Apa itu Pengakuan Accra?
Pengakuan Accra ditetapkan oleh delegasi WARC (the World Alliance of Reformed Churches) pada Sidang Raya ke-24 di Accra, Ghana, tahun 2004, berdasarkan keyakinan teologis bahwa ketidakadilan ekonomi dan lingkungan hidup dalam ekonomi global dewasa ini menuntut keluarga besar gereja-gereja Reformasi untuk meresponnya sebagai suatu masalah iman kepada Injil Yesus Kristus. Pengakuan Accra menyeru kepada umat Kristen Reform di seluruh dunia untuk menentang ketidakadilan sebagai suatu bagian terpadu dari kesaksian dan misi gereja.
Mengapa Gereja-gereja memerlukan Pengakuan Accra?
1. Keadilan adalah masalah iman. Konfessi Accra menyatakan bahwa masalah-masalah keadilan ekonomi dan lingkungan hidup tidak hanya merupakan isu-isu sosial, politik, dan moral, melainkan bagian terpadu dengan iman kepada Yesus Kristus dan mempengaruhi integritas gereja. Setia kepada perjanjian Allah menuntut orang-orang Kristen secara pribadi dan gereja-gereja untuk menentukan sikap terhadap ketidakadilan ekonomi dan lingkungan hidup dewasa ini.
2. Keesaan gereja kritis. Keesaan menyangkut kebersamaan, betapapun isu-isu yang menantang gereja yang mengaku imannya bersifat memecah-belah. Sementara kenyataan kompleks globalisasi menyebabkan gereja-gereja tidak mengarahkan pada suatu konsensus penuh, tetapi keluarga Reform global menanggapi sifat problematis ekonomi global masa kini dalam Pengakuan Accra.
3. Gereja berfihak dalam kesetiakwanan dengan orang-orang yang menderita dan berjuang. Mengikuti tradisi keadilan dari para nabi Alkitabiah dan dari Yesus dalam kisah-kisah Injil, Pengakuan Accra memandang tatatan/kekacauan dunia dewasa ini dengan “memandang melalui mata orang-orang yang tak berdaya dan menderita.” Pengakuan Accra menyeru kepada gereja-gereja dan masyarakat untuk mendengar ratap tangis orang-orang yang menderita, dan keterlukaan ciptaan sendiri, yang diekspoitasi berlebihan dan direndahkan oleh ekonomi global masa kini.
Sejarah Pengakuan Accra
Pengakuan Accra adalah hasil dari proses selama 15 tahun ... • 1989 – Pada Sidang Raya WARC di Seoul, Korea, tahun 1989, “Suatu Surat Terbuka kepada Anak-anak dan Kaum Muda Bumi” menyeru kepada gereja-gereja anggota WARC untuk masuk ke dalam suatu ikatan perjanjian untuk keadilan menghadapi “ancaman terhadap kehidupan, demi keseluruhan ciptaan, masa depan seluruh umat manusia dan khususnya anak-anak dan kaum muda bumi.” • 1995 – Seruan itu diintensifkan pada tahun 1995, ketika gereja-gereja Afrika pada konsultasi di Kitwe, Zambia, mengusulkan kepada Alliansi untuk menyatakan bahwa ekonomi global dewasa ini sebagai antitesis terhadap iman Kristen, dengan cara yang sama seperti sikap historis gereja-gereja yang mengaku terhadap Naziisme dan apartheid. • 1997 – Sidang Raya WARC pada tahun 1997 di Debrecen, Hungaria, menyeru kepada gereja-gereja anggota WARC untuk terlibat dalam “suatu proses mengikat pada pengakuan, pendidikan dan konfesi mengnai ketidakadilan ekonomi dan kehancuran ekologis.” Proses itu kemudian dikenal sebagai “Perjanjian untuk Keadilan Ekonomi dan Bumi diimplementasikan dalam berbagai wilayah dunia dalam kemitraan dengan Dewan Gereja-gereja Sedunia dan Federasi Lutheran Sedunia. • 2004 – Sidang Raya tahun 2004 di Accra, Ghana, adalah titik puncak proses Perjanjian bagi Keadilan Ekonomi dan Bumi. Gereja-gereja dari dunia bagian Selatansecara khusus menantang keluarga Reform di Accra, menanyakan berapa lama mereka masih akan menunggu untuk suatu konfesi iman yang menyatukan terhadap petaka yang dilakukan dalam ekonomi global masa kini. Sementara sejumlah gereja-gereja dari dunia Utara tidak menyetujui suatu sikap doktrinal, pada akhirnya ada konsensus menyangkut sifat problematik ekonomi global masa kini dan ketidakadilan yang diakibatkannya. Karena itu, persidangan mencapai keputusan untuk merespon dalam suatu cara konfesi, yakni mengambil sikap iman menghadapi ketidakadilan ekonomi dan kerusakan ekologi masa kini. Pengakuan Accra Perjanjian untuk Keadilan Ekonomi dan Bumi Walaupun bukan suatu konfesi doktrin sebagaimana Katekhismus Heidelberg atau Pengakuan Westminter, Pengakuan Accra menantang ajaran-ajaran ekonomi masa kini dengan kritisisme berhala tradisi Reform (yakni Mammon, konsumerisme, pasar uang dan spekulatif) yang menyangkal kedaulatan Allah pemberi kehidupan dan menolak perjanjian Allah dengan menyisihkan orang miskin, yang tak berdaya, dan keseluruhan Ciptaan dari kehidupan yang penuh.
Apa itu WARC, Alliansi Sedunia Gereja-gereja Reform?
WARC adalah suatu gerakan sedunia bekerjasama bagi kesatuan dan kepenuhan hidup bagi semua, baik dalam kalangan gereja-gereja anggota sendiri, maupun dalam konteks yang lebih luas dari suatu dunia yang menyerukan keadilan. WARC adalah suatu persekutuan 75 juta umat Kristen Reform dari 214 gereja di 107 negara, dengan gereja-gereja anggota dari latar belakang Kongregasional, Presbiterian, Reform, Kesatuan, dan Waldensian, yang berakar dalam Reformasi abad ke-16 yang dipimpin oleh Yohanes Kalvin, John Knox, dan lain-lain. WARC mempunyai kantor kecil di Geneva, Swiss, dan dewan-dewan wilayah di Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Amerika Utara.
