting juga sebagai rintisan dalam bidangnya secara multidisiplin, dan karena itu bermanfaat bagi banyak kalangan.

Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan. (Yes 12:3)

(Zakaria J. Ngelow)

Anda ingin memesan buku ini? Klik: www.oaseintim.org/books.htm