Pengakuan Accra
Pengantar
1. Menyambut seruan mendesak gereja-gereja anggota Afrika Selatan yang bertemu di Kitwe pada tahun 1995, dan menyadari meningkatnya urgensi ketidakadilan ekonomi dan kerusakan lingkungan, Sidang Raya ke-23 (Debrecen, Hungaria, 1997) mengundang gereja-gereja anggota WARC untuk masuk dalam proses “mengaku, edukasi dan konfesi (processus confessionis).” Gereja-gereja merenungkan naskah Yesaya 58:6 “... supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya”, sementara mereka mendengarkan ratap tangis saudara-saudari mereka di seluruh dunia dan menyaksikan pemberian Allah kepada ciptaan berada di bawah ancaman.
2. Sejak itu, sembilan gereja anggota berkomitmen pada pendirian iman; beberapa dalam proses perjanjian; dan yang lain telah melakukan studi dan mengakui betapa dalamnya krisis itu. Selanjutnya, dalam kemitraan dengan DGD, LWF dan organisasi-organisasi ekumenis regional, WARC terlibat dalam konsultasi-konsultasi di semua wilayah dunia, dari Seoul/Bangkok (1999) ke Stony Point (2004). Konsultasi tambahan berlangsung dengan gereja-gereja dari Selatan di Buenos Aires (2003) dan dengan gereja-gereja dari Selatan dan Utara di London Colney (2004).
3. Ketika berkumpul di Accra, Ghana, untuk bersidang raya WARC, kami mengunjungi kamar-kamar tahanan bawah tanah untuk para budak di Elmina dan Cape Coast, di mana jutaan orang Afrika di perdagangkan, dijual dan dijadikan korban kekejaman penindasan dan kematian. Seruan “tidak pernah lagi” jadi dusta oleh kenyataan berlanjutnya perdagangan manusia dan penindasan oleh sistem ekonomi global.
4. Kini kami sampai pada pengambilan keputusan komitmen iman. Membaca tanda-tanda zaman
5. Kami telah mendengar bahwa ciptaan terus merintih, dalam perbudakan, menantikan pembebasan (Rm 8.22). Kami ditantang oleh ratap tangis orang-orang yang menderita dan oleh keterlukaan ciptaan sendiri. Kami melihat konvergensi antara penderitaan rakyat dan kerusakan yang dilakukan terhadap ciptaan lainnya.
6. Tanda-tanda zaman telah menjadi makin memberi tanda bahaya dan harus ditafsirkan. Sebab-sebab mendasar dari ancaman besar terhadap kehidupan terutama akibat dari sistem ekonomi yang tidak adil yang dipertahankan dan dijaga oleh kekuatan politik dan militer. Sistem-sitem ekonomi adalah suatu masalah hidup atau mati.
7. Kami hidup dalam suatu dunia jahat yang menyangkal panggilan Allah untuk kehidupan bagi semua. Pendapatan tahunan orang terkaya satu prosen berbanding 57% dari yang termiskin; dan 24.000 orang mati tiap hari karena kemiskinan dan kekurangan gizi. Utang negara-negara miskin makin meningkat di samping berkali-kali membayar kembali pokok hutangnya. Perang memperebutkan sumber daya mengorbankan jutaan nyawa, sementara jutaan lainnya mati oleh wabah yang sebenarnya sudah dapat dicegah. Pandemik global HIV dan AIDS mengancam kehidupan di seluruh bagian dunia, khususnya di kalangan yang termiskin di mana obat-obat generik tidak tersedia. Mayoritas mereka yang miskin adalah perempuan dan anak-anak, dan orang yang hidup dalam kemiskinan absolut dengan kurang dari satu dollar AS sehari makin meningkat jumlahnya.
8. Kebijakan pertumbuhan tanpa batas di kalangan negara-negara industri dan dorongan cari untung perusahaan-perusahaan transnasional telah menghancurkan bumi dan merusak lingkungan. Pada tahun 1989 satu species hilang setiap hari, dan di tahun 2000 satu hilang setiap jam. Perubahan iklim, mengurangnya persediaan ikan, penggundulan hutan, erosi humus, dan ancaman pada air tawar antara lain adalah akibat dari penghancuran bumi itu. Komunitas jadi kacau, mata pencaharian hilang, wilayah-wilayah pantai dan pulau-pulau Pasifik terancam tergenang, dan badai meningkat. Tingkat yang tinggi radio aktif mengancam kesehatan dan ekologi. Bentuk-bentuk kehidupan dan pengetahuan budaya dipatenkan untuk keuntungan finansil.
9. Krisis ini terhubung langsung dengan pengembangan globalisasi ekonomi neoliberal, yang didasarkan pada beberapa prinsip berikut:
• kompetisi yang tak terbatas, konsumerisme dan pertumbuhan ekonomi tanpa batas serta akumulasi kekayaan adalah yang terbaik bagi seluruh dunia;
• pemilikan kekayaan pribadi tidak punya kewajiban sosial;
• spekulasi modal, liberalisasi dan deregulasi pasar, privatisasi sarana publik dan sumber-sumber nasional, akses tanpa batas investasi dan impor asing, pajak yang rendah dan pergerakan modal tanpa batas akan mewujudkan kekayaan bagi semua;
• kewajiban sosial, perlindungan orang miskin dan yang lemah, koperasi, dan hubungan antara manusia kurang pentingnya dibandingkan proses pertumbuhan ekonomi dan akumulasi modal.
10. Inilah ideologi yang mengklaim tak ada alternatifnya, menuntut pengorbanan tanpa akhir dari orang miskin dan ciptaan. Ia berjanji palsu bahwa akan menyelamatkan dunia melalui penciptaan kekayaan dan kemakmuran, mengklaim kedaulatan atas kehidupan dan menuntut ketaatan yang terarah pada penyembahan berhala.
11. Kami menyadari besar dan kompleksnya situasi. Kami tidak mencari jawaban gampang. Sebagai pencari kebenaran dan keadilan, dan memandang melalui mata orang-orang yang tak berdaya dan menderita, kami mmelihat bahwa tatanan/ketakteraturan dunia masa kini berakar dalam suatu sistem ekonomi yang maha kompleks dan immoral yang dipertahankan oleh kekaisaran. Dengan memakai istilah “kekaisaran” kami maksudkan penggabungan kekuatan ekonomi, budaya, politik dan militer yang membentuk suatu sistem dominasi yang dipimpin oleh negara-negara kuat untuk melindungi dan mempertahankan kepentingan-kepentingan mereka sendiri.
12. Dalam ekonomi liberal klasik, negara ada untuk melindungi kekayaan dan kontrak pribadi dalam pasar persaingan. Melalui perjuangan gerakan-gerakan pekerja, negara-negara mulai mengatur pasar dan mengusahakan kesejahteraan masyarakat. Sejak tahun 1980an, melalui transnasionalisasi modal, neoliberalisme bertindak meniadakan fungsi negara untuk menyejahterakan. Di bawah neoliberalisme tujuan ekonomi adalah meningkatkan keuntungan dan kembalinya modal kepada pemilik produksi dan modal finansial, sementara itu mayoritas rakyat disisihkan dan alam diperlakukan sebagai komoditas.
13. Sementara pasar mengglobal, demikian pula lembaga-lembaga politik dan hukum yang melindunginya. Pemerintah Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, bersama-sama dengan lembaga-lembaga keuangan dan perdagangan internasional (International Monetary Fund, World Bank, World Trade Organization) memakai aliansi-aliansi politik, ekonomi atau militer untuk melindungi dan memajukan kepentingan para pemilik modal.
14. Kami melihat konvergensi krisis ekonomi dengan integrasi globalisasi ekonomi dan geopolitik yang didukung oleh ideologi liberal. Inilah sistem global yang mempertahankan dan melindungi kepentingan fihak-fihak yang kuat. Hal itu berdampak dan menyandra kami semua. Selanjutnya, dalam ungkapan Alkitabiah, suatu sistem akumulasi kekayaan demikian yang mengorbankan orang miskin dilihat sebagai kefasikan kepada Allah dan bertanggungjawab atas penderitaan manusia yang dapat dicegah, dan disebut Mamon (Luk 16:13).
Mengaku Iman di hadapan Ketidakadilan Ekonomi dan Kerusakan Lingkungan Hidup
15. Komitmen iman dapat diungkapkan dalam berbagai cara sesuai tradisi wilayah dan teologi: sebagai konfesi, sebagai pengakuan bersama, sebagai sikap iman, sebagai kesetiaan pada perjanjian Allah. Kami memilih konfesi, bukan dalam arti suatu konfesi dokrin klasik, sebab WARC tidak dapat melakukan suatu konfesi macam itu, namun memperlihatkan keharusan dan urgensi dari suatu respon aktif terhadap tantangan-tangan zaman kita, dan terhadap seruan Debrecen. Kami mengundang gereja-gereja anggota untuk menerima dan merespon sebagai kesaksian bersama.
16. Berbicara dari tradisi Reform kami, dan setelah membaca tanda-tanda zaman, Sidang Raya WARC menegaskan bahwa keadilan ekonomi global esensil bagi integritas iman kami kepada Allah dan kemuridan kami sebagai orang Kristen. Kami yakin bahwa integritas iman kami dipertaruhkan jika kami tetap diam atau menolak bertindak menghadapi sistem globalisasi ekonomi neoliberal yang berlaku, dan karena itu kami mengaku di hadapan Allah dan di hadapan sesama.
17. Kami percaya pada Allah, Pencipta dan Pemelihara seluruh kehidupan, yang memanggil kami sebagai mitra dalam penciptaan dan penebusan dunia ini. Kami hidup di bawah janji bahwa Yesus Kristus datang supaya semua meperoleh kehidupan dalam kelimpahan (Yo 10:10). Dipimpin dan ditopang oleh Roh Kudus, kami membuka diri terhadap kenyataan dunia kini.
18. Kami percaya bahwa Allah yang berdaulat atas seluruh ciptaan. “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.” (Mz 24:1).
19. Karena itu kami menolak tata ekonomi dunia yang berlaku sekarang, yang dipaksakan oleh kapitalisme neoliberal, dan sistem ekonomi lain manapun, termasuk tata ekonomi yang direncanakan secara mutlak, yang menentang perjanjian Allah dengan mengenyahkan orang miskin, orang yang lemah, dan seluruh ciptaan dari kepenuhan kehidupan. Kami menolak setiap klaim kekaisaran ekonomi, politik dan militer yang melawan kedaulatan Allah atas kehidupan, dan bertindak bertentangan dengan pemerintahan adil Allah.
20. Kami percaya bahwa Allah telah membuat suatu perjanjian dengan seluruh ciptaan (Kej 9:8-12). Allah telah menjadikan suatu persekutuan kehidupan di bumi yang didasarkan pada visi keadilan dan perdamaian. Perjanjian itu adalah suatu pemberian anugerah yang tidak dijual di pasar (Yes 55:1). Itulah ekonomi anugerah bagi keluarga seluruh ciptaan. Yesus memperlihatkan bahwa inilah suatu perjanjian inklusif di mana orang miskin dan yang tersisih menjadi mitra utama, dan memanggil kami untuk berlaku adil kepada “mereka yang terkecil itu” (Mat 25:40) pada pusat persekutuan kehidupan. Semua ciptaan diberkati dan dilibatkan dalam perjanjian-Nya (Hos 2:18 dst).
21. Karena itu kami menolak budaya konsumerisme yang merajalela dan kerakusan persaingan serta ketamakan sistem pasar global neoliberal atau sistem manapun lainnya yang mengklaim tidak ada alternatif.
22. Kami percaya bahwa setiap ekonomi keluarga kehidupan yang diberikan kepada kami oleh perjanjian allah untuk menunjang kehidupan harus dipertangungjawabkan kepada Allah. Kami percaya bahwa ekonomi ada untuk melayani martabat dan kesejahteraan manusia di dalam persekutuan, dalam batas-batas kelestarian ciptaan. Kami percaya bahwa umat manusia dipanggil untuk mermilih allah daripada Mamon, dan bahwa mengaku iman kami adalah suatu tindakan ketaatan.
23. Karena itu kami menolak akumulasi kekayaan tanpa aturan dan pertumbuhan tanpa batas yang telah mengorbankan nyawa jutaan orang dan merusakkan banyak ciptaan Allah.
24. Kami percaya bahwa Allah adalah Allah keadilan. Dalam suatu dunia korup, menghisap dan serakah, Allah dengan cara khusus adalah Allah mereka yang melarat, miskin dan tertindas, yang diperlakukan salah dan dinista (Mz 146: 7-9). Allah memanggil ke hubungan yang adil dengan semua ciptaan.
25. Karena itu kami menolak sesuatu rezim ideologi atau ekonomi yang mendahulukan laba daripada manusia, tidak peduli pada semua ciptaan, dan menjadikan milik pribadi pemberian Allah yang dimaksudkan untuk semua. Kami menolak sesuatu pengajaran yang atas nama Injil membenarkan mereka yang mendukung, atau yang gagal menentang, ideologi seperti itu.
26. Kami yakin bahwa Allah memanggil kami untuk memihak mereka yang menjadi korban ketidakadilan. Kami tahu apa yang Allah tuntut: untuk melakukan keadilan, mencintai kebaikan, dan menempuh jalan Allah (Mi 6:8). Kami dipanggil untuk menentang setiap bentuk ketidakadilan dalam ekonomi dan perusakan lingkungan hidup, “sehingga keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir” (Am 5:24).
27. Karena itu kami menolak sesuatu teologi yang mengklaim bahwa Allah hanyalah beserta mereka yang kaya dan bahwa kemiskinan adalah kesalahan orang miskin. Kami menolak setiap bentuk ketidakadilan yang merusak hubungan-hubungan yang benar – jender, ras, kelas, cacat, atau kasta. Kami menolak setiap teologi yang mendukung bahwa kepentingan manusia mendominasi alam.
28. Kami percaya bahwa Allah memanggil kami untuk menedengar ratap-tangis kaum miskin dan keluh kesah ciptaan, dan mengikuti misi pelayanan publik Yesus Kristus yang datang supaya mereka memperoleh kehidupan dan mempunyainya dalam kelimpahan (Yo 10:10). Yesus membawa keadilan kepada yang tertindas dan memberi makanan kepada yang lapar; dia membebaskan mereka yang terpenjara dan mencelikkan mata orang buta (Lk 4:18); dia mendukung dan melindungi mereka yang ternista, orang asing, anak yatim dan janda-janda.
29. Karena itu kami menolak sesuatu praktek atau ajaran gereja yang mengenyahkan orang miskin dan pemeliharaan ciptaan dalam misinya; memberi penghiburan kepada mereka yang datang “mencuri, membunuh dan merusak” (Yo 10:10) dan bukannya mengikuti “Gembala yang Baik” yang datang untuk kehidupan semua (Yo 10:11).
30. Kami percaya bahwa Allah memanggil manusia, laki-laki dan perempuan dan anak-anak dari setiap tempat bersama-sama, kaya dan miskin, untuk mendukung kesatuan gereja dan misinya sehingga rekonsiliasi yang diserukan Kristus dapat menjadi nyata.
31. Karena itu kami menolak setiap usaha dalam kehidupan gereja yang memisahkan keadilan dengan keesaan.
32. Kami percaya bahwa kami dipanggil dalam Roh untuk setia pada pengharapan yang ada dalam diri kami melalui Yesus Kristus, dan yakin bahwa keadilan akan tegak dan damai sejahtera akan berkuasa.
33. Kami menyerahkan diri untuk mencari suatu perjanjian global bagi keadilan ekonomi dan bumi dalam keluarga Allah.
34. Dengan rendah hati kami mengakui harapan ini, karena sadar bahwa kami juga berada di bawah penghakiman keadilan Allah.
• Kami sadar akan keterlibatan dan kesalahan dari mereka yang secara sengaja atau tidak sengaja beroleh keuntungan dari sistem global ekonomi neoliberal dewasa ini; kami sadar bahwa ini menyangkut baik gereja-gereja maupun anggota keluarga Reform, dan karena itu kami menyeru untuk pengakuan dosa.
• Kami sadar bahwa kami telah tersandra oleh budaya konsumerisme dan kerakusan kompetitif dan ketamakan sistem ekonomi yang berlaku kini. Seringkali ini mempengaruhi spiritualitas kami.
• Kami mengaku dosa dalam menyalahgunakan ciptaan dan gagal memainkan peran kami sebagai pemelihara dan sahabat alam.
35. Kami mengaku dosa bahwa keterpecahan kami dalam keluarga Reform menghambat kemampuan kami melayani misi Allah dalam kepenuhannya. Kami percaya dalam ketaatan kepada Yesus Kristus, bahwa gereja dipanggil untuk mengaku, menyaksikan dan bertindak, sekalipun para penguasa dan hukum manusia mungkin melarang kami, dan hukuman dan penderitaan jadi akibatnya (Kis 4:18 dst). Yesus adalah Tuhan.
36. Kami bersama-sama memuji allah, Pencipta, Penebus, Roh, yang telah “menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” (Lk 1: 51dyb). Mengikat Janji bagi Keadilan
37. Dengan mengaku iman kami bersama-sama, kami mengikat janji dalam ketaatan kepada kehendak Allah sebagai suatu tindakan kesetiaan dalam kesetiakawanan dan hubungan-hubungan yang terpercaya.
38. Dalam perjalanan bersama ini, sejumlah gereja telah menyatakan komitmennya melalui suatu pengakuan iman. Kami mendorong mereka untuk selanjutnya menerjemahkan konfesi ini ke dalam tindakan-tindakan nyata, baik secara regional maupun lokal. Gereja-gereja lain telah mulai ikut dalam proses ini, termasuk melakukan aksi, dan kami mendorong mereka untuk lebih lanjut terlibat, melalui pendidikan, konfesi dan aksi. Kepada gereja-gereja yang masih dalam proses penyadaran, kami mendorong mereka berdasarkan kesetiaan ikatan perjanjian untuk memperdalam pendidikan mereka dan bergerak maju ke arah konfesi.
39. Sidang Raya menyerukan kepada gereja-gereja anggota, berdasarkan hubungan ikatan perjanjian ini, untuk menjalankan tugas berat kenabian menafsirkan konfesi ini kepada jemaat-jemaat setempatnya.
40. Sidang Raya mendorong gereja-gereja anggota untuk melaksanakan konfesi ini dengan mengikuti rekomendasi Komite Isu-isu Publik mengenai isu-isu keadilan ekonomi dan lingkungan hidup (lihat Lampiran 18).
41. Sidang Raya menugaskan WARC untuk bekerjasama dengan persekutuan-persekutuan lain, komunitas ekumenis, komunitas agama-agama lain, gerakan-gerakan sipil dan gerakan-gerakan rakyat, untuk suatu ekonomi yang adil dan integritas ciptaan, dan menyerukan kepada gereja-gereja anggota untuk juga melakukan hal itu.
42. Sekarang dengan spenuh hati kami proklamasikan bahwa kami akan menyerahkan diri sendiri, waktu dan tenaga, untuk mengubah, membaharui dan memulihkan ekonomi dan bumi, memilih kehidupan, sehingga kami dan keturunan kami dapat hidup (Ul. 30: 19).
Makassar, 7 Agustus 2009
(Teks selanjutnya adalah penjelasan istilah-istilah yang dipakai dalam konfesi ini; dan pedoman pemakaian Pengakuan Accra. Terjemahan menyusul.)
Draft terjemahan oleh
Zakaria J. Ngelow
Member, Advisory Committee of Mission Project WARC
Sumber: http://www.warc.ch/documents/ACCRA_Pamphlet.pdf
07 Agustus 2009
28 Juli 2009
Ikan tuin-tuin

Di sebuah kampung nelayan, di jalur Barat trans Sulawesi, antara Majene dan Mamuju, di Sulawesi Barat, anda dapat menikmati ikan terbang segar (kadang-kadang ada jenis ikan lain) yang dipanggang. Dalam perjalanan pulang dari program dengan kaum perempuan Kristen di jemaat-jemaat Mamuju, kami sempatkan singgah menikmati sajian sehat ini ...
Saya bertanya bagaimana menangkap ikan tuin-tuin (demikian nama lokalnya) itu? Saya ingin tahu karena ada info bahwa di tempat lain ikan ini tidak dipukat, hanya dimaki-maki lalu pada beterbangan masuk perahu ... Si Ibu pemilik warung mengaku belum pernah ikut melaut (apakah perempuan tidak boleh jadi nelayan?), jadi dia tidak tahu bagaimana menangkapnya. Tetapi dia katakan kabarnya memang begitu: perahu memasuki wilayah yang penuh ikan terbang: lalu para nelayan memaki-maki dengan macam-macam kata-kata jorok, maka ikan tuin-tuin pun beterbangan atau berloncatan ke dalam perahu. Apa benar begitu? Hanya satu cara membuktikannya: ikutlah nelayan menangkap ikan terbang, yang mereka sebut juga "ikan indo siar" ini. Di kampung itu anda juga dapat membeli ikan tuin-tuin asin sebagai oleh-oleh, dengan harga yang murah meriah ...
Jadi kami beli sekadar oleh-oleh. Di mobil Pak Marthen dan Bu Lian banyak berkelakar dengan dirty jokes: saya jadi kuatir jangan-jangan ikan tuin-tuin kami di bagasi sudah pada beterbangan ke hutan ...

Dan tak jauh dari kampung itu, anda dapat menikmati sajian kelapa muda di pantai yang demikian indahnya. Sayang kios-kios kelapa dibangun di sebelah pantai sehingga mengganggu keindahan alam pantainya ...
Perempuan Kristen

Murid Perempuan
• Injil-injil mengakui bahwa kaum perempuan ada di antara pengikut pertama Yesus
• Murid-murid perempuan Yahudi, termasuk Maria Magdalena, Yohana dan Susana menyertai Yesus dalam pelayanan-Nya dan mendukung dengan harta pribadi mereka. (Lk 8:1-3).
Yesus bersikap positif
• Tidak pernah dinyatakan dalam Alkitab bahwa Yesus melecehkan, meremehkan, mencela atau merendahkan perempuan.
• Sikap Yesus justru meng-emansipasi dan menegaskan kesetaraan perempuan dengan laki-laki.
Yesus bersikap positif
• Dia mengajar murid-murid perempuan (Lk 10:38-42)
• Dia menyebut seorang perempuan seorang anak Abraham; sederajat laki-laki (Lk 13:16)
• Dia menerima perempuan dalam kelompok murid-murid terdekat (Lk 8:1-3)
• Yesus berkali-kali memberi perhatian pada para janda (Lk 20:46)
Melawan hukum Yahudi
• Yesus mengabaikan hukum-hukum yang memojokkan perempuan (Mk 5:25-34)
• Dia bercakap-cakap dengan perempuan asing (Yo 4:7-10)
• Yesus mengubah ajaran perceraian yang memihak laki-laki (Mk 10:11 -12)
Pada kebangkitan …
• Kaum perempuan hadir pada kematian Yesus (Mt 27:55-56 Mk15:40-41, Yo 19:25)
• Yesus menampakkan Diri pertama kali kepada seorang perempuan setelah kebangkitan-Nya (Mt 28:1)
• Setelah bangkit, Yesus mempercayakan tugas kerasulan pertama kepada seorang perempuan (Mt 28:5).
Gereja mula-mula
• Sejak awal berdirinya gereja, kaum perempuan termasuk sebagai warga penting. Terdapat sejumlah tokoh perempuan dalam pertumbuhan gereja.
Rasul Paulus …
• Menyalami Priskilla, Yunia, Yulia, dan saudara perempuan Nereus (Rm 16:3,7,15).
• Maria dad Persis dipuji atas kerja keras mereka (Rm 16:6,12).
• Euodia and Sintikhe disebut Paulus sebagai kawan sekerja dalam penginjiloan (Fil 4:2-3).
Bapa-bapa Gereja
• Bapa-bapa Gereja meminggirkan perempuan dari pelayanan gereja.
• Tertullianus pada abad ke-2 menulis bahwa perempuan tidak boleh bicara di dalam gereja, apalagi mengajar atau melayani sakramen.
Bidat-bidat …
• Sejumlah gerakan yang dianggap penyesat dalam gereja justru memberi jabatan gerejawi kepada perempuan, seperti: Montanisme (abad ke-2), Quintillian and Kolliridian (abad ke-4), dan Priskillianisme (abad ke-4).
Gereja Katolik
• Gereja Katolik, Gereja Koptik dan Gereja Ortodoks Timur sama menekankan bahwa hanya laki-laki yang boleh menjadi pejabat gereja.
• Alasannya: Yesus lahir sebagai seorang laki-laki, dan hanya laki-laki yang menjadi murid-murid-Nya
Biara …
• Munculnya biara Kristen sejak abad ke-5 membuka pintu bagi peran perempuan dalam gereja.
• Di biara para biarawati menjalni kehidupan yang bebas dari jalan perkawinan, dan mengembangkan diri dalam pengetahuan dan keterpelajaran dalam teologi dan pelayanan gereja.
Pengajar Gereja
• Santa Katerine dari Siena dan Santa Teresa dari Avila adalah teolog yang hebat, bahkan kemudian ditetapkan oleh Gereja Katolik sebagai “Pengajar Gereja”, suatu gelar yang juga hanya sedikit laki-laki memperolehnya.
Merendahkan …
• Thomas Aquinas, teolog Katolik ternama dari Abad Pertengahan, menilai rendah perempuan.
• Reformator menutup biara.
• Martin Luther mengajarkan supaya para isteri di rumah saja membereskan keperluan keluarga.
• Kalvin juga setuju bahwa tempat perempaun adalah di rumah saja …
Perkembangan moderen
• Sejak abad lalu, muncul tiga aliran dalam perdebatan mengenai posisi perempuan dalam pandangan gereja.
• Christian feminism, Christian Egalitarianism and Complementarianism.
3 aliran
• Christian Feminists mengikuti gerakan feminis dengan perspektif Kristen.
• Christian Egalitarians mendukung pendekatan yang berdasar kemampuan daripada dasar jender dalam pelayanan Kristen.
• Egalitarians mendukung pengurapan perempuan dan peran yang sama dalam rumah tangga.
Menolak feminisme
• Egalitarian tidak setuju feminisme, karena kalangan feminisme mendukung praktek homoseksual dan aborsi.
• Ada pula feminisme yang mengganti sebutan Allah sebagai Bapa dengan sebutan Ibu, dsb.
Complementarian
• Complementarians percaya bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan setara dalam kepribadian dan nilai, namun dengan peran yang berbeda dalam gereja dan rumah tangga.
• Mereka menekankan bahwa laki-laki bertanggungjawab memimpin perempuan.
Galatia 3:28
• 27 Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.
• 28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.
Indonesia
• Perempuan diterima menjadi pejabat gereja (pendeta, diaken, penatua). Apakah jemaat menyambutnya sama dengan laki-laki?
• Perempuan diberi kesempatan berkarir. Tetapi banyak perempuan karir menanggung beban ganda, karena urusan rumah tangga dianggap tanggung jawab isteri.
Indonesia
• Perempuan diakui setara dengan laki-laki, namun kepemimpinan gereja masih di tangan laki-laki.
Mamuju, 23-25 Juli 2009
Zakaria Ngelow
sumber: internet
19 Juli 2009
Oase visit to Tentena (GKST, June 2009)

GKST (Christian Church in Central Sulawesi) is one of the region-based church in Indonesia. So far she is faithful as the church in Central Sulawesi, inspite of some congregations are across the border in South Sulawesi, among the Pamona villages. GKST can be consider as church of ethnics Pamona, Mori, Lore and Wana. They are commonly called Poso people. Founded in 1947, her history is of mission works by the Dutch missionaries of NZG, initiated by A.C. Kruyt (since 1892) and N. Adriani (joined in 1895) of the Dutch Bible Society. GKST consists of 427 congregations in 26 classis. They are served by 624 ministers. There is no data of church membership, but it was estimated about three to four hundred thousand souls. The church belong to a major Protestant church in Indonesia, but the leadership of the church does not well developed. In terms of human resources, compare to other rural churches like of the Torajan and of the Bataks, GKST was lagging far behind.
Most of GKST congregations are rural. Only some congregations in some towns like Palu, Poso, and Tentena can be considered as urban. Some places are transmigration settlements. In the last decades there are massive timber logging in the area. Then palm oil plantations of big companies, and migrants people aggressively conversed forest to cacao farmings. They caused ecological disasters of floods and land slides. The Poso tragedy of Muslims- Christians conflict of 1999-2007 deeply affected the life of the Christian community. Relation of both communities now is better.
As common among the mission works in Indonesia, modern education was also introduced to Poso people. A teacher school was open in Pendolo (later moved to Tentena) in 1938. Both situated in the beautiful Poso lake. Eventually, in 1946, the school divided into two programs of school teacher and of local missionaries education. This missionaries education was later in 1953 became a theological school (in 1980s became STT GKST Tentena).
There are some 80s students of both theology and Christian education departments. But they also engeged in an upgrading program for some 50 Christian education teachers in a distant class arrangement. Number of full time faculty are 10 (4 women); most of them holder of magister theology degree. They are helped by 9 part-time faculty. There is also a post-graduate study. The campus consists of some relatively good and well maintenanced buildings, but poor library holdings and without information technology facilities.
18 Juni 2009
PGI: Surat Penggembalaan PILPRES 2009
SURAT PENGGEMBALAAN
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)
DALAM RANGKA PEMILIHAN PRESIDEN R.I. 2009
Saudara-saudara warga Gereja anggota PGI di mana pun berada,
Salam dalam kasih Yesus Kristus Juruselamat dunia,
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tanggal 8 Juli 2009 makin mendekat, dan kampanye Pilpres sedang berlangsung. Kita bersyukur sebab demokrasi berada dalam proses pertumbuhan, kendati masih banyak hal yang harus dibenahi sehingga demokrasi tidak sekadar memenuhi prosedur yang ada, tetapi sungguh-sungguh memperhatikan dan merefleksikan nilai-nilai yang tercantum didalam Pancasila dan UUD 1945.
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Gereja-gereja anggotanya bukanlah partai politik atau organisasi yang menjalankan politik praktis, yaitu politik yang berusaha merebut kekuasaan dalam negara. Politik Gereja (baca: PGI) adalah politik moral atau yang bertujuan menyampaikan pesan-pesan moral atau suara kenabian di tengah zaman. Dalam kaitan itu PGI dan Gereja-gereja ikut bertanggung-jawab dalam kehidupan bersama didalam polis (negara) Indonesia. Orang Kristen Indonesia sebagai bagian integral bangsa harus mampu hidup bersama secara proaktif didalam masyarakat Indonesia yang majemuk.
Nabi Yeremia menyampaikan kepada Umat Israel yang sedang berada dalam tawanan di Babilonia sebagai berikut:
“Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yer. 29:7). Atas dasar itu, kita tidak boleh bersikap pasif menghadapi Pilpres ini, sebab agenda politik ini adalah salah satu upaya penting pembangunan politik bagi kesejahteraan bersama. Di dalam menghadapi Pilpres ini, kami ingin menyampaikan pesan Alkitab bagaimana memilih seorang pemimpin: “Di samping itu kau carilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya dan benci kepada pengejaran suap…” (Kel. 18:21).
Maka berdasarkan hal-hal yang disebutkan di atas, kami ingin menyampaikan kepada saudara-saudara agar kita memilih Presiden dan Wakil Presiden Indonesia pada Pemilihan Presiden yang akan datang dengan arahan-arahan sbb:
1. Pemimpin yang kita harapkan ialah mereka yang cakap, yakni mempunyai kemampuan dan keterampilan untuk mengatasi persoalan bangsa Indonesia terutama yang cakap dan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat yang masih dihimpit oleh belenggu kemiskinan.
2. Pemimpin yang kita cari ialah pemimpin yang takut akan Tuhan, yaitu pemimpin yang menjalankan tugasnya dengan mengandalkan kekuatan moral, menjauhkan diri dari kebohongan dan segala bentuk manipulasi politik.
3. Pemimpin yang akan kita pilih ialah mereka yang dapat dipercaya yaitu mereka yang terbukti melakukan apa yang dia ucapkan. Telusurilah rekam jejak setiap kandidat sehingga saudara dapat mengetahui siapa dari antara mereka yang dapat dipercaya dan siapa yang tidak.
4. Pemimpin yang kita butuhkan ialah mereka yang benci kepada pengejaran suap yaitu mereka yang selain jujur dan tidak korupsi, mereka juga harus bertekad untuk memberantas korupsi yang menghancurkan per-ekonomian Negara ini.
5. Pemimpin yang kita akan pilih ialah mereka yang tetap mempertahankan Pancasila dan nilai-nilai yang ter-kandung di dalamnya sebagai acuan kehidupan ber-masyarakat, berbangsa dan bernegara. Presiden dan Wakil Presiden haruslah sungguh-sungguh mempunyai komitmen teguh kepada Pancasila, UUD 1945, Negara Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika (masyarakat majemuk, setara dan bersatu), dan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Dampak Pilpres 2009 ini tidak hanya untuk periode 2009-2014 saja, melainkan berdurasi sangat panjang yang ikut menentukan nasib bangsa kita di masa depan. Salah memilih berarti membawa bangsa ini kepada penyimpangan yang berakibat fatal bagi kelestarian bangsa.
Kita memilih bukan hanya Presiden dan Wakil Presiden, melainkan juga bangunan koalisi yang ada di belakangnya. Saudara-saudara harus melihat dengan jeli manakah dari pasangan koalisi itu yang tidak secara jelas menjadikan Pancasila sebagai solusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, melainkan ideologi yang lain.
Saudara-saudara perlu memperhatikan sikap partai-partai politik selama ini yang tidak tegas menolak Undang-undang yang cenderung diskriminatif, seperti UU Pornografi dan Perda-perda yang diskrimnitif di berbagai daerah.
Saudara-saudara juga perlu jeli untuk melihat bagaimana sikap partai-partai politik terhadap kebebasan beragama dan
berkeyakinan di Indonesia selama 4-5 tahun terakhir ini. Apakah golongan Kristen misalnya di beberapa tempat mempunyai kebebasan untuk mendirikan gedung-gedung ibadah atau malah sering dihambat, sedangkan tindakan konkret Pemerintah hampir tidak terlihat.
Pada akhirnya kami ingin menyatakan bahwa visi pembangunan bangsa kita bukan hanya untuk lima tahun mendatang, melainkan jauh melampauinya. Maka yang terutama adalah bagaimana membangun sistem demokrasi yang sehat, bukan sekedar kalah/menang dalam Pilpres.
Kiranya Tuhan membimbing saudara-saudara di dalam menentukan pilihan yang tepat bagi bangsa ini. Tuhan menyertai saudara-saudara.
Jakarta, Medio Juni 2009
Atas nama,
Majelis Pekerja Harian
Persekutuan gereja-gereja di Indonesia
Pdt.Dr.A.A.Yewangoe, Pdt.Dr. Richard M. Daulay, MA
Ketua Umum, Sekretaris Umum
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)
DALAM RANGKA PEMILIHAN PRESIDEN R.I. 2009
Saudara-saudara warga Gereja anggota PGI di mana pun berada,
Salam dalam kasih Yesus Kristus Juruselamat dunia,
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tanggal 8 Juli 2009 makin mendekat, dan kampanye Pilpres sedang berlangsung. Kita bersyukur sebab demokrasi berada dalam proses pertumbuhan, kendati masih banyak hal yang harus dibenahi sehingga demokrasi tidak sekadar memenuhi prosedur yang ada, tetapi sungguh-sungguh memperhatikan dan merefleksikan nilai-nilai yang tercantum didalam Pancasila dan UUD 1945.
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Gereja-gereja anggotanya bukanlah partai politik atau organisasi yang menjalankan politik praktis, yaitu politik yang berusaha merebut kekuasaan dalam negara. Politik Gereja (baca: PGI) adalah politik moral atau yang bertujuan menyampaikan pesan-pesan moral atau suara kenabian di tengah zaman. Dalam kaitan itu PGI dan Gereja-gereja ikut bertanggung-jawab dalam kehidupan bersama didalam polis (negara) Indonesia. Orang Kristen Indonesia sebagai bagian integral bangsa harus mampu hidup bersama secara proaktif didalam masyarakat Indonesia yang majemuk.
Nabi Yeremia menyampaikan kepada Umat Israel yang sedang berada dalam tawanan di Babilonia sebagai berikut:
“Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yer. 29:7). Atas dasar itu, kita tidak boleh bersikap pasif menghadapi Pilpres ini, sebab agenda politik ini adalah salah satu upaya penting pembangunan politik bagi kesejahteraan bersama. Di dalam menghadapi Pilpres ini, kami ingin menyampaikan pesan Alkitab bagaimana memilih seorang pemimpin: “Di samping itu kau carilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya dan benci kepada pengejaran suap…” (Kel. 18:21).
Maka berdasarkan hal-hal yang disebutkan di atas, kami ingin menyampaikan kepada saudara-saudara agar kita memilih Presiden dan Wakil Presiden Indonesia pada Pemilihan Presiden yang akan datang dengan arahan-arahan sbb:
1. Pemimpin yang kita harapkan ialah mereka yang cakap, yakni mempunyai kemampuan dan keterampilan untuk mengatasi persoalan bangsa Indonesia terutama yang cakap dan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat yang masih dihimpit oleh belenggu kemiskinan.
2. Pemimpin yang kita cari ialah pemimpin yang takut akan Tuhan, yaitu pemimpin yang menjalankan tugasnya dengan mengandalkan kekuatan moral, menjauhkan diri dari kebohongan dan segala bentuk manipulasi politik.
3. Pemimpin yang akan kita pilih ialah mereka yang dapat dipercaya yaitu mereka yang terbukti melakukan apa yang dia ucapkan. Telusurilah rekam jejak setiap kandidat sehingga saudara dapat mengetahui siapa dari antara mereka yang dapat dipercaya dan siapa yang tidak.
4. Pemimpin yang kita butuhkan ialah mereka yang benci kepada pengejaran suap yaitu mereka yang selain jujur dan tidak korupsi, mereka juga harus bertekad untuk memberantas korupsi yang menghancurkan per-ekonomian Negara ini.
5. Pemimpin yang kita akan pilih ialah mereka yang tetap mempertahankan Pancasila dan nilai-nilai yang ter-kandung di dalamnya sebagai acuan kehidupan ber-masyarakat, berbangsa dan bernegara. Presiden dan Wakil Presiden haruslah sungguh-sungguh mempunyai komitmen teguh kepada Pancasila, UUD 1945, Negara Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika (masyarakat majemuk, setara dan bersatu), dan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Dampak Pilpres 2009 ini tidak hanya untuk periode 2009-2014 saja, melainkan berdurasi sangat panjang yang ikut menentukan nasib bangsa kita di masa depan. Salah memilih berarti membawa bangsa ini kepada penyimpangan yang berakibat fatal bagi kelestarian bangsa.
Kita memilih bukan hanya Presiden dan Wakil Presiden, melainkan juga bangunan koalisi yang ada di belakangnya. Saudara-saudara harus melihat dengan jeli manakah dari pasangan koalisi itu yang tidak secara jelas menjadikan Pancasila sebagai solusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, melainkan ideologi yang lain.
Saudara-saudara perlu memperhatikan sikap partai-partai politik selama ini yang tidak tegas menolak Undang-undang yang cenderung diskriminatif, seperti UU Pornografi dan Perda-perda yang diskrimnitif di berbagai daerah.
Saudara-saudara juga perlu jeli untuk melihat bagaimana sikap partai-partai politik terhadap kebebasan beragama dan
berkeyakinan di Indonesia selama 4-5 tahun terakhir ini. Apakah golongan Kristen misalnya di beberapa tempat mempunyai kebebasan untuk mendirikan gedung-gedung ibadah atau malah sering dihambat, sedangkan tindakan konkret Pemerintah hampir tidak terlihat.
Pada akhirnya kami ingin menyatakan bahwa visi pembangunan bangsa kita bukan hanya untuk lima tahun mendatang, melainkan jauh melampauinya. Maka yang terutama adalah bagaimana membangun sistem demokrasi yang sehat, bukan sekedar kalah/menang dalam Pilpres.
Kiranya Tuhan membimbing saudara-saudara di dalam menentukan pilihan yang tepat bagi bangsa ini. Tuhan menyertai saudara-saudara.
Jakarta, Medio Juni 2009
Atas nama,
Majelis Pekerja Harian
Persekutuan gereja-gereja di Indonesia
Pdt.Dr.A.A.Yewangoe, Pdt.Dr. Richard M. Daulay, MA
Ketua Umum, Sekretaris Umum
14 Juni 2009
Jogja

Di Wisama Duta Wacana, di Kaliurang, Jogyakarta, tgl 12 - 16 Juni berlangsung Konsultasi Mengenai Persekutuan dan Keadilan (Communion and Justice) di kalangan gereja-gereja anggota WARC (World Alliance of Reformed Church). Pada hari Minggu setelah kebaktian bersama di GKI Gejayan, sejumlah peserta mengunjungi pameran komputer di Jogjakarta Expo Center. Tiga anggota Oase bertemu: Zakaria, Manggeng dan Lian.
Konsultasi dipimpin langsung oleh Sekretaris Bidang Teologia WARC, Dr. Douwe Visser. Konsultasi diselenggarakan dalam rangka penyatuan WARC dengan Reformed Ecumenical Council (REC) menjadi World Communion of Reformed Churches (WCRC) yang akan disahkan pada General assembly kedua wadah eklumenis itu di Grand Rapids, Mich. USA, bulan Juni 2010. Dengan penyatuan itu gereja-gereja bertradisi Calvinis sedunia akan bersatu dalam satu wadah ekumnis.
28 Mei 2009
ACW-Jalan damai

Di tengah kesejukan dan keindahan alam lereng gunung Merbabu, di kompleks Pondok Remaja Salib Putih, Salatiga, tanggal 26-29 Mei 2009 dilangsungkan Konsultasi Ekumenis Nasional Jalan Damai: Respon Umat Kristen Indonesia terhadap A Common Word (ACW). Sejumlah sekitar 40 peserta dari berbagai kalangan Kristen Indonesia termasuk Katolik: pimpinan gereja, teolog, aktivis pelayanan sosial membahas naskah yang merupakan surat terbuka dari ratusan pemuka umat Islam kepada pimpinan gereja-gereja sedunia. (Lihat naskahnya dalam http://www.acommonword.com).
Konsultasi diselenggarakan bersama oleh Institut Pendidikan Teologi Belewijata (Malang), Interfidei (Jogyakarta), Madia (Jakarta), Oase Intim (Makassar) dan Percik (Salatiga). Tujuan yang hendak dicapai konsultasi ini dirumuskan dalam acuannya:
• (1) Berbagi pandangan terhadap wacana yang diajukan para tokoh Muslim dalam ACW, serta bagaimana kemungkinan-kemungkinannya memperkuat dasar dan motivasi pengembangan hubungan-hubungan baik antara umat Kristen dan umat Islam di Indonesia, yang telah dijalankan selama ini.
• (2) Membahas pokok-pokok gagasan dalam surat itu untuk mengidentifikasi mana yang dapat dipakai bersama, baik dalam hubungan ekumenis antar gereja-gereja, maupun dalam hubungan dialog dengan umat Islam.
Jalan Damai
• (3) merumuskan tanggapan terhadap surat dari para tokoh Muslim ini.
• (4) membahas dan menetapkan suatu konsultasi lintas iman nasional, yang dirancang dan diselenggarakan bersama dengan kawan-kawan Muslim, dan bahkan dengan penganut agama-agama lain.
• (5) efek spin-off konsultasi ini dalam pelayanan pribadi dan lembaga masing-masing peserta.
Langganan:
Postingan (Atom)